Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan global hingga sekarang. Sebagai penyakit menular, TBC menjadi pembunuh yang paling mematikan di dunia. Insidensi tuberkulosis dalam 100.000 penduduk, pada tahun 2022 mencapai 354 per 100.000 penduduk (berdasarkan global TB Report tahun 2022) dari target 321 per 100.000 penduduk.
Saat ini Indonesia menempati posisi kedua setelah India dengan kasus tuberkulosis (TBC) sebanyak 969.000 serta jumlah kematian sebanyak 144.000 per tahun. Ditambah, beban Infeksi Laten TBC (ILTB) di dunia pada tahun 2014 ada sekitar 1,7 milyar orang yang diperkirakan memiliki ILTB dan berisiko berkembang menjadi penyakit TBC aktif seumur hidup, dimana 35% diantaranya berasal dari wilayah Asia Tenggara. Berdasarkan review sistematis yang dilakukan terhadap 11 penelitian di Asia Tenggara menunjukkan 24,4% sampai 69,2% anak dibawah umur 15 tahun berkontak dengan orang TBC aktif dan 3,3% sampai 5,5% diantaranya akan berkembang menjadi TBC aktif.
Perlu diketahu bahwa Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB) adalah suatu keadaan dimana sistem kekebalan tubuh orang yang terinfeksi tidak mampu mengeliminasi bakteri Mycobacterium tuberculosis dari tubuh secara sempurna tetapi mampu mengendalikan bakteri TBC sehingga tidak timbul gejala sakit TBC. Mereka dgn ILTB dalam waktu cepat jika tidak mendapat TPT dapat berkembang menjadi TB Positif dan bergejala oleh karena itu peru mendapat TPT/ Terapi Pencegahan TB.
Mereka yg menjadi sasaran TPT antara lain ODHIV, kontak serumah dengan TB positif, kelompok berisiko lain, penyandang DM, penderita kanker, autoimun, para tenaga kesehatan/ nakes, mereka yang menetap di barak/ asrama, dan penghuni rutan.
Orang dengan ILTB apabila dilakukan TST atau pemeriksaan IGRA hasilnya akan positif, tetapi hasil pemeriksaan Rontgen thorax normal serta hasil pemeriksaan dahak dan Xpert MTB/ Rif negative. Komitmen Global dan Nasional dalam mengakhiri Tuberkulosis dituangkan dalam End TBC Strategy pada tahun 2030 hanya dapat dicapai dengan mengkombinasikan upaya pengobatan TBC aktif secara efektif dan upaya pencegahan TBC dengan pemberian TPT pada kasus ILTB. Indonesia turut menyatakan komitmennya untuk memberikan TPT pada 1,5 juta orang hingga tahun 2022.
Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) merupakan program Pengendalian Tuberkulosis (P2TB) Nasional dalam penanganan kasus ILTB. Program ini sudah diperkenalkan sejak tahun 2016 sesuai dengan sasaran populasi yang tertuang dalam Permenkes nomor 67 tahun 2016 tentang Tuberkulosis.

Saat membuka acara workshop serta membawakan materi terkait Kebijakan-kebijakan Manajemen Infeksi Laten tuberkulosis (ILTB) dan Pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) di Indonesia, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, dr. Hj. Rosmini Pandin, MARS dalam materinya mengatakan bahwa kita harus bekerja keras dalam Upaya menemukan dan mengobati TBC sampai sembuh. Melihat data yang tidak main-main, Indonesia berada pada peringat kedua dunia terbanyak TBC, terlebih lagi untuk mencapai target iliminasi TB 2030 kita harus bekerja sama lintas program dan lintas sektor juga mencegah sakit TB dengan menemukan penderita ILBT dan Mengobtainya dengan TPT (terapi Pencegahan Tuberkulosis).
Sebagai upaya meningkatkan cakupan pemberian TPT untuk mencapai target eliminasi TBC tahun 2030, program TBC Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel mengadakan Workshop Manajemen Program ILTB dan Pemberian TPT tahun 2023 kepada semua Kabupaten Kota di Sulsel, termasuk Kabupaten Enrekang, sebagai upaya memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta yang diharapkan bisa memberikan TPT sesuai sasaran prioritas yang diharapkan, berlangsung 3-7 Juli 2023 di Hotel Claro Makassar.
Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai manajemen penanganan ILTB dan pemberian TPT kepada tenaga kesehatan rumah sakit, puskesmas, klinik, komunitas, dan lapas/ rutan di kabupaten/ kota, sasaran kegiatan adalah tenaga kesehatan rumah sakit, puskesmas, klinik, komunitas, dan lapas/ rutan. Kabupaten Enrekang menungaskan beberapa nakes di antaranya Dokter, Petugas TB, Promkes, Dokter Spesialis Anak, Petugas Kesehatan Rutan dan Perwakilan Organisasi Profesi Kesehatan.
Dalam kegiatan workhsop peserta diajarkan bagimana melakukan penemuan kasus ILTB, Pemeriksaan ILTB, Pelaporan Kasus berbasis Sitem informasi TB, dan Praktek TSB/ Pemeriksaan pada kontak serumah TBC Positif, dan materi komunikasi untuk membuat mereka yang kontak serumah dengan penderita TB Positif mau di TST/ Tes Tuberkulin dan mau untuk meminum obat TPT, walau mereka penderita TB tak memiliki gejala.
Di akhir acara workshop, Wasor TB Kab.Enrekang, Ashar Nur.S.Kep, mengatakan bahwa kita terus menjamin ketersediaan Obat TB baik OAT dan TPT untuk penderita secara gratis dan mengharapkan pada pengelola TB dan Program terkait di Puskesmas dapat berinovasi dan berkolaborasi untuk penemuan kasus, melakukan kunjungan rumah, melaksanakan edukasi serta pendampingan orang dgn TB dan kontak erat dan ILTB, ia menghimbau pengelola program TB di Puskesmas untuk rajin melakukan update logistik, dan laporan obat di aplikasi SITB, sehingga data dan pelaporan dapat digunakan untuk perencanaan kedepan kita berharap logistik dan obat TBC selalu tersedia di Kab.Enrekang.



