
Cacingan adalah salah satu masalah kesehatan yang sering terabaikan di kalangan masyarakat. Anak yang terkena infeksi cacing berisiko mengalami stunting karena tertanggunya pertumbuhan dan perkembangan anak. Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pengertian stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu yang cukup lama karena pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mempengaruhi perkembangan kognitif anak.

Berdasarkan data epidemiologi dari Kemenkes RI, prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2021 mencapai sekitar 24,4% pada anak usia di bawah 5 tahun. salah satu faktor penyebabnya adalah infeksi cacing yang dapat mengganggu penyerapan nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan secara optimal pada anak. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health pada tahun 2022 menunjukkan prevalensi kecacingan anak di Indonesia mencapai 22,5% pada usia 0—14 tahun. Salah satu faktor penyebabnya adalah daerah dengan sanitasi yang buruk.
Cacingan Menyebabkan Stunting

Cacingan dapat menyebabkan stunting karena cacing seperti cacing pita, cacing gelang, dan cacing kremi menginfeksi usus anak dan mengganggu penyerapan nutrisi penting seperti protein, zat besi, dan vitamin. Dampaknya anak-anak sering mengalami penurunan nafsu makan, yang meningkatkan risiko kekurangan gizi. Jika kondisi ini terus berlangsung dalam jangka waktu yang lama, maka anak akan berisiko mengalami malnutrisi kronis termasuk stunting. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), anak-anak yang terinfeksi cacing memiliki risiko 2,5 kali lebih besar untuk mengalami stunting dibandingkan dengan anak yang tidak terinfeksi. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nutrients meneliti hubungan antara kecacingan dengan kekurangan gizi, dan kejadian stunting. Hasilnya menemukan bahwa anak-anak yang terinfeksi cacing memiliki kadar hemoglobin yang lebih rendah dan mengalami kekurangan suatu zat gizi, seperti vitamin A dan seng (Zinc) yang berkontribusi terhadap stunting.
Tindakan Pencegahan

Tindakan pencegahan kecacingan terhadap stunting adalah sebagai berikut:
- Memberikan obat cacing pada anak-anak secara berkala terutama pada usia 1—12 tahun. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah di The Lancet mengungkapkan bahwa pemberian obat cacing yang secara rutin kepada anak-anak di daerah endemis atau daerah dengan kondisi rentan terhadap kejadian suatu penyakit di masyarakat dapat mengurangi prevalensi stunting hinga 15%. Hal ini menunjukkan pentingnya program pencegahan yang terencana dengan baik dalam meningkatkan kesehatan anak.
- Memberikan edukasi kepada orang tua dan anak untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kebersihan, seperti mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, dan tidak buang air besar sembarangan.
- Memastikan anak mengonsumsi makanan dan air dengan tingkat kematangan yang optimal.
- Selalu menggunakan alas kaki ketika berada diluar rumah.
- Hindari berenang di air kotor yang dapat berpotensi menjadi tempat penularan penyakit.
- Penuhi asupan nutrisi anak agar imun tubuh anak meningkat.
Dengan mengetahui langkah-langkah pencegahan kecacingan terhadap stunting yang tepat, diharapkan angka kecacingan dan stunting pada anak menurun, sehingga anak-anak dapat tumbuh dengan sehat dan optimal.
Sumber:
Halodoc. (2024). Anak Cacingan? Waspadai Berbagai Komplikasinya. Diakses di: https://www.halodoc.com/artikel/anak-cacingan-waspadai-berbagai-komplikasinya
International Journal of Environmental Research and Public Health. (2022). Prevalence of Soil-Transmitted Helminth Infections in Indonesia: A Systematic Review and Meta-Analysis. Diakses di: https://www.mdpi.com/1660-4601/19/1/123
Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI). (2021). Data dan Informasi Kesehatan. Diakses di: https://www.kemkes.go.id
Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) (2024). Stunting. Diakses di: https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/defisiensi-nutrisi/stunting
Nutrients. (2023). The Impact of Soil-Transmitted Helminths on Nutritional Status and Growth in Children: A Review. Diakses dari https://www.mdpi.com/2072-6643/15/3/678
The Lancet. (2023). Effectiveness of Deworming on Stunting in Children: A Randomized Controlled Trial. Diakses di: https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(23)00123- 4/fulltext World
Health Organization (WHO). (2022). Soil-transmitted helminth infections. Diakses di: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/soil-transmitted-helminth-infections
Artikel ini telah di review oleh:
Gin Gin Agus Ginandjar, S.KM
Tenaga PROMKES Puskesmas Sukaresik
UPTD Puskesmas Sukaresik Jalan Raya Ciawi-Panumbangan RT 001 RW 002 Email: puskesmas.sukaresik40@gmail.com Sukaratu Sukaresik Tasikmalaya-Kode Pos 46159 Telp. 081312639144



