Hari ini kita menuju Era Transformasi Kesehatan, Kementerian Kesehatan sendiri menetapkan 6 Pilar Transformasi Kesehatan, yaitu Transformasi Layanan Primer, Transformasi Layanan Rujukan, Transformasi Sistem Ketahanan Kesehatan, Transformasi Pembiayaan Kesehatan, Transformasi SDM Kesehatan, dan Transformasi Teknologi Kesehatan.
Kementerian Kesehatan dalam programnya tentu berharap posyandu naik kelas, dimana posyandu diharapkan terintegrasi dan melayani siklus hidup, artinya sasaran posyandu kini tak hanya bayi balita, tetapi melayani semua masyarakat mulai dari ibu hamil, bayi-balita, anak pra sekolah, usia sekolah, remaja, usia dewasa dan juga sasaran lansia.

Posyandu terintegrasi siklus hidup ini sangat erat kaitannya dengan pencapaian transformasi Pelayanan Primer Kementerian Kesehatan. Upaya membuat posyandu naik kelas tentu tidaklah mudah, kita menemui banyak masalah dan tantangan dilapangan. Tantangan diantaranya adalah sarana prasarana seperti bangunan posyandu, mebeler posyandu seperti meja, kursi dll di posyandu tidak lengkap untuk mendukung pelayanan siklus hidup. Masih banyak posyandu di pedesaan yang masih melayani kegiatan posyandu di bawah kolong rumah warga, bahkan tak cukup memiliki meja untuk menjalankan pelayanan 5 langkah posyandu, (pendaftaran, penimbangan-pengkuran, pencatatan, pelayanan kesehehatan dan edukasi dan penyuluhan kesehatan).
Problem selanjutnya adalah insentif dan kapasitas SDM Pengelola Posyandu termasuk kader- kader posyandu masih sangat kurang. Perlu waktu untuk beberapa kader posyandu yang kurang dalam aspek pendidikan bahkan ada yang sudah cukup lanjut usia untuk mengejar pembelajaran 25 kompetensi kader yang ditetapkan oleh Kemenkes. Tantangan selanjutnya adalah instentif atau gaji kader posyandu yang harus kita pikirkan bersama, karena melayani sasaran dengan siklus hidup penuh dengan tantangan yang berat, karena tentu beban kerja kader posyandu akan lebih besar, bekerja keras untuk memberi pelayanan dan hari buka posyandu dan melakukan kunjungan rumah rutin setiap bulan dan kunjungan khusus ketika ada kasus-kasus kesehatan tertentu ditemukan di wilayah kerja posyandunya.
Tak hanya itu tantangan selanjutnya adalah posyandu yang berada di bawah wilayah kelurahan, tentu akan berbeda dengan posyandu di wilayah desa. Karena desa memiliki dana desa yang lumayan besar untuk membantu pengelolaan posyandu tidak sama dengan posyandu di wilayah kelurahan yang tidak memiliki anggaran sebanyak desa.

Potensi penyelesaian tantangan itu ada untuk membuka komunikasi yang baik kepada semua pihak untuk posyandu jika hendak naik kelas. Kita ketahui bersama bahwa posyandu merupakan LKD (Lembaga Kemasyarakat Desa) dimana posyandu menjadi kewenagan desa. Tentu tantangan tersebut dapat diatasi jika berada diwilayah desa yang memiliki anggaran cukup besar. Tapi tidak dengan beberapa kelurahan di daerah yang tidak cukup memiliki anggaran sebesar desa. Oleh karena hal tersebut agar posyandu terintegrasi yang melayani siklus hidup ini bisa berjalan dengan baik dan rutin setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:
Opini Ketua PPPKMI (Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia) Cabang Kab.Enrekang Sulawesi Selatan, Rijalul Jabar, SKM., M.Adm.Kes
Author Profile
- Promkes Dinkes Kab Enrekang
Latest entries
PuskesmasJuli 9, 2024Transformasi Layanan Primer, Posyandu Naik Kelas, Ini Tantangan di Daerah
Berita KesehatanOktober 31, 2023Tim Verifikasi Lapangan Kemenkes Turun ke Enrekang Melihat Potret Inovasi GISTA DM
Berita KesehatanJuli 8, 2023Eliminasi TBC, 43 Nakes Dinkes Enrekang Ikuti Workshop Manajemen Program & Pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis di Makassar
Berita KesehatanMei 28, 2023Rakontek Program Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Enrekang Lahirkan 5 Kesepakatan


