Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) merupakan kegiatan imunisasi terjadwal yang diselenggarakan pada anak usia sekolah dasar dan sederajat. BIAS umumnya dijalankan 2 kali dalam setahun dan serentak di seluruh sekolah di Indonesia. Imunisasi pada saat bayi dinilai belum cukup untuk melindungi PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi) bagi usia anak sekolah. Kegiatan imunisasi BIAS bertujuan untuk mencegah penyakit-penyakit tertentu, seperti Tetanus, Campak, Difteri, Rubella, dan kanker leher rahim.
Pada 22 November 2024, Puskesmas Sariwangi menggelar kegiatan Imunisasi BIAS bagi siswa/i SDN Sukarapih. Imunisasi ini diikuti sebanyak 30 siswa/i SDN Sukarapih. Selain kegiatan imunisasi, Puskesmas Sariwangi juga memberikan paparan materi seputar manfaat imunisasi BIAS bagi siswa/i, yang dalam hal ini diwakili oleh Lia Yulianingsih, AM. Keb. Sesi diskusi dan tanya jawab menunjukkan antusias siswa/i SDN Sukarapih hingga kegiatan ini berakhir dalam waktu 2 jam. Narasumber berharap dengan adanya sosialisasi ini siswa/i tidak lagi takut ataupun ragu untuk mengikuti kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah yang diadakan setiap 2 tahun sekali. Siswa/i dengan ini juga dapat memahami benar manfaat imunisasi BIAS bagi kesehatan mereka.
Dengan imunisasi BIAS, kita dapat melindungi generasi muda dari ancaman penyakit yang berbahaya dan menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan kuat. Orang tua, baik ayah maupun ibu, memiliki peran penting dalam keikutsertaan siswa/i dalam kegiatan BIAS di sekolah. Melalui pemahaman yang baik mengenai Bulan Imunisasi Anak Sekolah, harapannya orang tua dan siswa/i dapat teredukasi dengan baik mengenai pentingnya kegiatan imunisasi BIAS ini bagi kesehatan anak usia sekolah dan secara langsung mendukung peningkatan kesehatan dan kesejahteraan generasi muda di masa depan.
Subtitle for This Block
-
DESI SHOLEHA: Ketika Kearifan Lokal Menjadi Kekuatan Baru Pelayanan Kesehatan Desa
Lumajang, Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan terbesar pelayanan kesehatan saat ini bukan lagi sekadar menyediakan tenaga kesehatan, obat, atau fasilitas pelayanan. Tantangan sesungguhnya adalah memenangkan kepercayaan masyarakat. Ketika informasi bohong (hoaks) tentang kesehatan menyebar lebih cepat dibandingkan edukasi resmi, maka pelayanan kesehatan membutuhkan cara baru yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Fenomena tersebut nyata dirasakan di Desa Selok Anyar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. Selama bertahun-tahun, berbagai program promosi kesehatan telah dilaksanakan melalui penyuluhan, pembagian leaflet, pemasangan banner, hingga kunjungan rumah. Namun hasilnya belum sepenuhnya mampu mengubah perilaku masyarakat. Data menunjukkan bahwa cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) terus mengalami penurunan, dari 92,53 persen pada tahun 2020 menjadi 72,6 persen pada tahun 2021 dan kembali turun menjadi 62,5 persen pada tahun 2022. Pada saat yang sama, capaian Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) rumah tangga hanya mencapai 39,05 persen atau masih berada di bawah target minimal 45 persen. Desa juga masih memiliki 36 balita stunting yang membutuhkan perhatian serius. Bagi tenaga kesehatan, angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat anak-anak yang belum memperoleh perlindungan imunisasi, keluarga yang masih hidup dalam lingkungan kurang sehat, serta orang tua yang belum sepenuhnya yakin terhadap pentingnya upaya pencegahan penyakit. Hoaks Lebih Cepat Menyebar daripada Edukasi Permasalahan tersebut semakin kompleks ketika masyarakat mulai dibanjiri informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Berbagai isu mengenai imunisasi yang dianggap menyebabkan penyakit, mengandung bahan berbahaya, hingga dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama beredar luas melalui media sosial maupun percakapan sehari-hari. Survei nasional menunjukkan bahwa sekitar 30 hingga hampir 60 persen masyarakat Indonesia pernah terpapar hoaks, sementara hanya sebagian kecil yang mampu membedakan informasi benar dan salah. Bidang kesehatan menjadi salah satu topik hoaks yang paling banyak dipercaya masyarakat karena berkaitan langsung dengan kehidupan keluarga. Kondisi tersebut juga terjadi di Desa Selok Anyar. Sebagian masyarakat lebih mempercayai cerita yang mereka dengar dari tetangga atau grup WhatsApp dibandingkan penjelasan tenaga kesehatan. Puskesmas Pasirian kemudian menyadari bahwa persoalan yang dihadapi bukan hanya rendahnya pengetahuan masyarakat, tetapi juga bagaimana pesan kesehatan disampaikan. Ketika Budaya Menjadi Solusi Tim Promosi Kesehatan mulai melakukan Survei Mawas Diri (SMD) bersama masyarakat dan melanjutkannya melalui Musyawarah Masyarakat Desa (MMD). Hasilnya menunjukkan sebuah fakta menarik. Mayoritas masyarakat Desa Selok Anyar merupakan masyarakat religius yang memiliki budaya lisan sangat kuat. Mereka lebih mudah menerima pesan yang disampaikan melalui percakapan, cerita, maupun lagu dibandingkan media cetak. Di sisi lain, hampir setiap kegiatan masyarakat selalu diawali dengan lantunan sholawat. Pengajian, arisan, peringatan hari besar Islam, hingga hajatan keluarga menjadi ruang berkumpul masyarakat yang sarat dengan nuansa religius. Dari sinilah muncul sebuah gagasan sederhana namun berbeda. Mengapa tidak menyampaikan pesan kesehatan melalui sholawat? Pertanyaan tersebut kemudian melahirkan inovasi DESI SHOLEHA (Desa Siaga dengan Sholawat Kesehatan), sebuah pendekatan komunikasi kesehatan berbasis budaya lokal yang mengintegrasikan nilai religius dengan edukasi kesehatan masyarakat. Mengubah Syair Menjadi Media Edukasi Dalam DESI SHOLEHA, pesan kesehatan tidak lagi disampaikan melalui ceramah panjang yang cenderung satu arah. Informasi mengenai imunisasi, pencegahan stunting, PHBS, gizi keluarga, kesehatan ibu dan anak, hingga pencegahan penyakit menular dikemas menjadi syair sholawat yang sederhana, mudah diingat, dan dinyanyikan bersama. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat tidak merasa sedang mengikuti penyuluhan kesehatan. Mereka tetap mengikuti kegiatan keagamaan sebagaimana biasanya, tetapi secara tidak langsung memperoleh pengetahuan baru mengenai pentingnya menjaga kesehatan keluarga. Pendekatan ini terbukti mampu menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan, partisipatif, dan tidak menggurui. Dari Balai Desa hingga Media Sosial Implementasi DESI SHOLEHA tidak berhenti pada kegiatan tatap muka. Sholawat kesehatan dilantunkan dalam berbagai kegiatan Posyandu, pengajian, pertemuan kader, kelas ibu hamil, arisan PKK, hingga kegiatan Desa Siaga. Untuk memperluas jangkauan, Puskesmas Pasirian juga memproduksi berbagai video edukasi kesehatan dalam Bahasa Madura, seperti Ayo Imunisasi, Anak Sehat, Kutunggu di Posyandu, Cegah Sakit, dan Hidup Sehat. Seluruh materi dipublikasikan melalui YouTube, Facebook, serta dibagikan melalui Grup WhatsApp Desa Siaga sehingga dapat diakses masyarakat kapan saja tanpa dibatasi ruang dan waktu. Perpaduan komunikasi tatap muka dan media digital menjadikan penyebaran pesan kesehatan berlangsung lebih luas sekaligus lebih konsisten. Kader Menjadi Agen Perubahan Keberhasilan inovasi ini tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan. Puluhan kader Posyandu, pengurus Desa Siaga, TP-PKK, tokoh agama, pemerintah desa, hingga masyarakat dilibatkan secara aktif dalam setiap tahapan pelaksanaan. Mereka mendapatkan pelatihan komunikasi kesehatan, latihan sholawat kesehatan, pembinaan Desa Siaga, hingga peningkatan kapasitas mengenai imunisasi, gizi, PHBS, pencegahan stunting, serta pelayanan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP). Dengan demikian, kader tidak hanya menjadi pelaksana program, tetapi juga menjadi komunikator kesehatan yang dipercaya masyarakat. Dampak yang Mulai Terlihat Perubahan pendekatan komunikasi kesehatan mulai menunjukkan hasil. Setelah DESI SHOLEHA diterapkan, cakupan Imunisasi Dasar Lengkap meningkat menjadi 74,66 persen pada tahun 2023, kemudian 76,3 persen pada tahun 2024, dan kembali meningkat menjadi 76,8 persen pada tahun 2025. Jumlah balita stunting juga terus menurun dari 36 balita pada tahun 2022 menjadi 34 balita pada tahun 2023, 25 balita pada tahun 2024, dan 19 balita pada tahun 2025. Sementara itu, capaian PHBS rumah tangga meningkat dari 39,05 persen menjadi 45 persen pada tahun 2023 dan 56,33 persen pada tahun 2024. Di lapangan, kader Posyandu juga melaporkan meningkatnya kehadiran masyarakat pada kegiatan Posyandu, semakin aktifnya diskusi kesehatan di lingkungan warga, serta meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan. Inovasi Tidak Selalu Berasal dari Teknologi DESI SHOLEHA membuktikan bahwa inovasi pelayanan publik tidak selalu identik dengan aplikasi digital atau teknologi canggih. Inovasi dapat lahir dari kemampuan membaca karakter masyarakat, menghargai budaya lokal, dan menghadirkan solusi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka. Sholawat yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat ternyata mampu menjadi media komunikasi kesehatan yang efektif, murah, mudah diterapkan, sekaligus berkelanjutan. Lebih dari sekadar meningkatkan capaian indikator kesehatan, DESI SHOLEHA telah membangun kembali hubungan kepercayaan antara masyarakat dan tenaga kesehatan. Inilah esensi pelayanan publik yang sesungguhnya: menghadirkan solusi yang tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga diterima, dimiliki, dan dijalankan bersama oleh masyarakat. Di tengah derasnya arus hoaks dan disinformasi kesehatan, Desa Selok Anyar menunjukkan bahwa kearifan lokal masih memiliki daya yang sangat kuat. Ketika pesan kesehatan disampaikan dengan bahasa yang dipahami masyarakat, melalui budaya yang mereka cintai, perubahan bukan lagi sekadar harapan. DESI SHOLEHA membuktikan bahwa satu lantunan sholawat dapat menjadi awal lahirnya masyarakat yang lebih sehat, lebih percaya, dan lebih berdaya. Penulis:Moh. Riyan Basofi, S.KMPetugas Promosi Kesehatan UPTD Puskesmas Pasirian UPTD Puskesmas PasirianJl. Raya Pasirian No. 225A, Kedung Pangkis, Pasirian,Kec. Pasirian, Kabupaten Lumajang,Jawa Timur 67372 Author Profile Moh. Riyan Basofi Promkes Puskesmas Pasirian Lumajang Latest entries Author Archives PuskesmasJuli 9, 2026DESI SHOLEHA: Ketika Kearifan Lokal Menjadi Kekuatan Baru Pelayanan Kesehatan Desa PuskesmasJuli 7, 2026SIMPEL E-UKS, TRANSFORMASI DIGITAL UKS DARI PUSKESMAS PASIRIAN Berita KesehatanJuli 21, 2019SBH Goes to School, Puskesmas Pasirian Jaring Anggota Baru SBH Dibaca: 148
-
Eka Hospital Jabodetabek Buka Lowongan Kerja Besar-Besaran Juli 2026, Simak Posisi dan Cara Daftarnya
Bagi Anda yang sedang mencari peluang karier di dunia rumah sakit, kabar baik datang dari Eka Hospital Jabodetabek. Melalui program Mass Hiring Juli 2026, Eka Hospital membuka kesempatan bagi tenaga kesehatan maupun tenaga nonmedis untuk bergabung dan berkembang bersama salah satu jaringan rumah sakit swasta terkemuka di Indonesia. Rekrutmen ini mencakup berbagai jenjang posisi, mulai dari Division Head, Department Head, Unit Head, hingga Staff, dengan penempatan di wilayah Jabodetabek. Posisi yang Dibuka Bidang Medis Eka Hospital membuka berbagai posisi untuk tenaga kesehatan, di antaranya: Selain itu tersedia pula kesempatan untuk level Unit Head, Department Head, hingga Division Head di berbagai unit pelayanan medis. Bidang Non Medis Bagi pelamar dengan latar belakang nonkesehatan, tersedia berbagai posisi seperti: Persyaratan Umum Meskipun persyaratan lengkap mengikuti masing-masing posisi, pelamar diharapkan memiliki: Cara Melamar Pelamar dapat melakukan pendaftaran dengan: Batas akhir pendaftaran: 31 Juli 2026. Waspada Penipuan Rekrutmen Eka Hospital menegaskan bahwa seluruh proses rekrutmen tidak dipungut biaya dalam bentuk apa pun. Pelamar diimbau berhati-hati terhadap pihak yang mengatasnamakan Eka Hospital dan meminta sejumlah uang selama proses seleksi. Kesempatan Berkarier di Industri Kesehatan Program Mass Hiring ini menjadi peluang menarik bagi lulusan baru maupun tenaga profesional yang ingin mengembangkan karier di lingkungan rumah sakit modern dengan standar pelayanan yang tinggi. Dengan banyaknya posisi yang tersedia, pelamar dari berbagai latar belakang memiliki kesempatan untuk bergabung dan berkontribusi dalam memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada masyarakat. Apabila Anda memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan, segera lakukan pendaftaran sebelum 31 Juli 2026 dan manfaatkan kesempatan emas untuk menjadi bagian dari keluarga besar Eka Hospital Jabodetabek. Author Profile Rafie Nur Sidiq Latest entries Author Archives KarierJuli 9, 2026Eka Hospital Jabodetabek Buka Lowongan Kerja Besar-Besaran Juli 2026, Simak Posisi dan Cara Daftarnya Edukasi KesehatanJuli 8, 2026Gaya Hidup Digital, Screen Time, dan Hipertensi: Ancaman Baru bagi Anak Muda Mahasiswa KesmasJuli 8, 2026Checklist Skill Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Sebelum Wisuda: Sudah Siap Masuk Dunia Kerja? Edukasi KesehatanJuli 7, 2026Hasil Tensi 130/80 Apakah Sudah Termasuk Hipertensi? Dibaca: 148
-
Gaya Hidup Digital, Screen Time, dan Hipertensi: Ancaman Baru bagi Anak Muda
Pernahkah kamu menyadari bahwa sehari bisa menghabiskan lebih dari 8 jam menatap layar? Mulai dari kuliah online, mengerjakan tugas, bekerja, scrolling media sosial, hingga menonton serial favorit sebelum tidur. Bagi generasi muda, kehidupan digital memang tidak bisa dipisahkan dari aktivitas sehari-hari. Namun, di balik kemudahan tersebut muncul ancaman kesehatan yang sering tidak disadari, yaitu peningkatan risiko hipertensi atau tekanan darah tinggi. Dulu hipertensi identik dengan orang tua. Kini, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa anak muda dan mahasiswa juga mulai mengalami tekanan darah tinggi, salah satunya dipengaruhi oleh gaya hidup digital yang menyebabkan aktivitas fisik semakin berkurang. Lalu, bagaimana hubungan screen time dengan hipertensi? Mari kita bahas. Apa Itu Screen Time? Screen time adalah jumlah waktu yang dihabiskan seseorang untuk menggunakan perangkat elektronik yang memiliki layar, seperti: Pada mahasiswa, screen time sering kali mencapai: Totalnya bisa mencapai 10–14 jam per hari. Mengapa Screen Time Berlebihan Berbahaya? Masalah utamanya bukan hanya menatap layar. Yang lebih berbahaya adalah kebiasaan yang menyertainya, seperti: 1. Duduk Terlalu Lama Saat menggunakan gadget, tubuh cenderung diam dalam waktu lama. Akibatnya: Kondisi ini meningkatkan risiko hipertensi. 2. Kurang Aktivitas Fisik WHO merekomendasikan minimal: Namun, banyak mahasiswa yang hanya berpindah dari: Kasur → Kursi → Laptop → Smartphone. Tubuh menjadi semakin tidak aktif. 3. Begadang Paparan cahaya biru dari layar menghambat produksi hormon melatonin. Akibatnya: Kurang tidur diketahui berkaitan dengan peningkatan tekanan darah. 4. Stres Digital Notifikasi yang terus muncul, deadline tugas, hingga informasi tanpa henti dapat meningkatkan stres. Saat stres: Jika berlangsung lama, tekanan darah ikut meningkat. 5. Makan Tanpa Sadar (Mindless Eating) Banyak orang makan sambil: Akibatnya: Kebiasaan ini meningkatkan risiko obesitas dan hipertensi. Bagaimana Screen Time Bisa Menyebabkan Hipertensi? Hubungannya terjadi melalui beberapa mekanisme sekaligus. Screen Time Tinggi ↓ Duduk terlalu lama ↓ Aktivitas fisik menurun ↓ Berat badan naik ↓ Resistensi insulin meningkat ↓ Pembuluh darah kurang elastis ↓ Tekanan darah meningkat Selain itu, stres dan kurang tidur juga mempercepat proses tersebut. Tanda-Tanda Hipertensi pada Anak Muda Sayangnya, hipertensi sering tidak menimbulkan gejala. Namun beberapa orang dapat mengalami: Banyak penderita baru mengetahui dirinya hipertensi setelah melakukan pemeriksaan tekanan darah. Karena itu hipertensi sering disebut sebagai silent killer. Siapa yang Paling Berisiko? Risiko meningkat apabila memiliki kombinasi berikut: Semakin banyak faktor risiko yang dimiliki, semakin besar peluang mengalami hipertensi sejak usia muda. Cara Mengurangi Risiko Hipertensi Akibat Gaya Hidup Digital Kabar baiknya, risiko tersebut dapat dikurangi dengan perubahan kebiasaan sederhana. 1. Terapkan Aturan 30 Menit Setiap 30 menit duduk: 2. Kurangi Screen Time yang Tidak Perlu Coba cek fitur Digital Wellbeing atau Screen Time pada smartphone. Batasi penggunaan media sosial maksimal: 3. Rutin Berolahraga Tidak harus pergi ke gym. Pilihan sederhana: Minimal 30 menit sehari. 4. Tidur yang Cukup Usahakan tidur: Hindari penggunaan gadget sekitar 30–60 menit sebelum tidur agar kualitas istirahat lebih baik. 5. Perbanyak Minum Air Putih Saat sibuk di depan laptop, banyak orang lupa minum. Dehidrasi dapat memengaruhi fungsi tubuh dan membuat seseorang lebih mudah merasa lelah. 6. Pilih Camilan yang Lebih Sehat Ganti camilan tinggi garam dengan: 7. Periksa Tekanan Darah Secara Berkala Meski masih muda, lakukan pemeriksaan tekanan darah minimal satu kali setiap tahun. Apabila memiliki faktor risiko, pemeriksaan dapat dilakukan lebih sering sesuai anjuran tenaga kesehatan. Mahasiswa Perlu Mulai Peduli Banyak mahasiswa berpikir bahwa hipertensi hanya menyerang usia lanjut. Padahal, pola hidup selama masa kuliah akan menentukan kondisi kesehatan pada masa depan. Jika sejak usia 20-an sudah mengalami tekanan darah tinggi, risiko penyakit jantung, stroke, dan penyakit ginjal di usia produktif juga akan meningkat. Karena itu, menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan aktivitas fisik merupakan investasi kesehatan jangka panjang. Kesimpulan Teknologi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, tetapi penggunaannya tetap perlu dikendalikan. Screen time yang terlalu tinggi sering kali disertai dengan kurang bergerak, begadang, stres, dan pola makan yang kurang sehat. Kombinasi faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan risiko hipertensi, bahkan pada anak muda. Mulailah menerapkan kebiasaan sederhana seperti mengurangi waktu duduk, rutin berolahraga, tidur yang cukup, serta memeriksa tekanan darah secara berkala. Dengan begitu, kamu tetap bisa produktif di era digital tanpa mengorbankan kesehatan. Author Profile Rafie Nur Sidiq Latest entries Author Archives KarierJuli 9, 2026Eka Hospital Jabodetabek Buka Lowongan Kerja Besar-Besaran Juli 2026, Simak Posisi dan Cara Daftarnya Edukasi KesehatanJuli 8, 2026Gaya Hidup Digital, Screen Time, dan Hipertensi: Ancaman Baru bagi Anak Muda Mahasiswa KesmasJuli 8, 2026Checklist Skill Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Sebelum Wisuda: Sudah Siap Masuk Dunia Kerja? Edukasi KesehatanJuli 7, 2026Hasil Tensi 130/80 Apakah Sudah Termasuk Hipertensi? Dibaca: 148
-
Checklist Skill Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Sebelum Wisuda: Sudah Siap Masuk Dunia Kerja?
Wisuda memang menjadi momen yang membanggakan. Namun, setelah toga dilepas, tantangan sebenarnya baru dimulai. Persaingan di dunia kerja semakin ketat, sementara perusahaan, rumah sakit, puskesmas, NGO, hingga instansi pemerintah kini tidak hanya melihat nilai akademik. Mereka mencari lulusan yang memiliki kombinasi antara hard skill, soft skill, dan kemampuan digital. Sayangnya, masih banyak mahasiswa Kesehatan Masyarakat yang baru menyadari pentingnya berbagai keterampilan tersebut setelah lulus. Kalau kamu sedang berada di semester akhir atau akan segera wisuda, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengecek apakah kamu sudah memiliki bekal yang cukup. Berikut checklist skill yang sebaiknya dimiliki mahasiswa Kesehatan Masyarakat sebelum memasuki dunia profesional. Mengapa Skill Lebih Penting daripada Sekadar IPK? IPK memang menjadi salah satu indikator kemampuan akademik. Namun dalam proses rekrutmen, recruiter juga ingin mengetahui apakah kandidat mampu: Artinya, lulusan yang memiliki skill lebih lengkap biasanya memiliki peluang kerja yang lebih besar. Checklist Skill Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Sebelum Wisuda ✅ 1. Public Speaking Lulusan Kesmas hampir selalu berhadapan dengan masyarakat. Mulai dari penyuluhan kesehatan, presentasi program, rapat lintas sektor, hingga sosialisasi kebijakan kesehatan. Checklist: Tips: Ikuti organisasi, seminar, atau lomba presentasi. ✅ 2. Kemampuan Menulis Skill menulis sangat dibutuhkan untuk: Semakin baik kemampuan menulis, semakin mudah kamu menyampaikan informasi kepada masyarakat. ✅ 3. Pengolahan Data Data merupakan dasar pengambilan keputusan di bidang kesehatan masyarakat. Minimal kamu memahami: Nilai tambah apabila menguasai: ✅ 4. Desain Grafis Dasar Promosi kesehatan saat ini banyak dilakukan melalui media digital. Minimal kamu bisa membuat: Tools yang bisa dipelajari: ✅ 5. Content Creation Instansi kesehatan kini membutuhkan tenaga yang mampu membuat konten edukatif. Skill yang bermanfaat: ✅ 6. Digital Marketing Dasar Promosi kesehatan tidak lagi hanya melalui penyuluhan tatap muka. Kini banyak kampanye kesehatan dilakukan melalui media digital. Pelajari: Skill ini menjadi nilai tambah yang sangat dicari. ✅ 7. Analisis Masalah Kesehatan Mahasiswa Kesmas harus mampu: Kemampuan ini biasanya diuji saat wawancara kerja. ✅ 8. Project Management Saat bekerja nanti kamu akan terlibat dalam berbagai program kesehatan. Minimal memahami: Gunakan aplikasi seperti: ✅ 9. Kerja Tim Program kesehatan melibatkan banyak profesi. Misalnya: Karena itu kemampuan bekerja sama menjadi sangat penting. ✅ 10. Problem Solving Masalah kesehatan masyarakat sering kali kompleks. Contohnya: Lulusan Kesmas harus mampu berpikir kritis dan menawarkan solusi berbasis data. ✅ 11. Penggunaan Artificial Intelligence (AI) Tahun 2026 menjadi era di mana AI mulai digunakan hampir di semua bidang pekerjaan. Mahasiswa Kesmas sebaiknya mulai belajar menggunakan AI secara produktif. Contohnya untuk: AI bukan untuk menggantikan kemampuanmu, tetapi untuk meningkatkan produktivitas. ✅ 12. Bahasa Inggris Banyak referensi kesehatan berasal dari jurnal internasional. Minimal kamu mampu: Kemampuan bahasa Inggris juga membuka peluang kerja yang lebih luas. ✅ 13. Networking Relasi sering kali membuka peluang yang tidak ditemukan melalui portal lowongan kerja. Mulailah membangun jaringan melalui: Semakin luas jaringanmu, semakin besar peluang karier yang bisa diraih. ✅ 14. Pengalaman Organisasi atau Volunteer Recruiter biasanya lebih tertarik pada kandidat yang memiliki pengalaman nyata. Misalnya: Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kamu mampu bekerja di lapangan. ✅ 15. Personal Branding Di era digital, personal branding menjadi salah satu investasi karier. Mulailah membangun citra profesional melalui: Bagikan karya, pengalaman, atau tulisan kesehatan agar recruiter lebih mudah mengenal kemampuanmu. Bonus Checklist Sebelum wisuda, pastikan kamu sudah memiliki: ☐ CV ATS Friendly ☐ Portofolio ☐ Akun LinkedIn aktif ☐ Sertifikat webinar/pelatihan ☐ Sertifikat magang ☐ Sertifikat organisasi ☐ Contoh laporan ☐ Contoh artikel ☐ Contoh desain edukasi ☐ Contoh presentasi ☐ Email profesional ☐ Foto formal terbaru ☐ Skill Canva ☐ Skill Excel ☐ Skill AI ☐ Skill komunikasi Jangan Menunggu Lulus untuk Belajar Skill Baru Kesalahan yang sering dilakukan mahasiswa adalah menunda belajar keterampilan hingga setelah wisuda. Padahal, proses membangun kompetensi membutuhkan waktu dan latihan yang konsisten. Mulailah dari satu keterampilan yang paling relevan dengan tujuan kariermu. Misalnya, jika ingin bekerja di bidang promosi kesehatan, fokuslah pada public speaking, content creation, dan desain grafis. Jika tertarik pada epidemiologi atau penelitian, perdalam kemampuan analisis data, statistik, dan penulisan ilmiah. Sedikit demi sedikit, kemampuan tersebut akan menjadi bekal yang membedakanmu dari pelamar lain. Penutup Menjadi lulusan Kesehatan Masyarakat yang siap kerja bukan hanya soal memiliki IPK tinggi atau menyelesaikan skripsi tepat waktu. Dunia kerja membutuhkan individu yang mampu berpikir kritis, berkomunikasi efektif, menguasai teknologi, serta terus belajar mengikuti perkembangan zaman. Gunakan checklist di atas sebagai bahan evaluasi diri. Jika masih ada beberapa kemampuan yang belum dikuasai, jangan khawatir. Masih ada waktu untuk belajar dan berkembang sebelum benar-benar memasuki dunia profesional. Ingat, investasi terbaik sebelum wisuda bukan hanya mengejar nilai, tetapi juga membangun keterampilan yang akan menjadi modal utama dalam perjalanan kariermu. Author Profile Rafie Nur Sidiq Latest entries Author Archives KarierJuli 9, 2026Eka Hospital Jabodetabek Buka Lowongan Kerja Besar-Besaran Juli 2026, Simak Posisi dan Cara Daftarnya Edukasi KesehatanJuli 8, 2026Gaya Hidup Digital, Screen Time, dan Hipertensi: Ancaman Baru bagi Anak Muda Mahasiswa KesmasJuli 8, 2026Checklist Skill Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Sebelum Wisuda: Sudah Siap Masuk Dunia Kerja? Edukasi KesehatanJuli 7, 2026Hasil Tensi 130/80 Apakah Sudah Termasuk Hipertensi? Dibaca: 148
-
-
Hasil Tensi 130/80 Apakah Sudah Termasuk Hipertensi?
Pernahkah kamu mengukur tekanan darah lalu mendapatkan hasil 130/80 mmHg? Banyak orang langsung bertanya, “Apakah saya sudah terkena hipertensi?” Pertanyaan ini cukup sering muncul, terutama di kalangan mahasiswa, pekerja muda, hingga orang yang mulai rutin melakukan medical check-up. Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Hal ini karena terdapat beberapa pedoman internasional yang memiliki batas klasifikasi tekanan darah yang berbeda. Lalu sebenarnya, hasil tensi 130/80 apakah sudah termasuk hipertensi? Yuk, simak penjelasan lengkap berikut. Memahami Arti Angka 130/80 Saat mengukur tekanan darah, akan muncul dua angka. Satuan yang digunakan adalah mmHg (millimeter of mercury). Kedua angka ini sama-sama penting karena dapat menggambarkan kondisi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Apakah 130/80 Sudah Termasuk Hipertensi? Jawabannya tergantung pedoman yang digunakan. Menurut Pedoman ACC/AHA (Amerika) Berdasarkan pedoman American College of Cardiology (ACC) dan American Heart Association (AHA) tahun 2017, tekanan darah 130/80 mmHg sudah masuk kategori Hipertensi Stadium 1. Klasifikasinya: Kategori Tekanan Darah Normal <120 dan <80 Elevated 120–129 dan <80 Hipertensi Stadium 1 130–139 atau 80–89 Hipertensi Stadium 2 ≥140 atau ≥90 Menurut pedoman ini, seseorang dengan tekanan darah 130/80 perlu mulai melakukan perubahan gaya hidup dan, pada kondisi tertentu, mungkin memerlukan pengobatan jika memiliki risiko penyakit jantung yang tinggi. Menurut Pedoman WHO dan Banyak Negara Termasuk Indonesia Di banyak fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk yang mengacu pada rekomendasi WHO dan berbagai pedoman nasional, hipertensi umumnya ditegakkan apabila tekanan darah mencapai: ≥140/90 mmHg pada beberapa kali pemeriksaan. Artinya: 130/80 belum tentu didiagnosis sebagai hipertensi, tetapi sudah dianggap berada di atas tekanan darah optimal dan perlu dipantau secara berkala. Jadi Mana yang Harus Diikuti? Tidak perlu bingung. Yang terpenting adalah memahami bahwa: Daripada menunggu tekanan darah mencapai 140/90, jauh lebih baik melakukan pencegahan sekarang. Mengapa Tekanan Darah 130/80 Tidak Boleh Dianggap Sepele? Banyak orang merasa sehat walaupun tekanan darah sedikit meningkat. Padahal, tekanan darah tinggi sering disebut sebagai silent killer karena jarang menimbulkan gejala. Jika dibiarkan selama bertahun-tahun, kondisi ini dapat meningkatkan risiko: Semakin lama tekanan darah berada di atas normal, semakin besar risiko kerusakan organ. Penyebab Tekanan Darah Menjadi 130/80 Beberapa faktor dapat menyebabkan hasil pengukuran mencapai angka tersebut. 1. Konsumsi Garam Berlebihan Asupan natrium yang tinggi membuat tubuh menahan lebih banyak cairan sehingga tekanan darah meningkat. 2. Kurang Aktivitas Fisik Jarang berolahraga membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah. 3. Berat Badan Berlebih Semakin tinggi indeks massa tubuh, semakin besar risiko tekanan darah meningkat. 4. Kurang Tidur Tidur kurang dari 7 jam setiap malam dapat meningkatkan aktivitas hormon stres yang memengaruhi tekanan darah. 5. Stres Berkepanjangan Tugas kuliah, pekerjaan, atau tekanan emosional dapat menyebabkan tekanan darah naik sementara maupun menetap. 6. Merokok dan Alkohol Nikotin menyebabkan penyempitan pembuluh darah sehingga tekanan darah meningkat. Bagaimana Cara Memastikan Hasilnya Akurat? Satu kali pemeriksaan belum cukup untuk mendiagnosis hipertensi. Lakukan pengukuran dengan cara berikut: Dokter biasanya memerlukan beberapa hasil pemeriksaan sebelum memastikan diagnosis hipertensi. Apa yang Harus Dilakukan Jika Tensi 130/80? Berikut beberapa langkah yang dapat membantu menurunkan tekanan darah. Kurangi Garam Batasi konsumsi garam hingga kurang dari 5 gram per hari. Perbanyak Buah dan Sayur Pilih makanan tinggi kalium seperti: Rutin Berolahraga Lakukan aktivitas fisik minimal: Jaga Berat Badan Penurunan berat badan beberapa kilogram saja dapat membantu menurunkan tekanan darah. Kelola Stres Beberapa cara sederhana: Hindari Rokok Berhenti merokok memberikan manfaat besar bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Apakah Mahasiswa Juga Bisa Mengalami Tekanan Darah 130/80? Tentu saja. Saat ini semakin banyak anak muda mengalami peningkatan tekanan darah akibat: Karena itu, pemeriksaan tekanan darah sebaiknya mulai dilakukan sejak usia muda. Kapan Harus ke Dokter? Segera konsultasikan ke dokter apabila: Kesimpulan Hasil tensi 130/80 belum selalu berarti kamu menderita hipertensi, terutama jika mengacu pada pedoman yang masih menggunakan batas 140/90 mmHg sebagai diagnosis. Namun, menurut pedoman ACC/AHA, angka tersebut sudah termasuk Hipertensi Stadium 1. Apa pun pedoman yang digunakan, tekanan darah 130/80 menunjukkan bahwa kamu perlu lebih memperhatikan gaya hidup. Mulailah mengurangi konsumsi garam, rutin berolahraga, menjaga berat badan, tidur cukup, serta memantau tekanan darah secara berkala agar tidak berkembang menjadi hipertensi yang lebih serius. Author Profile Rafie Nur Sidiq Latest entries Author Archives KarierJuli 9, 2026Eka Hospital Jabodetabek Buka Lowongan Kerja Besar-Besaran Juli 2026, Simak Posisi dan Cara Daftarnya Edukasi KesehatanJuli 8, 2026Gaya Hidup Digital, Screen Time, dan Hipertensi: Ancaman Baru bagi Anak Muda Mahasiswa KesmasJuli 8, 2026Checklist Skill Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Sebelum Wisuda: Sudah Siap Masuk Dunia Kerja? Edukasi KesehatanJuli 7, 2026Hasil Tensi 130/80 Apakah Sudah Termasuk Hipertensi? Dibaca: 148
Title for This Block
Text for This Bloc
Author Profile
- Having internship with Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, specifically Puskesmas Sariwangi in collaboration with Kesmas-id
Latest entries
PuskesmasDesember 15, 2024Puskesmas Sariwangi Laksanakan Pembinaan Kesehatan Bagi Peserta Haji
PuskesmasDesember 15, 2024Menjaga Kesehatan, Kunci Kelancaran Ibadah Haji
PuskesmasDesember 14, 2024Optimalkan Pencegahan Stunting, Puskesmas Sariwangi Adakan Konseling Gizi
PuskesmasDesember 14, 2024Pentingnya Upaya Pencegahan Stunting pada Balita untuk Masa Depan yang Lebih Baik


