Cek mata anak sekolah mungkin terasa tidak perlu jika anak terlihat baik-baik saja. Namun, apakah anak yang tidak pernah mengeluh mata kabur benar-benar memiliki penglihatan yang normal?
Jawabannya belum tentu. Anak dapat mengalami gangguan penglihatan tanpa menyadari atau menyampaikan keluhan tersebut kepada orang tua maupun guru. Karena itu, skrining penglihatan dapat membantu menemukan masalah lebih awal.
Anak Bisa Tidak Menyadari Penglihatannya Bermasalah

Sumber Foto: Ilustrasi
Gangguan penglihatan pada anak sering kali tidak langsung terlihat. Anak mungkin tidak mengeluh mata kabur karena belum memahami bahwa penglihatannya berbeda dari kondisi normal. Selain itu, anak dapat terbiasa melihat dengan kemampuan yang terbatas sehingga menganggap kondisi tersebut sebagai hal biasa. Akibatnya, masalah penglihatan dapat terlewat. Kondisi tersebut kemudian dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, kemampuan belajar, atau interaksi anak.
Kondisi ini juga terjadi di Indonesia. Kementerian Kesehatan RI menyebut sekitar 3,6 juta anak di Indonesia mengalami kelainan refraksi. Kelainan refraksi terjadi ketika cahaya yang masuk ke mata tidak dapat terfokus dengan jelas pada retina sehingga anak melihat benda secara kabur atau berbayang. Selain itu, sekitar tiga dari empat anak dengan kelainan refraksi belum mendapatkan koreksi menggunakan kacamata. Pada 2026, Kemenkes kembali menegaskan pentingnya deteksi dini melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG). Sementara itu, sekitar 55 juta penduduk berusia di atas 7 tahun menjalani skrining kesehatan mata sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 17 persen mengalami gangguan penglihatan berdasarkan hasil skrining.
Cek Mata Anak Menjadi Perhatian

Sumber Foto: Ilustrasi
Perhatian terhadap kesehatan mata anak juga terus meningkat di Indonesia. WHO Indonesia pada 2025 menyebut penelitian yang dikutip menunjukkan sekitar 44 persen anak usia sekolah mengalami masalah penglihatan.
Selain itu, WHO menegaskan bahwa gangguan refraksi yang tidak terkoreksi dapat menghambat proses pembelajaran anak. Karena itu, orang tua dan sekolah perlu mengambil peran dalam mengenali masalah penglihatan sejak dini.
Anak dapat beradaptasi dengan kondisi penglihatannya ketika melakukan aktivitas sehari-hari. Oleh sebab itu, mereka belum tentu menganggap perubahan penglihatan sebagai masalah yang perlu diceritakan kepada orang dewasa. Padahal, penglihatan berperan penting dalam perkembangan dan proses belajar. WHO menjelaskan bahwa gangguan penglihatan yang tidak tertangani dapat memengaruhi kehidupan anak dan keluarganya.
Karena itu, orang tua dan guru perlu memperhatikan perubahan perilaku anak. Selanjutnya, skrining penglihatan pada usia sekolah dapat membantu menemukan masalah lebih awal dan mengarahkan anak untuk mendapatkan pemeriksaan serta tindak lanjut yang sesuai.
Perhatikan Tanda Mata Anak Kabur

Sumber Gambar: Ilustrasi
Orang tua dan guru dapat mengamati perubahan ketika anak membaca, menulis, belajar, atau melihat benda dari jarak jauh. Beberapa tanda yang perlu mendapat perhatian antara lain:
- Anak sering menyipitkan mata ketika melihat jauh.
- Anak kesulitan melihat tulisan di papan.
- Anak terlalu dekat ketika membaca atau melihat layar.
- Anak sering mengeluh sakit kepala saat melakukan aktivitas visual.
- Anak tampak kesulitan membaca atau mengikuti kegiatan yang membutuhkan penglihatan.
Namun, tanda-tanda tersebut tidak otomatis menunjukkan penyakit mata tertentu. Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi alasan bagi orang tua untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dan mempertimbangkan pemeriksaan lebih lanjut agar mata anak lebih sehat.
Pentingnya Cek Mata Anak

Sumber Foto: Ilustrasi
Skrining membantu tenaga kesehatan menemukan anak yang mungkin mengalami masalah penglihatan meskipun anak belum menyampaikan keluhan. Dengan demikian, tenaga kesehatan dapat mengarahkan anak untuk menjalani pemeriksaan lanjutan sesuai kebutuhannya.
Pada 2024, WHO menerbitkan Vision and Eye Screening Implementation Handbook. Panduan tersebut memberikan rekomendasi berbasis bukti untuk membantu pelaksanaan skrining penglihatan di masyarakat dan layanan kesehatan primer. Kemudian, pada 2025, WHO menerbitkan panduan skrining penglihatan dan pendengaran anak usia sekolah. Panduan tersebut menekankan pentingnya menghubungkan proses skrining dengan rujukan, tindak lanjut, dan penanganan ketika petugas menemukan masalah.
Dengan demikian, skrining tidak berhenti pada kegiatan pemeriksaan awal. Sebaliknya, hasil skrining dapat menjadi dasar bagi orang tua dan tenaga kesehatan untuk menentukan langkah berikutnya.
5 Langkah Cek Mata Anak

Sumber Gambar: Ilustrasi
Orang tua tidak perlu menunggu anak mengeluh sebelum memperhatikan kondisi penglihatannya. Beberapa langkah berikut dapat dilakukan:
- Perhatikan perilaku anak. Amati perubahan ketika anak membaca, menulis, belajar, atau melihat benda dari jarak jauh.
- Manfaatkan kesempatan skrining. Orang tua dapat memanfaatkan skrining kesehatan yang tersedia di sekolah atau layanan kesehatan untuk menemukan masalah yang sebelumnya belum diketahui.
- Tindak lanjuti hasil skrining. Jika hasil skrining menunjukkan masalah, ikuti anjuran tenaga kesehatan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
- Berkomunikasi dengan guru. Guru dapat membantu mengamati aktivitas anak di kelas karena mereka melihat cara anak mengikuti pembelajaran setiap hari.
- Konsultasikan kekhawatiran. Jika orang tua atau guru melihat tanda yang mengkhawatirkan, mereka dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Cek Mata Anak Bukan Berarti Menunggu Masalah

Sumber Foto: Ilustrasi
Orang tua, guru, dan tenaga kesehatan perlu menggunakan skrining sebagai salah satu cara untuk mengenali masalah sejak dini. Jika hasil skrining menunjukkan adanya masalah, orang tua tidak perlu langsung panik. Sebaliknya, gunakan hasil tersebut sebagai informasi untuk menentukan langkah berikutnya bersama tenaga kesehatan.
Kesehatan Anak Tanggung Jawab Bersama

Sumber Foto: Ilustrasi
Orang tua dapat mengamati kondisi anak di rumah, sedangkan guru dapat memperhatikan perilaku anak selama mengikuti pembelajaran. Sementara itu, tenaga kesehatan dapat melakukan skrining, pemeriksaan, serta memberikan arahan tindak lanjut sesuai kebutuhan.
Dengan kerja sama tersebut, sekolah, keluarga, dan puskesmas dapat lebih cepat mengenali masalah kesehatan siswa. Selanjutnya, mereka dapat membantu anak mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
Simak Artikel Reportase dan Edukasi lainnya dari author pada link berikut ini: Artikel Edukasi dan Reportase Kesehatan Populer.
FAQ
1. Apakah anak perlu diperiksa matanya meskipun tidak mengeluh mata kabur?
Ya. Anak tidak selalu menyadari atau menyampaikan perubahan pada penglihatannya. Karena itu, skrining penglihatan dapat membantu menemukan anak yang mungkin mengalami masalah penglihatan dan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
2. Apa tanda gangguan penglihatan yang dapat diperhatikan orang tua?
Beberapa tanda antara lain anak kesulitan melihat tulisan di papan, menyipitkan mata ketika melihat jauh, terlalu dekat saat membaca, atau mengalami kesulitan dalam aktivitas yang membutuhkan penglihatan. Namun, tanda tersebut tidak dapat memastikan diagnosis penyakit mata.
3. Apa manfaat skrining penglihatan bagi anak sekolah?
Skrining membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi anak yang mungkin mengalami gangguan penglihatan. Selanjutnya, anak dapat menjalani pemeriksaan lanjutan dan mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan.
4. Apa yang harus dilakukan jika hasil skrining menunjukkan masalah penglihatan?
Orang tua sebaiknya mengikuti anjuran tenaga kesehatan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Hasil skrining bukan diagnosis akhir. Karena itu, anak mungkin memerlukan pemeriksaan yang lebih lengkap untuk mengetahui kondisi penglihatannya.
5. Apakah masalah penglihatan dapat memengaruhi proses belajar anak?
Ya. Gangguan penglihatan yang tidak terkoreksi dapat menghambat aktivitas anak, termasuk proses belajar. Karena itu, orang tua dan guru perlu memperhatikan perubahan kemampuan anak dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
6. Siapa yang berperan dalam menjaga kesehatan mata anak sekolah?
Orang tua, guru, dan tenaga kesehatan memiliki peran masing-masing. Orang tua dapat memperhatikan perubahan perilaku anak, guru dapat mengenali kesulitan anak selama belajar, sedangkan tenaga kesehatan dapat melakukan skrining, pemeriksaan, dan memberikan arahan tindak lanjut sesuai kebutuhan.
7. Apakah skrining mata sama dengan diagnosis penyakit mata?
Tidak. Skrining bertujuan menemukan anak yang mungkin memiliki masalah penglihatan. Sementara itu, tenaga kesehatan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan diagnosis. Oleh sebab itu, orang tua perlu menindaklanjuti hasil skrining yang menunjukkan adanya masalah.
Referensi
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Sayangi Mata Anak Sedari Dini untuk Investasi Masa Depan. 13 Oktober 2024. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Kemenkes Perluas Akses Layanan Kesehatan Mata, Perkuat Deteksi Dini Gangguan Penglihatan. 3 Februari 2026. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
- World Health Organization. (2024). Vision and eye screening implementation handbook. Geneva: World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240082458
- World Health Organization. (2025). Vision and hearing screening for school-age children: Implementation handbook. Geneva: World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240105201
- World Health Organization Indonesia. (2025, 9 October). Indonesia commits to improving affordable and equitable eye health services. World Health Organization. https://www.who.int/indonesia/news-room/item/09-10-2025-indonesia-commits-to-improving-affordable-and-equitable-eye-health-services
Artikel ini sudah direview oleh:
Citra Pertiwi Putri, S.KM.
Tenaga Promkes Puskesmas Sukarame
Puskesmas Sukarame:
Jl. Ds. Sukarame, Kec. Sukarame, Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia
No. Telp: 0895635979706
Author Profile
- Ayu Siti Munigar, S.Kep., adalah seorang praktisi kesehatan masyarakat, penulis konten kesehatan, dan pegiat pemberdayaan masyarakat yang memiliki komitmen dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak melalui pendekatan berbasis data, edukasi, serta transformasi digital.
Latest entries
Edukasi KesehatanAgustus 23, 2026Anak Tak Mengeluh Mata Kabur, Perlukah Cek Mata?
Berita KesehatanAgustus 23, 2026Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kenali Masalah Anak Sekolah Sejak Dini
Edukasi KesehatanAgustus 15, 2026Tinggal Serumah dengan Pasien TB (Tuberkulosis)? Ini yang Harus Dilakukan
Edukasi KesehatanAgustus 15, 2026Batuk Lama, Kapan Harus Waspada TB/TBC (Tuberkulosis)?



