Puskesmas Pasundan kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan melalui kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan pada Rabu, 18 Juni 2025. Kegiatan ini berlangsung di ruang tunggu Puskesmas Pasundan dan diikuti oleh para pengunjung yang hadir pada hari tersebut. Materi penyuluhan difokuskan pada upaya pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DBD), dengan menekankan pentingnya penerapan gerakan 3M sebagai langkah pencegahan yang efektif.

Pelaksanaan Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan penyuluhan ini berlangsung secara singkat namun padat selama 10 menit. Waktu yang terbatas dimanfaatkan dengan optimal oleh narasumber yaitu dr. Reska Suhemi Hastanti yang merupakan dokter umum di Puskesmas Pasundan. Beliau memberikan penjelasan mengenai cara mengenali gejala awal demam berdarah serta langkah-langkah pencegahannya yang dapat dilakukan oleh masyarakat.
Penyuluhan dilakukan di ruang tunggu sebagai bentuk edukasi langsung kepada pengunjung yang datang untuk mendapatkan layanan kesehatan. Dengan pendekatan ini, informasi dapat diterima oleh masyarakat dari berbagai latar belakang secara mudah dan langsung tanpa harus mengikuti sesi formal yang memerlukan waktu khusus.
Pentingnya Mengenali DBD dan Penerapan 3M
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, terutama saat musim hujan, ketika populasi nyamuk meningkat. Hal ini sejalan dengan laporan dari Kementerian Kesehatan yang mencatat bahwa hingga bulan Mei 2025, jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia telah mencapai lebih dari 56.000 kasus dengan 250 kematian.
Menanggapi kondisi tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto menyampaikan bahwa strategi nasional pengendalian dengue harus diwujudkan dalam bentuk aksi nyata. Langkah-langkah tersebut meliputi pengendalian vektor nyamuk, deteksi dini kasus, pengobatan yang tepat, serta pemanfaatan inovasi teknologi seperti bakteri Wolbachia dan penggunaan insektisida yang ramah lingkungan. Selain itu, gerakan 3M Plus perlu dijadikan kebijakan bersama dan digalakkan secara masif oleh seluruh elemen masyarakat.

Merespons pentingnya upaya pencegahan tersebut, dalam penyuluhan yang digelar di Puskesmas Pasundan, dr. Reska Suhemi Hastanti menyampaikan bahwa masyarakat perlu mengenali gejala umum DBD sejak dini. Gejala yang sering muncul antara lain demam tinggi mendadak, nyeri pada otot dan sendi, mual, serta timbulnya ruam pada kulit. Beliau menekankan bahwa penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah terjadinya komplikasi serius yang dapat membahayakan jiwa.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat dianjurkan untuk menerapkan gerakan 3M, yaitu:
1. Menguras tempat penampungan air seperti bak mandi, ember, atau toren secara rutin.
2. Menutup rapat tempat penampungan air agar tidak menjadi sarang nyamuk.
3. Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti botol, kaleng, atau ban bekas.
Gerakan 3M dinilai sebagai cara sederhana, murah, dan efektif untuk menekan angka penyebaran DBD jika dilakukan secara konsisten oleh seluruh lapisan masyarakat.
Harapan dari Kegiatan Penyuluhan
Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat dapat lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan tempat tinggal dan lebih tanggap terhadap gejala DBD. Penyuluhan ini juga menjadi sarana untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat agar dapat mengambil peran aktif dalam pencegahan penyakit menular.

Selain itu, upaya ini menjadi bagian dari strategi promosi kesehatan yang berorientasi pada pencegahan bukan hanya pengobatan. Puskesmas Pasundan akan terus mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kesehatan lingkungan sebagai bagian dari upaya menciptakan masyarakat yang sehat, mandiri, dan sadar akan pentingnya pola hidup bersih dan sehat.
UPT Puskesmas Pasundan
Alamat : Jl. Pasundan No.104, Kota Kulon, Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat 44112



