Kita semua tahu bahwa pesantren memiliki ritme yang padat , termasuk bangun untuk ibadah, belajar, makan bersama, dan kegiatan kamar. Oleh karena itu, seluruh santri kerap melakukan banyak aktivitas dilakukan bersama dan tidur bersama teman. Penerapan PHBS untuk santri pondok merupakan langkah nyata yang sangat penting agar hal-hal sederhana seperti tidak berbagi handuk, menjaga kebersihan pakaian dan tempat tidur, serta melapor ketika kulit terasa gatal tidak membawa dampak buruk yang sangat besar.
Selain itu, Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa PHBS di pesantren adalah perilaku yang meningkatkan kesadaran untuk mencegah penyakit, meningkatkan kesehatan, dan membuat lingkungan sehat. Kemenkes juga menyebutkan penyakit kulit dan scabies sebagai masalah yang kerap muncul di pesantren, terutama di tempat-tempat yang mengalami kekurangan kebersihan diri dan sanitasi lingkungan.
Oleh sebab itu, santri tidak boleh menganggap aturan PHBS ini sebagai beban yang hanya menambah kegiatan saja. Sebaliknya, santri mungkin lebih baik melihatnya sebagai kebiasaan mendasar. Kebiasaan ini efektif menjaga diri sekaligus melindungi teman satu kamar, kelas, dan lingkungan pesantren.
Kasus Penyakit Kulit yang perlu diperhatikan yaitu skabies
Kudis atau skabies adalah salah satu penyakit kulit yang penting di lingkungan hunian bersama. Tungau Sarcoptes scabiei var. hominis menyebarkan penyakit ini dengan cara menggali lapisan kulit, sehingga memicu gatal hebat serta ruam. Selain itu, WHO menyebut skabies lebih sering menyerang daerah tropis dan lingkungan dengan kepadatan penduduk tinggi. Wabah ini juga kerap terjadi di lingkungan tertutup atau institusi seperti sekolah berasrama.
Meskipun penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa masalah ini harus mendapat perhatian, tetapi kita tidak boleh menganggap angka dari satu pesantren tidak boleh dianggap sebagai angka untuk semua pesantren. Sebagai contoh, studi cross-sectional pada 46 santri di Pondok Pesantren Matholiul Huda Al-Kautsar di Pati menemukan bahwa 39 santri (84,8%) mengalami skabies. Di sisi lain, studi pada 238 santri di Pesantren X Wonosobo pada 2023 menemukan bahwa prevalensi 78,15% adalah hasil penelitian pada lokasi dan populasi tertentu, bukan prevalensi nasional.
Oleh karena itu, temuan seperti ini membantu kita memahami bahwa skabies dapat menjadi masalah serius di hunian padat. Namun, pengurus tetap perlu menghindari label seperti “semua santri pasti kena kudis”. Langkah yang jauh lebih penting adalah mengenali gejalanya, memperbaiki kebiasaan yang berisiko, dan memastikan santri dengan keluhan mendapat pemeriksaan serta penanganan yang tepat.
Kenapa skabies mudah menyebar di pondok?
- Kontak kulit yang dekat dan berlangsung cukup lama. CDC dan WHO menjelaskan bahwa kontak kulit dekat dan berkepanjangan menjadi jalur penularan utama skabies. Akibatnya, penularan sangat mudah meluas di dalam lingkungan ramai dengan intensitas kontak yang tinggi,
- Berbagi barang yang menempel pada kulit. Virus atau tungau menyebar melalui pakaian, handuk, atau sprei secara bergantian. Meskipun jalur ini lebih jarang terjadi pada skabies biasa daripada kontak kulit langsung, namun risiko melalui benda mati dapat melonjak drastis pada kasus skabies berkerak (krustosa).
- Gejala tidak selalu muncul dengan sendirinya. WHO menjelaskan bahwa gejala pertama baru muncul sekitar 4–6 minggu setelah infeksi awal. Dengan kata lain, seorang santri sudah membawa tungau dan menularkan penyakit skabies bahkan sebelum ia menyadarinya.
- Kepadatan hunian dan rutinitas sehari-hari. Kemenkes mengategorikan lingkungan berkelompok, kepadatan penghuni, serta keterbatasan air bersih dan kebersihan buruk sebagai faktor utama penambah risiko. Oleh karena itu, langkah pencegahan tidak cukup hanya dengan meminta santri untuk “jangan menggaruk” ketika kulit mulai gatal.
Tanda yang patut dicurigai
Tidak semua gatal berarti skabies. Namun, kader kesehatan dapat membantu mengenali pola yang perlu diperiksa. Tanda-tanda yang sering muncul meliputi beberapa hal berikut:
- Rasa gatal yang hebat, yang biasanya menyerang pada malam hari.
- Benjolan atau ruam gatal, terutama di sela-sela jari, pergelangan tangan, lipatan siku atau ketiak, pinggang, bokong, dan area lain.
- Adanya garis atau terowongan tipis pada kulit (burrow), meski tanda ini tidak selalu terlihat jelas.
- Gatal dan keluhan serupa yang menjangkiti beberapa teman sekamar atau orang yang tinggal dekat.
- Keluhan kulit yang berpotensi memicu garukan, koreng, atau gejala infeksi sekunder.
Oleh karena itu, kader santri kesehatan sebaiknya tidak langsung menyimpulkan diagnosis hanya berdasarkan satu tanda. Karena banyak penyakit kulit lain dapat memicu gejala serupa, pemeriksaan dokter tetap menjadi prioritas utama.
Langkah mudah santri pondok cegah penyakit kulit
Tidak ada daftar aturan yang panjang untuk menerapkan PHBS yang efektif. Sebab, hal yang paling penting adalah kebiasaan konsisten yang mendapat dukungan dari fasilitas pesantren.
- Gunakan handuk sendiri. Santri tidak boleh bertukar handuk, pakaian, atau perlengkapan pribadi yang menempel langsung pada kulit.
- Jaga pakaian dan kain tidur tetap bersih. Santri wajib mencuci pakaian, handuk, dan seprai secara rutin sesuai kondisi dan fasilitas pesantren.
- Jangan tidur berhimpitan atau berbagi tempat tidur. Batasi kebiasaan ini terutama jika Anda mengalami keluhan kulit yang berpotensi menular sebelum mendapat arahan dari tenaga kesehatan.
- Menjaga kebersihan kamar dan area umum lainnya. Santri harus membersihkan area tidur secara teratur agar ruangan tidak lembap. Sebab, kebersihan lingkungan merupakan bagian penting dari pengendalian penyakit yang jauh lebih efektif daripada pengobatan.
- Segera laporkan gatal yang mencurigakan. Jangan merasa malu untuk melapor. Oleh karena itu, semakin cepat petugas menangani keluhan tersebut, semakin cepat pula pesantren dapat menghentikan penyebaran penyakit.
- Ikuti pengobatan sesuai petunjuk tenaga kesehatan. Jangan memakai obat kulit sembarangan atau berbagi sisa obat dengan teman.
- Hubungi petugas kesehatan jika ada kasus. Untuk mencegah penularan kembali, penanganan skabies memerlukan pelacakan kontak dekat serta pengawasan kebersihan pakaian atau seprai secara serentak.
Apa yang bisa dilakukan pengurus dan kader santri kesehatan?
Di sinilah peran kader santri kesehatan menjadi penting. Kader bukan “dokter kecil” yang mendiagnosis teman. Perannya lebih kepada mengenali keluhan, memberi edukasi yang benar, membantu pencatatan, dan menghubungkan santri dengan petugas kesehatan.
- Bangun budaya melapor tanpa mempermalukan. Pengurus harus menghindari candaan atau stigma negatif terhadap santri yang mengalami penyakit kulit.
- Buat alur kerja sederhana. Ketika santri mengeluhkan gejala, kader segera mencatat dan mengarahkan mereka agar petugas kesehatan dapat melakukan penilaian, serta pengurus ikut membantu prosesnya.
- Lakukan edukasi singkat dan berulang. Berikan pemahaman rutin, misalnya tentang larangan berbagi handuk, pakaian, dan sprei, serta pentingnya menjaga kebersihan diri dan kamar.
- Perhatikan pola, bukan satu situasi saja. Segera hubungi puskesmas atau tenaga kesehatan jika beberapa santri di sekitarnya mengalami gatal yang sama.
- Pastikan fasilitas mendukung perilaku sehat. Pengurus wajib menyediakan akses air bersih, tempat cuci dan jemur yang layak, kebersihan kamar, pengelolaan pakaian dan linen, serta mengontrol tingkat kepadatan hunian sebaik mungkin.
- Ikuti arahan tenaga kesehatan tentang pengobatan dan kontak dekat. Langkah ini wajib berlaku untuk kasus yang sudah menerima diagnosis resmi. Selain itu, CDC menekankan pentingnya pengobatan kontak dekat secara bersamaan untuk mencegah penularan ulang.
Kapan santri perlu diarahkan ke tenaga kesehatan?
Arahkan santri untuk diperiksa jika mengalami gatal berat terutama malam hari, muncul ruam atau garis halus yang mencurigakan, serta ketika keluhan menyebar. Selain itu, segera bawa santri berobat jika beberapa orang dalam satu lingkungan mengalami gejala serupa, atau jika kulit sudah mengalami luka koreng. Jangan menunda pemeriksaan terutama jika keluhan mengganggu tidur, belajar, atau aktivitas sehari-hari.
Skabies dapat menimbulkan komplikasi akibat infeksi bakteri pada kulit. Dalam hal ini, WHO dan Kemenkes menjelaskan bahwa garukan dan kerusakan kulit dapat memudahkan infeksi sekunder. Pada kondisi tertentu, komplikasi ini dapat menjadi serius. Oleh karena itu, santri dan pengurus sebaiknya tidak menganggap “gatal biasa” yang terus berulang sebagai bagian normal dari kehidupan di pondok.
Yang perlu diluruskan adalah bahwa skabies bukan tanda santri “jorok”
Sangat penting untuk berbicara tentang masalah ini dengan bahasa yang tegas tetapi santai. Sebab, skabies bukan alasan untuk mempermalukan atau menyalahkan santri. Penyakit ini dapat menyebar dengan mudah dan sangat dipengaruhi oleh kontak dekat serta kondisi hunian. Meskipun kebersihan diri dan lingkungan penting, namun pengurus tidak boleh menganggap PHBS sebagai sarana stigma.
Bagi pengurus, pesan yang lebih sehat adalah: “Kalau ada gatal yang mencurigakan, ayo kita periksa dan tangani bersama.” Dengan begitu, santri merasa aman untuk melapor dan pesantren punya kesempatan lebih besar untuk memutus rantai penularan.
Sehat di pondok adalah kerja bersama
Penerapan PHBS untuk santri pondok bukan tentang mencari siapa yang paling bersih. Sebaliknya, langkah ini bertujuan untuk membangun kebiasaan sehat dalam budaya sehari-hari sebagai kunci utamanya. Di lingkungan yang padat penghuni seperti pesantren, kita perlu mewaspadai penularan penyakit kulit seperti skabies. Namun, santri dapat melakukan hal-hal sederhana untuk mencegahnya, seperti tidak berbagi barang pribadi, menjaga kebersihan pakaian dan tempat tidur, memperhatikan kebersihan lingkungan, serta berani melaporkan keluhan.
Selain itu, pengurus pesantren dan kader santri kesehatan perlu membangun sistem yang memudahkan santri untuk bertanya dan mendapatkan bantuan. Jika ada santri yang mengalami gatal mencurigakan, jangan menutup-nutupi masalah tersebut atau menjadikannya sebagai bahan bercanda. Segera periksa, tangani, dan cegah bersama. Sebab, pesantren yang sehat bukan hanya menjadi tempat untuk belajar ilmu agama, tetapi juga tempat belajar menjaga kesehatan diri dan teman.
Sumber referensi
- https://ayosehat.kemkes.go.id/pelaksanaan-phbs-di-pesantren
- https://ayosehat.kemkes.go.id/penyakit/scabies
- https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/scabie
- https://ayosehat.kemkes.go.id/phbs
Artikel ini telah direview oleh:
Dewi Andrayani, S.KM.
Tenaga Promkes Puskesmas Cineam
Puskesmas Cineam: Jl. Yogaswara Cineam –
No. 12, RT 03/RW 01, Dusun Rahayu, Desa Cineam,
Kecamatan Cineam, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat 46198.
Author Profile

- Alya Tri Ramadhan, S.K.M, adalah seorang sarjana Kesehatan Masyarakat yang aktif membagikan informasi, tips, dan artikel edukatif seputar kesehatan.
Latest entries
Edukasi KesehatanAgustus 7, 2026Cegah Skabies dan Penyakit Kulit di Lingkungan Pesantren, Ikuti Tips Ini!
Edukasi KesehatanAgustus 5, 2026Sosialisasi dan Pembentukan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) di Pesantren QSBS Al Kautsar 561
Edukasi KesehatanAgustus 3, 2026KESMAS-ID Sukses Gelar Webinar AI Edukasi Kesehatan


