
Kehamilan merupakan salah satu periode penting dalam kehidupan seorang perempuan. Pada masa ini, tubuh mengalami berbagai perubahan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin. Kebutuhan energi, protein, vitamin, mineral, dan zat gizi lainnya juga perlu diperhatikan agar kesehatan ibu dan janin tetap terjaga. Namun, tidak semua ibu hamil dapat memenuhi kebutuhan gizinya secara optimal. Kekurangan asupan energi dan zat gizi yang berlangsung dalam waktu cukup lama dapat menyebabkan Kekurangan Energi Kronis (KEK).
Isu mengenai KEK pada ibu hamil menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Pembekalan Tim Pelaksana Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Berbasis Pangan Lokal bagi Ibu KEK dan Balita Masalah Gizi yang diselenggarakan UPTD Puskesmas Sukaresik pada 8 September 2026. Kegiatan tersebut tidak hanya membahas pemberian makanan tambahan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman kader dalam mendukung edukasi gizi di masyarakat.
Lalu, sebenarnya apa yang dimaksud dengan KEK pada ibu hamil? Bagaimana cara mengenalinya dan mengapa kondisi ini perlu diperhatikan?
Apa Itu KEK pada Ibu Hamil?
Kekurangan Energi Kronis (KEK) merupakan kondisi yang berkaitan dengan kekurangan asupan energi dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga cadangan energi tubuh tidak mencukupi. Pada ibu hamil, kebutuhan zat gizi meningkat karena tubuh tidak hanya memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, tetapi juga mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin. Karena itu, pemenuhan makanan selama kehamilan menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan ibu dan janin.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa risiko KEK pada ibu hamil dapat diketahui salah satunya melalui pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA). Ukuran LiLA kurang dari 23,5 cm digunakan sebagai salah satu indikator risiko KEK pada ibu hamil. Selain itu, status gizi juga dapat dinilai berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) sebelum hamil atau pada trimester pertama. Pengukuran tersebut merupakan bagian dari skrining, bukan berarti setiap ibu dengan hasil pengukuran tertentu dapat langsung menentukan penanganannya sendiri. Kondisi ibu hamil tetap perlu dinilai oleh tenaga kesehatan secara menyeluruh.

Mengapa Ibu Hamil Bisa Mengalami KEK?
KEK tidak selalu terjadi karena ibu hamil tidak mau makan. Ada berbagai kondisi yang dapat memengaruhi kecukupan asupan gizi selama kehamilan. Salah satunya adalah asupan makanan yang tidak mencukupi kebutuhan tubuh. Jika energi dan protein yang diperoleh dari makanan tidak mencukupi dalam waktu yang lama, cadangan energi tubuh dapat menurun.
Selain jumlah makanan, kualitas dan keberagaman makanan juga penting. Ibu hamil membutuhkan berbagai zat gizi yang berasal dari beragam kelompok makanan. Pola makan yang kurang beragam dapat membuat kebutuhan beberapa zat gizi tidak terpenuhi secara optimal. Kondisi lain juga dapat memengaruhi pemenuhan gizi selama kehamilan, seperti nafsu makan yang menurun, mual dan muntah, kondisi kesehatan tertentu, keterbatasan akses terhadap makanan bergizi, kondisi sosial ekonomi, maupun kebiasaan makan yang kurang sesuai dengan kebutuhan.
Karena itu, masalah gizi pada ibu hamil perlu dilihat secara menyeluruh. Tidak tepat jika KEK hanya dikaitkan dengan satu faktor saja.
Bagaimana Cara Mengetahui Risiko KEK?
Salah satu pemeriksaan sederhana yang dapat digunakan untuk melakukan skrining risiko KEK adalah pengukuran Lingkar Lengan Atas atau LiLA. Pengukuran dilakukan menggunakan pita LiLA pada lengan atas. Dalam standar yang digunakan di Indonesia, ukuran LiLA kurang dari 23,5 cm menjadi salah satu indikator risiko KEK pada ibu hamil.
Selain LiLA, penilaian status gizi ibu hamil juga dapat mempertimbangkan IMT sebelum hamil atau pada trimester pertama. Pedoman Kementerian Kesehatan mencantumkan IMT pra-hamil atau trimester I kurang dari 18,5 kg/m² sebagai salah satu kriteria yang berkaitan dengan KEK. Hal ini menunjukkan bahwa pemeriksaan kehamilan secara rutin penting dilakukan. Pemeriksaan bukan hanya untuk memantau perkembangan janin, tetapi juga untuk menemukan lebih awal berbagai masalah yang mungkin dialami ibu.
WHO juga menekankan pentingnya konseling gizi selama kehamilan untuk mendukung pola makan yang sehat, keberagaman makanan, kecukupan energi dan protein, serta pemenuhan kebutuhan zat gizi selama kehamilan.
Apa Dampak KEK bagi Ibu dan Janin?
Kondisi gizi ibu selama kehamilan memiliki hubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan janin. Ibu yang mengalami kekurangan gizi dapat menghadapi risiko masalah kehamilan dan persalinan yang lebih besar. Kekurangan energi dan zat gizi yang berlangsung dalam waktu lama juga dapat membuat ibu memiliki cadangan energi yang kurang untuk menghadapi peningkatan kebutuhan selama kehamilan.
Dari sisi janin, status gizi ibu merupakan salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan janin. WHO menyebutkan bahwa perempuan hamil yang mengalami kekurangan gizi memiliki risiko lebih tinggi terhadap berbagai luaran kehamilan yang kurang baik, termasuk bayi dengan berat lahir rendah. Namun, penting untuk dipahami bahwa KEK bukan berarti pasti menyebabkan komplikasi tertentu. Risiko setiap ibu dapat berbeda dan perlu dinilai berdasarkan kondisi masing-masing oleh tenaga kesehatan. Karena itu, deteksi dan penanganan sejak dini menjadi penting agar ibu dapat memperoleh dukungan yang sesuai.
Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah KEK?
Pencegahan KEK sebaiknya tidak baru dilakukan setelah seseorang hamil. Status gizi perempuan sejak sebelum kehamilan juga merupakan bagian penting dari kesehatan reproduksi. Selama kehamilan, salah satu hal yang dapat dilakukan adalah memastikan makanan yang dikonsumsi cukup dan beragam. Ibu hamil membutuhkan sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, serta cairan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhannya.
Protein dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti telur, ikan, ayam, daging, susu, tahu, tempe, dan kacang-kacangan. Sementara itu, sayur dan buah dapat membantu memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, dan serat. Tidak harus selalu menggunakan bahan makanan yang mahal. Pangan yang tersedia di lingkungan sekitar juga dapat dimanfaatkan selama diolah menjadi makanan yang beragam dan sesuai dengan kebutuhan. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan pemanfaatan pangan lokal penting dalam program PMT.
Apa Hubungannya dengan PMT Berbasis Pangan Lokal?
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal merupakan salah satu upaya yang dapat diberikan kepada sasaran yang mengalami masalah gizi sesuai dengan ketentuan dan penilaian tenaga kesehatan. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa PMT lokal bagi ibu hamil ditujukan antara lain bagi ibu hamil KEK dan ibu hamil yang berisiko KEK. Pelaksanaannya merupakan bagian dari rangkaian deteksi dini, tata laksana, dan pemantauan kondisi gizi ibu.
Yang perlu dipahami, makanan tambahan bukan berarti menggantikan seluruh makanan utama ibu hamil. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa makanan tambahan berbahan pangan lokal diberikan sebagai tambahan setelah kebutuhan makan dasar terpenuhi. Artinya, PMT perlu dipahami sebagai bagian dari upaya mendukung pemenuhan kebutuhan gizi, bukan sebagai satu-satunya sumber makanan bagi ibu hamil.
Pemanfaatan pangan lokal juga dapat membuat pemberian makanan tambahan lebih dekat dengan kondisi masyarakat. Bahan makanan yang tersedia di lingkungan sekitar dapat menjadi bagian dari menu yang bergizi dan sesuai dengan kebutuhan sasaran.
Mengapa Edukasi Gizi Juga Penting?
Penanganan masalah gizi tidak cukup hanya dengan memberikan makanan. Pengetahuan dan pendampingan juga menjadi bagian penting. Ibu hamil perlu mengetahui mengapa dirinya membutuhkan makanan yang cukup, bagaimana memilih makanan yang beragam, serta kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Di sinilah kader memiliki peran dalam mendukung edukasi di masyarakat. Kader posyandu merupakan salah satu pihak yang dekat dengan masyarakat. Mereka dapat membantu menyampaikan informasi kesehatan dasar, mengingatkan ibu untuk mengikuti pelayanan kesehatan, serta mendampingi masyarakat dalam mengakses informasi dan pelayanan yang tersedia.
Dalam kegiatan pembekalan yang dilakukan UPTD Puskesmas Sukaresik, peningkatan pemahaman kader mengenai PMT berbasis pangan lokal menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat edukasi gizi di tingkat masyarakat. Dengan bekal pengetahuan yang baik, kader diharapkan dapat menyampaikan informasi kepada ibu hamil dan keluarga dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.
Peran Keluarga Tidak Kalah Penting
Pemenuhan gizi selama kehamilan bukan hanya tanggung jawab ibu. Dukungan keluarga dapat membantu ibu mendapatkan makanan yang cukup, beragam, dan sesuai kebutuhan. Keluarga juga dapat membantu memastikan ibu mendapatkan waktu istirahat yang cukup dan mengikuti pemeriksaan kehamilan secara rutin.
Dukungan sederhana, seperti membantu menyiapkan makanan, menemani pemeriksaan kehamilan, atau mengingatkan konsumsi suplemen yang diberikan tenaga kesehatan, dapat menjadi bagian dari dukungan selama kehamilan. Dengan adanya dukungan dari keluarga, kader, dan tenaga kesehatan, ibu hamil tidak harus menghadapi masalah gizi seorang diri.
Kapan Ibu Hamil Perlu Berkonsultasi?
Ibu hamil sebaiknya mengikuti pemeriksaan kehamilan secara rutin agar kondisi kesehatan dan status gizinya dapat dipantau. Jika hasil pengukuran menunjukkan adanya risiko KEK, seperti LiLA kurang dari 23,5 cm, ibu sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penilaian lebih lanjut dan rekomendasi sesuai kondisinya.
Ibu juga perlu menyampaikan kepada tenaga kesehatan apabila mengalami keluhan yang mengganggu kemampuan untuk makan dan minum, penurunan berat badan yang tidak diharapkan, atau kondisi lain yang dirasakan selama kehamilan. Jangan melakukan pembatasan atau penambahan makanan secara berlebihan berdasarkan informasi dari media sosial tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
KEK Bisa Dicegah dan Ditangani dengan Dukungan yang Tepat
KEK pada ibu hamil merupakan masalah gizi yang perlu mendapatkan perhatian karena kebutuhan energi dan zat gizi meningkat selama kehamilan. Mengenali risiko sejak dini melalui pemeriksaan, menjaga pola makan yang beragam dan bergizi, mengikuti pemeriksaan kehamilan, serta mendapatkan dukungan dari keluarga dan tenaga kesehatan merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan ibu dan janin.
Pemanfaatan pangan lokal juga dapat menjadi salah satu pilihan dalam mendukung pemenuhan gizi, termasuk melalui program PMT bagi sasaran yang membutuhkan. Pada akhirnya, upaya mengatasi masalah gizi ibu hamil bukan hanya tentang “apa yang dimakan”, tetapi juga tentang bagaimana ibu mendapatkan informasi yang benar, pemantauan yang tepat, dukungan keluarga, serta akses terhadap pelayanan kesehatan. Melalui kolaborasi antara ibu, keluarga, kader, posyandu, dan tenaga kesehatan, edukasi serta upaya penanganan masalah gizi dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan di masyarakat.