Melalui Dukungan Pendamping Pasien, TBC Resistan Obat Bisa Sembuh

MAKASSAR, 22 November 2021 – Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO) merupakan suatu penyakit dimana kuman M. Tuberculosis sudah tidak dapat lagi dibunuh dengan salah satu atau lebih Obat Anti TBC (OAT), sehingga pengobatannya menjadi lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih panjang. Indonesia menduduki peringkat ketiga untuk negara dengan beban Tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia (Laporan WHO TBC Global 2021) dengan estimasi kasus TBC sebesar 824.000 dan 93.000 kematian per tahunnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan tahun 2020, jumlah terduga TB 62.839. Jumlah yang melakukan pemeriksaan 57.171 sehingga ini menggambarkan potret ketidaksadaran penderita dalam berobat. Kondisi ini mendorong penyintas pasien TBC RO melalui Yayasan Kareba Baji, dalam mendampingi dan memberikan motivasi pada pasien untuk menjalani pengobatan TBC RO.

Perjuangan Yayasan Kareba Baji dalam meningkatkan semangat pasien dalam memulai pengobatan sangat berliku. Dewa, pendamping pasien TBC RO dari Kareba Baji melakukan pendampingan kepada pasien, baik melalui kunjungan ke rumah pasien maupun ke Layanan Kesehatan.

BACA JUGA:  Mengintip Kegiatan Posyandu Remaja di Lereng Gunung Bromo

Salah satu pengalaman berkesan selama mendampingi pasien adalah kisah seorang pasien TBC RO inisial Ny. N (31 tahun). Ia berprofesi sebagai tukang jahit yang berjuang melawan penyakit TBC RO disertai diabetes militus. Ny. N tinggal bersama suaminya, seorang guru honorer serta tiga orang anaknya yang masih kecil di daerah padat penduduk, kumuh dalam gang sempit. Ny. N dan keluarga menyembunyikan penyakitnya dari orang sekitarnya karena takut akan stigma dari masyarakat.

Sejumlah kendala seperti faktor ekonomi, takut terkonfirmasi COVID, dan trauma akan sikap seorang oknum petugas kesehatan terhadapnya menjadi kendala terbesar bagi Ny. N saat memulai pengobatan. Perlakuan diskriminatif dan respon yang kurang menyenangkan oknum petugas kesehatan saat dirinya menerima hasil pemeriksaan TBC, dan juga diskriminasi terhadap anaknya saat berobat di Rumah Sakit membuat Ny. N bertekad tidak akan pernah lagi berobat di Rumah Sakit manapun dan hanya percaya pada Dokter Praktik Mandiri.

Hal tersebut mendorong semangat Dewa untuk melakukan kunjungan terhadap Ny. N. Meski mendapat penolakan, namun dengan sikap pantang menyerah akhirnya pada kunjungan ke-6, Dewa berhasil menyakinkan Ny. N untuk berobat.

“Menjadi pendamping pasien merupakan panggilan dimana saya bisa membagikan pengalaman saya sebelumnya saat menjalani pengobatan. Tidak mudah ketika harus minum obat dalam kurun waktu yang relatif panjang. Namun dengan adanya pendamping yang mendampingi, membuktikan pada saya bahwa TBC dapat sembuh dengan tuntas, termasuk TBC yang resistan sekalipun,” ujar Dewa.

Pengalaman Dewa sebagai mantan pasien mendorong dia untuk semangat melakukan pendampingan. Pasien TBC RO dapat sembuh total dengan menjalani pengobatan rutin hingga tuntas. Efek samping yang berat tak jarang membuat pasien TBC RO memutuskan untuk berhenti. Disinilah peran pendamping seperti Dewa diperlukan untuk mendorong motivasi pasien menyelesaikan pengobatan.

BACA JUGA:  Ini Nih Tantangan Mahasiswa Kesmas Jaman Now! Yang Mahasiswa Wajib Baca!

Apa jadinya dii’ kalau saya terlambat berobat, bagus ini programnya karena dilacak pasiennya. Terima kasih sudah didampingi, apa jadinya kalau tidak adaki’ ajakka’ berobat,” ucap Ny. N yang kondisi tubuhnya membaik setelah menjalani pengobatan.

Dalam upaya peningkatan kesadaran TBC para relawan menggunakan pendekatan komunikasi motivasi, dimana mereka menempatkan pasien selayaknya keluarga. Mereka juga memberikan motivasi selama pendampingan berdasarkan pengalaman sebagai mantan pasien sehingga memudahkan pendekatan dalam menumbuhkan rasa percaya pada pasien yang didampingi. Harapannya semakin banyak pasien TBC RO menyelesaikan pengobatan, semakin berkurang angka penularan TBC di masyarakat, terutama bagi masyarakat Sulawesi Selatan.


Tentang Kareba Baji

Yayasan Kareba Baji (Kami Rela Berjuang Bagi Jiwa) merupakan organisasi independen mendukung program TBC Nasional di Sulawesi Selatan yang berasal dari kelompok pasien TBC RO yang didirikan pada tanggal 4 April 2014 di Makassar. Visinya menjadikan Sulawesi Selatan khususnya kota makassar bebas TBC serta mengurangi stigma dan diskriminasi di masyarakat terhadap TBC.

 

Informasi lebih lanjut:

Andi Rahmat Dewa
Manajer Kasus Yayasan Kareba Baji
085255515680

(Visited 41 times, 1 visits today)