ANISA: Ketika Pernikahan Bukan Sekadar Peristiwa Sosial Keagamaan, Tetapi Upaya untuk Mencegah Stunting

“Generasi bebas stunting tidak terbentuk begitu saja ketika seorang bayi dilahirkan. Prosesnya dimulai jauh sebelum itu—ketika seorang remaja mulai merencanakan masa depannya, calon pengantin mempersiapkan pernikahannya, dan pasangan suami istri merencanakan kehamilan pertamanya.”

Stunting Berawal Jauh Sebelum Kehamilan

Selama ini, upaya pencegahan stunting identik dengan pemberian makanan tambahan atau pemantauan pertumbuhan balita—padahal langkah-langkah tersebut baru menyentuh gejala, bukan akar penyebabnya. Sayangnya, pelayanan kesehatan reproduksi pada tahap prakonsepsi masih sering dipandang sebagai pelengkap, bukan kebutuhan utama.

Fenomena ini terlihat jelas di Kecamatan Pasrujambe, yang tercatat sebagai lokus stunting nasional pada tahun 2019, 2024, dan 2025. Di balik status tersebut, terdapat persoalan kesehatan ibu dan anak yang cukup serius: hampir separuh ibu hamil di wilayah ini terdeteksi memiliki kehamilan berisiko, mulai dari anemia hingga kekurangan gizi kronis, yang dapat menyebabkan komplikasi saat melahirkan dan bayi lahir dengan berat badan rendah. Persoalan semakin kompleks karena cakupan calon pengantin perempuan yang mengakses pelayanan kesehatan reproduksi masih tergolong rendah.

Oleh karena itu, UPTD Puskesmas Pasrujambe mengubah pendekatan pelayanan kesehatan reproduksi melalui inovasi ANISA (Ayo Nikah Sehat dan Aman). Pelayanan tidak lagi diberikan hanya ketika masyarakat datang ke fasilitas kesehatan, tetapi dibangun menjadi sebuah sistem berbasis siklus kehidupan (life course approach) yang menjangkau sasaran sejak usia remaja, melibatkan berbagai pemangku kepentingan, serta memberikan pendampingan secara berkelanjutan hingga pasangan siap memasuki masa kehamilan.

“Setiap anak berhak lahir dari orang tua yang sehat dan siap. Itulah alasan inovasi ANISA kami cetuskan, bukan sekadar untuk mempersiapkan calon pengantin menuju kehidupan pernikahan, tetapi masa depan generasi yang lebih sehat dan bebas dari stunting melalui kesehatan reproduksi yang lebih baik,” ujar dr. Siska Yuni Fitria, Kepala UPTD Puskesmas Pasrujambe.

Evolusi Layanan, dari Kartu Pencatatan Hingga Layanan Terpadu

Inovasi ANISA pertama kali dicetuskan pada 2 Januari 2020 sebagai ANISA 1.0 berupa layanan kesehatan reproduksi bagi calon pengantin yang dilengkapi dengan Kartu ANISA. Kartu ini berfungsi sebagai media pencatatan hasil skrining kesehatan pranikah, sekaligus alat pemantauan faktor risiko yang menjadi syarat administratif wajib dalam proses pendaftaran pernikahan di KUA dalam bentuk Surat Keterangan Sehat. Sayangnya, di tahun-tahun awal penerapannya, cakupan layanan masih rendah dan sempat diperburuk oleh situasi pandemi COVID-19.

Evaluasi atas kondisi tersebut mendorong lahirnya ANISA 2.0 pada 8 Maret 2022 dengan tambahan Kelas Edukasi Pranikah yang diselenggarakan di KUA Kecamatan Pasrujambe berkolaborasi dengan Balai Penyuluhan KB. Kelas ini membekali pasangan calon pengantin dengan pengetahuan seputar kesehatan reproduksi, status gizi prakonsepsi, hingga keterampilan hidup. Sebagai penguatan, mulai tahun 2025 pasangan yang telah mengikuti kelas ini turut memperoleh Sertifikat Bimbingan Perkawinan (Bimwin) dari Kementerian Agama RI sebagai tambahan syarat administratif pendaftaran pernikahan.

Namun demikian, evaluasi lintas sektor pada tahun 2024 menemukan persoalan baru: tingginya angka pernikahan siri membuat banyak calon pengantin tidak mendapatkan edukasi maupun layanan kesehatan reproduksi sama sekali. Untuk menjawab tantangan ini, UPTD Puskesmas Pasrujambe mengembangkan ANISA 3.0 pada 26 Februari 2025 dengan menghadirkan Ruang Berbagi Ilmu bagi Modin dan Pemuka Agama. Ruang ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterlibatan tokoh masyarakat dalam mendukung pernikahan yang sehat, aman, dan tercatat, sehingga mampu menekan praktik pernikahan dini dan siri sekaligus memperkuat edukasi pranikah hingga ke tingkat komunitas.

Menjawab Tantangan Baru: Kehamilan di Luar Nikah pada Remaja

Seiring berjalannya waktu, tantangan lain muncul ke permukaan, yaitu maraknya kehamilan di luar nikah pada remaja usia sekolah. Kondisi ini kerap berujung pada pernikahan usia anak tanpa persiapan yang memadai, sehingga remaja memasuki masa kehamilan tanpa melalui edukasi pranikah, skrining kesehatan reproduksi, maupun pendampingan yang optimal. Akibatnya, risiko komplikasi kehamilan, kelahiran bayi berisiko, dan stunting pun meningkat.

Menjawab persoalan tersebut, UPTD Puskesmas Pasrujambe mengembangkan ANISA 4.0 pada 26 Februari 2026 yang jauh lebih komprehensif—tidak hanya menyasar calon pengantin, tetapi juga remaja dan pasangan usia subur secara keseluruhan. Pengembangan ini menghadirkan lima layanan yang saling terhubung.

Pertama. Kelas MIMPI (Meraih Impian, Menunda Pernikahan Dini) yang menyasar anak usia sekolah dan remaja untuk merencanakan masa depan, meningkatkan pengetahuan terkait kesehatan reproduksi dan pendewasaan usia perkawinan, serta mencegah pernikahan usia anak dan perilaku berisiko.

Kedua. Kelas SINERGI (Sinergi Lintas Sektor Menuju Pernikahan Sehat dan Aman) yang memperkuat koordinasi dan kolaborasi lintas sektor dalam mendukung pendewasaan usia perkawinan, mencegah pernikahan usia anak dan pernikahan tidak tercatat, serta mewujudkan pernikahan yang sehat dan aman.

Ketiga. Kelas ANISA (Ayo Nikah Sehat dan Aman) yang memberikan edukasi kesehatan reproduksi bagi pasangan calon pengantin dan telah terintegrasi dengan Layanan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) di KUA Kecamatan Pasrujambe.

Keempat. Layanan SIAP ANISA (Skrining, Intervensi, Edukasi, dan Pendampingan) yang dilaksanakan di UPTD Puskesmas Pasrujambe dan mencakup skrining serta pemeriksaan kesehatan, edukasi, konseling, intervensi faktor risiko, tindak lanjut, hingga pendampingan berkelanjutan sesuai kebutuhan masing-masing pasangan.

Kelima. Kelas SERASI (Sehat Reproduksi dan Persiapan Kehamilan Pasangan Suami Istri) yang menyasar pasangan usia subur, khususnya yang memiliki faktor risiko tinggi dan unmet need guna mendukung kesiapan kehamilan sehat, perencanaan keluarga, dan pencegahan risiko stunting.

Kolaborasi yang Ditopang dengan Teknologi Sistem Informasi Kesehatan

Seluruh rangkaian layanan ANISA tidak berjalan sendiri. Kartu ANISA yang menjadi alat kontrol kesehatan calon pengantin kini telah terkoneksi dengan Aplikasi Sehat IndonesiaKu (ASIK), Aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (ELSIMIL), serta Aplikasi Gender and Reproductive Health Information System (GENESIS). Integrasi ini memastikan data hasil skrining kesehatan calon pengantin dapat dipantau secara berkelanjutan dan menjadi dasar bagi Tim Pendamping Keluarga (TPK) dalam mengawal calon pengantin wanita yang berisiko mulai dari masa pranikah, kehamilan, persalinan, hingga masa nifas.

Kolaborasi lintas sektor juga menjadi kunci keberhasilan ANISA. Puskesmas, KUA, dan Balai Penyuluhan KB terikat dalam payung hukum inovasi berupa Surat Keputusan Sekretaris Daerah Kabupaten Lumajang yang menegaskan bahwa dokumen—Sertifikat Bimbingan Perkawinan, Kartu ANISA, dan Surat Keterangan Sehat—menjadi syarat mutlak sebelum KUA memproses pendaftaran pernikahan. Dengan kata lain, pernikahan yang sah secara administrasi negara kini juga terjamin kesiapannya secara medis.

“Seringkali banyak yang berpikir bahwa tugas kami cukup sampai di ruang pemeriksaan. Padahal, tidak sebatas itu. Begitu edukasi, pelayanan kesehatan, administrasi pernikahan, pendampingan keluarga, dan dukungan lintas sektor kami satukan dalam satu ekosistem, pernikahan bukan lagi sekadar peristiwa sosial dan keagamaan, tetapi juga titik awal lahirnya generasi yang lebih sehat. Artinya, mata rantai stunting bisa diputusbahkan jauh sebelum sebuah keluarga terbentuk,” jelas Nurhaemi Rohmah, Koordinator Pelayanan Kesehatan Reproduksi sekaligus Inovator ANISA.

Hasil yang Terus Membaik

Perjalanan panjang ANISA sejak versi 1.0 hingga 4.0 membuahkan hasil yang tergambar jelas dari data cakupan pelayanan kesehatan reproduksi calon pengantin. Jika pada tahun 2023 cakupan baru mencapai 38,5 persen, angka ini melonjak menjadi 53,1 persen pada tahun 2024, kemudian mencapai 82,9 persen pada tahun 2025, dan tetap terjaga di angka 72,6 persen pada semester pertama tahun 2026—jauh melampaui target capaian sebesar 55 persen.

Peningkatan akses layanan tersebut turut berdampak pada penurunan prevalensi stunting balita di Kecamatan Pasrujambe. Setelah sempat melonjak tajam ke angka 18,2 persen pada tahun 2021, prevalensi stunting berhasil ditekan secara signifikan menjadi 5,7 persen pada tahun 2022, 4,2 persen pada tahun 2023, 2,4 persen pada tahun 2024, sedikit meningkat menjadi 3,4 persen pada tahun 2025, dan kembali turun ke angka 2,4 persen pada semester pertama tahun 2026. Capaian ini berada jauh di bawah target yang ditetapkan, yaitu di bawah 15,04 persen.

Meskipun penurunan stunting merupakan hasil berbagai intervensi lintas program, ANISA berkontribusi melalui peningkatan kesiapan kesehatan reproduksi sejak masa prakonsepsi, sehingga berbagai faktor risiko dapat dikenali dan ditangani sebelum kehamilan terjadi.

Pembelajaran dan Peluang Replikasi

Perjalanan ANISA menunjukkan bahwa inovasi pelayanan kesehatan harus terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat. Setiap pengembangan ANISA lahir dari hasil evaluasi dan tantangan di lapangan. Berawal dari pelayanan kesehatan reproduksi bagi calon pengantin, ANISA kemudian diperkuat melalui edukasi pranikah, pelibatan Modin dan Pemuka Agama untuk mencegah pernikahan siri, hingga perluasan sasaran kepada remaja dan pasangan usia subur sebagai respons terhadap meningkatnya pernikahan usia anak dan kehamilan pada remaja. Proses perbaikan berkelanjutan tersebut membentuk ekosistem pelayanan yang mengintegrasikan edukasi, pelayanan kesehatan, pendampingan, digitalisasi, dan kolaborasi lintas sektor. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan reproduksi akan lebih efektif apabila dilaksanakan secara terintegrasi sejak remaja hingga persiapan kehamilan—bukan sebagai komponen yang berdiri sendiri, melainkan saling memperkuat dalam membangun ekosistem pelayanan yang berorientasi pada pencegahan stunting sejak masa prakonsepsi.

Pendekatan ini memiliki peluang besar untuk direplikasi oleh puskesmas lain karena memanfaatkan jejaring yang telah tersedia di daerah, seperti KUA, Penyuluh KB, Tim Pendamping Keluarga (TPK), pemerintah desa, TP-PKK, sekolah, tokoh agama, dan kader kesehatan. Dengan penyesuaian terhadap kebutuhan dan karakteristik wilayah, ANISA dapat menjadi model pelayanan kesehatan reproduksi yang adaptif dalam mendukung percepatan penurunan stunting.

“Dari ANISA, kami belajar bahwa inovasi pelayanan publik tidak selalu memerlukan teknologi yang rumit atau investasi yang besar. Yang diperlukan justru inisiatif untuk terus melakukan evaluasi, berkolaborasi, dan mengembangkan solusi sesuai kebutuhan masyarakat—itulah fondasi utama lahirnya inovasi yang berkelanjutan,” ujar Nurmalasari, S.KM., Administrator Inovasi UPTD Puskesmas Pasrujambe.

Karena sesungguhnya, mempersiapkan calon pengantin bukanlah tujuan akhir, melainkan langkah awal untuk mempersiapkan masa depan generasi yang lebih sehat, berkualitas, dan bebas dari stunting.

Author Profile

Rafie Nur Sidiq
Yuk Share Postingan Ini:
Rafie Nur Sidiq
Rafie Nur Sidiq
Articles: 130

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *