Lumajang, Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan terbesar pelayanan kesehatan saat ini bukan lagi sekadar menyediakan tenaga kesehatan, obat, atau fasilitas pelayanan. Tantangan sesungguhnya adalah memenangkan kepercayaan masyarakat. Ketika informasi bohong (hoaks) tentang kesehatan menyebar lebih cepat dibandingkan edukasi resmi, maka pelayanan kesehatan membutuhkan cara baru yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Fenomena tersebut nyata dirasakan di Desa Selok Anyar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. Selama bertahun-tahun, berbagai program promosi kesehatan telah dilaksanakan melalui penyuluhan, pembagian leaflet, pemasangan banner, hingga kunjungan rumah. Namun hasilnya belum sepenuhnya mampu mengubah perilaku masyarakat.

Pelatihan pada Kader posyandu oleh puskesmas Pasirian

Data menunjukkan bahwa cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) terus mengalami penurunan, dari 92,53 persen pada tahun 2020 menjadi 72,6 persen pada tahun 2021 dan kembali turun menjadi 62,5 persen pada tahun 2022. Pada saat yang sama, capaian Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) rumah tangga hanya mencapai 39,05 persen atau masih berada di bawah target minimal 45 persen. Desa juga masih memiliki 36 balita stunting yang membutuhkan perhatian serius.

Bagi tenaga kesehatan, angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat anak-anak yang belum memperoleh perlindungan imunisasi, keluarga yang masih hidup dalam lingkungan kurang sehat, serta orang tua yang belum sepenuhnya yakin terhadap pentingnya upaya pencegahan penyakit.

Hoaks Lebih Cepat Menyebar daripada Edukasi

Permasalahan tersebut semakin kompleks ketika masyarakat mulai dibanjiri informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Berbagai isu mengenai imunisasi yang dianggap menyebabkan penyakit, mengandung bahan berbahaya, hingga dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama beredar luas melalui media sosial maupun percakapan sehari-hari.

Survei nasional menunjukkan bahwa sekitar 30 hingga hampir 60 persen masyarakat Indonesia pernah terpapar hoaks, sementara hanya sebagian kecil yang mampu membedakan informasi benar dan salah. Bidang kesehatan menjadi salah satu topik hoaks yang paling banyak dipercaya masyarakat karena berkaitan langsung dengan kehidupan keluarga.

Kondisi tersebut juga terjadi di Desa Selok Anyar. Sebagian masyarakat lebih mempercayai cerita yang mereka dengar dari tetangga atau grup WhatsApp dibandingkan penjelasan tenaga kesehatan.

Puskesmas Pasirian kemudian menyadari bahwa persoalan yang dihadapi bukan hanya rendahnya pengetahuan masyarakat, tetapi juga bagaimana pesan kesehatan disampaikan.

Ketika Budaya Menjadi Solusi

Tim Promosi Kesehatan mulai melakukan Survei Mawas Diri (SMD) bersama masyarakat dan melanjutkannya melalui Musyawarah Masyarakat Desa (MMD). Hasilnya menunjukkan sebuah fakta menarik. Mayoritas masyarakat Desa Selok Anyar merupakan masyarakat religius yang memiliki budaya lisan sangat kuat. Mereka lebih mudah menerima pesan yang disampaikan melalui percakapan, cerita, maupun lagu dibandingkan media cetak.

Di sisi lain, hampir setiap kegiatan masyarakat selalu diawali dengan lantunan sholawat. Pengajian, arisan, peringatan hari besar Islam, hingga hajatan keluarga menjadi ruang berkumpul masyarakat yang sarat dengan nuansa religius.

Dari sinilah muncul sebuah gagasan sederhana namun berbeda.

Mengapa tidak menyampaikan pesan kesehatan melalui sholawat?

Pertanyaan tersebut kemudian melahirkan inovasi DESI SHOLEHA (Desa Siaga dengan Sholawat Kesehatan), sebuah pendekatan komunikasi kesehatan berbasis budaya lokal yang mengintegrasikan nilai religius dengan edukasi kesehatan masyarakat.

Desa Siaga dengan Sholawat Kesehatan

Mengubah Syair Menjadi Media Edukasi

Dalam DESI SHOLEHA, pesan kesehatan tidak lagi disampaikan melalui ceramah panjang yang cenderung satu arah. Informasi mengenai imunisasi, pencegahan stunting, PHBS, gizi keluarga, kesehatan ibu dan anak, hingga pencegahan penyakit menular dikemas menjadi syair sholawat yang sederhana, mudah diingat, dan dinyanyikan bersama.

Melalui pendekatan tersebut, masyarakat tidak merasa sedang mengikuti penyuluhan kesehatan. Mereka tetap mengikuti kegiatan keagamaan sebagaimana biasanya, tetapi secara tidak langsung memperoleh pengetahuan baru mengenai pentingnya menjaga kesehatan keluarga.

Pendekatan ini terbukti mampu menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan, partisipatif, dan tidak menggurui.

Dari Balai Desa hingga Media Sosial

Implementasi DESI SHOLEHA tidak berhenti pada kegiatan tatap muka. Sholawat kesehatan dilantunkan dalam berbagai kegiatan Posyandu, pengajian, pertemuan kader, kelas ibu hamil, arisan PKK, hingga kegiatan Desa Siaga. Untuk memperluas jangkauan, Puskesmas Pasirian juga memproduksi berbagai video edukasi kesehatan dalam Bahasa Madura, seperti Ayo Imunisasi, Anak Sehat, Kutunggu di Posyandu, Cegah Sakit, dan Hidup Sehat.

Seluruh materi dipublikasikan melalui YouTube, Facebook, serta dibagikan melalui Grup WhatsApp Desa Siaga sehingga dapat diakses masyarakat kapan saja tanpa dibatasi ruang dan waktu. Perpaduan komunikasi tatap muka dan media digital menjadikan penyebaran pesan kesehatan berlangsung lebih luas sekaligus lebih konsisten.

Kader Menjadi Agen Perubahan

Keberhasilan inovasi ini tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan. Puluhan kader Posyandu, pengurus Desa Siaga, TP-PKK, tokoh agama, pemerintah desa, hingga masyarakat dilibatkan secara aktif dalam setiap tahapan pelaksanaan. Mereka mendapatkan pelatihan komunikasi kesehatan, latihan sholawat kesehatan, pembinaan Desa Siaga, hingga peningkatan kapasitas mengenai imunisasi, gizi, PHBS, pencegahan stunting, serta pelayanan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP). Dengan demikian, kader tidak hanya menjadi pelaksana program, tetapi juga menjadi komunikator kesehatan yang dipercaya masyarakat.

kader kesehatan desi sholeha

Dampak yang Mulai Terlihat

Perubahan pendekatan komunikasi kesehatan mulai menunjukkan hasil. Setelah DESI SHOLEHA diterapkan, cakupan Imunisasi Dasar Lengkap meningkat menjadi 74,66 persen pada tahun 2023, kemudian 76,3 persen pada tahun 2024, dan kembali meningkat menjadi 76,8 persen pada tahun 2025. Jumlah balita stunting juga terus menurun dari 36 balita pada tahun 2022 menjadi 34 balita pada tahun 2023, 25 balita pada tahun 2024, dan 19 balita pada tahun 2025. Sementara itu, capaian PHBS rumah tangga meningkat dari 39,05 persen menjadi 45 persen pada tahun 2023 dan 56,33 persen pada tahun 2024. Di lapangan, kader Posyandu juga melaporkan meningkatnya kehadiran masyarakat pada kegiatan Posyandu, semakin aktifnya diskusi kesehatan di lingkungan warga, serta meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan.

Inovasi Tidak Selalu Berasal dari Teknologi

DESI SHOLEHA membuktikan bahwa inovasi pelayanan publik tidak selalu identik dengan aplikasi digital atau teknologi canggih. Inovasi dapat lahir dari kemampuan membaca karakter masyarakat, menghargai budaya lokal, dan menghadirkan solusi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.

Sholawat yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat ternyata mampu menjadi media komunikasi kesehatan yang efektif, murah, mudah diterapkan, sekaligus berkelanjutan. Lebih dari sekadar meningkatkan capaian indikator kesehatan, DESI SHOLEHA telah membangun kembali hubungan kepercayaan antara masyarakat dan tenaga kesehatan. Inilah esensi pelayanan publik yang sesungguhnya: menghadirkan solusi yang tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga diterima, dimiliki, dan dijalankan bersama oleh masyarakat.

Di tengah derasnya arus hoaks dan disinformasi kesehatan, Desa Selok Anyar menunjukkan bahwa kearifan lokal masih memiliki daya yang sangat kuat. Ketika pesan kesehatan disampaikan dengan bahasa yang dipahami masyarakat, melalui budaya yang mereka cintai, perubahan bukan lagi sekadar harapan.

DESI SHOLEHA membuktikan bahwa satu lantunan sholawat dapat menjadi awal lahirnya masyarakat yang lebih sehat, lebih percaya, dan lebih berdaya.


Penulis:
Moh. Riyan Basofi, S.KM
Petugas Promosi Kesehatan UPTD Puskesmas Pasirian

UPTD Puskesmas Pasirian
Jl. Raya Pasirian No. 225A, Kedung Pangkis, Pasirian,
Kec. Pasirian, Kabupaten Lumajang,
Jawa Timur 67372

Author Profile

Moh. Riyan Basofi
Promkes Puskesmas Pasirian Lumajang
Yuk Share Postingan Ini:

Promkes Puskesmas Pasirian Lumajang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *