
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah membantu siswa membangun kebiasaan yang mendukung kesehatan diri dan lingkungan. Anak dapat memulainya melalui tindakan sederhana, seperti mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan fasilitas sekolah, dan membuang sampah pada tempat yang sesuai.
Kementerian Kesehatan memasukkan mencuci tangan dengan sabun serta membuang sampah pada tempatnya sebagai bagian dari indikator PHBS di sekolah. Kebiasaan tersebut dapat siswa terapkan dalam berbagai aktivitas selama berada di lingkungan pendidikan.
Kenapa Siswa Perlu Menerapkan PHBS di Sekolah?

Sekolah menjadi tempat siswa belajar, bermain, makan, dan berinteraksi dengan banyak orang. Berbagai aktivitas tersebut membuat siswa perlu menjaga kebersihan diri sekaligus lingkungan sekitarnya.
PHBS mendorong siswa mengambil peran dalam menjaga kesehatan. Siswa tidak hanya menerima informasi tentang kebersihan, tetapi juga dapat menerapkannya melalui kebiasaan sehari-hari.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa PHBS di sekolah bertujuan memberdayakan siswa, guru, serta masyarakat lingkungan sekolah agar mampu menciptakan lingkungan sekolah yang sehat.
Cuci Tangan Pakai Sabun sebagai Kebiasaan Harian

Tangan sering bersentuhan dengan berbagai benda selama siswa beraktivitas. Siswa dapat menyentuh meja, kursi, alat tulis, gagang pintu, mainan, hingga benda lain yang digunakan bersama.
Siswa perlu mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir pada waktu yang tepat. Kebiasaan tersebut membantu membersihkan tangan dari kotoran dan mikroorganisme yang dapat berpindah melalui tangan.
Kementerian Kesehatan memasukkan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) sebagai salah satu praktik PHBS di sekolah. WHO dan UNICEF juga menekankan pentingnya menyediakan air mengalir dan sabun di sekolah agar siswa dapat menjalankan kebiasaan kebersihan tangan secara teratur.
Kenali Waktu yang Tepat untuk Mencuci Tangan

Siswa dapat membiasakan diri mencuci tangan sebelum makan dan setelah menggunakan toilet. Mereka juga perlu membersihkan tangan setelah melakukan aktivitas yang membuat tangan kotor.
Guru dan orang tua dapat membantu anak memahami waktu-waktu penting tersebut. Ketika lingkungan memberikan contoh yang konsisten, anak lebih mudah memasukkan CTPS ke dalam rutinitas sehari-hari.
WHO menekankan pentingnya mengajarkan kepada anak mengapa, kapan, dan bagaimana mereka perlu mencuci tangan.
Gunakan Air Mengalir dan Sabun

Siswa perlu menggunakan air mengalir dan sabun ketika mencuci tangan. Sabun membantu membersihkan tangan dari berbagai kotoran dan mikroorganisme.
Sekolah juga perlu menjaga ketersediaan sarana cuci tangan. Tempat cuci tangan sebaiknya mudah dijangkau siswa dan menyediakan air serta sabun yang cukup untuk digunakan selama aktivitas sekolah.
WHO dan UNICEF merekomendasikan sekolah menyediakan fasilitas cuci tangan yang dapat digunakan siswa dan guru sepanjang hari.
Kelola Sampah Mulai dari Tempat Siswa Beraktivitas

Kebersihan sekolah tidak hanya bergantung pada petugas kebersihan. Siswa juga dapat mengambil bagian dengan membuang sampah pada tempat yang tersedia.
Siswa dapat membawa kebiasaan tersebut ke dalam aktivitas sehari-hari. Setelah mengonsumsi makanan atau menggunakan suatu barang, mereka dapat langsung mencari tempat sampah yang sesuai.
Kementerian Kesehatan memasukkan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya sebagai salah satu indikator PHBS di sekolah.
Pilah Sampah Sesuai Sistem Sekolah
Siswa dapat mengikuti sistem pemilahan yang diterapkan sekolah. Jika sekolah menyediakan tempat sampah berdasarkan kategori tertentu, siswa perlu memasukkan sampah sesuai petunjuk yang tersedia.
Pemilahan dari sumber membantu sekolah mengelola sampah secara lebih terarah. Sekolah juga dapat memberikan penjelasan mengenai kategori sampah yang mereka gunakan agar siswa tidak bingung saat membuang sampah.
WHO merekomendasikan sekolah mengajarkan pengelolaan sampah kepada anak dan memperkenalkan prinsip pengurangan, penggunaan kembali, serta daur ulang sesuai kondisi setempat.
Kurangi Sampah yang Tidak Perlu
Siswa juga dapat mengurangi jumlah sampah melalui pilihan sehari-hari. Mereka dapat menggunakan botol minum atau wadah makan yang dapat digunakan kembali apabila sekolah dan keluarga mendukung kebiasaan tersebut.
Siswa juga dapat menggunakan perlengkapan sekolah selama barang tersebut masih layak. Kebiasaan tersebut membantu mengurangi barang yang cepat menjadi sampah.
Sekolah dapat memperkuat kebiasaan tersebut melalui kegiatan bersama dan aturan yang mudah dipahami siswa.
Jangan Sembarangan Menangani Sampah Berbahaya
Tidak semua sampah dapat siswa tangani dengan cara yang sama. Baterai, lampu tertentu, bahan pembersih, dan beberapa produk elektronik memerlukan penanganan khusus.
Siswa sebaiknya tidak menyentuh atau memindahkan material yang berpotensi berbahaya tanpa arahan orang dewasa. Mereka dapat melaporkan keberadaan benda tersebut kepada guru atau petugas sekolah.
WHO juga menganjurkan anak menjauhi sampah kimia berbahaya seperti merkuri, baterai, dan bahan pembersih.
Jaga Kebersihan Fasilitas Sekolah
Siswa dapat menjaga kebersihan kelas, toilet, halaman, dan fasilitas lain yang mereka gunakan bersama. Mereka dapat merapikan area setelah melakukan aktivitas dan menghindari tindakan yang membuat lingkungan menjadi kotor.
Kebiasaan tersebut mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang lebih nyaman. WHO menyebut akses terhadap air, sanitasi, dan kebersihan di sekolah sebagai bagian penting dalam perlindungan kesehatan serta kesempatan belajar anak.
Dokter Kecil Dapat Menjadi Contoh bagi Teman
Anggota ekstrakurikuler Dokter Kecil memiliki kesempatan untuk menjadi contoh bagi teman-temannya. Mereka dapat menunjukkan kebiasaan hidup bersih melalui tindakan sederhana yang mereka lakukan setiap hari.
Mereka juga dapat mengingatkan teman dengan cara yang ramah ketika melihat kebiasaan yang kurang sesuai. Ajakan sederhana dapat membantu menciptakan suasana sekolah yang mendukung perilaku sehat.
Kementerian Kesehatan menempatkan promosi kesehatan di sekolah sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong masyarakat sekolah menerapkan perilaku sehat.
Kebiasaan Kecil Membentuk Lingkungan Sekolah yang Sehat
PHBS tidak membutuhkan tindakan yang rumit. Siswa dapat memulainya dengan mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan fasilitas, membuang sampah pada tempatnya, dan mengikuti sistem pemilahan yang diterapkan sekolah.
Guru, orang tua, dan seluruh warga sekolah dapat memberikan contoh yang konsisten. Lingkungan yang mendukung akan membuat siswa lebih mudah mempertahankan kebiasaan tersebut.
Pada akhirnya, PHBS di sekolah bukan sekadar materi yang siswa pelajari. Siswa perlu mengubah pengetahuan tersebut menjadi kebiasaan yang mereka lakukan setiap hari.
Referensi
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. PHBS di Sekolah.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Sekolah.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
- WHO & UNICEF. Guidelines on Hand Hygiene in Community Settings.
- WHO Regional Office for Europe. Improving Health and Learning in Schools.
- WHO Regional Office for Europe. Healthy Habits, Healthy Schools.
Author Profile

Latest entries
UncategorizedAgustus 15, 2026Pembinaan Dokter Kecil di SDN Sukasenang Bahas PHBS di Sekolah
UncategorizedAgustus 15, 2026Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Sekolah: Biasakan CTPS dan Kelola Sampah dengan Baik
UncategorizedAgustus 15, 2026Bulan Imunisasi Anak Sekolah Berlangsung di Sekolah Dasar Selama Bulan Agustus
UncategorizedAgustus 15, 2026Pentingnya Imunisasi Anak Sekolah untuk Melindungi Kesehatan Anak