Peran Lintas Sektor Dalam Wujudkan Indonesia Bebas TBC 2030
Latest posts by Yovan Restu Aji (see all)

Sabtu, 28 Agustus 2021, Kesmas-ID kembali menyelenggarakan acara #SKM, Sabtu Kesmas-ID Menyapa, dana kali ini mengangkat tema “Peran Lintas Sektor Dalam Wujudkan Indonesia Bebas TBC 2030”.

“Seperti kita tahu, Indonesia masuk peringkat ke dua TB di dunia, dan ini merupakan masalah yang serius dan harus segera di tuntaskan, bukan hanya tanggung jawab pemerintah untuk menangani TB, perlu kerja sama semua sektoral untuk mewujudkan Indonesia bebas TB 2030”, ujar Paran membuka diskusi.

Sharing kali ini menghadirkan Edi Pramono, SKM, selaku koordinator program TB, Yayasan Mentari Sehat Indonesia Kab. Sragen selaku Narasumber dan juga Paran Sarimita, dari Yayasan PETA Jakarta dan juga Indonesia Muda Untuk TB, selaku Moderator.

Indonesia Muda Untuk TB

Dalam kesempatan kali ini, Edi Pramono menyampaikan upaya pencegahan TB yang disinergikann juga dengan upaya pencegahan Stunting, melalui program Juru Kampanye Tuberkulosis dan Stunting (Jurkamtebs 2021).

Adapun beberapa hal yang melatarbelakangi dibentuknya Jurkamtebs ini yakni :

  • Stigma bahwa pemberantasan Stunting & TB paru hanya tanggung jawab pemerintah daerah
  • Masih rendahnya peran aktif masyarakat  dalam menyukseskan program Stunting & TB yaitu TOSS TB (Temukan Obati Sampai Sembuh)
  • Jumlah kasus TB anak di Kab. Sragen tahun 2017 (sumber data Dinkes Kab. Sragen ) usia 0-14 th=31 kasus
  • Terbatasnya dan sulitnya tim Puskesmas dan kader dalam program TB untuk menyisir wilayah puskesmas dalam rangka penemuan kasus TB dan Stunting & mengobatinya
  • Balita yang belum mendapat imunisasi BCG sangat rentan dengan penyakit TBC yang berakibat pada penurunan gizi
  • Balita/ anak dengan kontak erat keluarga pasien TBC sangat beresiko terpapar TBC.
BACA JUGA:  Program Implementasi KTR & Germas di Maratua Kaltim

Dengan dibentuknya Jurkamtebs ini, bertujuan :

  • Menghilangkan kesan bahwa pemberantasan TB & Stunting hanya tanggung Pmerintah Kab/ Dinas Kesehatan
  • Mengikut sertakan peran aktif masyarakat di Kab. Sragen
  • Menaikkan capaian CDR TB Paru di Kab. Sragen & Temuan Penderita Stunting
  • Korelasi Erat antara  Gangguan Pemenuhan Gizi (Stunting) menyebabkan gangguan imunitas (TBC), Gangguan imunitas (TBC)  menyebabkan Penurunan Status Gizi (Stunting), Imunisasi BCG dan Kontak Erat TBC

Sasaran dari Jurkamtebs yakni :

  • Semua masyarakat sebagai pelapor batuk & Stunting
  • Masyarakat batuk lebih 2 minggu
  • Pasien Anak dengan gejala klinis TB
  • Semua pasen Positif HIV
  • Semua pasen pengobatan TB Paru.
  • Semua terkontak dengan pasen TB

Adapun kegiatan umum yang dilakukan yaitu :

  • Menjalin koordinasi dengan semua pemangku kepentingan
  • Menciptakan peran aktif komunikasi termasuk pasien TB dan Stunting
  • Kader menyarankan berobat ke puskesmas (Promotif, Preventif, Kuratif dan Rehabilitatif)
  • Mempermudah akses advokasi layanan yang mudah bagi pelayanan TB & Stunting

Langkah nyata Jurkambtebs yang sudah dilakukan :

  • Melakukan Promosi TB & Stunting kepada masyarakat baik penyuluhan, stiker, MMT dan meninggalkan kontak persen (Promkes, Kader dan Bidan Desa)
  • Masyarakat melapor kepada Tim Jurkamtebs sesuai kontak person kader
  • Kader TB/ Posyandu menindaklanjuti laporan dengan kunjungan rumah dan mengambil dahak dan dibawa ke puskesmas dan memastikan kesehatan balita di rumah tersebut
  • Puskesmas memeriksa dahak sesuai sistem (mendaftar loket, laboratorium, Pojok DOTS
  • Pengobatan TB koordinasi dengan Farmasi HIV, Gizi Kesling, KIA
  • PMO dilakukan oleh kader
BACA JUGA:  Keren! Usia Sudah Kepala 8, Dua Nenek Ini Masih Aktif Jadi Kader Posyandu

Selain itu, menjalin koordinasi dengan semua pemangku kepentingan, berupa :

  • Pertemuan MONEV Kader
  • Pertemuan LINSEK tingkat kecamatan

Pertemuan MONEV kader yang penjadwalannya dilaksanakan puskesmas setiap 3 bulan.

Memberdayakan masyarakat dengan melakukan :

  • Membentuk Tim Jurkamtebs
  • Pelatihan kader
  • PMO (Pengawas Minum  Obat) dari keluarga
  • Masyarakat semua sebagai pelapor batuk & Stunting

Membuat kegiatan edukasi seperti :

  • Penyuluhan dan sosialisasi tentang TB & Stunting kepada masyarakat
  • Kunjungan kontak /Investigasi kontak TB termasuk balita didalamnya
  • pasen TB berhenti berobat
  • suspek oleh kader
  • Pengawasan minum obat oleh PMO

Peserta Sharing Peran Lintas Sektor Untuk TB

Meski acara sharing ini berlangsung singkat, kurang lebih 2 jam, sharing tentang pengalaman menjadi Kader TB, dan inovasi mencari solusi terkait hal-hal yang belum tersentuh seperti penyintas TB yang tidak bisa produktif menjadikan diskusi ini menjadi sangat menarik.

Dari diskusi kali ini, muncul juga ide luar biasa dilatar belakangi kenyataan sebagian penyintas TB yang tidak bisa kembali hidup secara produktif karena efek samping pengobatan. Untuk itu diperlukan wadah agar mereka yang sudah sembuh dapat kembali hidup secara produktif dan dapat menjalani hidup seperti sedia kala dengan difasilitasi, diberi keterampilan agar tetap produktif secara ekonomi, dan tentunya berdampak positif secara mental psikologis dan efek sosial.

Dengan adanya diskusi ini, diharapkan menumbuhkan kepedulian kita semua terhadap permasalahan TB dan menyadari bahwa TB bukan hanya masalah pemerintah tetapi masalah kita bersama.

(Visited 42 times, 1 visits today)