Dampak Stunting Pada Anak

Apa Itu Stunting?

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1000 hari pertama kehidupan.

Menurut Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 72 Tahun 2021, Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar yang ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

Problematika Stunting pada Anak di Indonesia

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah tahun 2020-2024, pemerintah masih melanjutkan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TP2S) dengan target nasional prevalensi stunting turun menjadi 14% pada tahun 2024.

Sebelumnya, pada tahun 2018, prevalensi stunting menurut Riskesdas sebesar 30,8% dan di tahun 2019, sudah turun menjadi 27,67%. Prevalensi ini masih tergolong cukup tinggi mengingat standar global dari WHO terkini prevalensi stunting harus kurang dari 20%. Menurut hasil SSGI, prevalensi stunting tahun 2021 dan 2022, diperoleh angka sebesar 24,4% dan 21,6%. Dan menurut data SKI tahun 2023, prevalensinya menjadi 21,5%. Prevalensi stunting di Indonesia dari tahun ke tahun sudah mengalami penurunan.

Pelaksanaan percepatan penurunan stunting ini pun sudah meliputi kelompok sasaran: remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak berusia 0 – 59 bulan.

Problematika Stunting pada Anak di Kabupaten Tasikmalaya

Saat ini, angka stunting tercatat berada di 20,7 persen. Angka ini, turun dari tahun sebelumnya yakni 2023 yang berada di angka 27,2 persen kasus stunting.

Salah satu faktor pendorong angka stunting meningkat yakni, kemiskinan dan kepedulian warga terhadap kesehatan. Kondisi ekonomi yang terbatas, menyulitkan akses memperoleh gizi yang baik, sehingga dengan asupan gizi yang tidak maksimal, pertumbuhan anak pun menjadi terhambat.

Dampak Stunting pada Anak

Stunting pada anak wajib diwaspadai karena akan mempengaruhi tumbuh kembang anak secara langsung hingga jangka panjang.

Anak-anak stunting memiliki masalah pada perkembangan otak. Dampaknya akan terasa pada kemampuan kognitif anak.  Mereka kesulitan mengingat dan memecahkan masalah serta cenderung terjebak dalam aktivitas yang memerlukan aktivitas mental atau otak.

Ketika pertumbuhan kognitif melambat di kemudian hari, anak mungkin mengalami penurunan kemampuan intelektual, kesulitan memproses informasi, dan kesulitan berkomunikasi. Hal ini tentu mempengaruhi proses belajar anak di sekolah dan di rumah, sehingga menyulitkan mereka berinteraksi dan bermain dengan teman sebayanya. Perkembangan fisik anak otomatis lebih lambat dibandingkan anak pada usia yang sama.

Ciri umum anak yang mengalami stunting, yaitu ukuran badan yang kecil. Malnutrisi kronis menghambat pertumbuhan otot. Selain itu, anak-anak yang mengalami stunting cepat lelah. Anak-anak berisiko tinggi mengalami obesitas sehingga menyulitkan mereka melakukan aktivitas pokok sehari-hari.

Anak stunting juga memiliki peningkatan risiko terkena diabetes saat dewasa. Malnutrisi selama masa pertumbuhan  mengganggu sistem insulin pankreas dan hormon glukagon yang mengatur keseimbangan dan metabolisme glukosa. Akibatnya, di masa dewasa, keseimbangan gula darah lebih cepat terganggu dan tubuh cenderung menumpuk jaringan lemak.

Jika pertumbuhan terhambat, sistem kekebalan tubuh mungkin lebih rentan terhadap infeksi bakteri dan virus. Karena sistem kekebalan tubuh mereka melemah, proses penyembuhan pada anak-anak yang mengalami stunting memerlukan waktu lebih lama dibandingkan anak-anak pada umumnya.

Adakah Solusi Untuk Anak Stunting?

Stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan yang sulit untuk perbaiki apabila kesempatan pada 1000 hari pertama kehidupan balita terlewati. Faktanya pertumbuhan dan perkembangan otak telah mencapai 70-80%, sehingga kecepatan pertumbuhan fisik juga akan terus melambat terutama setelah pubertas.

Namun, pertumbuhan linier seperti bertambah tinggi badan masih bisa untuk dikejar hingga seseorang berusia 24 tahun apabila melakukan perbaikan asupan gizi dan olahraga fisik minimal 30 menit dengan frekuensi 3-5 hari dalam seminggu, serta jadwal tidur yang cukup dan teratur. Apabila anak mengalami keterlambatan perkembangan dan memiliki penyakit penyerta, diperlukan rehabilitasi dari multidisiplin antarprofesi. Dengan begitu dampak stunting pada anak dapat diminimalisir.

Mari bersama menangani stunting demi Indonesia lebih baik!

Artikel edukasi ini telah direview oleh:

Feby R Adiwijaya, S.Farm

Programer Promkes Puskesmas Pagerageung

UPTD Puskesmas Pagerageung

Jl. Raya Pagerageung No.1, Pagerageung, Kec. Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat

Telepon: +62 21 4328 8865

Email: pkm.pagerageung@gmail.com Instagram: @pkm_pagerageung

Sumber:

Perpres Nomor 72 tahun 2022

https://stunting.go.id

https://www.rri.co.id/kesehatan/796915/kemiskinan-faktor-dominan-stunting-di-kabupaten-tasikmalaya

https://www.nestlehealthscience.co.id/artikel/dampak-stunting-untuk-anak

https://www.cegahstunting.com/post/mengatasi-balita-stunting

https://ayosehat.kemkes.go.id/cara-menangani-stunting–bagaimana-prosedurnya

Yuk Share Postingan Ini:
taniaamaliaf
taniaamaliaf
Articles: 13

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *