Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di Indonesia mencapai angka 21,6%, namun pemerintah memiliki target untuk menurunkan angka stunting sebesar 14% di tahun 2024 ini.
Kasus stunting di Jawa Barat mencapai angka 20,2%, dan di Kabupaten Tasikmalaya memiliki kasus stunting yang cukup tinggi, yaitu sebesar 14,22%. Menurut data dari Puskesmas Salawu, terdapat 201 orang anak yang mengalami stunting.
Mengenal Stunting
Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting dapat terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016). Hal ini menyebabkan tinggi badan anak akan lebih rendah dari rata-rata untuk usianya, karena kekurangan nutrisi yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
Penyebab Stunting
Stunting terkait dengan banyak penyebab, antara lain:
- Kurang gizi kronis dalam waktu lama
- Retardasi pertumbuhan intrauterine
- Tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori
- Perubahan hormon yang dipicu oleh stres
- Sering menderita infeksi di awal kehidupan seorang anak.
Perkembangan stunting adalah proses yang lambat, kumulatif dan tidak berarti bahwa asupan makanan saat ini tidak memadai. Kegagalan pertumbuhan mungkin telah terjadi di masa lalu seorang.
Gejala Stunting
- Anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya
- Proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk usianya
- Berat badan rendah untuk anak seusianya
- Pertumbuhan tulang tertunda
Pencegahan Stunting
Stunting pada anak akan berlanjut hingga ia beranjak usia dewasa. Jadi sebelum stunting memberikan dampak pada tumbuh dan kembang anak secara menyeluruh, maka stunting harus dicegah. Upaya yang bisa dilakukan untuk pencegahan stunting yaitu :
- Pemberian pola asuh yang tepat
- Memberikan MPASI yang optimal
- Mengobati penyakit yang dialami anak
- Perbaikan kebersihan lingkungan
- Menerapkan hidup bersih keluarga
Lebih mudahnya, Stunting dapat dicegah dengan melakukan ABCDE.
A: Aktif minum Tablet Tambah Darah (TTD)
Konsumsi TTD bagi remaja putri 1 tablet seminggu sekali. Dan konsumsi TTD bagi ibu hamil 1 tablet setiap hari (minimal 90 tablet selama kehamilan).
B: Bumil teratur periksa kehamilan minimal 6 kali
Periksa kehamilan minimal 6 (enam) kali, 2 (dua) kali oleh dokter menggunakan USG.
C: Cukupi konsumsi protein hewani
Konsumsi protein hewani setiap hari bagi bayi usia di atas 6 bulan.
D: Datang ke Posyandu setiap bulan
Datang dan lakukan pemantauan pertumbuhan (timbang dan ukur) dan perkembangan, serta imunisasi balita ke Posyandu setiap bulan.
E: Eksklusif ASI 6 bulan
ASI eksklusif (hanya konsumsi ASI saja) selama 6 bulan pertama, dilanjutkan hingga usia 2 tahun dengan melengkapi Makanan Pendamping ASI (MP ASI) tepat setelah berusia 6 bulan.
Penanggulangan Stunting
Penanggulangan stunting dapat meliputi pengobatan penyakit penyebabnya, perbaikan nutrisi, pemberian suplemen, serta penerapan pola hidup bersih dan sehat. Yang dapat dilakukan adalah:
- Mengobati penyakit yang mendasari, misalnya memberikan obat-obatan antituberkulosis bila anak menderita TBC
- Memberikan nutrisi tambahan, berupa makanan yang kaya protein hewani, lemak, dan kalori
- Memberikan suplemen, berupa vitamin A, zinc, zat besi, kalsium dan yodium
- Menyarankan keluarga untuk memperbaiki sanitasi dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), guna mencapai keluarga yang sehat.
Referensi:
- ayosehat.kemkes.go.id
- Kejar Stunting Turun Hingga 14%, Kemenkes Sasar Perbaikan Gizi pada Remaja Putri (kemkes.go.id)
- promkes.kemkes.go.id
- yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1388/mengenal-apa-itu-stunting
Artikel edukasi ini sudah direview oleh :
Sintia Laurena, S.K.M.
Programer Promkes Puskesmas Salawu
Puskesmas Salawu
Jl. Raya Salawu No.118, Margalaksana
Kec. Salawu, Kabupaten Tasikmalaya,
Jawa Barat 46471



