Kegiatan Pramuka identik dengan aktivitas di luar ruangan. Mulai dari berkemah, hiking, jelajah alam, upacara, permainan kelompok, sampai kegiatan sosial. Seru, tentu saja. Tapi, ada satu hal yang kadang terlupakan: kondisi kesehatan selama kegiatan berlangsung.
Saat berada di alam terbuka, tubuh menghadapi kondisi yang berbeda dari biasanya. Cuaca bisa sangat panas, aktivitas fisik lebih banyak, waktu istirahat berkurang, sementara akses air bersih, toilet, dan fasilitas kesehatan mungkin terbatas.
Bukan berarti kegiatan Pramuka harus ditakuti. Justru dengan persiapan yang baik, berbagai gangguan kesehatan bisa dicegah.
Lalu, penyakit atau masalah kesehatan apa saja yang perlu diperhatikan saat kegiatan Pramuka dan perkemahan?
1. Dehidrasi dan gangguan akibat panas
Salah satu masalah yang perlu diperhatikan ketika kegiatan Pramuka dilakukan di luar ruangan adalah dehidrasi dan penyakit akibat panas.
Bayangkan tubuh seperti kendaraan. Kalau terus digunakan untuk berjalan, berlari, atau membawa perlengkapan tanpa cukup “bahan bakar”, lama-lama performanya menurun. Begitu juga tubuh ketika kehilangan cairan terlalu banyak.
Aktivitas fisik di cuaca panas dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan gangguan akibat panas. Gejalanya dapat berupa rasa sangat haus, lemas, pusing, sakit kepala, mual, kram otot, hingga merasa akan pingsan. CDC menyarankan agar aktivitas dihentikan dan seseorang dipindahkan ke tempat yang lebih sejuk jika mulai merasa lemah atau hampir pingsan.
Yang bisa dilakukan:
- Minum secara teratur dan jangan menunggu sampai sangat haus.
- Beristirahat secara berkala.
- Cari tempat teduh ketika cuaca sangat panas.
- Atur aktivitas fisik agar tidak terlalu berat.
- Gunakan pakaian yang nyaman dan sesuai kondisi.
- Perhatikan teman satu regu, terutama ketika kegiatan berlangsung lama.
Yang paling penting, jangan menganggap pusing atau lemas sebagai hal sepele.
Heat stroke merupakan kondisi darurat medis. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak lagi mampu mengendalikan suhu tubuh dan dapat menyebabkan kecacatan permanen bahkan kematian jika tidak segera mendapatkan pertolongan.

2. Diare dan gangguan pencernaan
Masalah berikutnya yang cukup masuk akal terjadi dalam kegiatan perkemahan adalah diare atau gangguan pencernaan akibat makanan dan air yang tidak aman.
Dalam suasana camping, makanan sering dimasak bersama-sama. Air juga bisa berasal dari sumber yang berbeda dengan air yang biasa digunakan di rumah.
Kalau kebersihan tangan, makanan, peralatan masak, atau air tidak diperhatikan, risiko penyakit saluran pencernaan dapat meningkat.
WHO menjelaskan bahwa penyakit diare dapat menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi maupun melalui kontak antarmanusia akibat kebersihan yang buruk. Air minum yang aman, sanitasi yang baik, dan mencuci tangan dengan sabun merupakan bagian penting dari pencegahannya.
CDC juga secara khusus mengingatkan bahwa norovirus dapat menyebar dengan mudah dalam kegiatan camping, terutama ketika fasilitas cuci tangan dan air bersih terbatas serta banyak orang tinggal berdekatan.
Jadi, sebelum makan nasi bungkus setelah seharian hiking, jangan lupa cuci tangan dulu.
Kelihatannya sederhana, tetapi kebiasaan kecil seperti ini justru penting.
Agar tidak mudah terkena diare saat camping:
- Cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah dari toilet.
- Gunakan air yang aman untuk minum dan memasak.
- Pastikan makanan dimasak dengan baik.
- Jangan membiarkan makanan terlalu lama dalam kondisi penyimpanan yang tidak aman.
- Jangan berbagi alat makan atau minuman dengan orang yang sedang sakit.
- Jaga kebersihan area memasak dan tempat makan.
- Pisahkan area toilet dari tempat memasak dan sumber air.
Kalau seseorang mengalami diare, terutama disertai tanda dehidrasi, kondisi tersebut perlu diperhatikan dan dapat membutuhkan pemeriksaan tenaga kesehatan.
3. Penyakit akibat gigitan nyamuk
Camping berarti lebih banyak menghabiskan waktu di luar ruangan. Artinya, kita juga lebih mungkin bertemu dengan serangga, termasuk nyamuk.
Gigitan nyamuk bukan hanya menyebabkan rasa gatal. Beberapa jenis nyamuk dapat membawa penyakit.
Di Indonesia, salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, sedangkan WHO menyebut nyamuk penyebar dengue aktif pada siang hari.
Karena itu, perlindungan dari gigitan nyamuk tetap penting meskipun kegiatan dilakukan pada siang hari.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Gunakan pakaian yang menutupi sebagian besar kulit.
- Gunakan obat pengusir nyamuk sesuai petunjuk pada kemasan.
- Gunakan kelambu jika tempat tidur terbuka terhadap nyamuk.
- Hindari membiarkan genangan air di sekitar lokasi kegiatan.
- Perhatikan kebersihan lingkungan perkemahan.
Kementerian Kesehatan juga mendorong pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus, yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang barang yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk, ditambah berbagai langkah pencegahan lainnya.
Untuk kegiatan Pramuka, prinsipnya sederhana: jangan sampai lingkungan perkemahan justru menyediakan tempat yang nyaman bagi nyamuk untuk berkembang biak.
4. Infeksi saluran pernapasan
Coba bayangkan satu tenda diisi beberapa orang. Mereka tidur berdekatan, makan bersama, mengikuti kegiatan bersama, dan menggunakan fasilitas yang sama.
Kalau ada satu orang yang sedang mengalami infeksi saluran pernapasan, penyebaran kuman bisa menjadi lebih mudah, terutama dalam lingkungan yang ramai dan kontaknya dekat.
Gangguan pernapasan dapat berupa berbagai penyakit, termasuk influenza, COVID-19, dan infeksi saluran pernapasan lainnya. CDC merekomendasikan kebiasaan seperti menjaga kebersihan tangan, menutup mulut ketika batuk atau bersin, menjaga kebersihan lingkungan, dan mengambil langkah tambahan ketika sedang sakit.
Karena itu, jangan memaksakan diri ikut perkemahan kalau sedang sakit.
Kalau seseorang mengalami demam, batuk, pilek, atau merasa tidak enak badan sebelum keberangkatan, sebaiknya kondisi tersebut diperhatikan terlebih dahulu.
Untuk pengurus Pramuka, penting juga memiliki prosedur sederhana: peserta yang sakit harus segera dilaporkan, dipantau, dan bila perlu dipisahkan sementara dari peserta lain.
Ini bukan berarti mengucilkan teman. Justru ini bentuk kepedulian kepada seluruh anggota regu.
5. Masalah kulit dan infeksi jamur
Camping membuat tubuh lebih sering berkeringat. Belum lagi kalau pakaian atau kaus kaki basah digunakan terlalu lama.
Kondisi kulit yang lembap dan hangat dapat mendukung pertumbuhan jamur tertentu. Salah satu contohnya adalah tinea pedis atau athlete’s foot, yaitu infeksi jamur pada kaki yang sering mengenai area di antara jari kaki. Menjaga kaki tetap bersih dan kering serta mengganti kaus kaki secara teratur dapat membantu mencegahnya.
Infeksi jamur kulit juga dapat menyebar melalui kontak dengan orang yang terinfeksi atau melalui barang yang terkontaminasi, seperti handuk dan pakaian.
Karena itu, perlengkapan pribadi sebaiknya tidak dipakai bergantian.
Beberapa kebiasaan sederhana:
- Ganti kaus kaki jika sudah basah.
- Jaga kaki tetap bersih dan kering.
- Jangan berbagi handuk.
- Jangan berbagi pakaian pribadi.
- Mandi setelah aktivitas berat jika fasilitas memungkinkan.
- Gunakan alas kaki di area kamar mandi bersama.
6. Ruam dan iritasi kulit akibat panas
Selain infeksi jamur, panas dan keringat berlebihan juga dapat menyebabkan biang keringat atau heat rash.
Menurut American Academy of Dermatology, biang keringat terjadi ketika saluran keringat tersumbat sehingga keringat terperangkap di bawah kulit. Kondisinya dapat menyebabkan bintik-bintik kecil yang terasa gatal atau seperti tertusuk-tusuk.
Saat camping, kondisi ini bisa lebih mudah muncul jika seseorang terlalu lama berada di tempat panas, berkeringat banyak, atau menggunakan pakaian yang kurang nyaman.
Pencegahannya cukup sederhana: usahakan tubuh tetap sejuk, gunakan pakaian yang ringan dan tidak terlalu ketat, serta beristirahat di tempat yang teduh.
7. Luka, lecet, dan infeksi pada luka
Ini mungkin bukan “penyakit” dalam arti sebenarnya, tetapi luka dan lecet termasuk masalah kesehatan yang sangat mungkin ditemui dalam kegiatan luar ruangan.
Sepatu yang kurang cocok dapat menyebabkan lecet. Jalan yang berbatu dapat menyebabkan luka. Aktivitas permainan juga bisa menyebabkan goresan atau luka kecil.
Masalahnya bukan hanya rasa sakit.
Luka yang dibiarkan kotor dapat mengalami infeksi. CDC menyarankan luka ringan seperti goresan dan lecet dibersihkan dengan sabun dan air, kemudian ditutup dengan perban bersih. Luka yang dalam atau serius membutuhkan pemeriksaan tenaga kesehatan.
Karena itu, kotak P3K bukan sekadar pelengkap dalam kegiatan Pramuka.
Minimal, perlengkapan pertolongan pertama perlu disiapkan dan mudah ditemukan ketika dibutuhkan.
Jadi, apa yang paling penting disiapkan?
Kalau diringkas, menjaga kesehatan saat kegiatan Pramuka sebenarnya kembali pada beberapa kebiasaan dasar.
Sebelum berangkat:
- Pastikan kondisi tubuh cukup fit.
- Siapkan obat pribadi bila memang diperlukan.
- Bawa botol minum.
- Bawa perlengkapan kebersihan pribadi.
- Siapkan pakaian dan kaus kaki cadangan.
- Gunakan perlengkapan yang sesuai dengan kondisi lokasi.
- Pastikan pengurus mengetahui kontak darurat dan fasilitas kesehatan terdekat.
Saat kegiatan berlangsung:
- Minum secara teratur.
- Jangan memaksakan aktivitas ketika tubuh sudah terlalu lelah.
- Cuci tangan sebelum makan.
- Gunakan air yang aman.
- Jaga kebersihan makanan.
- Lindungi diri dari gigitan nyamuk.
- Jaga kebersihan kaki dan kulit.
- Segera laporkan jika ada anggota yang sakit.
Untuk pengurus Pramuka:
Jangan hanya fokus pada jadwal kegiatan. Kesehatan peserta juga perlu masuk dalam perencanaan.
Sediakan air minum yang aman, fasilitas cuci tangan, toilet yang layak, kotak P3K, perlindungan dari cuaca, serta mekanisme sederhana untuk menangani peserta yang sakit.
Kapan harus segera mencari pertolongan?
Tidak semua keluhan membutuhkan kepanikan. Namun, ada kondisi yang tidak sebaiknya ditunggu terlalu lama.
Segera cari bantuan medis jika seseorang mengalami kondisi seperti:
- sulit bernapas;
- penurunan kesadaran atau sulit dibangunkan;
- pingsan;
- kejang;
- tanda-tanda heat stroke;
- dehidrasi berat;
- muntah atau diare berat;
- perdarahan yang sulit berhenti;
- luka dalam atau serius;
- kondisi yang terus memburuk meskipun sudah beristirahat.
Untuk dugaan heat stroke, jangan menunggu kondisi membaik sendiri karena keadaan ini merupakan kegawatdaruratan.
FAQ: Penyakit Saat Kegiatan Pramuka
Apa penyakit yang sering terjadi saat kegiatan Pramuka?
Tidak ada satu daftar universal yang dapat disebut sebagai “penyakit paling sering” pada semua kegiatan Pramuka. Namun, beberapa masalah kesehatan yang perlu diantisipasi adalah gangguan akibat panas dan dehidrasi, diare atau penyakit bawaan makanan, penyakit yang ditularkan nyamuk, infeksi saluran pernapasan, masalah kulit, infeksi jamur, serta luka dan lecet.
Bagaimana cara mencegah diare saat camping?
Gunakan air yang aman, jaga kebersihan tangan, masak makanan dengan baik, dan jaga kebersihan tempat makan serta toilet. Kebersihan makanan, air, dan tangan merupakan bagian penting dalam mencegah penyakit diare.

Apakah camping bisa menyebabkan DBD?
Camping tidak otomatis menyebabkan DBD. Namun, kegiatan di luar ruangan dapat meningkatkan paparan terhadap nyamuk. Karena dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, perlindungan dari gigitan nyamuk tetap penting, terutama di wilayah yang memiliki risiko dengue.
Apa yang harus dilakukan kalau teman sakit saat perkemahan?
Segera laporkan kepada pembina atau pengurus kesehatan kegiatan. Berikan pertolongan sesuai kondisi, kurangi kontak dengan peserta lain bila penyakitnya berpotensi menular, dan cari bantuan tenaga kesehatan jika gejalanya berat atau memburuk.
Penutup
Kegiatan Pramuka seharusnya menjadi pengalaman yang menyenangkan, bukan malah berakhir dengan pulang membawa penyakit.
Kabar baiknya, banyak risiko kesehatan saat perkemahan sebenarnya bisa dikurangi dengan kebiasaan yang sederhana: minum cukup, menjaga kebersihan tangan dan makanan, melindungi diri dari nyamuk, menjaga tubuh tetap sejuk, membawa perlengkapan P3K, dan tidak memaksakan diri ketika sedang sakit.
Artikel ini telah direview oleh:
Nenden Ela Yuliani, S.K.M
Programer Promkes Puskesmas Singaparna
Jl Pancawarna No 07 Ds. Singaparna Kec. Singaparna Kab Tasikmalaya, Jawa Barat
No. Telepon : 08211858730





