Saat anak mulai sekolah, perhatian orang tua biasanya banyak tertuju pada pelajaran, pertemanan, bekal, dan aktivitas hariannya. Padahal, ada satu hal penting yang kadang terlupakan: perlindungan kesehatan melalui imunisasi lanjutan.
Di sinilah Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) punya peran penting. BIAS bukan sekadar kegiatan imunisasi yang dilakukan di sekolah, tetapi bagian dari upaya kesehatan anak usia sekolah agar perlindungannya tetap terjaga. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa BIAS merupakan bagian dari Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) dan ditujukan untuk meningkatkan status kesehatan peserta didik. Program ini juga membantu memastikan anak mendapatkan imunisasi lanjutan, bukan berhenti pada imunisasi saat bayi dan balita saja.
Jadi, kalau suatu hari anak membawa surat pemberitahuan BIAS dari sekolah, tidak perlu langsung menganggapnya sebagai kegiatan rutin yang boleh dilewatkan. Justru, momen tersebut bisa menjadi kesempatan untuk mengecek kembali apakah perlindungan imunisasi anak sudah sesuai jadwal.
Apa Manfaat BIAS?
Imunisasi dalam kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) bermanfaat untuk mencegah penyakit Difteri, Tetanus, Campak, Rubela dan Kanker Leher Rahim yang dapat menyebabkan kesakitan, disabilitas dan kematian. Setiap anak usia sekolah harus dipastikan mendapatkan imunisasi rutin lengkap, tidak hanya imunisasi pada saat bayi dan di bawah usia dua tahun (BADUTA) saja tetapi juga harus dilengkapi dengan imunisasi lanjutan pada usia sekolah tingkat dasar.
Mengapa Anak yang Tidak Diimunisasi Lebih Berisiko?
Imunisasi bekerja dengan membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan melawan penyakit tertentu. Ketika seorang anak belum mendapatkan vaksin yang dibutuhkan, ia tidak memiliki perlindungan yang sama terhadap penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi.
Risikonya bukan hanya soal anak bisa sakit. Beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dapat menimbulkan komplikasi serius. Campak, misalnya, sangat mudah menular dan dapat menyebabkan pneumonia, ensefalitis atau radang otak, gangguan penglihatan, diare berat, hingga kematian. WHO menyebutkan bahwa orang yang tidak memiliki kekebalan terhadap campak berisiko tertular ketika terpapar.
Data dari Kementerian Kesehatan juga menunjukkan bahwa masalah ini bukan sekadar teori. Pada 2025, Indonesia mencatat 11.094 kasus campak yang terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian. Pada 2026 hingga minggu ketujuh, Kemenkes melaporkan 572 kasus campak terkonfirmasi dan empat kematian. Pada periode tersebut juga terjadi KLB campak terkonfirmasi di sejumlah kabupaten/kota.
Walau tidak berarti setiap anak yang melewatkan imunisasi pasti akan mengalami komplikasi berat. Namun, semakin banyak anak yang tidak terlindungi, semakin besar peluang penyakit menular menyebar ketika ada kasus di masyarakat. Karena itu, imunisasi merupakan salah satu cara penting untuk mengurangi risiko tersebut.

Contoh Nyata: KLB Campak di Sumenep
Salah satu contoh yang cukup menggambarkan dampak rendahnya cakupan imunisasi terjadi di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Sekitar Agustus 2025, daerah tersebut mengalami peningkatan kasus campak. WHO Indonesia melaporkan terdapat 2.996 kasus suspek campak dan 205 kasus terkonfirmasi.
Menurut WHO, rendahnya cakupan imunisasi, keraguan masyarakat, serta keterlambatan deteksi menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi saat kejadian tersebut. Respons kemudian diperkuat melalui investigasi, surveilans, advokasi, dan percepatan imunisasi. Upaya tersebut membantu meningkatkan cakupan vaksinasi hingga 96,1% dan akhirnya transmisi campak dapat dihentikan.
Kisah Sumenep memberi pelajaran sederhana: ketika perlindungan imunisasi tidak merata, penyakit yang sangat menular dapat kembali menyebar. Sebaliknya, ketika masyarakat, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan keluarga bergerak bersama, penyebaran penyakit dapat dikendalikan.
Kejadian ini juga menunjukkan mengapa edukasi kepada keluarga penting. Imunisasi bukan hanya urusan petugas kesehatan. Orang tua perlu memahami manfaatnya, sekolah membantu menginformasikan pelaksanaan, kader ikut mengedukasi masyarakat, sedangkan tenaga kesehatan memastikan pelayanan berjalan sesuai standar.
BIAS Memberikan Perlindungan Sesuai Usia Anak
BIAS dirancang untuk memberikan imunisasi lanjutan kepada anak usia sekolah. Berdasarkan informasi Kementerian Kesehatan, sasaran BIAS mencakup anak SD dan SMP atau sederajat, baik yang bersekolah maupun yang tidak bersekolah. Dalam jadwal BIAS yang dipublikasikan Kemenkes, imunisasi diberikan sesuai kelompok usia atau kelas dan jenis vaksin yang ditetapkan. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut:
| Sasaran | Jenis Vaksin | Bulan | Pemberian | |
| Sekolah | Tidak Sekolah | |||
| Kelas 1 | Usia 7 tahun | Campak Rubela | Agustus | 1 Kali |
| DT | November | 1 Kali | ||
| Kelas 2 | Usia 8 tahun | Td | November | 1 Kali |
| Kelas 5 | Usia 11 tahun | HPV | Agustus | 1 Kali |
| Td | November | 1 Kali | ||
| Kelas 6 | Usia 12 tahun | HPV | Agustus | 1 Kali |
| Kelas 9 | Usia 15 tahun | HPV | Agustus | 1 Kali |
Imunisasi Campak Rubela bertujuan melindungi anak dari campak dan rubela. Imunisasi DT dan Td membantu melindungi dari difteri dan tetanus. Sementara imunisasi HPV diberikan sebagai langkah pencegahan kanker leher rahim di masa depan pada sasaran yang ditetapkan.
Yang juga penting, BIAS tidak hanya ditujukan kepada anak yang bersekolah. Anak usia sekolah yang tidak bersekolah tetap dapat memperoleh layanan melalui puskesmas, posyandu, atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya sesuai pelaksanaan di daerah. Anak yang belum mendapatkan imunisasi pada hari pelaksanaan BIAS juga dapat diberikan imunisasi di puskesmas atau fasilitas kesehatan lain.
Artinya, melewatkan hari imunisasi di sekolah bukan berarti kesempatan perlindungan harus hilang. Orang tua atau pengasuh dapat berkomunikasi dengan puskesmas untuk mengetahui langkah berikutnya.
Jangan Menunggu Anak Sakit untuk Melengkapi Imunisasi
Ada anggapan bahwa imunisasi baru diperlukan ketika penyakit sedang banyak terjadi. Padahal, tujuan imunisasi justru mencegah penyakit sebelum anak terpapar.
Campak dapat menyebar dengan sangat mudah. WHO menyebutkan bahwa sekitar 90% orang yang tidak memiliki kekebalan dan melakukan kontak dengan penderita campak dapat tertular. Penyakit ini juga dapat menyebabkan komplikasi serius.
Karena itu, perlindungan sebaiknya dipersiapkan sebelum paparan terjadi. Imunisasi bukan jaminan bahwa seseorang tidak akan pernah sakit dalam keadaan apa pun, tetapi vaksinasi merupakan langkah pencegahan penting yang menurunkan risiko penyakit dan komplikasinya.
Peran Orang Tua, Sekolah, dan Kader Kesehatan
Keberhasilan BIAS tidak hanya bergantung pada petugas yang memberikan vaksin. Ada kerja bersama yang perlu dibangun.
Bagi orang tua, langkah pertama adalah membaca informasi dari sekolah atau puskesmas, memastikan anak hadir saat jadwal imunisasi, serta menyampaikan informasi kesehatan penting kepada petugas. Bila anak tidak dapat mengikuti imunisasi pada hari pelaksanaan, tanyakan ke puskesmas mengenai jadwal atau layanan susulan.
Bagi sekolah, komunikasi yang jelas dengan orang tua sangat membantu. Informasi tentang waktu, tempat, sasaran, serta persiapan sebelum imunisasi sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Sekolah juga dapat menciptakan suasana yang membuat anak tidak semakin takut terhadap imunisasi.
Sementara bagi kader kesehatan, perannya sangat dekat dengan masyarakat. Kader dapat membantu menjelaskan manfaat imunisasi, mengingatkan keluarga, meluruskan informasi yang keliru dengan merujuk pada sumber terpercaya, serta mendorong keluarga berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika memiliki pertanyaan atau kekhawatiran.
Anak dan orang tua perlu memahami bahwa imunisasi adalah bagian dari menjaga kesehatan, bukan sesuatu yang harus dihadapi dengan rasa takut.
Kalau Anak Belum Mendapat BIAS, Apa yang Harus Dilakukan?
Tidak perlu panik. Langkah pertama adalah mencari tahu imunisasi apa yang belum diterima anak. Periksa catatan imunisasi dan hubungi puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan.
Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa anak usia sekolah yang belum mendapatkan imunisasi pada hari pelaksanaan BIAS dapat memperoleh imunisasi di puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya.
Orang tua juga sebaiknya tidak memberikan atau menunda vaksin berdasarkan informasi dari media sosial yang belum jelas sumbernya. Jika ada kondisi kesehatan tertentu atau pertanyaan tentang keamanan vaksin, sampaikan langsung kepada tenaga kesehatan agar keputusan dapat dibuat berdasarkan kondisi anak dan rekomendasi yang sesuai.
Bagi kader, jika menemukan keluarga yang masih ragu, pendekatan yang paling aman adalah mendengarkan terlebih dahulu, kemudian memberikan informasi berdasarkan sumber resmi. Hindari membuat klaim berlebihan. Bila pertanyaannya menyangkut kondisi medis anak secara khusus, arahkan keluarga untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Pada akhirnya, BIAS adalah salah satu bentuk upaya untuk menjaga anak tetap sehat selama tumbuh dan belajar. Anak yang sehat punya kesempatan lebih baik untuk mengikuti aktivitas sekolah, bermain, dan berkembang sesuai tahap usianya.
Kasus campak di berbagai daerah mengingatkan kita bahwa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi masih bisa muncul ketika perlindungan masyarakat tidak cukup kuat. Pengalaman dari kasus di Sumenep juga menunjukkan bahwa peningkatan cakupan imunisasi, surveilans, edukasi, dan kerja sama lintas sektor dapat membantu menghentikan penyebaran.
Jadi, ketika BIAS datang ke sekolah, mari melihatnya sebagai kesempatan, bukan sekadar agenda tahunan. Orang tua dapat memastikan status imunisasi anak, sekolah membantu menyampaikan informasi, kader mendampingi keluarga, dan tenaga kesehatan memberikan pelayanan serta edukasi.
Perlindungan anak memang tidak bisa dibangun dalam satu hari. Akan tetapi, satu langkah kecil memastikan imunisasi sesuai jadwal bisa menjadi bagian penting dari upaya menjaga anak dan lingkungan di sekitarnya tetap sehat.
- Kementerian Kesehatan RI. Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Ayo Sehat Kemenkes RI. https://ayosehat.kemkes.go.id/bulan-imunisasi-anak-sekolah-bias
- World Health Organization (WHO). Measles – Fact Sheet, 15 July 2026. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/measles
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Clinical Overview of Measles, 2026. https://www.cdc.gov/measles/hcp/clinical-overview/index.html
- Kementerian Kesehatan RI. Kemenkes Waspadai Dinamika Campak Nasional dan Global, 26 February 2026. https://kemkes.go.id/id/kemenkes-waspadai-dinamika-campak-nasional-dan-global
- WHO Indonesia. Sumenep Berhasil Mengakhiri KLB Campak, 9 February 2026. https://www.who.int/indonesia/id/news/detail/09-02-2026-sumenep-successfully-ended-measles-outbreak
- Kementerian Kesehatan RI. KLB Campak Meningkat, Kemenkes Ingatkan Pentingnya Imunisasi Lengkap, 27 August 2025. https://kemkes.go.id/id/klb-campak-meningkat-kemenkes-ingatkan-pentingnya-imunisasi-lengkap
Artikel ini telah direview oleh:
Sintia Laurena, SKM
Tenaga Promkes Puskesmas Salawu
Puskesmas Salawu:
Jl. Raya Salawu No. 118, Margalaksana, Kec. Salawu, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat 46471
Instagram: @puskesmassalawu Telp: (+62)821-2860-6753
Author Profile
Latest entries
Edukasi KesehatanSeptember 4, 2026Tracking TBC: Kenapa Menemukan Kasus Lebih Awal Itu Penting?
PuskesmasSeptember 3, 2026Tracking TBC Desa Karangmukti Kecamatan Salawu
PuskesmasAgustus 24, 2026Puskesmas Salawu Gelar BIAS, Perkuat Imunitas Anak Sekolah
Edukasi KesehatanAgustus 20, 2026BIAS, Langkah Penting Lindungi Anak Usia Sekolah



