Kalau mendengar kata hipertensi dan diabetes, apa yang langsung terlintas di pikiran?
Mungkin sebagian dari kita langsung membayangkan orang tua, kakek, nenek, atau orang yang sudah berusia lanjut.
Memang, kedua penyakit ini sering dikenal sebagai masalah kesehatan pada orang dewasa. Namun, bukan berarti kesehatan sejak usia sekolah tidak perlu diperhatikan.
Justru sejak sekolah, kita sudah bisa mulai mengenali faktor risiko, membangun kebiasaan hidup sehat, dan memahami pentingnya pemeriksaan kesehatan.
Hal ini penting karena beberapa kondisi kesehatan, termasuk tekanan darah tinggi dan kadar gula darah yang tinggi, tidak selalu memberikan tanda yang mudah dirasakan.
Hipertensi Tidak Selalu Terasa
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi ketika tekanan darah berada di atas batas yang seharusnya.
Sederhananya, darah kita terus mengalir melalui pembuluh darah. Ketika tekanan di dalam pembuluh darah terlalu tinggi dan berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan.
Yang menarik, hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas.
Seseorang bisa saja merasa sehat, tetap sekolah, tetap bekerja, dan tetap beraktivitas seperti biasa, tetapi memiliki tekanan darah yang tinggi.
WHO menjelaskan bahwa banyak orang dengan hipertensi tidak menyadari kondisinya karena sering tidak merasakan gejala. Karena itu, pengukuran tekanan darah menjadi salah satu cara penting untuk mengetahui kondisi tersebut.
Di Indonesia, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 juga menunjukkan adanya kesenjangan antara orang yang mengetahui dirinya memiliki hipertensi dan hasil pengukuran tekanan darah.
Pada penduduk usia 15 tahun ke atas, prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis dokter sebesar 8%, sedangkan berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah mencapai 29,2%.
Artinya, ada kondisi tekanan darah tinggi yang mungkin belum diketahui oleh orang yang mengalaminya.
Hal ini bukan berarti semua orang harus khawatir atau melakukan pemeriksaan setiap hari. Namun, ini menjadi pengingat bahwa merasa sehat tidak selalu berarti kita mengetahui seluruh kondisi kesehatan tubuh.

Bagaimana dengan Remaja?
Mungkin muncul pertanyaan:
“Kalau masih sekolah, memang bisa mengalami tekanan darah tinggi?”
Jawabannya, bisa.
Data SKI 2023 menunjukkan bahwa pada kelompok usia 15–24 tahun, prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah adalah 9,3%. Sementara berdasarkan diagnosis dokter sebesar 0,3%.
Angka tersebut tidak berarti 9,3% seluruh remaja Indonesia pasti memiliki penyakit hipertensi. Data tersebut merupakan hasil pengukuran dalam survei nasional dan perlu dipahami sesuai definisi serta metode pengukurannya.
Namun, data tersebut menunjukkan bahwa tekanan darah juga perlu diperhatikan pada usia muda.
Beberapa faktor yang dapat berhubungan dengan meningkatnya risiko hipertensi antara lain pola makan yang kurang sehat, terlalu banyak garam, kurang aktivitas fisik, berat badan berlebih, merokok, serta faktor keturunan. Kementerian Kesehatan juga menyoroti pola hidup sedentari, pola makan tinggi garam dan lemak, serta kurangnya aktivitas fisik sebagai faktor yang perlu diperhatikan pada anak muda.
Jadi, bukan berarti siswa harus takut dengan hipertensi.
Justru masa sekolah bisa menjadi waktu yang tepat untuk mulai membangun kebiasaan yang lebih sehat.
Diabetes Juga Bukan Hanya Masalah Orang Tua
Selain hipertensi, ada satu penyakit lain yang sering dianggap hanya berkaitan dengan usia dewasa, yaitu diabetes.
Diabetes adalah kondisi ketika tubuh mengalami gangguan dalam mengatur kadar gula darah. Salah satu hormon yang berperan dalam proses ini adalah insulin.
Kalau dijelaskan secara sederhana, gula darah dapat dibayangkan seperti sumber energi yang perlu masuk ke dalam sel tubuh. Insulin membantu proses tersebut. Ketika insulin tidak diproduksi cukup atau tidak dapat digunakan secara efektif, kadar gula dalam darah dapat meningkat.
WHO menjelaskan bahwa diabetes tipe 2 dapat berkembang secara perlahan. Gejalanya juga bisa ringan sehingga seseorang baru menyadarinya setelah beberapa tahun.
Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain sering merasa haus, lebih sering buang air kecil, mudah lelah, penglihatan kabur, serta penurunan berat badan yang tidak direncanakan. Namun, gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami diabetes. Diagnosis membutuhkan pemeriksaan kadar gula darah.
Bagaimana Kondisi Diabetes di Indonesia?
Data SKI 2023 memberikan gambaran yang cukup menarik.
Pada penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas, prevalensi diabetes berdasarkan diagnosis dokter tercatat 2,2%. Sementara berdasarkan hasil pemeriksaan kadar gula darah, angkanya mencapai 11,7%.
Sekali lagi, angka tersebut tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai “11,7% orang Indonesia pasti terkena diabetes”.
Metode pengukuran dan definisi yang digunakan perlu diperhatikan.
Namun, adanya perbedaan antara hasil diagnosis dan hasil pemeriksaan menunjukkan pentingnya deteksi dan pemeriksaan kesehatan, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko.
Kementerian Kesehatan juga pada 2026 menyoroti bahwa diabetes tipe 2 yang sebelumnya lebih sering dikaitkan dengan usia dewasa kini mulai ditemukan pada kelompok usia lebih muda. Faktor gaya hidup seperti kurang aktivitas fisik, durasi penggunaan layar yang tinggi, kurang tidur, serta konsumsi gula dan makanan ultra-proses yang berlebihan menjadi perhatian.
Bukan Berarti Anak Sekolah Harus Takut Diabetes
Ada hal yang perlu diluruskan.
Makan makanan manis sekali atau dua kali tidak otomatis membuat seseorang terkena diabetes.
Begitu juga dengan bermain gadget atau duduk terlalu lama sesekali.
Risiko penyakit tidak muncul hanya karena satu kebiasaan. Banyak faktor dapat saling berhubungan, termasuk faktor genetik, pola makan, aktivitas fisik, berat badan, dan kondisi kesehatan lainnya.
WHO menjelaskan bahwa diabetes tipe 2 sering kali dapat dicegah atau ditunda melalui aktivitas fisik yang cukup, pola makan sehat, menjaga berat badan yang sehat, dan tidak menggunakan tembakau.
Jadi, pesan yang ingin dibawa bukanlah:
“Jangan makan gula sama sekali.”
Melainkan:
“Mari belajar mengatur pola makan dan aktivitas sejak sekarang.”
Kenapa Sekolah Bisa Menjadi Tempat yang Tepat?
Sekolah merupakan tempat anak dan remaja menghabiskan banyak waktu.
Karena itu, sekolah bukan hanya tempat untuk belajar matematika, bahasa, atau ilmu pengetahuan. Sekolah juga bisa menjadi tempat untuk belajar memahami tubuh sendiri.
Misalnya, siswa bisa mulai belajar:
- mengapa aktivitas fisik penting;
- bagaimana memilih makanan dan minuman dengan lebih bijak;
- mengapa tidur cukup diperlukan;
- apa dampak merokok terhadap kesehatan;
- bagaimana menjaga berat badan tetap sehat;
- mengapa pemeriksaan kesehatan penting;
- dan kapan perlu meminta bantuan tenaga kesehatan.
Kebiasaan seperti ini mungkin terlihat sederhana.
Tetapi kebiasaan yang dibangun sejak remaja dapat terbawa sampai dewasa.
Pemeriksaan Bukan Berarti Sedang Sakit
Ada satu kesalahpahaman yang juga perlu diluruskan.
Ketika seseorang melakukan pemeriksaan tekanan darah atau gula darah, bukan berarti orang tersebut sedang sakit.
Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan.
Jika hasilnya normal, tentu menjadi informasi yang baik. Jika ditemukan hasil yang perlu diperhatikan, tenaga kesehatan dapat memberikan arahan mengenai langkah berikutnya.
Untuk diabetes, misalnya, WHO menjelaskan bahwa pemeriksaan kadar gula darah merupakan bagian penting dalam diagnosis.
Begitu juga dengan hipertensi. Pengukuran tekanan darah membantu mengetahui apakah tekanan darah seseorang berada pada kondisi yang perlu diperhatikan.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan sebaiknya tidak dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan.
Justru pemeriksaan dapat menjadi kesempatan untuk mengenal tubuh sendiri.

Mulai dari Kebiasaan yang Sederhana
Menjaga kesehatan tidak harus langsung melakukan perubahan besar.
Bagi pelajar, beberapa langkah sederhana bisa dimulai dari kehidupan sehari-hari.
Pertama, lebih aktif bergerak.
Kalau biasanya terlalu lama duduk, coba selingi dengan berdiri, berjalan, atau melakukan aktivitas fisik lainnya.
WHO merekomendasikan aktivitas fisik secara rutin sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan dan membantu mencegah berbagai penyakit tidak menular.
Kedua, perhatikan makanan dan minuman.
Bukan berarti semua makanan favorit harus dihilangkan. Yang lebih penting adalah membangun pola makan yang seimbang dan tidak berlebihan dalam mengonsumsi gula, garam, serta makanan tinggi lemak.
Ketiga, jangan abaikan tidur.
Tubuh membutuhkan waktu untuk beristirahat. Kebiasaan tidur yang baik juga menjadi bagian dari gaya hidup sehat.
Keempat, hindari rokok.
Tidak merokok merupakan salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
Kelima, jangan takut melakukan pemeriksaan.
Kalau tersedia pemeriksaan kesehatan di sekolah atau fasilitas kesehatan, manfaatkan kesempatan tersebut sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Sehat Dimulai Sebelum Sakit
Hipertensi dan diabetes memang bukan penyakit yang harus membuat anak sekolah merasa takut.
Namun, keduanya juga bukan sesuatu yang sebaiknya baru dibicarakan ketika seseorang sudah dewasa.
Data kesehatan Indonesia menunjukkan bahwa faktor risiko dan beberapa kondisi penyakit tidak menular sudah perlu menjadi perhatian sejak usia muda. Di sisi lain, banyak kondisi kesehatan tidak selalu memberikan gejala yang jelas.
Karena itu, mengenal kesehatan sejak bangku sekolah bukan berarti mencari-cari penyakit.
Ini tentang belajar memahami tubuh.
Belajar bahwa makanan yang kita pilih, aktivitas yang kita lakukan, waktu yang kita gunakan untuk tidur, dan kebiasaan sehari-hari dapat ikut memengaruhi kesehatan.
Dan kalau suatu saat ada hasil pemeriksaan yang tidak sesuai harapan, tidak perlu langsung panik.
Hasil pemeriksaan bukan akhir dari segalanya.
Justru dari situlah kita bisa mengetahui apa yang perlu dilakukan selanjutnya bersama tenaga kesehatan.
Pada akhirnya, hidup sehat tidak harus dimulai dengan perubahan besar.
Bisa dimulai dari hal sederhana:
lebih aktif bergerak, lebih bijak memilih makanan, cukup tidur, tidak merokok, dan tidak takut memeriksakan kesehatan.
Karena mengenal kesehatan sejak sekolah berarti memberi diri sendiri kesempatan untuk menjaga kesehatan lebih baik di masa depan.
Artikel ini telah direview oleh:
Nenden Ela Yuliani, S.K.M
Programer Promkes Puskesmas Singaparna
Jl Pancawarna No 07 Ds. Singaparna Kec. Singaparna Kab Tasikmalaya, Jawa Barat
No. Telepon : 08211858730
Author Profile
- Saya adalah mahasiswa Fisioterapi yang memiliki ketertarikan pada bidang kesehatan, edukasi, dan komunikasi informasi kesehatan. Saya tertarik mempelajari berbagai isu kesehatan, khususnya kesehatan fisik, aktivitas gerak, pencegahan cedera, dan rehabilitasi. Melalui tulisan dan konten edukatif, saya ingin berbagi informasi kesehatan yang sederhana, informatif, dan mudah dipahami oleh masyarakat.
Latest entries
Edukasi KesehatanSeptember 22, 2026Hipertensi dan Diabetes Bisa Dikenali Sejak Sekolah
Berita KesehatanSeptember 22, 2026Sehat Dimulai dari Sekolah, SMAN 2 Singaparna Gelar Cek Kesehatan Gratis
Edukasi KesehatanSeptember 21, 2026Pentingnya Cek Kesehatan Meski Tubuh Terasa Sehat
Berita KesehatanSeptember 19, 2026Puskesmas Singaparna Gelar Cek Kesehatan Gratis di Desa Sukamulya



