Pernah melihat anak yang selalu duduk di bangku paling depan karena sulit melihat tulisan di papan? Atau anak yang sering menyipitkan mata ketika melihat sesuatu dari jauh?
Bisa jadi itu bukan sekadar kebiasaan. Anak mungkin sedang mengalami gangguan penglihatan, tetapi belum menyadarinya.
Anak-anak terkadang belum tahu bahwa penglihatannya kurang jelas. Mereka bisa mengira semua orang melihat tulisan di papan dengan cara yang sama. Karena itu, skrining kesehatan mata pada anak sekolah penting dilakukan untuk membantu menemukan gangguan penglihatan sejak dini.
Skrining merupakan pemeriksaan awal, bukan diagnosis. Jika ditemukan hasil yang menunjukkan kemungkinan adanya gangguan, anak dapat diarahkan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. WHO merekomendasikan skrining penglihatan dan kesehatan mata pada anak usia sekolah untuk membantu menemukan gangguan penglihatan dan memastikan anak yang membutuhkan mendapatkan tindak lanjut.
Kenapa Mata Anak Perlu Diperiksa?

Mata punya peran besar dalam kegiatan anak sehari-hari. Saat belajar, anak membutuhkan penglihatan untuk membaca buku, melihat tulisan di papan, mengerjakan tugas, dan mengikuti kegiatan di kelas. Penglihatan juga membantu anak bermain, berolahraga, serta berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.
Salah satu masalah yang dapat ditemukan adalah kelainan refraksi, seperti rabun jauh (miopia), rabun dekat (hipermetropia), dan astigmatisme. Kelainan refraksi yang tidak dikoreksi dapat membuat penglihatan kabur dan berpengaruh terhadap proses belajar serta perkembangan anak.
Masalah ini juga bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Kementerian Kesehatan RI menyebutkan pada Februari 2026 bahwa sekitar 3,6 juta anak di Indonesia mengalami kelainan refraksi yang belum terkoreksi dengan kacamata. Kemenkes menilai kondisi tersebut berpotensi menghambat tumbuh kembang dan kualitas hidup anak.
Apa Tanda Anak Mengalami Gangguan Penglihatan?

Orang tua dan guru bisa memperhatikan kebiasaan anak. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- sering menyipitkan mata ketika melihat jauh
- kesulitan membaca tulisan di papan
- sering mendekatkan wajah ke buku
- sering memiringkan kepala ketika melihat sesuatu
- menutup salah satu mata ketika melihat
- sering menggosok mata
- mengeluhkan penglihatan kabur atau tidak nyaman
- kesulitan mengikuti aktivitas yang membutuhkan penglihatan jarak jauh.
Namun, tidak semua anak dengan gangguan penglihatan akan menunjukkan tanda yang jelas. Karena itu, pemeriksaan tidak sebaiknya hanya dilakukan ketika anak sudah mengeluh.
Seperti Apa Skrining Mata di Sekolah?
Skrining mata di sekolah biasanya dilakukan dengan pemeriksaan penglihatan yang sederhana dan sesuai dengan usia anak. Salah satunya adalah pemeriksaan ketajaman penglihatan, yaitu untuk mengetahui seberapa jelas anak dapat melihat.
Pemeriksaan juga dapat membantu menemukan tanda-tanda kondisi mata yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. WHO menjelaskan bahwa skrining pada anak sekolah dapat mencakup pemeriksaan untuk menemukan gangguan ketajaman penglihatan, infeksi atau peradangan, ambliopia, dan mata juling, kemudian memberikan rujukan bila diperlukan.
Yang perlu diingat, hasil skrining bukan berarti anak langsung didiagnosis memiliki penyakit mata tertentu. Jika hasil skrining menunjukkan adanya kemungkinan gangguan, anak perlu mengikuti pemeriksaan lanjutan oleh tenaga kesehatan atau tenaga profesional mata.
WHO juga menekankan bahwa program skrining harus memiliki sistem rujukan dan tindak lanjut agar anak yang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan tidak berhenti hanya pada tahap skrining.
Kenapa Dilakukan di Sekolah?
Sekolah merupakan tempat yang strategis untuk menjangkau anak-anak. Melalui program kesehatan berbasis sekolah, pemeriksaan dapat dilakukan secara terorganisasi sehingga lebih banyak anak berkesempatan mendapatkan deteksi awal.
IAPB menjelaskan bahwa program kesehatan mata berbasis sekolah dapat membantu menemukan dan menangani berbagai kondisi mata pada anak, terutama kelainan refraksi yang belum dikoreksi. Penglihatan yang baik juga berperan dalam mendukung pendidikan, kesempatan hidup, dan partisipasi anak dalam lingkungan sosial.
Karena itu, kegiatan skrining mata bukan sekadar kegiatan pemeriksaan. Yang tidak kalah penting adalah memastikan anak yang membutuhkan mendapatkan pemeriksaan dan penanganan setelahnya.
Peran Orang Tua dan Guru
Menjaga kesehatan mata anak bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan.
Orang tua dapat memperhatikan apakah anak sering kesulitan melihat, membaca, atau mengikuti kegiatan yang membutuhkan penglihatan. Jika anak mengeluhkan penglihatannya atau menunjukkan tanda yang tidak biasa, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Guru juga memiliki peran penting karena menghabiskan banyak waktu bersama anak di sekolah. Guru dapat membantu mengenali anak yang sering kesulitan melihat papan tulis, berpindah tempat duduk agar bisa melihat lebih jelas, atau meminta bantuan teman untuk membaca tulisan.
Dengan kerja sama antara orang tua, guru, sekolah, dan tenaga kesehatan, gangguan penglihatan pada anak dapat lebih cepat ditemukan dan ditindaklanjuti.
Yuk, Jangan Tunggu Anak Mengeluh
Melihat tulisan di papan, membaca buku, menggambar, bermain, dan mengenali wajah teman adalah bagian dari keseharian anak. Penglihatan yang baik membantu anak menikmati semua aktivitas tersebut dengan lebih nyaman.
Karena itu, skrining kesehatan mata pada anak sekolah penting dilakukan sebagai langkah deteksi dini. Semakin cepat kemungkinan gangguan ditemukan, semakin cepat pula anak dapat diarahkan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
Jadi, kalau ada kegiatan skrining mata di sekolah, tidak perlu takut, ya. Pemeriksaan ini dilakukan untuk membantu memastikan mata anak tetap sehat dan dapat mendukung proses belajar dengan baik.
Karena belajar akan lebih nyaman ketika apa yang ada di depan mata bisa terlihat dengan jelas.
Sumber:
- https://www.who.int/publications/i/item/9789240082458
- https://www.who.int/publications/i/item/9789240105201
- https://kemkes.go.id/id/sayangi-mata-anak-sedari-dini-untuk-investasi-masa-depan
- https://www.iapb.org/learn/knowledge-hub/iapb-school-eye-health-guidelines/
Artikel ini sudah direview oleh:
Bani Srinurbani, S.K.M.
Tenaga Promkes Puskesmas Cigalontang
Puskesmas Cigalontang:
Jayapura, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, 46463
Author Profile
- Amelia Bahuwa adalah seorang mahasiswa yang memiliki ketertarikan pada bidang kesehatan, psikologi, dan teknologi digital, dengan fokus pada pemanfaatan inovasi untuk menciptakan solusi yang berdampak bagi masyarakat.
Latest entries
Edukasi KesehatanAgustus 21, 2026Pentingnya Skrining Kesehatan Mata pada Anak Sekolah: Biar Belajar Makin Nyaman
Berita KesehatanAgustus 20, 2026Skrining Kesehatan Anak Sekolah, Langkah Awal Kenali Risiko Penyakit
Berita KesehatanAgustus 16, 2026Bukan Hanya Menimbang, Ini Peran Penting Kader Posyandu Bagi Kesehatan Masyarakat
Berita KesehatanAgustus 16, 2026Orientasi Pembinaan Posyandu Kesehatan Tingkatkan Kompetensi Kader



