- Version
- Download 0
- File Size 8.00 KB
- File Count 1
- Create Date Juni 26, 2026
- Last Updated Juni 26, 2026
Ketika Harga Diri Diukur dari Barang Bermerek
Media sosial saat ini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, terutama anak muda. Berbagai tren dengan cepat muncul dan menyebar luas, mulai dari gaya hidup, cara berbicara, hingga cara berpakaian. Salah satu tren yang sering muncul adalah istilah “outfit kalcer”, yaitu penampilan yang dianggap keren dan mengikuti perkembangan zaman. Kehadiran media sosial memang memberikan banyak manfaat, seperti memudahkan seseorang mencari inspirasi fashion dan mengekspresikan diri. Namun di sisi lain, media sosial juga perlahan menciptakan standar sosial baru tentang bagaimana seseorang harus terlihat agar dianggap menarik dan diterima lingkungan.
Fenomena tersebut membuat banyak anak muda mulai mengaitkan harga diri dengan barang bermerek yang mereka gunakan. Pakaian branded, sepatu mahal, hingga tempat nongkrong estetik sering dianggap sebagai simbol status sosial. Semakin mahal barang yang dipakai, semakin tinggi pula rasa percaya diri yang muncul. Akibatnya, tidak sedikit orang merasa harus selalu tampil “kalcer” agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Tanpa disadari, media sosial membentuk budaya gengsi, di mana seseorang lebih dihargai karena penampilannya dibandingkan kepribadian atau kemampuannya.
Budaya gengsi ini kemudian menimbulkan tekanan sosial, terutama bagi anak muda dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Banyak dari mereka yang merasa harus mengikuti standar yang ada meskipun kondisi finansialnya tidak mendukung. Demi terlihat keren di media sosial, sebagian bahkan rela memaksakan diri membeli barang mahal, mengikuti gaya hidup berlebihan, atau terus membangun citra sempurna di internet. Mereka berharap dengan tampilan yang menarik dan terlihat mewah, mereka bisa mendapatkan pengakuan sosial, banyak pengikut, atau bahkan berkesempatan menjadi influencer atau memperoleh endorsement dari berbagai brand.
Tekanan sosial yang terus terjadi inilah dapat mendorong munculnya penyimpangan sosial. Tidak sedikit orang yang akhirnya melakukan berbagai cara demi memenuhi gaya hidup tersebut, seperti berbohong tentang kondisi ekonomi, meminjam uang secara berlebihan, membeli barang palsu agar terlihat asli, hingga melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Fenomena ini menunjukkan bahwa standar media sosial dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang. Ketika pengakuan sosial menjadi tujuan utama, maka akan banyak orang mulai kehilangan batas antara kebutuhan dan gengsi.
Pada akhirnya, media sosial seharusnya menjadi tempat untuk berbagi dan mengembangkan diri, bukan sebagai tempat untuk saling berlomba menunjukkan kemewahan. Mengikuti tren bukanlah hal yang salah, tetapi hendaknya harus disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Anak muda perlu memahami bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh merek pakaian, harga barang, atau citra yang ditampilkan di media sosial. Kepribadian, kemampuan, dan cara memperlakukan orang lain jauh lebih penting dibanding sekadar penampilan luar. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih bijak menggunakan media sosial agar tidak terjebak dalam standar semu yang justru dapat memunculkan tekanan sosial dan penyimpangan perilaku.
Penulis : Siti Qolby Aura Fidiyah Ramadhani