UPT Puskesmas Sapala terus memperkuat pelayanan kesehatan primer melalui inovasi PALATARAN PADU, singkatan dari Platform Belajar Keterampilan Kader Posyandu. Inovasi ini dikembangkan sebagai media pembelajaran digital untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu dalam mendukung pelaksanaan Integrasi Layanan Primer atau ILP.
PALATARAN PADU hadir sebagai jawaban atas meningkatnya tuntutan peran kader Posyandu. Saat ini, kader tidak hanya berfokus pada pelayanan ibu dan balita, tetapi juga dituntut memahami pelayanan kesehatan berbasis siklus hidup, mulai dari ibu hamil, bayi, balita, usia sekolah, remaja, usia produktif, hingga lanjut usia. Perubahan ini menuntut kader menguasai 25 keterampilan dasar agar pelayanan Posyandu dapat berjalan lebih terarah, terintegrasi, dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Inovasi ini dilatarbelakangi oleh hasil asesmen keterampilan kader Posyandu tahun 2025 di wilayah kerja Puskesmas Sapala. Dari 30 kader yang dinilai, baru 56,6 persen atau 17 kader yang memenuhi kualifikasi tingkat Purwa. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara tuntutan kompetensi kader dalam pelaksanaan ILP dengan kemampuan kader di lapangan.
Sebelum adanya PALATARAN PADU, pembinaan kader masih banyak dilakukan melalui metode konvensional, seperti pelatihan tatap muka, leaflet, poster, spanduk, pertemuan PKK, dan pertemuan desa. Metode tersebut tetap bermanfaat, tetapi memiliki keterbatasan dari sisi waktu, biaya, kehadiran peserta, serta kesempatan kader untuk mengulang materi secara mandiri.
Melalui PALATARAN PADU, kader dapat mengakses materi pembelajaran secara lebih mudah, fleksibel, dan berkelanjutan. Platform ini dapat dibuka melalui perangkat komputer maupun telepon genggam, sehingga kader dapat mempelajari materi sesuai waktu dan kebutuhan masing-masing. Materi yang tersedia berfokus pada penguatan 25 keterampilan dasar kader Posyandu sesuai arah transformasi layanan primer.
Nama PALATARAN PADU juga memiliki makna lokal. “Palataran” menggambarkan ruang bersama untuk belajar dan bertukar pengetahuan, sedangkan “Padu” menunjukkan keterpaduan pelayanan kesehatan berbasis siklus hidup. Melalui filosofi ini, Puskesmas Sapala ingin menjadikan kader Posyandu sebagai pelaku utama dalam penguatan layanan kesehatan masyarakat di tingkat desa.
Manfaat inovasi ini dirasakan oleh berbagai pihak. Bagi kader, PALATARAN PADU memudahkan proses belajar mandiri dan membantu meningkatkan pemahaman terhadap tugas pelayanan Posyandu. Bagi tenaga promosi kesehatan, inovasi ini mempermudah pembinaan, pemantauan, dan evaluasi kompetensi kader. Bagi Puskesmas Sapala, PALATARAN PADU mendukung peningkatan mutu pelayanan promotif dan preventif serta memperkuat pelaksanaan Integrasi Layanan Primer.
Dampak positif inovasi ini mulai terlihat. Setelah pemanfaatan PALATARAN PADU, jumlah kader yang lulus keterampilan tingkat Purwa meningkat menjadi 22 dari 30 kader. Selain itu, pembinaan kader menjadi lebih terstruktur, terdokumentasi, dan mendukung pencapaian target program Promosi Kesehatan, khususnya dalam pembinaan Posyandu.
Melalui inovasi PALATARAN PADU, Puskesmas Sapala berkomitmen memperkuat kapasitas kader Posyandu agar semakin terampil, mandiri, dan siap memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada masyarakat. Inovasi ini diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai praktik baik pembelajaran kader berbasis digital di wilayah kerja Puskesmas Sapala dan Kabupaten Hulu Sungai Utara.


