PURWOKERTO SELATAN – Menjaga kesehatan gigi dan mulut sering kali dianggap hal yang sederhana. Namun bagi lansia, kesehatan gigi dan mulut memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kualitas hidup, kemampuan makan, status gizi, hingga kesehatan secara keseluruhan.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat bertajuk SAPA GIGI LANSIA (Sahabat Pendamping Perawatan Gigi Lansia) pada tanggal 3 Juni 2026.
Kegiatan ini diselenggarakan di Bina Keluarga Lansia (BKL) Saroja, Kelurahan Teluk, Kecamatan Purwokerto Selatan, sebagai bagian dari implementasi pembelajaran lapangan yang menghubungkan teori kesehatan masyarakat dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Belajar dari Masyarakat, Mengabdi untuk Lansia
Sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat, kami tidak hanya belajar di ruang kelas. Salah satu tugas penting yang kami jalankan adalah turun langsung ke masyarakat untuk mengidentifikasi masalah kesehatan, merancang intervensi, dan melaksanakan program yang dapat memberikan manfaat nyata.
Melalui kegiatan SAPA GIGI LANSIA, kami berkesempatan bertemu langsung dengan para lansia, kader Posyandu Lansia, serta pendamping lansia yang selama ini menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kelompok usia lanjut di lingkungan perkotaan.
Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang lansia dan 6 orang kader lansia yang aktif berpartisipasi selama rangkaian acara berlangsung.
Mengapa Kesehatan Gigi Lansia Penting?
Saat memasuki usia lanjut, berbagai perubahan fisik dan biologis mulai terjadi. Tidak sedikit lansia yang mengalami kehilangan gigi, penggunaan gigi tiruan, mulut kering, hingga gangguan kesehatan gigi dan mulut lainnya.
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganggap kondisi tersebut sebagai proses penuaan yang normal sehingga sering kali tidak mendapatkan perhatian yang cukup.
Padahal, kesehatan gigi dan mulut yang buruk dapat berdampak pada kemampuan mengunyah makanan, menurunkan nafsu makan, mengganggu komunikasi, bahkan memengaruhi kondisi kesehatan secara umum.
Karena itulah, edukasi mengenai kesehatan gigi dan mulut perlu terus ditingkatkan, tidak hanya kepada lansia tetapi juga kepada keluarga dan kader kesehatan yang berperan sebagai pendamping sehari-hari.
Rangkaian Kegiatan SAPA GIGI LANSIA
Kegiatan dimulai dengan pembukaan dan sambutan dari pengurus BKL Saroja yang menyambut baik pelaksanaan program ini.
Selanjutnya peserta mendapatkan edukasi mengenai kesehatan gigi dan mulut pada lansia. Materi yang disampaikan mencakup pentingnya menjaga kebersihan gigi, cara mencegah penyakit gigi dan mulut, serta langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan sehari-hari untuk mempertahankan kesehatan rongga mulut.

Salah satu sesi yang paling menarik adalah demonstrasi cara menyikat gigi yang benar. Pada sesi ini, peserta dapat melihat secara langsung teknik menyikat gigi yang efektif untuk membersihkan plak dan sisa makanan yang sering menjadi penyebab masalah kesehatan gigi.
Selain itu, tim juga memberikan edukasi mengenai perawatan gigi tiruan. Materi ini penting karena masih banyak lansia yang menggunakan gigi tiruan namun belum memahami cara perawatan yang tepat agar tetap bersih, nyaman digunakan, dan tidak menimbulkan masalah kesehatan baru.
Tidak hanya fokus pada kesehatan gigi dan mulut, peserta juga mendapatkan penyuluhan mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan di usia lanjut.
Sebagai bentuk dukungan keberlanjutan program, peserta memperoleh Buku Saku Pendamping Lansia di Wilayah Perkotaan yang dapat digunakan sebagai sumber informasi dan panduan sederhana dalam mendampingi lansia menjaga kesehatannya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan serta sesi diskusi interaktif dan tanya jawab. Pada sesi ini, para peserta terlihat antusias menyampaikan berbagai pertanyaan dan pengalaman yang mereka hadapi dalam merawat kesehatan gigi dan mulut.

Kader Lansia sebagai Agen Perubahan di Masyarakat
Salah satu kekuatan utama program SAPA GIGI LANSIA adalah keterlibatan kader Posyandu Lansia.
Dalam pendekatan kesehatan masyarakat, kader memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara tenaga kesehatan dan masyarakat. Mereka merupakan individu yang dekat dengan warga sehingga mampu menjadi agen edukasi kesehatan yang efektif.
Melalui peningkatan kapasitas kader, informasi mengenai kesehatan gigi dan mulut diharapkan dapat terus disebarluaskan kepada masyarakat bahkan setelah kegiatan selesai dilaksanakan.
Dengan demikian, manfaat program tidak berhenti pada satu kali kegiatan, tetapi dapat terus berlanjut melalui pendampingan yang dilakukan oleh kader di lingkungan masing-masing.
Mendorong Kemandirian Lansia dalam Menjaga Kesehatan
Tujuan utama dari SAPA GIGI LANSIA bukan hanya memberikan informasi, tetapi juga membangun kemandirian.
Melalui edukasi yang diberikan, lansia diharapkan mampu menerapkan perilaku hidup sehat sesuai kemampuan yang dimiliki. Di sisi lain, keluarga dan kader kesehatan dapat berperan sebagai sahabat pendamping yang membantu lansia menjalankan perawatan gigi dan mulut secara rutin.
Pendekatan pemberdayaan seperti ini menjadi salah satu strategi penting dalam kesehatan masyarakat karena melibatkan partisipasi aktif masyarakat sebagai bagian dari solusi kesehatan.
Pengalaman Berharga bagi Mahasiswa Kesehatan Masyarakat
Bagi kami sebagai mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga untuk memahami secara langsung bagaimana teori pemberdayaan masyarakat diterapkan di lapangan.
Interaksi dengan lansia, kader kesehatan, dan masyarakat memberikan banyak pembelajaran mengenai pentingnya komunikasi kesehatan, edukasi yang mudah dipahami, serta kolaborasi dalam menyelesaikan permasalahan kesehatan masyarakat.

Melalui program SAPA GIGI LANSIA, kami berharap semakin banyak lansia yang mampu menjaga kesehatan gigi dan mulut secara mandiri, didukung oleh keluarga dan kader kesehatan yang memiliki pengetahuan serta keterampilan yang memadai.
Karena pada akhirnya, mewujudkan lansia yang sehat, aktif, dan mandiri bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.
Penulis:
Mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat
Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman (FIKES Unsoed).
Kelompok 11 Matakuliah Pemberdayaan Masyarakat
Rindy Manggalya Pambudi
Pandu Nurul Alam
Andi Hermawan
Pembimbing:
Prof. Dr. Dwi Sarwani Sri Rejeki, SKM, M.Kes(Epid)
Author Profile
- Editor Kesmas-ID
Latest entries
Pengabdian MasyarakatJuni 11, 2026SAPA GIGI LANSIA: Upaya Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Unsoed Mewujudkan Lansia Sehat dan Mandiri dalam Perawatan Gigi dan Mulut
Event KesehatanJuni 5, 2026Nikotin di Persimpangan: Antara Ilusi Fiskal Negara dan Penyelamatan Masa Depan Generasi Muda Indonesia
KarierJuni 2, 2026Rekrutmen Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Penugasan Khusus Kabupaten Kotawaringin Timur
Mahasiswa KesmasJuni 1, 2026Pemberdayaan Remaja Kampung Naga Tasikmalaya: Strategi Inovatif Kesehatan Lingkungan dan Perilaku Sehat

