Tinggal Serumah dengan Pasien TB? Ini yang Harus Dilakukan

Tinggal serumah dengan pasien TB dapat menimbulkan kekhawatiran tertular, tetapi banyak keluarga yang belum memahami bahwa kontak serumah termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian untuk skrining. WHO secara khusus merekomendasikan skrining bagi kontak serumah dan kontak erat pasien TB. Skrining membantu menemukan penyakit lebih awal, sedangkan TPT dapat mencegah infeksi TB berkembang menjadi penyakit pada orang yang memenuhi kriteria. Tinggal serumah dengan pasien TB? Kenali langkah skrining, pencegahan penularan, dan TPT untuk melindungi keluarga.

Tinggal serumah dengan pasien TB bukan berarti harus menunggu muncul batuk atau gejala lain untuk mulai waspada. Kontak serumah termasuk kelompok yang direkomendasikan untuk mendapatkan skrining TB karena memiliki risiko lebih tinggi terpapar Mycobacterium tuberculosis. Deteksi lebih awal dapat membantu menemukan penyakit dan menentukan langkah pencegahan yang tepat.

TBC dan TB merujuk pada penyakit yang sama, yaitu Tuberkulosis, sebuah infeksi menular akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis. Istilah TB adalah singkatan medis yang benar dalam bahasa Indonesia dan Inggris, sementara TBC adalah istilah lama dari bahasa Belanda (tuberculose) yang masih sering dipakai masyarakat. Situasi ini penting diperhatikan karena TB masih menjadi persoalan kesehatan besar di Indonesia. Kementerian Kesehatan mencatat Indonesia termasuk negara dengan beban TB tinggi dan menempatkan kontak serumah serta kontak erat sebagai kelompok sasaran penting dalam upaya penemuan kasus secara aktif. 

Mengapa Kontak Serumah Perlu Waspada TB?

Sumber Gambar: Freepik

TB dapat menular melalui udara ketika seseorang dengan TB yang menular batuk, bersin, berbicara, atau mengeluarkan droplet yang mengandung bakteri ke lingkungan. Karena sering berada dalam ruang dan lingkungan yang sama, orang yang tinggal serumah dengan pasien TB perlu mendapatkan perhatian lebih dalam upaya pencegahan dan deteksi dini. 

Namun, tinggal serumah dengan pasien TB tidak otomatis berarti seseorang pasti terkena TB. Risiko setiap orang dapat berbeda. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu panik atau mengucilkan pasien. Sebaliknya, masyarakat dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dan mengikuti pemeriksaan sesuai anjuran.

Siapa yang Perlu Skrining TB?

WHO merekomendasikan skrining terutama bagi kontak serumah dan kontak erat pasien TB. Selain itu, kelompok tertentu seperti orang dengan HIV, orang yang terpapar silika, serta beberapa kelompok dengan faktor risiko tertentu juga dapat menjadi sasaran skrining. Diabetes melitus termasuk salah satu kondisi yang perlu diperhatikan dalam penilaian risiko TB. 

Sementara itu, masyarakat perlu memahami bahwa skrining berbeda dengan diagnosis. Melalui skrining, tenaga kesehatan mencari orang yang kemungkinan mengalami TB dan kemudian mengarahkan mereka untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. WHO merekomendasikan penggunaan tes diagnostik cepat sebagai pemeriksaan awal pada orang yang memiliki tanda dan gejala TB.

Apa yang Harus Dilakukan di Rumah?

Sumber Foto: Ilustrasi

Jika ada anggota keluarga yang sedang menjalani pengobatan TB, keluarga dapat membantu dengan memastikan pasien mengikuti pengobatan sesuai petunjuk tenaga kesehatan dan tidak menghentikannya sendiri.

Upaya pencegahan penularan juga penting. WHO menganjurkan kebiasaan hidup bersih saat batuk, seperti:

  1. Menutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin
  2. Menggunakan masker sesuai anjuran, serta mengurangi kontak dengan orang lain ketika kondisi pasien masih berisiko menularkan
  3. Ventilasi dan sirkulasi udara yang baik juga membantu mengurangi risiko penularan di ruang tertutup.

Yang tidak kalah penting, jangan mengucilkan pasien TB. Dukungan keluarga dapat membantu pasien menjalani pengobatan dengan lebih baik. Selanjutnya, pasien dapat menjalani pengobatan TB hingga selesai. Karena itu, keluarga dan orang terdekat perlu memberikan dukungan agar pasien mengikuti terapi sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Apa Itu Terapi Pencegahan TB (TPT) ?

Sumber Gambar: Freepik

Selain skrining, keluarga mungkin akan mendengar istilah Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Tenaga kesehatan menggunakan TPT untuk membantu orang dengan risiko tertentu mencegah infeksi TB berkembang menjadi penyakit TB. WHO merekomendasikan TPT bagi kelompok berisiko tinggi, termasuk kontak serumah dengan pasien TB. Sebelum memberikan TPT, tenaga kesehatan perlu menilai kondisi orang tersebut untuk memastikan bahwa mereka tidak sedang mengalami penyakit TB dan memenuhi kriteria terapi.

Dengan demikian, tidak semua orang yang tinggal serumah dengan pasien TB otomatis perlu mengonsumsi TPT. Tenaga kesehatan menentukan pemberian TPT berdasarkan usia, kondisi kesehatan, hasil pemeriksaan, faktor risiko, serta pedoman yang berlaku.

Kapan Harus Memeriksakan Diri?

Sumber Foto: Ilustrasi

Jangan menunda pemeriksaan jika tinggal serumah atau memiliki kontak erat dengan pasien TB. Terlebih jika muncul gejala seperti batuk berkepanjangan, demam, berkeringat pada malam hari, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau kelelahan yang menetap. Gejala tersebut tidak selalu berarti TB, tetapi perlu dinilai oleh tenaga kesehatan.

Pesan penting dari upaya skrining TB adalah jangan menunggu sakit berat untuk bertindak. Pemeriksaan pada kelompok berisiko, pengobatan pasien sampai tuntas, pencegahan penularan, dan TPT bagi orang yang memenuhi kriteria merupakan bagian dari upaya memutus rantai TB.

Jika Anda tinggal serumah dengan pasien TB atau memiliki kontak erat, konsultasikan kondisi kepada Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mengetahui pemeriksaan yang sesuai.

Tinggal serumah dengan pasien TB? Jangan menunggu gejala muncul. Konsultasikan kondisi kepada tenaga kesehatan dan ikuti skrining sesuai anjuran.

Simak Artikel Reportase dan Edukasi lainnya dari author pada link berikut ini: Artikel Edukasi dan Reportase Kesehatan Populer.

FAQ 

1. Apakah tinggal serumah dengan pasien TB pasti tertular?

Tidak. Tinggal serumah meningkatkan risiko paparan, tetapi tidak berarti seseorang pasti mengalami TB. Karena itu, kontak serumah perlu mendapatkan penilaian dan skrining sesuai kondisi. 

2. Apakah kontak serumah pasien TB harus diperiksa?

Kontak serumah dan kontak erat termasuk kelompok yang direkomendasikan WHO untuk skrining TB. Jenis pemeriksaan ditentukan berdasarkan kondisi dan penilaian tenaga kesehatan.

3. Apa itu TPT?

TPT adalah Terapi Pencegahan Tuberkulosis, yaitu pengobatan untuk mencegah infeksi TB berkembang menjadi penyakit pada orang yang memenuhi kriteria pemberian terapi. 

4. Apakah semua anggota keluarga pasien TB harus minum TPT?

Tidak otomatis. Pemberian TPT ditentukan setelah penilaian tenaga kesehatan, termasuk untuk memastikan tidak terdapat penyakit TB aktif dan apakah seseorang memenuhi kriteria terapi.

5. Bagaimana mencegah penularan TB di rumah?

Ikuti pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan, terapkan etika batuk, gunakan masker sesuai anjuran, perhatikan ventilasi udara, dan pastikan kontak yang berisiko mendapatkan pemeriksaan.

Referensi

  1. World Health Organization. (2025). Global Tuberculosis Report 2025: TB Prevention and Screening. Geneva: World Health Organization. (World Health Organization)
  2. World Health Organization. (2026). Tuberculosis: Fact Sheet. Geneva: World Health Organization. (World Health Organization)
  3. World Health Organization. (2024). WHO Consolidated Guidelines on Tuberculosis. Module 1: Prevention – Tuberculosis Preventive Treatment, Second Edition. Geneva: World Health Organization. (World Health Organization)
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Kenali Kelompok yang Berisiko Tinggi Tertular TB. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. (Ministry of Health of Republic Indonesia)
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Rencana Target Program Penanggulangan Tuberkulosis Tahun 2025. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. (JDIH Kementerian Kesehatan)

Artikel ini sudah direview oleh:
Citra Pertiwi Putri, S.KM.
Tenaga Promkes Puskesmas Sukarame


Puskesmas Sukarame:
Jl. Ds. Sukarame, Kec. Sukarame, Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia
No. Telp: 0895635979706

Author Profile

Ayu Siti Munigar
Ayu Siti Munigar
Ayu Siti Munigar, S.Kep., adalah seorang praktisi kesehatan masyarakat, penulis konten kesehatan, dan pegiat pemberdayaan masyarakat yang memiliki komitmen dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak melalui pendekatan berbasis data, edukasi, serta transformasi digital.
Yuk Share Postingan Ini:
Ayu Siti Munigar
Ayu Siti Munigar

Ayu Siti Munigar, S.Kep., adalah seorang praktisi kesehatan masyarakat, penulis konten kesehatan, dan pegiat pemberdayaan masyarakat yang memiliki komitmen dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak melalui pendekatan berbasis data, edukasi, serta transformasi digital.

Articles: 6

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *