Kalau mendengar kata “tes kebugaran”, sebagian anak mungkin langsung membayangkan lari, gerakan olahraga, atau kegiatan yang membuat tubuh berkeringat. Padahal, tes kebugaran bukan sekadar mencari siapa yang paling cepat atau paling kuat. Untuk anak sekolah, kegiatan ini dapat menjadi cara untuk mengenali kondisi kebugaran jasmani sekaligus membuka percakapan sederhana tentang pentingnya hidup aktif.
Hal ini relevan dengan kegiatan Pemeriksaan Tes Kebugaran Jasmani Anak Sekolah yang dilaksanakan UPTD Puskesmas Taraju di SDN Sukasari pada Senin, 3 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diikuti oleh siswa-siswi SDN Sukasari dan berlangsung selama 90 menit. Sebelum tes, peserta memperoleh edukasi mengenai pentingnya olahraga dan aktivitas fisik. Kegiatan ini menjadi contoh bahwa pemantauan kebugaran dapat dipadukan dengan edukasi kesehatan di lingkungan sekolah.
Lalu, mengapa kebugaran anak perlu diperhatikan? Masa sekolah merupakan periode ketika kebiasaan sehari-hari mulai terbentuk. Anak tidak hanya belajar berbagai pengetahuan di kelas, tetapi juga belajar membangun kebiasaan yang dapat terbawa hingga dewasa. Kebiasaan bergerak aktif adalah salah satunya.
Apa yang Dimaksud dengan Kebugaran Anak?
Kebugaran jasmani secara sederhana dapat dipahami sebagai kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara efektif tanpa cepat mengalami kelelahan berlebihan. Dalam konteks anak sekolah, kebugaran berkaitan dengan kemampuan tubuh untuk bergerak, bermain, belajar, dan beraktivitas sesuai tahap perkembangannya.
Penting untuk membedakan kebugaran dengan sekadar ukuran tubuh atau penampilan fisik. Anak yang sehat tidak harus memiliki bentuk tubuh tertentu. Karena itu, tes kebugaran sebaiknya digunakan untuk mengenali kondisi dan menjadi bahan pembinaan, bukan untuk membanding-bandingkan anak atau membuat mereka merasa kurang percaya diri.
WHO merekomendasikan anak dan remaja usia 5–17 tahun melakukan rata-rata sedikitnya 60 menit aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat setiap hari sepanjang minggu. Aktivitas tersebut dapat berasal dari bermain, olahraga, berjalan atau bersepeda, pendidikan jasmani, maupun aktivitas lain dalam kehidupan sehari-hari. WHO juga merekomendasikan aktivitas yang memperkuat otot dan tulang setidaknya tiga kali seminggu.
Tes Kebugaran Bukan Ujian untuk Menentukan Siapa yang Terbaik
Salah satu hal penting yang perlu dipahami orang tua, guru, dan anak adalah tujuan tes kebugaran. Tes bukanlah ujian yang menentukan anak pintar atau tidak, apalagi menentukan nilai dirinya. Hasil tes lebih tepat dipandang sebagai gambaran kondisi kebugaran pada saat pengukuran.
Dengan cara pandang tersebut, hasil yang belum sesuai harapan tidak perlu menjadi alasan untuk memarahi atau mempermalukan anak. Sebaliknya, hasil tersebut dapat menjadi titik awal untuk melihat kebiasaan aktivitas fisik anak dan menentukan dukungan yang lebih sesuai. Anak yang hasilnya baik pun tetap perlu menjaga kebiasaan aktif secara konsisten.
Dalam penelitian di Indonesia, survei pada siswa kelas V sekolah dasar menunjukkan bahwa pengukuran kebugaran dapat memberikan gambaran kondisi kebugaran siswa pada kelompok sekolah tertentu. Penelitian lain pada siswa kelas VI SD Muhammadiyah 5 Surakarta juga menggunakan rangkaian Tes Kebugaran Jasmani Indonesia (TKJI) untuk menggambarkan tingkat kebugaran siswa. Temuan pada satu sekolah tidak dapat langsung dianggap mewakili semua anak di Indonesia.
Mengapa Aktivitas Fisik Penting bagi Anak?
Aktivitas fisik bukan hanya soal membuat tubuh kuat. WHO menyebutkan bahwa pada anak dan remaja, aktivitas fisik mendukung kesehatan tulang, pertumbuhan dan perkembangan otot, serta perkembangan motorik dan kognitif. Pedoman WHO juga mengaitkan aktivitas fisik dengan kebugaran kardiorespirasi dan otot serta kesehatan mental.
Karena itu, aktivitas fisik tidak harus selalu berupa latihan olahraga yang terstruktur. Bermain aktif, berjalan kaki, bersepeda, mengikuti pendidikan jasmani, menari, atau melakukan permainan yang membuat tubuh bergerak juga termasuk aktivitas fisik. Yang penting, anak memperoleh kesempatan untuk bergerak secara aman dan menyenangkan.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Orang tua tidak perlu langsung membuat jadwal olahraga yang rumit. Mulailah dari kebiasaan sederhana yang realistis. Ajak anak berjalan kaki untuk jarak yang memungkinkan, bermain bersama di luar rumah, bersepeda, atau melakukan aktivitas fisik yang memang mereka sukai. Anak cenderung lebih mudah membangun kebiasaan ketika aktivitas tersebut terasa menyenangkan, bukan sebagai hukuman.
Orang tua juga dapat menjadi contoh. Jika anak melihat orang di rumah terbiasa bergerak aktif, kebiasaan tersebut lebih mudah dikenalkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Selain itu, perhatikan keseimbangan antara waktu aktif dan waktu duduk atau aktivitas berbasis layar. WHO menekankan bahwa semua aktivitas fisik tetap dihitung dan setiap jumlah aktivitas lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali.
Peran Guru dan Sekolah Tidak Kalah Penting
Sekolah merupakan tempat strategis untuk membangun kebiasaan hidup aktif. Guru dapat mendorong anak mengikuti pendidikan jasmani, permainan aktif, dan kegiatan sekolah yang memberi kesempatan bergerak. Lingkungan sekolah yang aman dan mendukung juga penting agar anak merasa nyaman untuk aktif tanpa takut diejek karena kemampuan fisiknya berbeda.
Jika sekolah melakukan tes kebugaran, hasilnya sebaiknya menjadi bahan evaluasi dan edukasi. Guru, tenaga kesehatan, dan orang tua dapat bekerja sama memahami hasil tersebut tanpa memberi label kepada anak. Pendekatan yang positif akan membantu anak melihat kebugaran sebagai bagian dari kesehatan, bukan sebagai ajang kompetisi semata.
Belajar dari Kegiatan di SDN Sukasari
Pelaksanaan Tes Kebugaran Anak Sekolah di SDN Sukasari menunjukkan bagaimana kegiatan pengukuran dapat berjalan berdampingan dengan edukasi kesehatan. Dalam kegiatan tersebut, Hendra Koswara, S.K.M. dari Promosi Kesehatan, Rani Dwi Oktaviani, A.Md.Kep. dari Kesehatan Kerja dan Olahraga, serta Asep Jaya Sarkosih, S.Kep., Ners. dari Asuhan Keperawatan terlibat dalam penyampaian edukasi dan pendampingan kegiatan.
Pesan yang penting dibawa pulang bukan hanya hasil pengukuran, tetapi kesadaran bahwa kebugaran perlu dijaga setiap hari. Tes dapat menjadi cermin untuk melihat kondisi saat ini, sedangkan kebiasaan aktif adalah langkah yang dilakukan setelahnya. Dengan demikian, kegiatan tes kebugaran tidak berhenti pada angka atau kategori hasil, tetapi dapat berlanjut menjadi perubahan kebiasaan yang lebih sehat.
Jadi, Apa yang Bisa Kita Mulai Hari Ini?
Tidak perlu menunggu tes kebugaran berikutnya untuk mulai bergerak. Anak dapat memilih aktivitas yang disukai dan melakukannya secara rutin. Orang tua dapat menemani dan memberi contoh. Guru dapat menciptakan lebih banyak kesempatan bergerak di lingkungan sekolah. Jika anak memiliki kondisi kesehatan tertentu atau mengalami keluhan saat beraktivitas, konsultasikan dengan tenaga kesehatan agar aktivitas dapat disesuaikan dengan kondisinya.
Pada akhirnya, tujuan menjaga kebugaran bukanlah membuat semua anak memiliki kemampuan fisik yang sama. Tujuannya adalah membantu setiap anak tumbuh sehat, aktif, percaya diri, dan mampu menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik. Jadi, yuk mulai dari hal sederhana: lebih banyak bergerak, lebih sedikit duduk terlalu lama, dan jadikan aktivitas fisik sebagai bagian menyenangkan dari keseharian.
Catatan Penting
Artikel ini merupakan edukasi kesehatan umum, bukan diagnosis atau penilaian kebugaran individual. Jenis dan prosedur tes kebugaran harus mengikuti instrumen yang digunakan oleh tenaga kesehatan atau pihak sekolah. Hasil pengukuran tidak sebaiknya digunakan untuk mempermalukan, memberi stigma, atau membandingkan anak secara tidak tepat.
Referensi Tepercaya
World Health Organization. (2020). WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. https://www.who.int/publications/i/item/9789240015128
World Health Organization. (2024). Physical activity. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/physical-activity
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. SKI 2023 Dalam Angka. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/ski-2023-dalam-angka/
Due, Y. J., Natal, Y. R., Bile, R. L., & Bayo Ola Tapo, Y. (2024). Survei Kebugaran Jasmani Siswa Kelas V Sekolah Dasar. Jurnal Penjakora, 11(1), 89–94. https://doi.org/10.23887/jurnalpenjakora.v11i1.76013
Prasasti, A. R. (2024). Tingkat Kebugaran Jasmani Siswa Kelas VI SD Muhammadiyah 5 Surakarta. Jurnal Ilmiah Spirit, 24(2), 126–135. https://doi.org/10.36728/jis.v24i2.4094
Maulana, R. A., Friskawati, G. F., & Karisman, V. A. (2024). Gender dan kebugaran jasmani siswa: analisis perbedaan hasil Tes Kebugaran Siswa Indonesia (TKSI) fase D. Jurnal Olahraga Pendidikan Indonesia, 4(1), 39–49. https://doi.org/10.54284/jopi.v4i1.364
Artikel ini telah direview oleh:
Hendra Koswara, S.K.M.
Programer Promkes Puskesmas Taraju UPTD
Puskesmas Taraju
Jl. Raya Taraju, No.149, Rt.16 Rw.1, Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat 46474
Author Profile

- Mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang Peminatan Administrasi Kebijakan Kesehatan (AKK) Angkatan 2023





