PHBS di Pesantren Cegah Gatal Menular pada Santri

Keluhan gatal cukup mudah kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Di pesantren, satu santri mungkin mulai mengeluh gatal pada malam hari, lalu beberapa hari kemudian teman sekamarnya merasakan hal serupa. Kondisi seperti ini perlu diperhatikan, terutama bila keluhan terus muncul atau menyebar.

Lingkungan pesantren membuat santri tinggal dan beraktivitas bersama. Kamar tidur, kamar mandi, tempat jemur, hingga berbagai kegiatan dilakukan berdekatan. Karena itu, penyakit kulit yang dapat menular melalui kontak dekat lebih mudah menyebar bila tidak segera ditangani.

Penyakit Kulit Apa yang Perlu Diwaspadai?

Skabies atau kudis merupakan salah satu penyakit kulit yang relevan di lingkungan hunian bersama. Menurut WHO, skabies disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei var. hominis. Penularannya terutama terjadi melalui kontak kulit yang erat dan cukup lama dengan orang yang terinfestasi. Lingkungan yang padat dapat meningkatkan risiko penularan.

Gejala yang sering muncul adalah rasa gatal hebat, terutama pada malam hari, disertai bintil atau ruam. Keluhan dapat muncul di sela jari, pergelangan tangan, lengan, sekitar pinggang, dan bagian tubuh lainnya.

Selain skabies, infeksi jamur seperti kurap atau dermatofitosis juga perlu diperhatikan. Sebuah penelitian pada 339 siswa boarding school di Pelalawan, Riau, menemukan dermatofitosis pada sebagian siswa yang diperiksa. Penelitian tersebut tidak mewakili seluruh pesantren di Indonesia, tetapi menunjukkan bahwa infeksi jamur memang dapat ditemukan di lingkungan asrama.

PHBS Bisa Dimulai dari Hal Sederhana

6 tips PHBS cegah skabies pada santri

Menjaga kesehatan kulit tidak harus dimulai dari aturan yang rumit. Pengurus pesantren dan kader santri kesehatan dapat membiasakan beberapa langkah sederhana berikut:

• Jangan bertukar handuk, pakaian, sarung, atau perlengkapan tidur.
• Mandi secara teratur dan keringkan tubuh dengan baik.
• Segera ganti pakaian yang basah atau penuh keringat.
• Jaga kamar, kamar mandi, dan tempat tidur tetap bersih.
• Jemur dan rawat perlengkapan tidur secara berkala sesuai kondisi fasilitas.
• Segera laporkan bila muncul gatal atau ruam, terutama jika teman sekamar mengalami keluhan serupa.

Kebiasaan sederhana tersebut sejalan dengan semangat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), yaitu menjadikan perilaku sehat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kalau Ada Santri yang Gatal, Harus Bagaimana?

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah tidak mengejek atau menyalahkan santri yang sedang mengalami keluhan. Penyakit kulit bisa dialami siapa saja.

Jika dicurigai skabies atau penyakit kulit menular, santri sebaiknya diperiksa oleh tenaga kesehatan. Pengurus dapat berkoordinasi dengan puskesmas, klinik, atau fasilitas kesehatan terdekat. Hindari membagikan obat kepada teman hanya karena gejalanya terlihat sama, karena gatal dan ruam dapat disebabkan oleh banyak kondisi.

Untuk skabies, WHO dan CDC menekankan pentingnya penanganan orang yang terinfestasi dan kontak dekat secara terkoordinasi agar penularan dan infeksi ulang dapat dicegah. Pakaian, handuk, serta perlengkapan tidur yang digunakan juga perlu ditangani sesuai arahan tenaga kesehatan.

Kader Santri Kesehatan Tidak Harus Menjadi “Dokter”

Kader santri kesehatan memiliki peran penting, tetapi bukan untuk menentukan diagnosis. Perannya adalah menjadi penggerak kebiasaan sehat dan membantu menemukan masalah lebih awal.

Kader dapat mengingatkan teman agar tidak bertukar handuk, membantu mengawasi kebersihan kamar, serta mengajak santri segera melapor ketika mengalami gatal atau ruam. Bila beberapa santri dalam satu kamar mengalami keluhan yang sama, informasi tersebut sebaiknya segera disampaikan kepada pengurus dan tenaga kesehatan.

Edukasi juga dapat dibuat sederhana. Misalnya: “Handuk itu barang pribadi”, “Jangan tidur dengan baju yang masih berkeringat”, atau “Kalau gatal terus pada malam hari, segera lapor.” Pesan pendek seperti ini lebih mudah diingat oleh santri.

Kapan Perlu Dibawa ke Tenaga Kesehatan?

Santri sebaiknya diperiksa bila gatal atau ruam semakin luas, mengganggu tidur, dialami beberapa teman dalam satu kamar, tidak kunjung membaik, atau muncul luka akibat garukan. Pemeriksaan lebih cepat juga diperlukan bila terdapat nanah, bengkak, nyeri yang bertambah, atau demam.

WHO menjelaskan bahwa garukan akibat skabies dapat menyebabkan luka pada kulit dan membuka jalan bagi infeksi bakteri. Karena itu, keluhan gatal yang terus berlangsung sebaiknya tidak dibiarkan.

Pesantren Sehat Dimulai dari Kebiasaan Bersama

Mencegah penyakit kulit di pesantren tidak cukup hanya dengan mengingatkan santri untuk mandi. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan bersama: menjaga kebersihan diri, tidak bertukar barang pribadi, menjaga pakaian dan tubuh tetap kering, membersihkan lingkungan, serta berani melapor ketika ada keluhan.

Pengurus pesantren dapat membangun sistemnya, sedangkan kader santri kesehatan membantu menghidupkan kebiasaannya. Dengan PHBS yang dilakukan bersama, masalah kulit dapat dikenali lebih awal dan risiko penularan dapat ditekan.

Author Profile

Rafie Nur Sidiq
Yuk Share Postingan Ini:
Rafie Nur Sidiq
Rafie Nur Sidiq
Articles: 133

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *