Pentingnya Imunisasi Anak Sekolah untuk Melindungi Kesehatan Anak

Home » Pentingnya Imunisasi Anak Sekolah untuk Melindungi Kesehatan Anak

Anak tetap membutuhkan perlindungan imunisasi ketika memasuki usia sekolah. Imunisasi tidak berhenti setelah anak menyelesaikan imunisasi pada masa bayi dan balita. Anak usia sekolah juga perlu mendapatkan imunisasi lanjutan sesuai jadwal untuk mempertahankan perlindungan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Kementerian Kesehatan menjalankan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) sebagai bagian dari upaya memberikan imunisasi lanjutan kepada anak usia sekolah. Program ini menyasar anak sekolah dasar dan sederajat sesuai kelompok usia serta jenis vaksin yang ditetapkan dalam program imunisasi nasional.

Melalui imunisasi, tubuh anak belajar mengenali antigen tertentu sehingga sistem kekebalan dapat memberikan respons ketika menghadapi penyakit yang sesuai. WHO juga menempatkan imunisasi sebagai salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling berhasil dalam mencegah penyakit dan kematian akibat infeksi.

Mengapa Anak Sekolah Masih Membutuhkan Imunisasi?

Pertumbuhan anak tidak membuat perlindungan dari imunisasi sebelumnya bertahan tanpa batas untuk semua penyakit. Beberapa vaksin membutuhkan dosis lanjutan agar anak tetap memperoleh perlindungan sesuai rekomendasi.

Karena itu, orang tua perlu mengikuti jadwal imunisasi anak dan memastikan anak memperoleh vaksin sesuai usia serta kondisi kesehatannya.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa anak usia sekolah perlu melengkapi imunisasi rutin melalui pemberian imunisasi lanjutan. Bulan imunisasi anak sekolah membantu tenaga kesehatan menjangkau sasaran tersebut melalui lingkungan sekolah maupun fasilitas pelayanan kesehatan.

BIAS Menjangkau Anak di Lingkungan Sekolah

BIAS memanfaatkan sekolah sebagai salah satu tempat pemberian imunisasi bagi anak usia sekolah. Pendekatan ini membantu tenaga kesehatan menjangkau banyak anak dalam kelompok usia yang sesuai.

WHO menyebutkan bahwa lingkungan sekolah dapat menjadi sarana efektif untuk menjangkau anak dan remaja melalui layanan imunisasi, terutama di wilayah dengan tingkat kehadiran sekolah yang tinggi. Sekolah juga dapat membantu menemukan anak yang belum memperoleh vaksin sesuai usia sehingga tenaga kesehatan dapat memberikan tindak lanjut.

Pelaksanaan BIAS tidak hanya menyasar anak yang bersekolah. Anak usia sekolah yang tidak bersekolah juga dapat memperoleh layanan melalui puskesmas, posyandu, atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya sesuai pelaksanaan program di daerah masing-masing.

Imunisasi Kelas 1 dan Kelas 5 Memiliki Sasaran Berbeda

BIAS mengatur jenis imunisasi berdasarkan kelompok usia dan kelas anak. Kementerian Kesehatan menetapkan jadwal serta jenis vaksin tertentu untuk setiap kelompok sasaran.

Dalam jadwal BIAS yang dipublikasikan Kementerian Kesehatan, anak kelas 1 mendapat imunisasi campak-rubela pada Agustus, sedangkan anak kelas 5 mendapat imunisasi HPV pada Agustus. Jadwal tersebut juga mencantumkan imunisasi DT atau Td pada bulan lain sesuai kelompok sasaran.

Orang tua sebaiknya tidak menyamakan kebutuhan imunisasi setiap anak. Tenaga kesehatan akan mempertimbangkan usia, riwayat imunisasi, serta ketentuan program ketika menentukan pemberian vaksin.

Imunisasi Campak-Rubela Melindungi Anak dari Penyakit

Campak dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk pneumonia dan ensefalitis. Penyakit tersebut juga dapat menimbulkan kecacatan atau kematian pada kondisi tertentu.

Kementerian Kesehatan memasukkan imunisasi campak-rubela sebagai salah satu imunisasi BIAS untuk sasaran kelas 1. Pemberian vaksin bertujuan membantu melindungi anak dari penyakit campak dan rubela.

Perlindungan terhadap campak juga membutuhkan cakupan imunisasi yang tinggi. Ketika lebih banyak anak memperoleh vaksin sesuai jadwal, masyarakat dapat memperkuat perlindungan kelompok terhadap penularan penyakit.

Imunisasi HPV Memberikan Perlindungan Jangka Panjang

BIAS juga memberikan imunisasi HPV kepada sasaran tertentu. Vaksin HPV bertujuan memberikan perlindungan terhadap infeksi HPV yang berkaitan dengan kanker leher rahim.

Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa mulai 2025 pemerintah menyesuaikan pemberian imunisasi HPV menjadi satu dosis untuk sasaran program berdasarkan kebijakan dan rekomendasi terkait. Jadwal BIAS saat ini mencantumkan pemberian HPV pada Agustus untuk sasaran usia sekolah yang ditetapkan.

Orang tua perlu memahami bahwa imunisasi HPV merupakan bagian dari upaya pencegahan sejak usia yang direkomendasikan, bukan pengobatan terhadap kanker yang sudah terjadi.

Vaksin Membantu Tubuh Mengenali Penyakit

Vaksin bekerja dengan melatih sistem kekebalan tubuh mengenali antigen tertentu. Setelah vaksinasi, tubuh membentuk respons imun sehingga dapat memberikan perlindungan ketika menghadapi patogen yang sesuai.

WHO menjelaskan bahwa vaksin telah membantu mencegah berbagai penyakit serius dan terus menjadi bagian penting dari perlindungan kesehatan sepanjang kehidupan.

Karena itu, orang tua tidak perlu melihat imunisasi sebagai perlindungan untuk satu periode saja. Imunisasi mengikuti perjalanan usia dan kebutuhan perlindungan seseorang.

Imunisasi Juga Melindungi Lingkungan Sekitar

Manfaat imunisasi tidak hanya dirasakan oleh anak yang menerima vaksin. Ketika banyak orang memperoleh perlindungan, penularan penyakit tertentu dapat berkurang di lingkungan masyarakat.

WHO menjelaskan konsep herd immunity atau kekebalan kelompok sebagai kondisi ketika tingkat perlindungan dalam populasi membantu melindungi orang yang tidak dapat memperoleh vaksin tertentu atau memiliki kerentanan lebih tinggi.

Namun, kekebalan kelompok tidak memberikan perlindungan mutlak kepada setiap orang. Karena itu, setiap anak tetap perlu memperoleh imunisasi sesuai rekomendasi dan jadwal yang berlaku.

Orang Tua Perlu Memeriksa Riwayat Imunisasi Anak

Orang tua dapat membantu program imunisasi dengan memeriksa catatan imunisasi anak. Catatan tersebut membantu tenaga kesehatan mengetahui vaksin yang sudah anak terima dan menentukan kebutuhan selanjutnya.

Jika orang tua tidak mengetahui riwayat imunisasi anak, mereka dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Orang tua juga perlu menyampaikan informasi mengenai kondisi kesehatan anak dan riwayat reaksi setelah imunisasi sebelumnya.

Anak yang belum memperoleh imunisasi pada waktu pelaksanaan di sekolah tetap dapat memperoleh layanan melalui fasilitas kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku. Kementerian Kesehatan menyediakan alternatif layanan bagi anak usia sekolah yang belum menerima imunisasi pada pelaksanaan BIAS di sekolah.

Rasa Takut terhadap Suntikan Perlu Dihadapi dengan Pendampingan

Sebagian anak merasa takut ketika mendengar kata suntikan. Orang tua dapat membantu anak menghadapi rasa takut tersebut dengan memberikan penjelasan sederhana dan menenangkan.

Orang tua sebaiknya tidak menakut-nakuti anak dengan cerita tentang suntikan atau menjadikan imunisasi sebagai hukuman. Sebaliknya, orang tua dapat menjelaskan bahwa tenaga kesehatan akan memberikan vaksin untuk membantu melindungi kesehatan anak.

Pendampingan yang tenang dapat membantu anak menghadapi pengalaman imunisasi dengan lebih baik. Orang tua juga dapat mengajak anak berbicara mengenai perasaannya setelah mendapatkan vaksin.

Imunisasi Mendukung Upaya Mencegah Penyakit

Imunisasi menjadi salah satu cara penting untuk mencegah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. WHO melaporkan bahwa imunisasi terus memberikan manfaat besar secara global, meskipun masih terdapat jutaan anak yang belum memperoleh vaksin.

Indonesia juga terus memperkuat program imunisasi. WHO bersama pemerintah dan mitra terkait mengembangkan Strategi Imunisasi Nasional 2025–2029 untuk memperluas cakupan yang merata, memperkuat tata kelola, serta meningkatkan akses terhadap layanan imunisasi.

Upaya tersebut membutuhkan kerja sama antara tenaga kesehatan, sekolah, orang tua, dan masyarakat.

Mari Lengkapi Imunisasi Anak Sesuai Jadwal

Orang tua dapat mengambil peran dengan memastikan anak memperoleh imunisasi sesuai jadwal. Sekolah dapat mendukung penyampaian informasi dan membantu tenaga kesehatan menjangkau peserta didik. Tenaga kesehatan kemudian memberikan pelayanan sesuai pedoman dan kondisi anak.

BIAS menjadi salah satu bentuk upaya pemerintah untuk menjaga perlindungan anak usia sekolah terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Dengan mengikuti jadwal imunisasi, orang tua membantu menjaga kesehatan anak sekaligus mendukung perlindungan masyarakat. Langkah sederhana tersebut dapat memperkuat upaya bersama dalam mencegah penyakit dan meningkatkan derajat kesehatan anak.

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan RI. Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
  2. World Health Organization. Immunization Coverage, 15 Juli 2026.
  3. World Health Organization Indonesia. Strategi Imunisasi Nasional 2025–2029.
  4. World Health Organization. How Do Vaccines Work?
  5. World Health Organization. School Vaccination.

Author Profile

Yudha Pratama Widyatmoko
Yudha Pratama Widyatmoko
Yuk Share Postingan Ini:
Yudha Pratama Widyatmoko
Yudha Pratama Widyatmoko
Articles: 15

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *