Demam Berdarah Dengue atau biasa disingkat dengan DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus yang berasal dari gigitan nyamuk Aedes aegypti betina. Anak yang terkena penyakit ini umumnya akan mengalami demam yang naik turun, tetapi terkadang hanya menimbulkan gejala ringan bahkan tidak bergejala pada tahap awal. Namun, gejala akan semakin parah hingga dapat menyebabkan kematian apabila tidak cermat dalam penanggulangannya. Hal tersebut terjadi karena adanya masa inkubasi atau waktu paparan pada virus sekitar 4 hari hingga 2 minggu untuk dapat menimbulkan efek pada tubuh.
Kasus DBD merupakan salah satu penyakit yang sangat familiar ditemukan di daerah beriklim tropis dan subtropis serta identik dengan musim hujan. Nyamuk Aedes aegypti biasa dikenali dengan tubuh nyamuk berukuran kecil dengan warna belang bergaris hitam-putih.
Berdasarkan data laporan yang diterima Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kasus demam berdarah mengalami peningkatan pada 2 dekade terakhir, mulai dari tahun 2000 hingga 2019, dan jumlah kasus tertinggi tercatat pada tahun 2023 dengan mempengaruhi lebih dari 80 negara wilayah WHO. Di Indonesia, menurut data dari Kementerian Kesehatan tahun 2023, tercatat 114.772 kasus DBD dengan 894 kematian dengan kasus kematian terbanyak akibat dari adanya komplikasi kesehatan.

3 Fase DBD pada Anak
- Fase Demam (Febrile Phase) : Merupakan fase awal munculnya gejala pada penderita DBD, biasanya berlangsung selama 2–7 hari dengan kemunculan gejala demam tinggi hingga 40º C dan dapat disertai dengan gejala lain seperti mual, muntah, sakit tenggorokan, sakit kepala dan kemunculan bintik kemerahan. Tanda biokimia pada fase ini yaitu terjadinya penurunan trombosit secara drastis hingga kurang dari 100 ribu mikroliter.
- Fase Kritis (Critical Phase) : Merupakan fase paling berbahaya. Pada fase ini suhu tubuh mulai turun tetapi terdapat resiko terjadi perdarahan dan kebocoran plasma darah yang dapat menyebabkan syok (penurunan tekanan darah drastis). Pada kasus berat, pendarahan dapat terjadi melalui kulit, hidung dan gusi. Fase ini biasa terjadi pada 3–7 hari setelah demam. Hal yang perlu diperhatikan pada fase ini adalah kecukupan cairan tubuh tidak boleh kekurangan atau kelebihan.
- Fase Pemulihan (Recovery Phase) : Fase ini terjadi setelah mengalami fase kritis, dimana cairan yang keluar melalui pembuluh darah akan masuk kembali ke dalam pembuluh darah. Cairan dalam tubuh perlu diperhatikan agar tidak berlebihan dan menyebabkan edema.

Tanda dan Gejala
- Demam tinggi
- Mendadak sakit kepala berat
- Nyeri sendi dan otot
- Lemas dan kelelahan
- Ruam kulit
- Mual dan muntah
- Pendarahan ringan
- Perut sakit dan kembung
- Kulit pucat, dingin atau berkeringat
Pencegahan Demam Berdarah pada Anak
Pencegahan Demam Berdarah
- Menguras: Lakukan pengurasan dan bersihkan dengan menggosok pada tempat-tempat penampungan air secara rutin untuk membersihkan kotoran dan telur nyamuk yang mungkin menempel. Gunakan larvasida pada penampungan air yang sudah dikuras.
- Menutup: Menutup rapat tempat penampungan air dan mengubur barang-barang bekas agar lingkungan tidak kotor dan menjadi sarang nyamuk.
- Menggunakan kembali (recycle): Gunakan kembali barang-barang yang dapat digunakan dan memiliki nilai ekonomi.
Pengobatan Demam Berdarah
Hingga saat ini, Demam berdarah tidak memiliki metode penanganan khusus atau penanganan spesifik. Penanganan DBD masih berfokus untuk menangani tanda dan gejala, mencegah munculnya komplikasi, dan meningkatkan imunitas secara alami. Penanganan optimal dapat dilakukan melalui perawatan di rumah sakit agar mendapatkan pemantauan dari dokter atau tenaga kesehatan lainnya.
Beberapa hal yang mungkin dapat diperhatikan ketika merawat anak yang mengalami DBD yaitu :
- Perhatikan Asupan Cairan : Kecukupan asupan cairan ketika mengalami DBD perlu diperhatikan. Cairan berfungsi untuk mengganti cairan yang banyak keluar dari tubuh akibat demam (melalui keringat) dan keluarnya cairan melalui pembuluh darah yang beresiko menyebabkan dehidrasi. Pada beberapa pasien mungkin tidak memiliki nafsu untuk makan atau minum. Karenanya, pemenuhan asupan cairan dapat dilakukan dengan mengonsumsi air putih yang cukup dan pemberian cairan ber-ION (oralit) melalui konsumsi jus buah (misalnya jus buah jambu yang memiliki manfaat memperbaiki jaringan akibat infeksi) atau melalui cairan infus dengan pengawasan dokter.
- Berikan Obat Pereda Demam : Obat pereda deman dapat diberikan pada anak apabila diperlukan dengan resep dokter.
- Berikan Makanan Bergizi : Berikan makanan bergizi seimbang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Berikan makanan dari sumber makanan berkualitas, kaya akan sumber protein untuk membantu menyembuhkan infeksi, makanan sumber zat besi, makanan yang dapat meningkatkan trombosit (sayur hijau dan buah-buahan seperti jambu dan mangga), dan makanan dengan sumber asam folat (kacang-kacangan, buncis, kacang polong, sayur dengan warna hijau tua).
- Memastikan Anak Cukup Istirahat
Referensi :
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue
https://www.alodokter.com/perjalanan-fase-demam-berdarah-yang-penting-diketahui
https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/infeksi-anak/demam-berdarah-pada-anak/
https://ayosehat.kemkes.go.id/upaya-pencegahan-dbd-dengan-3m-plus
https://hellosehat.com/infeksi/demam-berdarah/kebutuhan-cairan-saat-terkena-dbd/
https://www.rs-jih.co.id/rsjihpurwokerto/article-detail/diet-sehat-untuk-pasien-dbd/dno0MHZWNlROSXA3aEZNOU51N2kyZz09
Artikel Edukasi DBD Ini Dipersembahkan Oleh :
Puskesmas Tinewati
Jl. Garut – Tasikmalaya No.82, Singasari, Kec. Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat 46412



