
Singaparna – Edukasi mengenai anemia dan pentingnya Tablet Tambah Darah (TTD) menjadi bagian dari kegiatan kesehatan remaja di SMPN 2 Singaparna, Kamis, 27 Agustus 2026. Kegiatan tersebut berlangsung bersamaan dengan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan diikuti sebanyak 525 siswa serta guru.
Melalui kegiatan tersebut, sekolah mengajak siswa mengenali anemia sejak dini. Selain itu, sekolah mendorong remaja, khususnya remaja putri, untuk menerapkan kebiasaan hidup sehat serta mengikuti pemberian TTD sesuai sasaran dan anjuran tenaga kesehatan.
Edukasi Anemia Menyasar Remaja di Sekolah

Hilmi Muhammad Syahid, S.Pd., selaku Pembina UKS, menyampaikan materi mengenai anemia dan TTD kepada siswa dan guru. Ia memberikan edukasi selama kurang lebih 30 menit dalam rangkaian kegiatan di sekolah.
Dalam penyampaiannya, edukasi menjelaskan bahwa anemia terjadi ketika tubuh memiliki kadar hemoglobin atau jumlah sel darah merah yang lebih rendah dari batas normal. Akibatnya, tubuh tidak dapat membawa oksigen secara optimal ke berbagai jaringan.
Karena itu, seseorang yang mengalami anemia dapat merasakan berbagai keluhan, seperti mudah lelah, lemas, pusing, atau mengalami kesulitan berkonsentrasi. WHO juga mencatat bahwa remaja yang mengalami kekurangan zat besi dapat menghadapi dampak kesehatan, sementara remaja yang mengalami menstruasi memiliki risiko anemia lebih tinggi akibat kehilangan darah secara berkala.
Remaja Putri Memiliki Risiko Lebih Tinggi

Masa remaja menjadi periode penting karena tubuh mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Pada masa tersebut, tubuh membutuhkan zat gizi yang cukup untuk menunjang pertumbuhan fisik, perkembangan, serta aktivitas sehari-hari.
Selain itu, remaja putri mengalami menstruasi secara berkala. Kondisi tersebut menyebabkan tubuh kehilangan darah dan zat besi. Oleh sebab itu, remaja putri perlu memastikan kebutuhan zat besi tetap terpenuhi melalui makanan bergizi seimbang dan suplementasi sesuai program kesehatan.
Selanjutnya, pola makan yang kurang beragam juga dapat meningkatkan risiko kekurangan zat besi. Karena itu, remaja perlu mengonsumsi makanan yang mengandung sumber zat besi, baik dari pangan hewani maupun nabati.
Tablet Tambah Darah Bantu Cegah Anemia

Selain memperbaiki pola makan, remaja putri dapat mengikuti program pemberian Tablet Tambah Darah. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa pemerintah menjalankan suplementasi TTD bagi remaja putri sebagai salah satu upaya mencegah anemia. Dalam program Aksi Bergizi, konsumsi TTD bagi remaja putri menjadi salah satu kebiasaan yang didorong di lingkungan sekolah.
Karena itu, remaja putri perlu mengikuti jadwal pemberian TTD sesuai ketentuan program dan petunjuk tenaga kesehatan. Kementerian Kesehatan juga mendorong remaja putri untuk mengonsumsi TTD secara rutin sebagai bagian dari upaya pencegahan anemia.
Sementara itu, WHO menyebut suplementasi zat besi dapat membantu menurunkan risiko anemia dan kekurangan zat besi pada perempuan yang mengalami menstruasi serta remaja putri. Namun, pemberian suplemen tetap perlu mengikuti rekomendasi dan konteks program kesehatan setempat.
Aksi Bergizi Bangun Kebiasaan Sehat
Pencegahan anemia tidak cukup hanya dengan memberikan informasi. Sebaliknya, sekolah perlu membantu siswa membangun kebiasaan sehat secara konsisten.
Untuk itu, sekolah dapat mengintegrasikan edukasi gizi dengan aktivitas fisik, konsumsi makanan bergizi seimbang, serta pemberian TTD bagi sasaran. Kementerian Kesehatan melalui Gerakan Nasional Aksi Bergizi memang menggabungkan edukasi gizi, aktivitas fisik, dan konsumsi TTD sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran kesehatan siswa.
Di SMPN 2 Singaparna, sekolah berharap siswa dan guru dapat menjalankan aksi bergizi secara rutin. Selain itu, sekolah mendorong pelaksanaan kegiatan tersebut setidaknya satu kali setiap minggu agar siswa dapat membangun kebiasaan hidup sehat.
Dengan demikian, kegiatan kesehatan di sekolah tidak berhenti pada penyampaian materi. Siswa dapat langsung menerapkan pesan kesehatan melalui kebiasaan sehari-hari.
Edukasi Kesehatan Terintegrasi dengan Kegiatan Keagamaan
Kegiatan di SMPN 2 Singaparna memiliki pendekatan yang menarik karena sekolah mengintegrasikan edukasi kesehatan dengan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Selain mengikuti tausiah keagamaan, siswa dan guru mendapatkan informasi mengenai anemia serta pentingnya TTD. Pendekatan tersebut memungkinkan sekolah menyampaikan pesan kesehatan di tengah kegiatan yang melibatkan banyak warga sekolah.
Sebanyak 525 siswa dan guru mengikuti edukasi tersebut. Sementara itu, Hilmi Muhammad Syahid, S.Pd., menyampaikan materi selama kurang lebih 30 menit.
Melalui integrasi tersebut, sekolah menunjukkan bahwa edukasi kesehatan dapat berlangsung melalui berbagai kegiatan bersama. Dengan cara itu, sekolah dapat memperluas kesempatan siswa untuk memperoleh informasi kesehatan yang bermanfaat.
Sekolah Berperan dalam Pencegahan Anemia
Sekolah memiliki peran penting dalam membangun kesadaran remaja mengenai anemia. Guru, pembina UKS, serta pihak sekolah dapat menyampaikan informasi yang benar mengenai gejala anemia, sumber zat besi, pola makan bergizi, aktivitas fisik, dan TTD.
Selanjutnya, sekolah dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi dan pendampingan. Kolaborasi tersebut dapat membantu siswa memahami cara mencegah anemia sekaligus mengetahui kapan mereka perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Selain itu, sekolah dapat menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan sehat. Misalnya, sekolah dapat melaksanakan edukasi secara berkala, mengadakan aktivitas fisik bersama, serta mendukung pelaksanaan pemberian TTD bagi sasaran sesuai program.
Cegah Anemia Sejak Remaja
Pencegahan anemia membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Remaja perlu meningkatkan pengetahuan dan menerapkan kebiasaan sehat. Sementara itu, sekolah dapat menyediakan lingkungan yang mendukung, keluarga dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi, dan tenaga kesehatan dapat memberikan edukasi serta pendampingan.
Karena itu, remaja perlu mulai memperhatikan pola makan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, melakukan aktivitas fisik, serta mengikuti pemberian TTD sesuai anjuran. Apabila remaja mengalami keluhan yang menetap, mereka juga perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan yang sesuai.
Pada akhirnya, edukasi anemia dan TTD di SMPN 2 Singaparna diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan penyampaian informasi. Sebaliknya, siswa dapat menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan membangun kebiasaan sehat secara konsisten, sekolah dapat membantu remaja menjaga kesehatan, mendukung aktivitas belajar, dan mempersiapkan generasi muda yang lebih sehat.
Referensi
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Gerakan Nasional Aksi Bergizi.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tentang Gerakan Aksi Bergizi.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Cegah Anemia pada Remaja Putri dengan Tablet Tambah Darah.
- World Health Organization (WHO). Daily iron supplementation in adult women and adolescent girls.
- World Health Organization (WHO). Prevalence of anaemia among adolescents.
Author Profile

Latest entries
UncategorizedAgustus 29, 2026Mengenal Anemia dan Pentingnya Tablet Tambah Darah bagi Remaja
UncategorizedAgustus 29, 2026Mengenal Anemia dan Pentingnya Tablet Tambah Darah bagi Remaja
UncategorizedAgustus 29, 2026Kampanye Kawasan Tanpa Rokok di SMPN 1 Singaparna
UncategorizedAgustus 29, 2026Mewujudkan Sekolah Sehat melalui Kawasan Tanpa Rokok