Membangun Kesehatan Remaja melalui Sekolah

Sekolah memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan hidup sehat pada remaja. Karena itu, satuan pendidikan perlu memberikan perhatian terhadap kesehatan, gizi, aktivitas fisik, serta kesehatan psikologis peserta didik.
Upaya tersebut menjadi bagian dari Program Kesehatan dan Gizi Remaja yang diperkuat melalui pembinaan satuan pendidikan di Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Nutrition International (NI) berkolaborasi dengan Puskesmas Tinewati, Puskesmas Singaparna, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya dalam kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Melalui pembinaan tersebut, sebanyak 50 guru UKS dan kepala sekolah SMP, SMA, serta satuan pendidikan sederajat memperoleh edukasi mengenai berbagai aspek kesehatan remaja.
Memperkuat Trias UKS

Salah satu materi yang dibahas dalam pembinaan yaitu Trias UKS. Trias UKS mencakup pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, serta pembinaan lingkungan sekolah sehat.
Dengan menerapkan ketiga komponen tersebut secara konsisten, sekolah dapat membangun lingkungan yang mendukung kesehatan peserta didik. Selain itu, sekolah dapat mengintegrasikan kegiatan kesehatan ke dalam aktivitas pendidikan sehari-hari.
Oleh karena itu, guru UKS dan pihak sekolah perlu bekerja sama dalam merencanakan serta menjalankan program kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Mencegah Anemia pada Remaja Putri

Anemia menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian pada kelompok remaja, terutama remaja putri. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kebugaran, konsentrasi belajar, serta produktivitas apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Salah satu upaya pencegahan anemia pada remaja putri yaitu mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sesuai anjuran tenaga kesehatan. Selain itu, remaja perlu mengonsumsi makanan bergizi yang mengandung zat besi dan zat gizi lainnya.
Selanjutnya, sekolah dapat mendukung program pemberian TTD dengan melakukan edukasi, membangun kepatuhan konsumsi, serta melakukan pemantauan sesuai program kesehatan yang berlaku. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membantu membentuk kebiasaan sehat pada remaja.
Menerapkan Gizi Seimbang

Selain mencegah anemia, remaja perlu menerapkan pola makan bergizi seimbang. Tubuh membutuhkan berbagai zat gizi untuk mendukung pertumbuhan, aktivitas fisik, fungsi otak, serta sistem kekebalan tubuh.
Karena itu, remaja perlu mengonsumsi makanan yang beragam dengan memperhatikan keseimbangan antara sumber karbohidrat, protein, sayur, buah, serta kebutuhan cairan. Di samping itu, remaja perlu membatasi konsumsi makanan dan minuman yang tinggi gula, garam, serta lemak.
Sekolah juga dapat menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan makan sehat. Misalnya, sekolah dapat memberikan edukasi gizi dan mendorong peserta didik memilih makanan yang lebih sehat.
Mendorong Aktivitas Fisik Remaja
Kebiasaan hidup sehat tidak hanya berkaitan dengan makanan. Remaja juga perlu melakukan aktivitas fisik secara rutin untuk menjaga kebugaran dan mendukung kesehatan secara menyeluruh.
Oleh sebab itu, sekolah dapat menyediakan kesempatan bagi peserta didik untuk berolahraga dan bergerak aktif. Kegiatan tersebut dapat berlangsung melalui pelajaran pendidikan jasmani, kegiatan ekstrakurikuler, maupun aktivitas fisik lainnya.
Dengan aktivitas fisik yang teratur, remaja dapat membangun kebiasaan hidup aktif sejak usia sekolah. Selanjutnya, kebiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari pola hidup sehat hingga dewasa.
Memberikan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis Anak
Selain kesehatan fisik dan gizi, sekolah juga perlu memperhatikan kesehatan psikologis peserta didik. Remaja dapat menghadapi berbagai tekanan yang berasal dari lingkungan sekolah, keluarga, maupun pergaulan.
Karena itu, guru dan tenaga pendidik perlu mengenali perubahan perilaku serta kondisi emosional peserta didik. Ketika anak mengalami tekanan atau masalah psikologis, orang dewasa di lingkungan sekolah perlu memberikan respons yang aman, empatik, dan tidak menghakimi.
Selain itu, sekolah perlu mengetahui kapan harus memberikan dukungan awal dan kapan harus mengarahkan peserta didik kepada tenaga profesional. Dengan pendekatan tersebut, sekolah dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung kesehatan mental anak.
Mewujudkan Sekolah Ramah Anak
Berbagai upaya kesehatan tersebut pada akhirnya perlu berjalan bersama dengan penciptaan lingkungan sekolah yang ramah anak. Sekolah tidak hanya perlu memperhatikan prestasi akademik, tetapi juga memastikan peserta didik memperoleh lingkungan yang aman, sehat, nyaman, dan mendukung perkembangan mereka.
Karena itu, sekolah dapat membangun komitmen bersama melalui berbagai aksi bergizi dan sehat. Kegiatan tersebut dapat mencakup olahraga, konsumsi makanan bergizi, pemberian Tablet Tambah Darah bagi sasaran, serta edukasi kesehatan secara berkelanjutan.
Dengan demikian, program kesehatan dan gizi remaja tidak berhenti pada kegiatan edukasi. Sebaliknya, sekolah dapat menerjemahkan pengetahuan tersebut menjadi tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten.
Kolaborasi untuk Memperkuat Kesehatan Remaja
Penguatan kesehatan remaja membutuhkan kerja sama antara sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, keluarga, dan berbagai pihak terkait. Melalui kolaborasi tersebut, sekolah dapat memperoleh dukungan dalam menjalankan program kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Pada akhirnya, komitmen satuan pendidikan menjadi bagian penting dalam menciptakan generasi remaja yang sehat, aktif, bergizi baik, dan memiliki ketahanan psikologis. Dengan menjalankan program secara berkelanjutan, sekolah dapat membangun lingkungan pendidikan yang semakin sehat sekaligus ramah bagi setiap anak.
Referensi
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Anemia pada Remaja Putri dan Wanita Usia Subur (WUS).
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Gizi Seimbang.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Trias UKS.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Pemberian Tablet Tambah Darah bagi Remaja Putri.
- World Health Organization (WHO). Anaemia.
- World Health Organization (WHO). Physical Activity.
- UNICEF. Mental Health and Psychosocial Support for Children and Adolescents.
Author Profile

Latest entries
UncategorizedAgustus 29, 2026Mengenal Anemia dan Pentingnya Tablet Tambah Darah bagi Remaja
UncategorizedAgustus 29, 2026Mengenal Anemia dan Pentingnya Tablet Tambah Darah bagi Remaja
UncategorizedAgustus 29, 2026Kampanye Kawasan Tanpa Rokok di SMPN 1 Singaparna
UncategorizedAgustus 29, 2026Mewujudkan Sekolah Sehat melalui Kawasan Tanpa Rokok