Dinkes Bangka Berkomitmen Laksanakan Aksi 7 Melalui Diseminasi Dan Publikasi Data Stunting Tahun 2023

Dinkes Bangka Berkomitmen Laksanakan Aksi 7 Melalui Diseminasi Dan Publikasi Data Stunting Tahun 2023

Diseminasi hasil pengukuran dan publikasi data stunting dilaksanakan secara rutin setiap tahun sebagai komitmen Pemerintah Daerah dalam Aksi Konvergensi ke-7 percepatan penurunan stunting. Diseminasi dan Publikasi Data Stunting tingkat Kabupaten Bangka digelar pada hari Senin tanggal 11 Desember 2023 bertempat di Novilla Boutique Resort Sungailiat, Bangka. Acara ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Drs H. Andi Hudirman didampingi oleh Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka dr. Yogi Yamani, Sp.B, Kabid Kesehatan Masyarakat Susy Avnita, SKM dan Ketua Forum Kabupaten Bangka Sehat H. Sofiandi, SKM, M.Si.

Peserta pertemuan adalah Kepala OPD, Camat, Kepala desa lokus stunting, Kepala Puskesmas, Kader Pembangunan Manusia, Petugas Gizi, organisasi profesi kesehatan IDI, IBI, IAKMI dan Persagi serta lintas sektor dan lintas program terkait stunting. Narasumber pertemuan berasal dari Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Bappeda Bangka, Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka. 

Dalam sambutannya, Andi Hudirman menyatakan bahwa Aksi Konvergensi percepatan penurunan stunting ke 7 yaitu pengukuran status gizi dan publikasi angka stunting adalah upaya Kabupaten Bangka  untuk memperoleh data prevalensi stunting terkini pada skala layanan puskesmas, kecamatan, dan desa. Hasil pengukuran tinggi badan anak di bawah lima tahun serta publikasi angka stunting digunakan untuk memperkuat komitmen pemerintah daerah dan masyarakat dalam gerakan bersama penurunan stunting.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka sebagai penanggung jawab pengukuran dan publikasi stunting melaporkan bahwa Dinas Kesehatan telah  melakukan pengukuran status gizi terutama pengukuran panjang badan atau tinggi badan pada bulan penimbangan balita di bulan Agustus 2023. Hasil pengukuran tinggi badan balita diinput dalam aplikasi elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM) SIGIZI Terpadu yang di entry oleh petugas gizi  puskesmas di Kabupaten Bangka, apabila ada data yang bermasalah gizi di konfirmasi dan divalidasi oleh petugas puskesmas dan Dinas Kesehatan. Selain data status  gizi balita juga diinput data riwayat tindakan terhadap balita yang bermasalah gizi, kemudian di analisa faktor faktor determinan penyebab masalah gizi untuk diintervensi sesuai penyebabnya.  

Dari 62 desa dan 19 kelurahan di 8 kecamatan Kabupaten Bangka, prevalensi stunting pada balita semuanya dibawah 20% atau berada di batas  kategori aman (≥ 20% kronis) yang berarti tidak memiliki masalah kesehatan masyarakat,  desa dengan kategori sedang (prevalensi 10-20%) sebanyak 0%,  kategori ringan  dengan prevalensi  5-10% sebanyak  3.70%  dan kategori sangat ringan (96.29%), data status gizi di aplikasi ePPGBM akan berubah setiap hari dan bulan  karena bersifat dinamis.

Berdasarkan hasil pengukuran status gizi balita pada bulan Agustus 2023  di Kabupaten Bangka yang diunduh di ePPGBM secara by name by address adalah sebagai berikut dari sasaran balita sebesar  26.399  anak,  jumlah balita yang diukur tinggi badannya dengan antropometri  sebanyak 24. 060 balita (91,16 %) didapatkan prevalensi angka stunting pada balita sebesar 1.33% (320 anak), sedangkan prevalensi stunting baduta (dibawah dua tahun) sebesar 1.79%  (120 anak).

Selanjutnya Nutrisionis Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Desi Yanti, SKM, M.KM menjelaskan Dinas Kesehatan juga melakukan analisa dari riwayat tindakan untuk mengetahui faktor determinan penyebab stunting atau faktor penyebab yang mempengaruhi terjadinya stunting pada  balita.  Adapun faktor determinan dari balita yang bermasalah gizi  tertinggi adalah  ada anggota rumah tangga yang merokok sebanyak 261 orang (81.56%), 117 anak  (36.56%) tidak memiliki Jaminan Kesehatan, 33 ibu balita (10.31%) sewaktu hamil mengalami KEK, 16 balita (5.0%) belum Imunisasi lengkap, 9 balita (2.81%) tidak ada air bersih, 2 balita ( 0.63%) pernah mengalami kecacingan dan 2 balita (0.63%) tidak mempunyai jamban sehat.

Sebagai tindaklanjut dari hasil pengukuran status gizi terutama prevalensi stunting balita juga disosialisasikan pada saat advokasi dan monev desa lokus stunting di 10 desa di Kabupaten Bangka. Di wilayah kecamatan juga di diseminasikan pada setiap pertemuan baik pada saat SMD, mini lokakarya bulanan dan pertemuan lintas  program maupun lintas sector OPD terkait, serta dipublikasi juga melalui saluran informasi media elektronik maupun media sosial baik di tingkat kabupaten, kecamatan, puskesmas dan desa di Kabupaten Bangka.

Plt Kadinkes Bangka dr Yogi Yamani, Sp.B mengharapkan dengan diseminasi dan publikasi data stunting tahun 2023 ini dapat  menjadi dasar penyusunan perencanaan program kegiatan terkait stunting yang akan dilaksanakan selama tahun berjalan maupun tahun berikutnya, menggalang kerja sama dan koordinasi antar-petugas Puskesmas (lintas program), dan meningkatkan motivasi petugas petugas Puskesmas dalam pelaksanaan integrasi kegiatan stunting dengan OPD terkait penurunan stunting.

Yuk Share Postingan Ini:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Topik Populer


Akreditasi Puskesmas BPJS Kesehatan Dana Desa DBD Dinkes Kab Enrekang Dinkes Kab Indramayu Dinkes Kab Tasikmalaya FKM Unand FKM Undip FKM Unhas Germas Gizi Buruk Hipertensi Imunisasi Imunisasi MR Kader Posyandu Kemenkes Kemenkes RI Kesehatan Lingkungan Kesehatan Masyarakat Kesehatan Remaja Kesehatan Reproduksi Mahasiswa Kesmas Nusantara Sehat PBL Pencerah Nusantara Pengabdian Masyarakat Penyuluhan Kesehatan PHBS Posyandu Posyandu Remaja Prodi Kesehatan Masyarakat Prodi Kesmas Promkes Promosi Kesehatan Puskesmas Puskesmas Krangkeng Seminar Kesehatan Seminar Nasional STBM STIKes Kuningan Stunting TBC Tenaga Kesehatan Tuberkulosis