Di era sekarang, banyak dari kita terjebak dalam hustle culture yang merupakan sebuah pola pikir dengan menganggap bahwa semakin sibuk dan produktif seseorang, maka semakin tinggi pula nilainya. Tanpa sadar, tekanan ini membuat kita merasa bersalah saat mengambil waktu dan ruang untuk beristirahat, bahkan mengaitkan harga diri dengan pencapaian semata.
Padahal, terus-menerus memaksa diri untuk “bergerak” tanpa henti justru berisiko memicu kelelahan mental (burnout), rasa tidak cukup, hingga kehilangan motivasi. Di sinilah pentingnya menerapkan self-compassion, yaitu sikap welas asih dan penerimaan terhadap diri sendiri, terutama saat sedang tidak berada dalam kondisi yang baik.

Self-compassion bukan berarti memanjakan diri secara berlebihan, tetapi tentang memberi ruang untuk istirahat, memahami keterbatasan, dan tidak menghakimi diri saat sedang merasa gagal atau tidak produktif.
Berikut beberapa cara sederhana untuk mulai menerapkan self-compassion dalam keseharian:

1. Menulis Jurnal/jurnaling
Luangkan waktu beberapa menit setiap hari untuk mencurahkan isi hati ke dalam tulisan. Tulis apapun yang dirasakan misalnya lelah, kecewa, bingung, dan perasaan apapun tanpa harus disensor maupun disembunyikan. Aktivitas ini dapat membantu kita menyadari dan menerima emosi tanpa harus merasa bersalah. Jurnaling dapat membantu kita untuk sadar bahwa semua emosi itu manusiawi dan layak diterima.
2. Refleksi Diri
Refleksi diri ini ialah self reflection atau proses interopeksi. Hal ini bertujuan untuk melihat, merenung, dan mengevaluasi diri sendiri terkait perasaan sehingga dapat menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam tentang diri sendiri. Alih-alih terus bertanya “Kenapa aku belum cukup berhasil?”, coba ubah pertanyaannya menjadi “Apa hal kecil yang sudah aku lakukan dengan baik hari ini?” atau “Apa yang bisa aku syukuri dari diriku sendiri?”
3. Memberi Waktu Istirahat Tanpa Rasa Bersalah
Istirahat bukan bentuk kelemahan. Justru itu adalah kebutuhan. Memberi jeda sejenak kepada diri sendiri dari rutinitas dapat membantu tubuh dan pikiran untuk pulih dan kembali fokus.

Pada akhirnya, produktivitas bukan satu-satunya yang dapat mengukur nilai diri. Kita tetap berharga meski sedang tidak dalam masa paling produktif atau paling “berhasil”. Merawat kesehatan mental sama pentingnya dengan mengejar tujuan hidup.
Mulailah bersikap lebih lembut pada diri sendiri. Dunia sudah cukup menuntut tidak perlu menambah tekanan dari dalam diri.
Artikel ini telah direview oleh:
Ari Sriyanti, S.KM
Tenaga Promkes Puskesmas Culamega
UPTD Puskesmas Culamega Tasikmalaya
Jl. Gubernur Sewaka No. 2, Desa Cintabodas, Kecamatan Culamega, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.



