Kalau mendengar kata “penyakit”, kita mungkin langsung membayangkan orang dewasa atau orang yang sudah lanjut usia. Padahal, remaja juga bisa mengalami berbagai masalah kesehatan.
Masa remaja merupakan periode ketika tubuh, pikiran, dan kehidupan sosial mengalami banyak perubahan. WHO mendefinisikan remaja sebagai kelompok usia 10–19 tahun. Pada masa ini, kebiasaan seperti pola makan, aktivitas fisik, tidur, penggunaan zat, hingga cara menghadapi masalah mulai terbentuk dan dapat memengaruhi kesehatan di kemudian hari.
Karena itu, mengenal kesehatan tidak harus menunggu sampai seseorang dewasa atau sampai muncul keluhan. Sekolah justru bisa menjadi salah satu tempat yang dekat dengan kehidupan remaja untuk mulai mengenali kondisi tubuh, memahami risiko penyakit, dan belajar menjaga kesehatan.
Remaja Bukan Berarti Bebas dari Masalah Kesehatan
Masa remaja memang sering dianggap sebagai masa yang sehat. Namun, WHO mencatat bahwa remaja tetap menghadapi berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan kesehatan mental, anemia, penyakit infeksi, cedera, masalah gizi, hingga berbagai kondisi yang berkaitan dengan kebiasaan hidup.
Jenis masalah kesehatan yang muncul juga dapat berbeda berdasarkan usia, jenis kelamin, dan lingkungan tempat seseorang tinggal.
Artinya, pembicaraan mengenai kesehatan remaja tidak cukup hanya tentang sakit ketika sudah muncul gejala. Hal yang tidak kalah penting adalah mengenali faktor risiko dan membangun kebiasaan sehat sejak awal.

1. Anemia, Terutama pada Remaja Putri
Salah satu masalah kesehatan yang perlu diperhatikan pada usia remaja adalah anemia.
Anemia merupakan kondisi ketika tubuh tidak memiliki jumlah sel darah merah atau hemoglobin yang cukup untuk membawa oksigen sesuai kebutuhan tubuh. Pada remaja, kondisi ini dapat berkaitan dengan kebutuhan zat besi yang meningkat selama masa pertumbuhan. Pada remaja putri, menstruasi juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
Keluhan anemia bisa terasa cukup umum, seperti mudah lelah, lemas, atau sulit berkonsentrasi. Karena gejalanya dapat dianggap sebagai “capek biasa”, kondisi tersebut terkadang tidak langsung diperhatikan.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan melalui hasil SKI 2023 juga menyoroti persoalan pencegahan anemia pada remaja putri. Data tersebut menunjukkan bahwa pemberian dan konsumsi Tablet Tambah Darah masih menjadi tantangan. Salah satu persoalannya adalah masih adanya remaja yang belum mengetahui manfaat tablet tersebut.
Inilah salah satu alasan mengapa sekolah dapat menjadi tempat penting untuk memberikan edukasi mengenai anemia dan kebiasaan menjaga kesehatan sejak remaja.
2. Kesehatan Mental Juga Perlu Diperhatikan
Selain kesehatan fisik, kesehatan mental juga tidak boleh dilupakan.
Masa remaja dapat diwarnai banyak perubahan. Ada tuntutan sekolah, hubungan dengan teman, perubahan dalam keluarga, pencarian jati diri, hingga kekhawatiran mengenai masa depan.
Tidak semua remaja mengalami masalah kesehatan mental, tetapi WHO menyebut depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku termasuk penyebab penting masalah kesehatan pada kelompok remaja.
Di Indonesia, hasil SKI 2023 menunjukkan bahwa kelompok usia 15–24 tahun memiliki prevalensi depresi sebesar 2%, dan menjadi kelompok usia dengan angka tertinggi dalam survei tersebut.
Angka tersebut bukan berarti 2% remaja Indonesia pasti mengalami depresi sepanjang hidupnya. Angka tersebut merupakan hasil pengukuran depresi dalam SKI 2023 menggunakan instrumen tertentu pada kondisi yang dinilai dalam survei.
Hal yang dapat dipelajari dari data tersebut adalah bahwa kesehatan mental remaja memang perlu mendapat perhatian.
Sekolah dapat menjadi tempat untuk membangun lingkungan yang mendukung, mengajarkan keterampilan menghadapi masalah, dan membantu siswa mengetahui kapan mereka perlu mencari bantuan.
3. Masalah Berat Badan dan Kebiasaan Kurang Aktif
Remaja juga dapat menghadapi masalah gizi, termasuk berat badan berlebih.
Pola makan dan aktivitas fisik merupakan bagian dari kebiasaan yang mulai terbentuk sejak usia muda. Terlalu banyak duduk, kurang bergerak, serta pola makan yang tidak seimbang dapat menjadi bagian dari faktor yang memengaruhi kesehatan.
WHO menyebut kelebihan berat badan dan kurangnya aktivitas fisik sebagai tantangan kesehatan yang sudah dapat muncul sejak masa kanak-kanak dan remaja.
Namun, bukan berarti setiap remaja yang sering bermain gawai atau menyukai makanan tertentu pasti akan mengalami obesitas. Masalah berat badan dipengaruhi oleh banyak faktor.
Karena itu, edukasi kesehatan di sekolah sebaiknya tidak hanya berisi larangan seperti “jangan makan ini” atau “jangan main HP terlalu lama”. Lebih baik remaja diajak memahami keseimbangan antara makan, bergerak, tidur, belajar, dan beristirahat.
Kebiasaan sederhana seperti aktif bergerak, memilih makanan yang lebih beragam, dan mengurangi terlalu banyak waktu duduk dapat menjadi langkah awal.
4. Penyakit Infeksi Masih Perlu Diwaspadai
Remaja juga tidak terlepas dari penyakit infeksi.
WHO memasukkan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari masalah kesehatan yang dapat dialami remaja. Tuberkulosis atau TBC, misalnya, masih menjadi masalah kesehatan global dan dapat menyerang anak maupun remaja.
Selain TBC, infeksi saluran pernapasan dan penyakit yang berkaitan dengan lingkungan, kebersihan, air, dan sanitasi juga dapat memengaruhi kesehatan remaja.
Hal ini menunjukkan bahwa menjaga kesehatan di sekolah bukan hanya soal pemeriksaan tekanan darah atau berat badan. Kebiasaan mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan perilaku hidup bersih, mengikuti imunisasi sesuai rekomendasi, serta mengetahui kapan harus mencari pertolongan kesehatan juga merupakan bagian dari kesehatan remaja.
5. Tekanan Darah Tinggi dan Risiko Penyakit Tidak Menular
Mungkin ada yang berpikir bahwa tekanan darah tinggi hanya perlu diperhatikan ketika seseorang sudah tua.
Padahal, tekanan darah juga dapat diperiksa pada usia muda. Hasil SKI 2023 menunjukkan bahwa pada penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas, prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah adalah 29,2%, sedangkan berdasarkan diagnosis dokter sebesar 8%.
Perbedaan tersebut perlu dipahami dengan hati-hati. Angka berdasarkan pengukuran dalam survei tidak sama dengan mengatakan bahwa seluruh orang tersebut telah mendapatkan diagnosis hipertensi dari dokter.
Data tersebut justru menunjukkan pentingnya mengetahui kondisi kesehatan melalui pemeriksaan yang tepat.
Hipertensi juga sering tidak menimbulkan gejala yang jelas. Karena itu, seseorang dapat merasa baik-baik saja tetapi tetap perlu memperhatikan tekanan darahnya.
Bagi remaja, pemeriksaan kesehatan bukan berarti mereka sedang dianggap sakit. Pemeriksaan dapat menjadi kesempatan untuk mengetahui kondisi tubuh dan belajar mengenai faktor risiko kesehatan.

Lalu, Kenapa Sekolah Bisa Menjadi Tempat yang Penting?
Sebagian besar waktu remaja dihabiskan di lingkungan keluarga dan sekolah.
Di sekolah, mereka bukan hanya mendapatkan pelajaran akademik. Mereka juga membentuk kebiasaan, berinteraksi dengan teman, melakukan aktivitas fisik, dan belajar mengambil keputusan.
WHO menempatkan masa remaja sebagai periode penting untuk membangun dasar kesehatan. Kebiasaan yang terbentuk pada masa ini dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan saat dewasa.
Karena itu, edukasi kesehatan di sekolah sebenarnya tidak harus selalu rumit.
Mengenalkan pentingnya sarapan dan pola makan seimbang, mengajak siswa aktif bergerak, membicarakan kesehatan mental secara sehat, mengenalkan anemia, mengajarkan kebersihan diri dan lingkungan, serta memberikan kesempatan untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.
Yang terpenting, edukasi dilakukan dengan cara yang tidak membuat siswa takut.
Pemeriksaan Kesehatan Bukan Berarti Sedang Sakit
Ada satu hal yang sering terlupakan: melakukan pemeriksaan kesehatan bukan berarti seseorang sedang sakit.
Justru, pemeriksaan dapat membantu seseorang mengetahui kondisi tubuhnya.
Misalnya, pengukuran tekanan darah dapat memberikan informasi mengenai tekanan darah seseorang pada saat pemeriksaan. Pemeriksaan kadar hemoglobin dapat membantu menilai kondisi yang berkaitan dengan anemia. Pemeriksaan lain dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan indikasi.
Namun, hasil pemeriksaan tidak selalu dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan seseorang mengalami penyakit tertentu. Interpretasi hasil perlu disesuaikan dengan jenis pemeriksaan, kondisi individu, dan bila diperlukan dikonfirmasi oleh tenaga kesehatan.
Karena itu, siswa tidak perlu takut ketika mendapatkan pemeriksaan kesehatan.
Tujuannya bukan mencari siapa yang sakit, tetapi membantu seseorang lebih mengenal kondisi kesehatannya.
Mulai dari Hal yang Sederhana
Menjaga kesehatan sejak sekolah tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Remaja bisa mulai dengan lebih aktif bergerak, menjaga pola makan, mencukupi waktu tidur, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, menghindari rokok dan zat berbahaya, serta tidak mengabaikan keluhan kesehatan yang menetap atau mengganggu aktivitas.
Untuk kesehatan mental, berbicara dengan orang yang dipercaya juga dapat menjadi langkah penting ketika menghadapi masalah yang terasa berat.
Sementara itu, pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan sesuai program kesehatan, kebutuhan, atau anjuran tenaga kesehatan.
Kebiasaan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, justru kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari fondasi kesehatan seseorang.
Sekolah Bisa Menjadi Awal untuk Lebih Peduli Kesehatan
Mengenal risiko penyakit tidak berarti membuat remaja harus takut dengan penyakit.
Sebaliknya, pengetahuan kesehatan dapat membantu mereka memahami tubuh sendiri dan mengambil langkah yang lebih baik.
Anemia, masalah kesehatan mental, masalah gizi, penyakit infeksi, hingga faktor risiko penyakit tidak menular merupakan beberapa hal yang perlu dikenalkan sejak remaja. Tidak semuanya dapat dicegah sepenuhnya, tetapi banyak masalah kesehatan dapat dikenali lebih awal atau risikonya dapat dikurangi melalui kebiasaan sehat dan akses terhadap layanan kesehatan.
Sekolah karena itu dapat menjadi salah satu tempat yang strategis untuk menanamkan kebiasaan tersebut.
Sebab, menjaga kesehatan tidak seharusnya baru dimulai ketika tubuh sudah memberikan tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Semakin awal seseorang mengenal kesehatannya, semakin besar kesempatan untuk belajar menjaganya.
Artikel ini telah direview oleh:
Nenden Ela Yuliani, S.K.M
Programer Promkes Puskesmas Singaparna
Jl Pancawarna No 07 Ds. Singaparna Kec. Singaparna Kab Tasikmalaya, Jawa Barat
No. Telepon : 08211858730
Author Profile
- Saya adalah mahasiswa Fisioterapi yang memiliki ketertarikan pada bidang kesehatan, edukasi, dan komunikasi informasi kesehatan. Saya tertarik mempelajari berbagai isu kesehatan, khususnya kesehatan fisik, aktivitas gerak, pencegahan cedera, dan rehabilitasi. Melalui tulisan dan konten edukatif, saya ingin berbagi informasi kesehatan yang sederhana, informatif, dan mudah dipahami oleh masyarakat.
Latest entries
Edukasi KesehatanOktober 3, 2026Waspadai 5 Masalah Kesehatan pada Remaja
Edukasi KesehatanSeptember 22, 2026Hipertensi dan Diabetes Bisa Dikenali Sejak Sekolah
Berita KesehatanSeptember 22, 2026Sehat Dimulai dari Sekolah, SMAN 2 Singaparna Gelar Cek Kesehatan Gratis
Edukasi KesehatanSeptember 21, 2026Pentingnya Cek Kesehatan Meski Tubuh Terasa Sehat



