Menikmati minuman dingin yang dicampur dengan es batu kristal memang sangat nikmat, terutama saat cuaca panas. Rasa dahaga seketika hilang ketika kita menikmati minuman tersebut. Namun, ada kebiasaan yang cukup menarik di kalangan remaja putri, yaitu mengonsumsi es batu tanpa dicampur dengan air. Mereka seringkali mengunyah es batu seperti permen, mengemut, dan menelannya. Es batu yang mereka konsumsi umumnya terbuat dari air mineral tanpa tambahan pemanis gula atau sirup.
Kebiasaan mengonsumsi es batu menimbulkan pertanyaan mengenai kesehatan, terutama terkait dengan anemia. Sering terdengar bahwa mengonsumsi es batu kristal dapat menyebabkan anemia. Apakah hal ini benar? Meskipun mengonsumsi es batu dapat memberikan sensasi menyegarkan, kebiasaan ini dapat menimbulkan beberapa masalah kesehatan, antara lain:
- Kerusakan Gigi: Mengunyah es batu dapat menyebabkan kerusakan pada enamel gigi, membuat gigi lebih rentan terhadap kerusakan dan sensitivitas. Selain itu, es batu yang keras dapat menyebabkan gigi retak atau patah.
- Gangguan Pencernaan: Jika es batu terbuat dari air yang tidak bersih, ada risiko terjadinya infeksi saluran pencernaan. Mengonsumsi es batu yang terkontaminasi dapat menyebabkan gejala keracunan makanan.
- Anemia Defisiensi Besi: Kebiasaan mengonsumsi es batu sering kali dikaitkan dengan anemia defisiensi besi, di mana individu merasa lebih baik setelah mengunyah es. Ini mungkin disebabkan oleh peningkatan aliran darah dan oksigen ke otak, meskipun tidak ada bukti kuat yang mendukung bahwa mengonsumsi es secara langsung memperbaiki kondisi anemia.

Pagophagia, atau keinginan untuk mengunyah es, sering kali dikaitkan dengan anemia defisiensi besi. Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan anemia mungkin merasa lebih baik setelah mengunyah es, karena dapat meningkatkan aliran darah dan oksigen ke otak. Meskipun es batu tidak mengandung zat besi atau nutrisi penting lainnya, kebiasaan ini bisa menjadi tanda adanya kekurangan gizi yang lebih serius.
- Gejala Anemia: Anemia dapat menyebabkan gejala seperti kelelahan, kulit pucat, dan kelemahan. Mengonsumsi es batu mungkin menjadi cara bagi individu untuk meredakan gejala ini, meskipun tidak menyelesaikan masalah yang mendasarinya.
- Pica: Kebiasaan mengonsumsi es batu juga dapat menjadi manifestasi dari pica, yaitu gangguan makan di mana seseorang memiliki keinginan untuk mengonsumsi benda-benda non-nutrisi. Ini bisa menunjukkan adanya masalah psikologis atau kekurangan gizi yang lebih serius
Untuk mengurangi kebiasaan ini dan mencegah anemia, ada beberapa langkah yang dapat diambil. Pertama, penting untuk meningkatkan asupan zat besi dengan mengonsumsi makanan kaya zat besi, seperti daging merah, sayuran hijau, dan kacang-kacangan. Kedua, jika mengalami gejala anemia, seperti kelelahan dan kulit pucat, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Ketiga, sebagai alternatif sehat, kita bisa mengganti es batu dengan makanan atau minuman yang lebih bergizi, seperti smoothie. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dapat mengurangi kebiasaan mengonsumsi es batu dan menjaga kesehatan secara keseluruhan.
[Daftar Pustaka]
- Anderson, C. M., & Patel, S. (2022). Nutritional Interventions for Pagophagia: Addressing the Underlying Causes. Nutrition Reviews, 80(1), 12-20. https://doi.org/10.1093/nutrit/nuw045
- Kumar, A., & Sharma, R. (2020). Pagophagia: A Compulsive Ice Eating Disorder Associated with Iron Deficiency Anemia. Journal of Nutritional Science, 9(3), 145-152. https://doi.org/10.1017/jns.2020.12
- Smith, J. L., & Brown, T. (2019). The Relationship Between Ice Consumption and Anemia: A Review of the Literature. International Journal of Hematology Research, 15(2), 75-82. https://doi.org/10.1016/ijhr.2019.04.005
- Thompson, R. D., & Lee, C. (2018). Ice Cravings and Iron Deficiency: A Study of Pagophagia in Young Women. Journal of Adolescent Health, 62(4), 450-456. https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2017.10.005
- Williams, P. A., & Johnson, M. (2021). Understanding Pagophagia: Psychological and Nutritional Perspectives. Clinical Psychology Review, 41, 45-53. https://doi.org/10.1016/j.cpr.2021.01.002
Artikel ini telah direview oleh:
Serli Nur Alindra AM. Keb, S.K.M.
Petugas Promosi Kesehatan
UPTD Puskesmas Mangunreja
Jalan Sukaraja No. 53. Telp. (0265) 544709



