Gizi lebih pada balita kini menjadi salah satu tantangan dalam bidang kesehatan masyarakat, tidak hanya di negara maju tetapi juga di negara berkembang seperti Indonesia. Berdasarkan data Riskesdas 2018, prevalensi balita dengan status gizi lebih dan obesitas mencapai 8%. Kondisi ini tidak dapat dipisahkan dari perubahan pola makan, gaya hidup, serta rendahnya pengetahuan orang tua, khususnya ibu menyusui, mengenai asupan gizi seimbang. Peran ibu sangat krusial dalam menentukan pola makan anak, terutama selama periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang sangat menentukan status gizi anak di masa mendatang.

Masih banyak ibu menyusui yang belum memahami dengan benar pentingnya pemberian makanan sesuai kebutuhan usia anak. Beberapa dari mereka justru memberikan makanan tinggi kalori, gula, dan lemak yang berlebihan sejak dini. Hal ini tentu meningkatkan risiko terjadinya gizi lebih pada balita. Oleh karena itu, edukasi gizi menjadi langkah penting dalam mengatasi masalah ini. Edukasi yang diberikan secara tepat, sederhana, dan mudah dipahami dapat membantu ibu untuk lebih bijak dalam mengatur pola makan anak.
Sebagai bentuk kontribusi nyata, Kelompok 4 dari Program Studi S1 Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas, melaksanakan kegiatan edukasi gizi kepada ibu menyusui yang memiliki anak dengan status gizi lebih. Kegiatan ini berlangsung di Posyandu Melati, Pustu Gurun Laweh, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, pada tanggal 10 Juni 2025. Sasaran dari kegiatan ini adalah tujuh orang ibu menyusui yang hadir di posyandu dan bersedia mengikuti seluruh rangkaian edukasi.

Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi penyuluhan menggunakan media leaflet, sesi diskusi dan tanya jawab, serta pemberian pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta sebelum dan sesudah edukasi. Materi edukasi mencakup pentingnya pemberian ASI eksklusif, penyebab dan dampak gizi lebih pada balita, serta panduan memilih makanan sehat untuk anak. Leaflet dirancang dengan bahasa yang sederhana dan dilengkapi ilustrasi agar mudah dipahami oleh ibu dari berbagai latar belakang pendidikan.

Hasil kegiatan menunjukkan bahwa edukasi gizi melalui media leaflet memberikan dampak positif. Lima dari tujuh responden mengalami peningkatan pengetahuan secara signifikan dengan skor maksimal pada post-test. Satu responden mengalami peningkatan dari skor 7 ke 9, sementara satu lainnya mengalami penurunan dari 8 ke 7. Meski demikian, secara umum terjadi peningkatan pemahaman ibu mengenai pentingnya ASI eksklusif dan pola makan sehat bagi anak. Hal ini menunjukkan bahwa media edukasi sederhana seperti leaflet tetap efektif dalam meningkatkan literasi gizi masyarakat.
Karakteristik responden yang sebagian besar berada dalam usia produktif (30–40 tahun) dan berstatus sebagai ibu rumah tangga turut mendukung efektivitas edukasi. Mereka memiliki waktu dan ketertarikan lebih untuk mengikuti penyuluhan. Namun, keberagaman tingkat pendidikan tetap menjadi tantangan tersendiri, sehingga penyampaian materi perlu disesuaikan agar inklusif untuk semua lapisan masyarakat.
Kesimpulannya, edukasi gizi menggunakan media leaflet terbukti dapat meningkatkan pengetahuan ibu menyusui terkait gizi lebih pada balita. Penyampaian materi yang sederhana, ilustratif, dan disertai interaksi dua arah menjadi kunci keberhasilan edukasi ini. Diharapkan kegiatan semacam ini dapat terus dilakukan secara berkala untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan orang tua dalam mengelola gizi anak, serta menjadi bagian dari upaya preventif dalam menekan angka gizi lebih pada balita di Indonesia.



