Peningkatan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Indonesia meningkat di tahun 2023. Menurut Kemenkes, HIV didominasi oleh ibu rumah tangga dengan 35% kasus infeksi. Kementerian Kesehatan berkomitmen untuk melakukan eliminasi AIDS pada tahun 2030 mendatang. Komitmen tersebut tercermin dalam target 95-95-95 yakni 95% pertama ODHIV mengetahui status HIV, 95% kedua ODHIV mendapatkan terapi obat ARV, 95% ketiga semua ODHIV yang sudah mendapatkan obat ARV mengalami penurunan viral load. Melawan stigma sosial adalah upaya mendukung penurunan jumlah kasus HIV dan meningkatkan kualitas hidup ODHA.
Apa itu HIV?
HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang menyerang sel-sel yang membantu tubuh melawan infeksi sehingga membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit lainnya. Virus ini menyebar paling sering melalui hubungan seks tanpa kondom atau melalui penggunaan bersama peralatan suntik narkoba.

Permasalahan HIV tidak hanya tentang kesehatan tetapi juga berkaitan dengan stigma dan diskriminasi. Stigma adalah sikap atau gagasan negatif terhadap ciri mental, fisik, atau sosial seseorang atau sekelompok orang yang menyatakan ketidaksetujuan sosial. Hal tersebut adalah masalah utama seorang penderita HIV menarik diri. Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA disebabkan oleh kesalahpahaman, ketakutan yang berlebihan, aib sosial, serta anggapan bahwa ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) melanggar norma agama dan sosial. Minimnya pengetahuan masyarakat tentang pola penularan HIV dapat menimbulkan stigma dan diskriminasi.
Bentuk stigma dan diskriminasi tersebut adalah stigma publik, stigma diri, dan penghindaran verbal. Akibatnya ODHA akan menghindari tes HIV, berhenti menggunakan layanan kesehatan, mengabaikan perilaku sehat, dan mengganggu kesehatan mental yang akan memperburuk kualitas hidup ODHA, seperti stres, ketakutan, kekhawatiran, kecemasan, dan depresi, serta mengalami dampak sosial, termasuk stigma, diskriminasi, dan perpisahan dari keluarga.
Lalu, bagaimana kita melawan stigma?
1. Menyebarkan informasi yang akurat tentang HIV. Ada banyak mitos yang beredar di masyarakat tentang HIV. Hal tersebut menggambarkan kurangnya informasi yang tepat tentang HIV.
2. Menormalisasikan tes HIV untuk mengurangi stigma dan diskriminasi.
3. Memberikan dukungan sosial. Dukungan sosial yang kuat dapat membantu penderita merasa diterima dan dihargai, serta meningkatkan kualitas hidup mereka. Komunitas dan organisasi masyarakat harus berperan aktif dalam memberikan dukungan, baik secara emosional maupun praktis, seperti menyediakan layanan kesehatan dan konseling.
Sebagai upaya mencegah peningkatan HIV dan kematian akibat penyakit HIV stigma yang beredar menjadi tanggung jawab kita semua. Memberikan dukungan sosial, perlakuan empati kepada ODHA, dan menyebarluaskan informasi akurat bisa membantu ODHA mendapatkan kehidupan yang baik dan terhindar dari diskriminasi dan stigma.
Referensi
https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20211201/3938917/stigma-negatif-masyarakat-hambat-eliminasi-hiv-aids-di-indonesia/
https://www.hiv.gov/hiv-basics/overview/about-hiv-and-aids/what-are-hiv-and-aids
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC10719780/
Artikel Edukasi ini sudah direview oleh:
Veby Yunisa Agnia, S.K.M.
Programer Promkes Puskesmas Cipatujah
Puskesmas Cipatujah
Alamat: Jl. Raya Cipatujah No.123, Cipatujah, Kec. Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat 46189
Telepon : (0265) 7580480
Website : puskesmascipatujah@blogspot.co.id
e-mail : pkmcipatujah@gmail.com
Author Profile
Latest entries
PuskesmasOktober 12, 2024Panduan Hidup Sehat: Cegah Penyakit Tidak Menular (PTM)
PuskesmasOktober 9, 2024Tingkatkan Kualitas Hidup, Bebaskan ODHA dari Stigma Sosial
PuskesmasOktober 8, 2024Penuhi Kebutuhan Gizi Bayi, Ini Strategi Pemberian MPASI yang Tepat
PuskesmasSeptember 30, 2024Siapa Sangka? Yang Satu Ini Bisa Sebabkan Stunting Loh


