Seni Membangun Literasi Kesehatan Dalam Keluarga

Jakarta, 28 November 2021-Komunitas AbataSmile bersama Kesmas-ID sebagai media partner mengadakan Webinar Hari Kesehatan Nasional 2021 pada Minggu, 21 November 2021, pukul 13.00-14.30 WIB. Webinar tersebut mengangkat tema “Seni Membangun Literasi Kesehatan: Tangguh Keluargaku, Unggul Negeriku”.

Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan RI, Hari Kesehatan Nasional pertama kali dicanangkan pada tahun 1964, mengambil momen ketika Indonesia sudah melalui masa 5 tahun perjuangan untuk berlepas diri dari wabah Malaria. Bertepatan 12 November 1959, simbolisasi awal perjuangan tersebut dilakukan oleh Presiden Soekarno dengan menyemprotkan insektisida DDT di Desa Kalasan, Yogyakarta. Lima tahun jelas bukan waktu yang singkat, terlebih ratusan ribu jiwa terenggut karena wabah tersebut. Pada saat itu, penanganan wabah juga harus menemui hambatan berupa keterbatasan jangkauan informasi sehingga perilaku sehat yang diharapkan untuk mencegah penyakit tidak serta merta terwujud.

Bagaimana dengan kondisi saat ini, ketika pandemi Covid 19 telah melanda Indonesia hampir selama 2 tahun? Walaupun teknologi sudah mengalami kemajuan pesat dibanding 60 tahun yang lalu, ternyata upaya penanganan wabah penyakit tidak lantas berjalan dengan mudah. Masih rendahnya literasi kesehatan jelas turut memengaruhi.

BACA JUGA:  Katakan TIDAK Pada Perkawinan Anak!

Menurut The Institute of Medicine, literasi kesehatan merupakan kemampuan seseorang untuk memperoleh, memproses, dan memahami informasi dan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dalam upaya pengambilan keputusan terkait kesehatan secara tepat. Tentunya keluarga menjadi medium yang vital dalam menumbuhkembangkan literasi kesehatan di antara individu-individu yang ada di dalamnya, termasuk dalam hal kesehatan gigi dan mulut.

Salah satu pembicara webinar, Dewi Nur Aisyah SKM, MSc, DIC, PhD, yang juga merupakan Wakil Sekjen II IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia), menyampaikan bahwa sebanyak 9 dari 10 orang dewasa memiliki kemampuan yang rendah dalam mengelola kesehatannya. Di negara maju seperti Inggris, 42% orang dewasa tidak dapat memahami dan menggunakan informasi kesehatan.

Contoh penerapan literasi kesehatan antara lain membaca dan mengikuti panduan aktivitas fisik saat berolahraga, membaca label kadar gizi dari kemasan makanan yang kita konsumsi, hingga memahami resep obat yang kita dapat saat berobat. Tidak memahami cara mengonsumsi obat dengan benar dapat berefek pada timbulnya kondisi resistensi antimikroba sehingga mempersulit proses pengobatan saat mengalami suatu penyakit.

AbataSmile, Webinar Literasi Kesehatan Peringatan HKN 2021

Dalam konteks kesehatan gigi dan mulut, pembicara lainnya, yaitu drg. Melissa Adiatman, PhD (Anggota Komite Kesehatan Gigi dan Mulut Kementerian Kesehatan RI) menyatakan bahwa hingga hari ini, masalah kesehatan tersebut masih merupakan salah satu masalah kesehatan global yang berdampak pada kualitas hidup.

Di negara-negara Uni Eropa, masalah kesehatan gigi dan mulut yang tidak dicegah telah menjadi kondisi yang membutuhkan perawatan termahal ketiga setelah diabetes dan penyakit kardiovaskular. Oleh karenanya, pencegahan masalah gigi dan mulut, termasuk gigi berlubang (gigi karies), hendaknya diupayakan sedini mungkin, terutama oleh pihak orang tua terhadap anaknya di lingkungan keluarga.

BACA JUGA:  Puskesmas Pelangiran Lakukan Penyuluhan TBC di Desa Wonosari

Ada 7 hal yang harus diperhatikan sebagai bagian dari pencegahan masalah gigi dan mulut, yaitu: 1) memahami urutan tumbuh kembang gigi, 2) menyikat gigi secar teratur sebanyak 2x sehari, 3) menggunakan pasta gigi berfluoride, 4) memperhatikan frekuensi makan dan minum panganan yang mengandung banyak gula, 5) mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang, 6) mengenal dan menghilangkan kebiasaan buruk yang berisiko terhadap gigi, dan 7) memeriksakan gigi ke dokter gigi secara rutin 6 bulan sekali.

Di era media sosial seperti saat ini, informasi kesehatan gigi dan mulut tentu sudah banyak tersedia. Namun demikian, tetap ada tantangan agar informasi kesehatan tersebut dapat diterima dengan baik. Sejumlah faktor dapat menghambat literasi kesehatan, termasuk di lingkungan keluarga, yaitu antara lain budaya dan kepercayaan, tradisi, kelompok umur, tingkat pendidikan, dan kemampuan komunikasi.

Dibutuhkan inovasi program preventif yang turut melibatkan keluarga sebagai pilar agar bisa tercapai target Indonesia bebas gigi karies pada tahun 2030 mendatang. Dari literasi kesehatan dalam keluarga, ada harapan bahwa negeri ini bisa kembali sehat dan terus bertumbuh.


Press Release Webinar Hari Kesehatan Nasional 2021 – AbataSmile
Humas AbataSmile Community

(Visited 75 times, 3 visits today)