Mahasiswa STIKes Kuningan Ajari Warga Buat Alat Pengolah Sampah
Latest posts by Asep Muhammad Slamet (see all)

Kuningan, 26 Agustus 2021, Kelompok 11 Desa Cikaduwetan Pengalaman Belajar Lapangan II (PBL II) STIKes Kuningan telah melakukan kegiatan intervensi mengenai permasalahan sampah dengan berfokus pada peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai sampah dan cara pengolahannya.

Kegiatan ini dilakukan di Balai Desa Cikaduwetan Kecamatan Luragung, dengan dihadiri oleh Kepala Desa Cikaduwetan, pihak Puskesmas Luragung, Dosen Pembimbing Lapangan Bapak Hamdan, SKM., MKM serta masyarakat Desa Cikaduwetan sebagai sasaran kegiatan intervensi ini.

Alternatif solusi permasalahan sampah yang diambil oleh kelompok 11 PBL II STIKes Kuningan yaitu Progam K2T (Kenali, Kelola, Terbiasa) serta Advokasi pengadaan TPS Dusun IV Cijati Desa Cikaduwetan.

Menurut American Public Health Association, sampah (waste) diartikan sebagai sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang, yang berasal dari kegiatan manusia serta tidak terjadi dengan sendirinya. Permasalahan sampah di Indonesia masih menjadi momok yang menakutkan dan pengolahannya belum mencapai titik terang agar terkelola dengan baik.

Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Direktorat Pengelolaan Sampah (https://sipsn.menlhk.go.id/sipsn/) tahun 2020 timbulan sampah di Indonesia berjumlah 34,015,855.23 (ton/tahun), timbulan sampah tersebut didominasi oleh sampah sisa makanan sebanyak 40% sedangkan berdasarkan sumber sampah di dominasi oleh sampah rumah tangga sebanyak 38,2%.

BACA JUGA:  Banyuwangi Public Health UNAIR dan BEM FKM UNEJ Bagi Pengalaman Organisasi

Upaya pengolahan dan cara penanganan sampah seyogyanya melibatkan semua elemen, dari mulai pemerintah/ stakeholder hingga masyarakat itu sendiri agar mampu mengelola sampah secara terpadu dan mandiri. Perlu dilakukan pengembangan SDM serta penyediaan alat pengolah sampah organik yang praktis dan sederhana sehingga mampu dibuat oleh masyarakat itu sendiri.

Kelompok 11 PBL II STIKes Kuningan membuat sebuah program dalam rangka peningkatan kemampuan masyarakat (SDM) untuk mengolah sampah organiknya secara mandiri melalui Program K2T (Kenali, Kelola, Terbiasa).

Edukasi Pengolahan Sampah Organik

Program K2T terdiri dari berbagai subs program didalamnya meliputi Kenali : dengan melakukan penyuluhan mengenai sampah, jenis – jenis sampah hingga proses pengolahannya, Kelola : melakukan demonstrasi pembuatan alat pengolah sampah organik skala rumah bernama TK (Tumbler Komposter) & Pembuatan Ecobrick serta Terbiasa : upaya mengajak masyarakat untuk mampu secara mandiri dan berkelanjutan untuk mengolah sampah organiknya sendiri.

TK (Tumbler Komposter) merupakan sebuah alat sederhana pengolahan sampah organik dengan cara pengomposan an-aerob berskala rumahan yang terbuat dari bahan daur ulang ember bekas cat. Pembuatan TK ini sangat sederhana sekali sehingga dapat dibuat oleh masyarakat dengan memanfaatkan bahan tidak terpakai seperti ember bekas cat dengan proses perakitan yang mudah.

BACA JUGA:  Penguatan Sistem Manajemen Pengelolaan Limbah Untuk Meningkatkan Kualitas Lingkungan Hidup

Alat dan Bahan :

  1. 2 ember bekas cat / ember sejenisnya (1 ember ada tutupnya)
  2. Kran air kecil / Kran air galon
  3. Bor / Paku panas
  4. Lem pipa / lem lilin

“Kegiatan yang sangat bagus dan bermanfaat, dimana mahasiswa tidak hanya melakukan penyuluhan untuk peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai sampah, pemilahan sampah, hingga pengolahan sampah. Tetapi mahasiswa juga secara langsung melakukan demostrasi pembuatan alat pengomposan sederhan yang bisa dibuat masyarakat di rumah”, ucap Bapak Riki Yakub, S.Pd (Kepala Desa Cikaduwetan).

“Sangat bagus kegiatannya. Dari kegiatan mahasiswa ini saya jadi tahu dan paham ternyata membuat alat kompos itu mudah dan bisa dilakukan dirumah juga”, ucap Bapak Dodi salah satu peserta sasaran intervensi permasalahan sampah melalui Program K2T.

Harapan kami, semoga dengan adanya kegiatan intervensi permasalahan sampah melalui Program K2T dimana salah satunya ada demonstrasi pembuatan alat pengolah sampah yaitu TK (tumbler komposter) bisa membuat masyarakat paham hingga pada akhirnya mau serta mampu untuk mengolah sampah rumah tangganya secara mandiri dan berkelanjutan.

Alat Pengolah Sampah Organik


Anggota Kelompok 11 :
– Asep Muhammad Slamet
– Dian Febrilia
– M. Abizard Al-Aziz
– Yuliantika

Dosen Pembimbing :
– Hamdan, SKM., MKM

Dosen Pembimbing Akademik :
– Ade Saprudin, SKM., MKM

(Visited 85 times, 1 visits today)