Pada tanggal 31 Mei 2026, mahasiswa S2 Kesehatan Masyarakat dari Universitas Jenderal Soedirman menyelenggarakan program pemberdayaan remaja di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya. Kegiatan yang bertempat di Balai Pertemuan Kampung Naga ini melibatkan 17 remaja berusia 10-18 tahun (9 laki-laki dan 8 perempuan) dengan fokus pada peningkatan kesadaran perilaku sehat dan kebersihan lingkungan.

Latar Belakang: Mengapa Pemberdayaan Remaja di Kampung Naga?

Kampung Naga adalah wilayah adat yang terletak di Tasikmalaya, Jawa Barat. Komunitas ini mempertahankan tradisi leluhur yang kuat sambil menghadapi tantangan modernisasi dan peningkatan arus wisatawan. Keberlanjutan komunitas adat tidak hanya bergantung pada kelestarian budaya, tetapi juga pada kesehatan generasi penerusnya.

Pemilihan remaja sebagai target pemberdayaan bukan kebetulan. Dalam konteks kesehatan masyarakat, remaja memiliki peran strategis yang sering diabaikan. Program ini dirancang untuk memposisikan remaja bukan sekadar sebagai objek edukasi, melainkan sebagai subjek peneliti dan pengambil keputusan yang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kelestarian lingkungan dan warisan leluhur.

Program Kegiatan: Dari Pemetaan hingga Aksi Nyata

Kegiatan pemberdayaan remaja di Kampung Naga Tasikmalaya dirancang dengan pendekatan partisipatif dan interaktif:

1. Pembukaan dan Sambutan Masyarakat

Program dimulai dengan pembukaan resmi dan sambutan dari perwakilan masyarakat Kampung Naga, menunjukkan dukungan komunitas terhadap inisiatif pemberdayaan remaja ini.

2. Pemetaan Partisipatif (Menggambar Kondisi Kampung)

Remaja terlibat langsung dalam pemetaan kondisi kampung dengan menggambar peta visual. Metode ini memungkinkan remaja untuk mengidentifikasi masalah kesehatan dan lingkungan dari perspektif mereka sendiri.

3. Jelajah Kampung (Walkthrough Survey)

Peserta melakukan survei lapangan untuk memahami secara langsung kondisi lingkungan, sanitasi, dan isu kesehatan yang ada di kampung.

4. Diskusi Isu Kesehatan dan Ranking Prioritas

Remaja mendiskusikan masalah kesehatan yang ditemukan dan menentukan prioritas permasalahan berdasarkan dampak terhadap kesehatan dan lingkungan. Salah satu peserta bernama Kayla mengidentifikasi permasalahan buang sampah sembarangan sebagai isu kesehatan utama.

“Permasalahan buang sampah sembarangan memang menjadi permasalahan kesehatan utama karena bisa menyebabkan bau, banjir, tidak enak dipandang, dan bisa jadi sarang nyamuk,” ungkap Kayla, menekankan urgensi penanganan sampah di kampung.

5. Pembuatan Akar Masalah dan Solusi

Menggunakan alat analisis seperti fishbone diagram atau pohon masalah, remaja mengidentifikasi akar penyebab masalah dan merumuskan solusi yang praktis dan realistis.

6. Rencana Aksi Remaja

Remaja menyusun rencana aksi konkret untuk mengatasi permasalahan kesehatan dan lingkungan yang telah diidentifikasi. Salah satu rekomendasi dari Kayla adalah:

“Saya sarankan remaja agar setiap minggu di jam 4 sore untuk keliling melihat kebersihan lingkungan dari sampah. Jika ada yang lihat sampah, ambil dan buang ke tempatnya, jangan dibiarkan,” saran praktis yang menunjukkan ownership remaja terhadap kebersihan lingkungan.

7. Pembentukan Ketua Tim Aksi

Remaja terpilih ditunjuk sebagai ketua tim aksi untuk memimpin implementasi rencana aksi dan memastikan keberlanjutan program.

8. Penyerahan Buku Saku Perilaku Hidup Sehat

Sebagai hasil akhir, remaja menerima buku saku berisi panduan perilaku hidup sehat yang dapat dibagikan kepada komunitas.

Mengapa Pemberdayaan Remaja Efektif di Kampung Naga?

Efektivitas program ini didasarkan pada lima alasan strategis yang relevan dengan konteks kesehatan masyarakat:

1. Remaja sebagai “Jembatan Budaya” (Cultural Brokers)

Remaja Kampung Naga memiliki posisi unik di antara dua dunia. Mereka adalah penduduk asli yang terikat kuat dengan tradisi karuhun (leluhur), namun juga menerima pendidikan di luar kampung (SMP/SMA) dan berinteraksi dengan modernitas. Posisi ini memungkinkan mereka untuk:

  • Menyerap konsep kesehatan medis dari luar (higienitas, gizi seimbang)
  • “Menerjemahkan” konsep tersebut ke dalam bahasa dan praktik keseharian yang dapat diterima komunitas
  • Menghindari pelanggaran aturan tabu (pamali) dalam menyampaikan informasi kesehatan

Peran ini sangat penting dalam konteks kesehatan masyarakat, di mana penerimaan komunitas adalah kunci kesuksesan program.

2. Mengatasi Hambatan Komunikasi Akibat Pamali (Tabu)

Isu-isu kesehatan sensitif, khususnya kesehatan reproduksi, pubertas, dan menstruasi, sering dianggap pamali dalam budaya Sunda tradisional. Melalui peer education (edukasi sebaya), hambatan ini dapat diatasi:

  • Remaja lebih terbuka menceritakan masalah kesehatan reproduksi kepada teman sebayanya
  • Bahasa yang digunakan lebih santai dan nyaman
  • Mengurangi stigma terhadap isu kesehatan sensitif

Pendekatan ini sejalan dengan teori kesehatan masyarakat modern yang mengakui pentingnya peer support dalam behavior change.

3. Agen Literasi di Tengah Pembatasan Teknologi

Meskipun kawasan inti Kampung Naga menolak penggunaan listrik dan gawai pintar, remaja tetap memiliki literasi digital karena akses ke internet di luar kampung (di sekolah). Remaja dapat menjadi:

  • Penyaring informasi kesehatan dari internet yang valid dan terpercaya
  • Pembawa pengetahuan kesehatan ke dalam kampung untuk melawan mitos dan hoaks
  • Solusi pengetahuan tanpa melanggar larangan membawa alat elektronik ke area adat

4. Memanfaatkan Solidaritas Komunal yang Kuat

Nilai gotong royong dan kohesi sosial di Kampung Naga sangat tinggi. Remaja bergerak dalam kelompok sebaya yang solid, sehingga:

  • Pemberdayaan remaja menciptakan efek domino dalam perubahan perilaku kesehatan
  • Jika kader remaja memelopori kebiasaan sehat baru, kelompok lain akan cepat mengadopsinya
  • Tingginya rasa kebersamaan mempercepat difusi inovasi kesehatan

Ini adalah aplikasi praktis dari social network theory dalam promosi kesehatan.

5. Investasi Jangka Panjang untuk Pelestarian Adat dan Kesehatan Generasi

Keberlanjutan komunitas adat bergantung pada kualitas generasi penerus. Masyarakat Kampung Naga memahami bahwa untuk melestarikan adat istiadat, mereka membutuhkan generasi muda yang sehat secara fisik dan mental. Program ini dikemas sebagai upaya:

  • “Membentengi” generasi muda agar tetap sehat dan kuat
  • Meneruskan warisan leluhur dengan konteks kesehatan modern
  • Investasi jangka panjang dalam sustainability komunitas adat

Implikasi untuk Praktek Kesehatan Masyarakat

Program pemberdayaan remaja di Kampung Naga, Tasikmalaya memberikan beberapa pembelajaran penting:

1. Pentingnya Kontekstualisasi Program Kesehatan

Program kesehatan yang efektif harus mempertimbangkan konteks budaya lokal dan melibatkan masyarakat sebagai mitra, bukan sekadar penerima intervensi.

2. Remaja sebagai Aktor Perubahan

Remaja memiliki potensi besar sebagai agen perubahan dalam promosi kesehatan di tingkat komunitas, terutama dalam konteks peer education dan community mobilization.

3. Integrasi Kearifan Lokal dan Kesehatan Modern

Pemberdayaan kesehatan dapat dilakukan tanpa mengorbankan nilai-nilai tradisional. Sebaliknya, kearifan lokal dapat menjadi landasan yang kuat untuk perubahan perilaku kesehatan.

4. Partisipasi Komunitas sebagai Kunci

Melibatkan komunitas dalam identifikasi masalah, perencanaan, dan implementasi solusi meningkatkan relevansi, penerimaan, dan keberlanjutan program.

Kesimpulan

Kegiatan pemberdayaan remaja di Kampung Naga, Tasikmalaya pada 31 Mei 2026 menunjukkan bagaimana strategi inovatif dalam kesehatan masyarakat dapat dikembangkan dengan menghormati konteks budaya lokal dan memberdayakan generasi muda sebagai agen perubahan.

Melalui pendekatan partisipatif, peer education, dan community mobilization, remaja tidak hanya meningkatkan kesadaran akan perilaku sehat dan kebersihan lingkungan, tetapi juga mengembangkan sense of ownership terhadap kesehatan komunitas mereka. Saran konkret dari remaja seperti Kayla—melakukan patroli kebersihan setiap minggunya—menunjukkan bahwa pemberdayaan remaja menghasilkan aksi nyata yang sustainable.

Untuk tenaga kesehatan dan mahasiswa kesehatan masyarakat, model pemberdayaan ini dapat diadopsi dan dikembangkan lebih lanjut di komunitas lain, dengan tetap mempertahankan sensitivitas terhadap konteks lokal dan menghargai peran remaja sebagai mitra dalam membangun masyarakat yang lebih sehat.


Pelaksana Kegiatan:
Mahasiswa S2 Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman

  • Nurendah Agung Permatawati
  • Yuni Aries Viftiani
  • Doni Juliana

Pembimbing:
Prof. Dr. Dwi Sarwani Sri Rejeki, S.KM, M.Kes (Epid.)

Author Profile

Amrullah Jabar
Amrullah Jabar
Editor Kesmas-ID
Yuk Share Postingan Ini:

Editor Kesmas-ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *