Kebugaran Pekerja Informal dan Cara Mencegah Penyakit Akibat Kerja

Mengapa kesehatan penting bagi pekerja informal ?

Bekerja membuat seseorang menjalankan berbagai aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pekerja informal memiliki jenis pekerjaan yang beragam. Sebagian mengandalkan kekuatan fisik, sebagian mempertahankan posisi tubuh tertentu dalam waktu lama, sedangkan lainnya menghadapi lingkungan kerja dengan berbagai sumber bahaya.

Kondisi tersebut membuat pekerja perlu menjaga kesehatan selama menjalankan tugas. Menyelesaikan pekerjaan saja tidak cukup. Pekerja juga perlu mempertahankan kemampuan fisik, mengenali risiko, serta membangun kebiasaan yang mendukung kesehatan dalam jangka panjang.

WHO menjelaskan bahwa kesehatan kerja bertujuan meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, serta sosial pekerja. Upaya tersebut juga mendorong pekerja mempertahankan kemampuan kerja sekaligus menciptakan lingkungan yang mendukung keselamatan dan kesehatan.

Kenali Penyakit Akibat Kerja

Setiap pekerjaan membawa risiko yang berbeda. Pajanan dari lingkungan maupun proses kerja dapat memengaruhi kesehatan apabila pekerja mengalaminya berulang kali atau dalam kondisi yang tidak terkendali.

Kementerian Kesehatan mengelompokkan bahaya penyebab penyakit akibat kerja ke dalam lima kelompok, yaitu fisik, kimia, biologi, ergonomi, dan psikososial.

Dengan mengenali sumber bahaya, pekerja dapat menentukan langkah pencegahan yang sesuai. Jika muncul keluhan yang berkaitan dengan pekerjaan, pekerja juga perlu menyampaikan riwayat aktivitas dan pajanan kepada tenaga kesehatan.

  1. Waspadai Bahaya Fisik

Lingkungan kerja dapat menghadirkan kebisingan, getaran, suhu ekstrem, radiasi, tekanan udara, dan kondisi pencahayaan tertentu. Faktor tersebut dapat memengaruhi kesehatan pekerja sesuai jenis dan tingkat paparannya.

Pekerja yang menggunakan mesin atau peralatan perlu mengenali tingkat kebisingan dan getaran selama menjalankan tugas. Sementara itu, pekerja yang beraktivitas di luar ruangan perlu mengantisipasi panas serta paparan sinar matahari.

Pekerja dapat mengendalikan risiko melalui prosedur kerja yang aman dan penggunaan alat pelindung sesuai kebutuhan pekerjaannya. Pengaturan lingkungan kerja juga membantu menciptakan kondisi yang lebih aman.

  1. Kenali Risiko dari Bahan Kimia

Sebagian pekerja berinteraksi langsung dengan bahan kimia dalam bentuk padat, cair, maupun gas. Karakteristik bahan, jumlah pajanan, cara penggunaan, dan kondisi lingkungan menentukan tingkat risikonya.

Pekerja perlu mengetahui sifat bahan yang digunakan sebelum menjalankan pekerjaan. Petunjuk keselamatan dapat membantu pekerja memahami cara menangani, menyimpan, dan menggunakan bahan tersebut.

Ketika pekerjaan membutuhkan alat pelindung, pekerja perlu menggunakannya sesuai fungsi dan cara pemakaian yang benar. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi kontak tubuh dengan bahan yang berpotensi membahayakan kesehatan.

  1. Perhatikan Pajanan Biologis

Lingkungan kerja tertentu dapat mempertemukan pekerja dengan bakteri, virus, jamur, atau parasit. Jenis pajanan tersebut dapat muncul pada pekerjaan yang melibatkan manusia, hewan, bahan biologis, maupun lingkungan tertentu.

Pekerja dapat mengurangi risiko melalui kebersihan diri dan penerapan prosedur pencegahan sesuai karakter pekerjaannya. Kebiasaan mencuci tangan, menjaga kebersihan peralatan, dan menangani bahan secara tepat dapat mendukung upaya tersebut.

Setelah memahami bahaya fisik, kimia, dan biologis, pekerja juga perlu memperhatikan cara tubuh menjalankan pekerjaan. Faktor ergonomi menjadi penting terutama pada pekerjaan yang melibatkan gerakan berulang atau aktivitas fisik.

  1. Jaga Posisi Tubuh Saat Bekerja

Pekerja dapat melakukan aktivitas seperti mengangkat beban, membungkuk, berdiri, duduk, atau mengulangi gerakan tertentu selama bekerja. Jika pekerja menjalankan aktivitas tersebut dengan posisi yang kurang tepat atau dalam waktu lama, tubuh dapat menerima beban yang lebih besar.

Kementerian Kesehatan memasukkan posisi kerja yang janggal, posisi statis, gerakan berulang, serta aktivitas angkat-angkut sebagai contoh pajanan ergonomi.

Pekerja dapat mengurangi beban tubuh dengan memperbaiki posisi kerja dan menggunakan teknik yang sesuai. Saat mengangkat benda, pekerja perlu menyesuaikan teknik dengan berat dan bentuk benda. Jika memungkinkan, pekerja juga dapat mengubah posisi tubuh secara berkala untuk mengurangi beban pada bagian tubuh yang sama.

Langkah ergonomis membantu pekerja menjalankan tugas dengan lebih aman dan mengurangi tekanan berulang pada sistem gerak.

  1. Jaga Kesehatan Psikologis

Selain tuntutan fisik, pekerjaan juga dapat memberikan tekanan mental. Beban kerja, pekerjaan monoton, hubungan interpersonal, organisasi kerja, dan sistem kerja tertentu dapat memengaruhi kondisi psikologis pekerja.

Kementerian Kesehatan memasukkan faktor-faktor tersebut sebagai bagian dari pajanan psikososial di tempat kerja.

Pekerja perlu mengenali perubahan kondisi dirinya ketika menghadapi tekanan pekerjaan. Gangguan tidur, perubahan suasana hati, kesulitan berkonsentrasi, atau rasa tertekan yang menetap perlu mendapat perhatian.

Pekerja dapat membicarakan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan kepada orang yang dipercaya. Jika keluhan terus berlangsung atau mengganggu aktivitas, tenaga kesehatan dapat membantu melakukan penilaian lebih lanjut.

Setelah mengendalikan berbagai risiko pekerjaan, pekerja juga perlu membangun kondisi fisik yang mendukung aktivitas sehari-hari. Di sinilah kebugaran memiliki peran penting.

Kebugaran Membantu Tubuh Menjalankan Aktivitas

Kebugaran membantu tubuh menghadapi aktivitas sehari-hari dengan kemampuan fisik yang lebih baik. Kondisi tersebut penting bagi pekerja yang menjalankan tugas dengan tuntutan fisik maupun aktivitas yang membutuhkan daya tahan tubuh.

WHO menjelaskan bahwa aktivitas fisik secara teratur memberikan berbagai manfaat kesehatan. Aktivitas fisik dapat membantu mencegah dan mengelola penyakit tidak menular, mendukung kesehatan mental, serta meningkatkan kualitas hidup.

Namun, kebugaran tidak menggantikan keselamatan kerja. Pekerja tetap perlu mengendalikan sumber bahaya yang berasal dari aktivitas dan lingkungan kerja.

Karena itu, pekerja perlu menggabungkan kebiasaan aktif dengan cara kerja yang aman.

Aktivitas Fisik Tidak Harus Rumit

Aktivitas fisik tidak selalu berarti mengikuti olahraga formal. WHO mendefinisikan aktivitas fisik sebagai gerakan tubuh yang membutuhkan energi. Berjalan kaki, bersepeda, rekreasi aktif, olahraga, hingga aktivitas pekerjaan yang melibatkan gerakan tubuh termasuk di dalamnya.

Pekerja dapat memilih aktivitas yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing. Jalan kaki, bersepeda, senam, olahraga rekreasi, atau kegiatan aktif lainnya dapat menjadi pilihan.

Pekerja yang jarang melakukan aktivitas fisik dapat memulainya secara bertahap. Tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri ketika seseorang meningkatkan beban aktivitas.

Tingkatkan Aktivitas Secara Bertahap

Mengejar kebugaran tidak berarti memaksakan tubuh melakukan aktivitas berat sejak awal. Pekerja dapat memulai dengan aktivitas yang mampu dilakukan secara konsisten, kemudian meningkatkan durasi atau intensitas secara bertahap.

Pendekatan tersebut memberi kesempatan bagi tubuh untuk beradaptasi. Pekerja juga dapat memilih jenis aktivitas yang sesuai dengan kemampuan, kondisi kesehatan, dan kebiasaan sehari-hari.

Selama beraktivitas, pekerja perlu memperhatikan respons tubuh. Jika muncul keluhan berat atau tidak biasa, hentikan aktivitas dan cari pertolongan medis sesuai kondisi.

Kebiasaan yang realistis akan lebih mudah dipertahankan daripada aktivitas berat yang hanya dilakukan sesekali.

Berikan Waktu untuk Beristirahat

Aktivitas fisik dan pekerjaan sama-sama memberikan beban kepada tubuh. Karena itu, pekerja perlu memberikan waktu yang cukup untuk pemulihan.

Pekerja dapat menyesuaikan waktu istirahat dengan tuntutan aktivitasnya. Mereka juga perlu menjaga kualitas tidur karena tidur membantu tubuh menjalankan proses pemulihan.

Kelelahan yang terus muncul meskipun seseorang sudah beristirahat membutuhkan perhatian. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan pola tidur, beban aktivitas, kondisi kesehatan, atau faktor lain yang perlu diperiksa.

Kenali Tanda yang Muncul dari Tubuh

Tubuh dapat memberikan tanda ketika menghadapi beban yang tidak sesuai. Nyeri berulang, kelelahan berkepanjangan, pusing, sesak, gangguan tidur, atau keluhan lain yang berkaitan dengan pekerjaan perlu mendapatkan perhatian.

Pekerja dapat mencatat waktu munculnya keluhan, aktivitas yang dilakukan, serta kondisi lingkungan ketika gejala muncul. Informasi tersebut dapat membantu tenaga kesehatan menilai kemungkinan hubungan antara pekerjaan dan gangguan kesehatan.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa penilaian penyakit akibat kerja mempertimbangkan hubungan antara penyakit dengan pajanan pekerjaan. Tenaga kesehatan dapat menilai riwayat pekerjaan, jenis pajanan, serta kondisi medis pekerja.

Karena itu, pekerja perlu menyampaikan informasi mengenai pekerjaan secara lengkap ketika menjalani pemeriksaan.

Bangun Kebiasaan Aktif Secara Konsisten

Pekerja tidak perlu menunggu pemeriksaan kebugaran untuk mulai bergerak. Mereka dapat memasukkan aktivitas fisik ke dalam rutinitas sehari-hari sesuai kemampuan.

WHO juga mendorong terciptanya lingkungan kerja yang mendukung aktivitas fisik. Kesempatan untuk bergerak selama hari kerja dapat membantu pekerja mempertahankan kebiasaan aktif.

Pekerja dapat memilih kegiatan yang mudah dilakukan secara rutin, seperti berjalan kaki, bersepeda, senam, olahraga bersama, atau aktivitas aktif lainnya.

Konsistensi menjadi kunci. Aktivitas yang dilakukan secara teratur lebih mudah menjadi kebiasaan daripada olahraga berat yang hanya dilakukan sesekali.

Sesuaikan Pencegahan dengan Jenis Pekerjaan

Setiap pekerjaan memiliki karakter dan sumber risiko yang berbeda. Penggunaan mesin dapat menghadirkan bahaya fisik, sedangkan kontak dengan bahan tertentu dapat menimbulkan pajanan kimia. Aktivitas angkat-angkut membutuhkan penerapan prinsip ergonomi, sementara tuntutan pekerjaan yang tinggi memerlukan perhatian terhadap kesehatan psikologis.

Pekerja perlu memilih langkah pencegahan berdasarkan risiko yang mereka hadapi. Pendekatan tersebut membuat upaya menjaga kesehatan menjadi lebih tepat sasaran.

Dengan cara ini, pekerja tidak hanya berusaha meningkatkan kebugaran, tetapi juga mengurangi faktor pekerjaan yang dapat mengganggu kesehatan.

Menjadikan Olahraga sebagai Kebiasaan

Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya berkoordinasi dengan pemegang program kesehatan kerja dan olahraga dalam kegiatan tes kebugaran pekerja informal pada Senin, 10 Agustus 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Kompleks Perkantoran Gedung Bupati Tasikmalaya dan melibatkan 20 pekerja informal.

dr. H. Ade Taufik Ahmad dan Anggi Krisma W., Am.Keb., memberikan materi mengenai penyakit akibat kerja dan kebugaran pekerja.

Kegiatan tersebut membawa harapan agar peserta dapat menerapkan olahraga secara berkelanjutan untuk menjaga kebugaran dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut dapat diterapkan oleh pekerja dari berbagai bidang. Kenali risiko pekerjaan, gunakan cara kerja yang aman, berikan tubuh waktu untuk beristirahat, dan lakukan aktivitas fisik secara teratur.

Menjaga kebugaran tidak berarti memaksa tubuh untuk selalu bekerja lebih keras. Kebugaran membantu pekerja memahami kemampuan tubuh dan mempertahankan kondisi fisik agar tetap siap menjalankan aktivitas.

Pekerja yang sehat bukan hanya mampu menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga mampu menjaga tubuh agar tetap siap bekerja dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Penyakit Akibat Kerja (PAK). Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan tentang Penyakit Akibat Kerja.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pelatihan Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
  4. World Health Organization. Occupational Health.
  5. World Health Organization. Physical Activity.
  6. World Health Organization. Guidelines on Improving the Physical Fitness of Employees.

Author Profile

Yudha Pratama Widyatmoko
Yudha Pratama Widyatmoko
Yuk Share Postingan Ini:
Yudha Pratama Widyatmoko
Yudha Pratama Widyatmoko
Articles: 11

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *