Mulyaharja, 5 Februari 2025 – Kelompok 2 Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) UIN Jakarta sukses menggelar Pelatihan dan Koordinasi Tanggap Tuberkulosis dan Edukasi yang Nyata (PUNTEUN) dalam upaya meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai Tuberkulosis (TBC). Kegiatan ini berlangsung pada pukul 08.00 WIB di Aula Kelurahan Mulyaharja, Jalan Raya Cibeureum. Program ini menjadi wadah bagi kader posyandu dan Ketua RW dalam memperkuat peran mereka dalam edukasi TBC di lingkungan masyarakat.

Kegiatan PUNTEUN menghadirkan narasumber utama, yaitu Bapak Baequni, S.K.M., M.Kes. Ph. D yang merupakan dosen Kesehatan Masyarakat UIN Jakarta sekaligus dosen pembimbing fakultas kelompok 2 PBL UIN Jakarta tahun 2025. Beliau membawakan topik yang menarik, ringan, serta relevan bagi masyarakat mengenai strategi komprehensif dalam pencegahan dan pengendalian TBC. Materi ini bertujuan untuk memberikan wawasan mendalam kepada para peserta agar lebih siap dalam menghadapi tantangan yang ada di lapangan.
Acara yang berlangsung selama tiga jam ini, tidak hanya berisi pemaparan materi, tetapi menghadirkan berbagai kegiatan interaktif yang sangat menarik. salah satunya adalah sesi Focus Group Discussion (FGD) yang menggali permasalahan nyata yang sering dihadapi kader dan ketua RW dalam upaya pencegahan TBC. Selain itu, kegiatan roleplay turut melibatkan peserta dalam simulasi edukasi kepada masyarakat sehingga mereka dapat lebih memahami cara penyampaian informasi dengan efektif.

Tak hanya disitu saja, dalam acara ini pun dilakukan pembagian booklet kepada peserta. Booklet ini dirancang sebagai buku saku yang berisi informasi penting mengenai TBC, sehingga dapat digunakan sebagai referensi dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. adanya booklet ini diharapkan kader dan ketua RW dapat lebih percaya diri dalam menyebarkan informasi yang benar mengenai pencegahan, stigma negatif yang masih kental di masyarakat, dan pengobatan TBC dengan Terapi Pencegahan TBC (TPT).
Harapan besar dari terselenggaranya program ini adalah terjalinnya kolaborasi lebih kuat yang disertai slogan “Bersama, Wujudkan Masyarakat Bebas TBC” antara para kader posyandu dan ketua RW dalam menyebarkan edukasi mengenai TBC, berkurangnya stigma negatif pada penyakit ini, dan masyarakat semakin sadar akan pentingnya pencegahan serta pengobatan TBC dengan tepat.



