-
-
-
Video Karya UPTD Puskesmas Pasrujambe dan KIM Desa Kertosari Antarkan Lumajang Raih Juara Nasional Kampanye TB Tahun 2026
Pasrujambe, Lumajang — Kabar membanggakan datang dari Kecamatan Pasrujambe. UPTD Puskesmas Pasrujambe bersama Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Desa Kertosari berhasil meraih juara 1 dalam ajang Kompetisi Video Kampanye Kreatif Tingkat Nasional Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Organisasi Pasien Tuberkulosis (POP TB) Indonesia. Kompetisi ini mengangkat tema “SATU TB: Sinergi Aksi Tuntaskan TB” sebagai bagian dari kampanye edukasi eliminasi Tuberkulosis (TB) di Indonesia. Kompetisi yang digelar dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2026 tersebut diikuti oleh 33 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui media video kreatif, peserta diajak menyampaikan pesan edukasi TB dengan cara yang lebih dekat, mudah dipahami, dan menyentuh masyarakat. Kompetisi ini menggunakan penilaian juri sebesar 80% dan penilaian publik sebesar 20% melalui engagement media sosial. Penilaian juri sendiri meliputi kejelasan pesan, ketepatan informasi, kreativitas penyampaian cerita, dan kualitas visual video. Video karya kolaborasi UPTD Puskesmas Pasrujambe dan KIM Desa Kertosari mengangkat kisah seorang pasien TB yang perlahan kehilangan harapan akibat penyakit dan stigma dari lingkungan sekitar. Batuk yang terus diabaikan, rasa takut untuk berobat, hingga kekhawatiran akan dijauhi orang lain menjadi gambaran yang dekat dengan realitas di masyarakat. Perubahan mulai terlihat ketika skrining TB dilakukan lebih aktif di masyarakat. Melalui Aplikasi E-TIBI dan SATUSEHAT Mobile untuk CKG, masyarakat kini lebih mudah mengenali gejala TB sejak dini. Di sisi lain, kader kesehatan juga rutin melakukan skrining di Posyandu ILP hingga kunjungan rumah untuk memastikan warga yang berisiko dapat segera diperiksa dan memperoleh pendampingan pengobatan. Video tersebut juga menunjukkan bahwa pasien TB tidak bisa berjuang sendirian. Ada kader yang datang mengedukasi, tenaga kesehatan yang mendampingi pengobatan sampai tuntas, pemerintah desa yang memberi dukungan, hingga Babinsa dan Bhabinkamtibmas yang ikut membantu menciptakan lingkungan tanpa stigma. Dukungan dari berbagai pihak tersebut menjadi bagian dari rantai penanganan TB yang tidak boleh putus agar pasien tetap semangat menjalani pengobatan. Upaya ini juga memperlihatkan semangat Desa Siaga yang masih hidup di tengah masyarakat. Penanganan TB tidak lagi dipandang sebagai urusan tenaga kesehatan semata, tetapi menjadi kepedulian bersama di lingkungan desa. Semangat saling menjaga dan gotong royong seperti inilah yang menjadi kekuatan penting dalam mewujudkan Desa Siaga Bebas TB. Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku UPTD Puskesmas Pasrujambe, Alifta Sukmawati, S.KM. menegaskan bahwa prestasi ini menjadi bukti bahwa edukasi kesehatan akan lebih mudah diterima ketika masyarakat ikut dilibatkan secara langsung. “Kadang tenaga kesehatan memahami materinya, tetapi tidak semuanya memiliki waktu dan kemampuan membuat media edukasi yang menarik. Di sisi lain, kami juga memiliki keterbatasan SDM dan media informasi. Akhirnya, kami mencoba menggandeng KIM Desa Kertosari yang memang dekat dengan dunia informasi dan kreativitas masyarakat,” ujarnya. Menurutnya, pendekatan tersebut ternyata membuat pesan tentang TB terasa lebih membumi dan mudah dipahami masyarakat. “Pesan kesehatan tidak harus selalu disampaikan dengan cara formal. Ketika masyarakat ikut terlibat, informasi yang diberikan justru terasa lebih dekat. Kompetisi ini membuktikan bahwa kolaborasi lintas pihak dan partisipasi aktif masyarakat dapat dimanfaatkan secara efektif untuk menyampaikan edukasi TB agar lebih mudah dipahami,” tambahnya. Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi puskesmas dan KIM desa lainnya untuk terus berinovasi dalam promosi kesehatan guna mendukung eliminasi TB menuju Indonesia Bebas TB 2030. Dengan semangat “SATU TB”, UPTD Puskesmas Pasrujambe dan KIM Desa Kertosari membuktikan bahwa tidak boleh ada siapa pun yang berjuang sendirian menghadapi TB. Video dapat diakses melalui: https://bit.ly/RANTAI-YANG-TAK-BOLEH-PUTUS #SATUTB #POPTBIndonesia #LawanTB #EliminasiTB2030 #KIMKertosari #PuskesmasPasrujambe #PromosiKesehatan #LumajangBerprestasi #Hardiknas2026 #StopTB
Kabar Kampus
-
-
-
Mahasiswa Kesmas Unsil Luncurkan SI-PINTAR: Sistem Terpadu Kendalikan Hipertensi di Desa Manonjaya
TASIKMALAYA – Hipertensi masih menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat di Indonesia, tak terkecuali di Desa Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Menjawab tantangan tersebut, tim Prana Waluya dari Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Siliwangi (Unsil) menginisiasi program SI-PINTAR (Sistem Pemantauan Hipertensi Terpadu). Inovasi ini bukan sekadar pemeriksaan kesehatan biasa, melainkan sebuah sistem yang dirancang untuk membangun kemandirian warga dalam mengelola risiko penyakit tidak menular. Mengubah Paradigma Pemantauan Pasif menjadi Aktif Selama ini, pemantauan hipertensi seringkali bersifat pasif, di mana warga hanya memeriksakan diri saat gejala muncul atau saat ada kunjungan medis. Namun, SI-PINTAR hadir untuk mengubah pola tersebut. Melalui sistem ini, mahasiswa Unsil mengintegrasikan peran kader lokal, penggunaan media edukasi yang dipersonalisasi, serta pemantauan berkala yang tercatat secara sistematis. “Fokus utama kami adalah keberlanjutan. SI-PINTAR didesain agar setelah mahasiswa selesai mengabdi, warga dan kader desa tetap memiliki mekanisme yang jelas untuk memantau tekanan darah secara mandiri dan terpadu,” ujar Cendekia, Ketua Tim Prana Waluya. Inovasi Lapangan dan Komunikasi Kesehatan Digital SI-PINTAR tidak hanya bergerak secara konvensional di lapangan melalui kunjungan rumah dan pemeriksaan tekanan darah secara rutin. Tim Prana Waluya juga memperluas jangkauan edukasi melalui rencana komunikasi kesehatan berbasis digital. Salah satunya adalah kolaborasi Podcast Edukasi Kesehatan bersama Primary English Garut. Kolaborasi ini bertujuan untuk mengemas pesan-pesan pencegahan hipertensi menjadi konten yang lebih modern dan inklusif. Melalui podcast ini, materi teknis mengenai hipertensi diterjemahkan menjadi narasi yang ringan namun tetap berbasis data ilmiah, guna memecah kebuntuan literasi kesehatan di masyarakat luas. Dukungan Penuh Pemerintah Desa Manonjaya Kehadiran SI-PINTAR mendapat apresiasi tinggi dan dukungan penuh dari struktur pemerintahan setempat. Bapak Kusaeri, S.I.P selaku Kepala Desa Manonjaya, menyatakan bahwa program ini sejalan dengan visi desa dalam meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan warga. “Kami sangat mengapresiasi inisiatif mahasiswa Unsil yang membawa solusi nyata ke desa kami. Program SI-PINTAR ini membantu Pemerintah Desa dalam memetakan kondisi kesehatan warga secara lebih akurat. Dengan adanya sistem pemantauan terpadu ini, kami memiliki landasan yang kuat untuk mendukung keberlanjutan program kesehatan di tingkat RW dan RT, sehingga warga kami bisa lebih terjaga dari risiko penyakit berat,” ungkap beliau. Dampak yang Lebih Luas: Dari Desa untuk Indonesia Gerakan SI-PINTAR di Desa Manonjaya diharapkan menjadi pilot project yang membuktikan bahwa keterlibatan mahasiswa Kesmas di lapangan mampu memberikan dampak signifikan. Hal ini ditegaskan oleh Azka Haydar, selaku Advokator Tim Prana Waluya. “Kami ingin menjadikan Desa Manonjaya sebagai bukti bahwa kedaulatan kesehatan nasional dimulai dari ketahanan kesehatan di tingkat desa. Melalui SI-PINTAR, kami tidak hanya membawa alat kesehatan, tetapi kami membangun sistem agar warga berdaya secara mandiri. Hipertensi adalah tantangan besar bangsa, dan kami percaya jika pola pemantauan terpadu ini sukses di sini, itu bisa menjadi model yang diadaptasi oleh mahasiswa Kesmas di seluruh Indonesia untuk menjawab masalah yang sama di pelosok negeri lainnya,” pungkas Azka. Dukungan penuh juga datang dari otoritas kesehatan setempat. Bapak H. Andi Ferdiansyah, S.Kep., NERS bersama TIM selaku Pemegang Program PTM Puskesmas Manonjaya, mengungkapkan bahwa kehadiran SI-PINTAR sangat membantu pemetaan risiko penyakit di wilayahnya. Kehadiran mahasiswa Unsil dengan sistem SI-PINTAR ini sangat meringankan beban kerja kami dalam melakukan screening. Selama ini, pemantauan hipertensi sering terkendala jarak dan kurangnya kedisiplinan warga untuk kontrol. Dengan sistem pemantauan terpadu yang dibawa tim Prana Waluya, data kesehatan warga jadi lebih rapi dan terukur. Ini memudahkan kami di Puskesmas untuk melakukan tindak lanjut atau intervensi medis secara cepat dan tepat,” ungkap Pak Andi. Dosen Pembimbing: Rian Arie Gustaman, S.KM., M.KesDosen Mata Kuliah Perencanaan Evaluasi Kesehatan Meita Tyas Nugrahaeni, S.KM., M.KMDosen Mata Kuliah Komunikasi Kesehatan Anggota Kelompok:– Siti Nurjannah– Aliefka Shayla Ramadhan– Naila Rusmayati– Nisriinaa Maharani– Cendekia Nur Rahayu Fortuna– Dede Alma Fitriyani– Azka Haydar Aqila
-
WASPADA TBC: Spanduk Edukatif Jadi Langkah Awal Cegah Tuberkulosis di Masyarakat
Upaya pencegahan Tuberkulosis (TBC) terus digencarkan di tengah masyarakat. Melalui program intervensi WASPADA TBC (Warga Sadar dan Peduli TBC), mahasiswa Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melaksanakan kegiatan pemasangan spanduk edukatif di berbagai titik strategis Kelurahan Pondok Ranji. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya TBC sekaligus mendorong deteksi dini melalui pemahaman yang baik. Spanduk WASPADA TBC dipasang di titik-titik lokasi yang sering dilalui warga, seperti jalan lingkungan, area fasilitas umum, dan titik kumpul masyarakat. Kegiatan ini di inisiasi oleh Dinda Azizah bersama dengan Nadya Qisthi, Rifka Intan, Lovita Zahra, Nasywa Alya, Zahra Abdi, Shira Aurelia dan dibawah bimbingan Ibu Riastuti Kusuma Wardani M.K.M., Ph.D. Melalui spanduk ini, masyarakat diajak untuk lebih waspada dan mengenali gejala awal TBC, seperti batuk lebih dari 2 minggu, demam berkepanjangan, penurunan berat badan, berkeringat di malam hari, serta nyeri dada atau sesak nafas. Program WASPADA TBC menjadi wujud kepedulian mahasiswa Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam mendukung upaya pencegahan TBC di tengah masyarakat. Melalui pemasangan spanduk edukatif di Kelurahan Pondok Ranji, kegiatan ini diharapkan tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran dan keberanian masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri dan lingkungan. Kehadiran media edukasi ini diharapkan menjadi pengingat sekaligus ajakan bagi seluruh masyarakat untuk bersama-sama waspada, peduli, dan bertindak dalam mencegah penularan TBC.
-
Kabar Komunitas
-
-
-
4 Manfaat Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Anak Sekolah
Kesehatan merupakan modal utama bagi setiap individu untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Tanpa tubuh yang sehat, sulit bagi seseorang untuk berprestasi di bidang akademik maupun mengembangkan potensi dirinya. Menyadari hal tersebut, Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Anak di Sekolah sebagai langkah nyata menjaga kualitas kesehatan siswa sejak dini.
-
Holistic Wellness Expo 2025: Satu Langkah Menuju Gaya Hidup Sehat
Program Studi MICE Politeknik Negeri Jakarta akan menggelar Holistic Wellness Expo 2025, sebuah pameran kesehatan berskala besar yang menghadirkan beragam edukasi dan pengalaman interaktif seputar gaya hidup sehat. Acara ini telah berlangsung selama dua hari, pada 19–20 Juli 2025 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, mulai pukul 07.00 hingga 19.00 WIB. Mengusung konsep holistik, pameran ini menghadirkan inovasi produk kesehatan seperti makanan sehat, suplemen, vitamin, hingga alat kesehatan modern. Tidak hanya itu, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai sesi talkshow inspiratif, diantaranya “Pola Makan Sehat bersama Nutrisi Esok Hari” yang membahas meal planning dan food prep, serta talkshow “Pencegahan Stunting” yang menghadirkan perwakilan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Keseruan acara semakin lengkap dengan demo masak sehat bersama Berorganik, menyajikan menu spesial seperti Vegan Fried Chicken, Low Calorie Overnight, dan Rice Paper Noodles. Selain itu, pengunjung juga dapat mengikuti aktivitas kebugaran seperti senam, aerobik, cardio dance, hingga pound fit yang dipandu oleh instruktur profesional. Untuk menambah kenyamanan pengunjung, tersedia area picnic zone ramah keluarga, lomba tebak jamu, serta hiburan musik akustik yang memeriahkan suasana. Sebelum puncak acara digelar, Howell Expo 2025 telah menyelenggarakan dua pre-event. Kegiatan pertama berupa aksi donor darah pada 15 April 2025 di Gedung Politeknik Negeri Jakarta, yang berhasil mengumpulkan 81 kantong darah dari total 112 pendaftar. Pre-event kedua bertajuk Fun & Fit Zumba diselenggarakan pada 18 Mei 2025 di Depok Open Space, diikuti lebih dari 100 peserta yang antusias menerapkan gaya hidup aktif. Pada hari pertama expo, acara dimulai dengan senam bersama, kemudian dilanjutkan dengan bazar kuliner sehat dan perlombaan minum jamu. Sementara pada hari kedua, setelah senam pagi, dilanjutkan dengan dua sesi edukatif. Materi pertama disampaikan oleh dr. Cecillia Young, Head Doctor Klinik Kecantikan Athena Kemang, dengan tema “Bongkar Mitos Glowing: Dari Skincare sampai Treatment.” Materi kedua disampaikan oleh dr. Rochelle, Nutrition Coach bersertifikasi Plant-Based Nutrition dan pemilik Seriously! Healthy Plant-Based Meals, yang membawakan talkshow “Talk Healthy Life Easy.” Holistic Wellness Expo 2025 menargetkan 1.500 pengunjung setiap harinya, dengan estimasi total lebih dari 20.000 pengunjung selama dua hari. Peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai dari komunitas kebugaran, pelaku industri wellness, profesional muda, hingga keluarga dan lansia. “Acara ini bukan hanya sekadar pameran, tetapi merupakan gerakan bersama menuju masa depan yang lebih sehat,” ujar Amanda, selaku Project Manager Howell Expo 2025. Melalui Holistic Wellness Expo 2025, diharapkan masyarakat tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga termotivasi untuk menerapkan pola hidup sehat secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Pameran ini menjadi langkah nyata dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga kesehatan fisik, mental, dan sosial secara menyeluruh. Penyelenggara juga berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan yang mendorong kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem wellness yang berkelanjutan di Indonesia. Tim Redaksi: Adhytiya Puji Pertiwi dan Meltina Ratu Eka Maharani
-
Video Pilihan
Kabar Dinkes
-
Launching Pemberian Makanan Bergizi Gratis di MI Borolong 1 dan 2 Desa Cipakat
Cipakat, Singaparna — Pada Selasa, 19 Agustus 2025, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Borolong 1 dan 2 Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, menyelenggarakan kegiatan Launching Pemberian Makanan Bergizi Gratis (MBG). Program ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah di Desa Cipakat agar lebih optimal. Kegiatan diikuti oleh 330 siswa MI Borolong 1 dan 2. Seluruh peserta tampak tertib saat menerima makanan bergizi yang dibagikan panitia. Selain pembagian makanan, siswa juga mendapatkan edukasi tentang pentingnya konsumsi makanan bergizi bagi pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Pentingnya Asupan Gizi Seimbang Dalam penyuluhan yang diberikan, dijelaskan bahwa makanan bergizi berperan penting dalam: mendukung pertumbuhan tinggi dan berat badan, menunjang perkembangan otak, menjaga stamina dan daya tahan tubuh, meningkatkan konsentrasi belajar, serta membantu menstabilkan emosi anak di sekolah. Selain itu, pemberian makanan bergizi juga menjadi salah satu upaya pencegahan penyakit, termasuk risiko stunting yang masih menjadi tantangan kesehatan anak di Indonesia. Jalannya Kegiatan Acara berlangsung selama 1,5 jam, mulai pukul 09.00 hingga 10.30 WIB. Narasumber dari Tim MBG dan unsur Forkopimcam turut hadir memberikan materi edukasi gizi. Momen kebersamaan terlihat saat seluruh siswa MI Borolong 1 dan 2 menyantap makanan bergizi secara serentak. Kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi siswa, sekaligus menanamkan kesadaran bahwa memilih makanan sehat dan bergizi sangat penting untuk mendukung aktivitas belajar maupun kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Harapan ke Depan Melalui program MBG ini, diharapkan anak-anak di Desa Cipakat semakin termotivasi untuk mengonsumsi makanan sehat setiap hari. Dengan terpenuhinya kebutuhan gizi, siswa dapat tumbuh lebih optimal, sehat, dan berprestasi di sekolah.
-
Inspeksi Kesehatan Lingkungan di Warung Nasi Binangkit: Edukasi Higiene dan Sanitasi Pangan
Cikunten, 23 Agustus 2025 – Puskesmas Tinewati melaksanakan kegiatan Inspeksi Kesehatan Lingkungan Tempat Pengelolaan Pangan (IKL TPP) di Warung Nasi Binangkit, Desa Cikunten. Kegiatan ini berlangsung selama satu jam, mulai pukul 10.00 hingga 11.00 WIB, dan diikuti oleh lima orang penjamah makanan. Narasumber pada kegiatan ini adalah Windi Oktavia Lestari, S.K.M, Sanitarian dari Puskesmas Tinewati, yang menyampaikan materi seputar higiene dan sanitasi makanan, meliputi: Cara menyimpan makanan agar tetap higienis dan tidak terkontaminasi bakteri. Jenis makanan yang dapat disimpan dan batas waktu penyimpanannya. Pentingnya menjaga kebersihan saat mengolah, mengangkut, hingga menyajikan makanan. Pemilihan bahan makanan sesuai standar kesehatan agar terhindar dari pencemaran. Kegiatan ini mendapat respons positif dari para penjamah makanan. Mereka aktif bertanya serta menerima dengan baik metode penyimpanan dan pengolahan makanan yang sesuai standar kesehatan. Melalui IKL TPP ini, diharapkan para pengelola dan penjamah makanan dapat mengaplikasikan prinsip higiene dan sanitasi secara konsisten di tempat usaha mereka. Tujuannya agar konsumen dapat memperoleh makanan yang sehat, higienis, serta terjamin kualitasnya. Kesehatan konsumen menjadi prioritas utama sehingga pengelolaan pangan yang aman dan bersih harus terus dijaga dan diterapkan di setiap tempat usaha makanan.
-
-
Menilik Keamanan dan Distribusi Makanan dalam Program MBG: Membangun Fondasi Generasi Emas 2045
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi salah satu program prioritas nasional dalam pembangunan sumber daya manusia. Diluncurkan pada awal tahun 2025, MBG menyasar pada anak usia sekolah, santri, balita, ibu hamil, dan menyusui. Program ini tidak hanya bertujuan mengoptimalkan kebutuhan asupan gizi dan meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi juga mengurangi ketimpangan sosial dalam akses terhadap makanan bergizi. Dalam pelaksanaan program MBG, porsi makanan yang disediakan melalui program ini telah disusun dengan mengacu pada Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Setiap menu disesuaikan dengan kelompok usia, jenis kelamin, dan kondisi fisiologis penerima, seperti anak usia sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, guna menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi. Program ini tentu menyimpan potensi besar sebagai penggerak ekonomi lokal. Apabila dikelola dengan baik dan optimal, MBG dapat menjadi peluang keterlibatan aktif bagi pelaku usaha mikro, petani lokal, dan koperasi. Hal ini didukung oleh studi yang dilakukan Basit dan Ramadani tahun 2025 yang menunjukkan bahwa keterlibatan sektor UMKM, petani, dan koperasi dalam rantai pasok makanan pelaksanaan program mampu memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat lokal setempat. Insiden Keracunan Massal Picu Kekhawatiran Publik Di tengah harapan besar terhadap keberhasilan program ini, muncul sejumlah peristiwa yang justru menimbulkan kekhawatiran publik, khususnya terkait aspek keamanan pangan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi untuk meningkatkan asupan gizi siswa, justru menimbulkan kekhawatiran setelah ratusan siswa di beberapa daerah mengalami keracunan massal. Dikutip dari laman Kompas (24/05/2025), sejumlah 173 siswa di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan mengalami keracunan akibat tempe goreng dan air pengolahan makanan yang telah terkontaminasi bakteri. Kejadian serupa juga terjadi di Kota Bogor, Jawa Barat dimana sebanyak 210 siswa dari TK hingga SMP mengalami gejala keracunan setelah mengkonsumsi MBG. Selain itu, dikutip dari laman Tirto (05/2025), sebanyak 23 siswa SMP PGRI 1 dan 55 siswa MAN 1 di Cianjur, Jawa Barat, mengalami gejala mual, muntah, dan pusing usai mengkonsumsi makanan MBG yang diduga terkontaminasi. Diketahui, menu ayam suwir yang dibagikan saat itu memiliki aroma tak sedap dan diduga telah terkontaminasi akibat proses penyimpanan atau pengolahan yang tidak sesuai standar. Hal ini didukung oleh salah satu penelitian yang dilakukan oleh Pancani dan Ningsih (2025) bahwa terkadang kualitas makanan yang didistribusikan tidak memenuhi standar gizi yang diharapkan. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan dampak kesehatan bagi para siswa yang menjadi korban, tetapi juga menggoyahkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pengawasan dan pengelolaan program yang seharusnya menjadi jaminan gizi dan keselamatan bagi anak-anak Indonesia. Tantangan Implementasi Program dan Permasalahan Teknis di Lapangan Keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh satu aspek mendasar, yaitu keamanan pangan. Makanan yang didistribusikan di sekolah bukan hanya harus bergizi, tetapi juga wajib aman dikonsumsi guna menjamin kesehatan siswa serta membangun kepercayaan publik terhadap program ini. Akses rutin terhadap makanan yang layak dan aman mampu menurunkan tingkat kecemasan siswa serta meningkatkan performa akademik mereka. Temuan ini diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Pancani dan Ningsih (2025) serta Qomarrullah dan rekan-rekannya (2025) yang menjelaskan bahwa penyediaan makanan bergizi secara konsisten dapat berkontribusi terhadap penurunan kecemasan dan peningkatan prestasi belajar siswa. Di tengah upaya pemerataan akses, kondisi geografis Indonesia yang beragam memunculkan tantangan tersendiri di sejumlah wilayah. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Putikadyanto dan rekannya tahun 2025 bahwa wilayah terpencil menghadapi hambatan lebih besar seperti infrastruktur dan pendistribusian makanan. Sejalan dengan studi lain yang dilakukan oleh Pancani dan Ningsih tahun 2025, Arifin, Rifa’i dan Pratama tahun 2025 serta Fatimah dan rekannya tahun 2024 yang mengungkapkan bahwa keterbatasan infrastruktur, serta masalah logistik dan pendistribusian makanan merupakan kelemahan dalam implementasi program MBG di lapangan. Selain itu, terdapat tantangan lain yaitu kurangnya edukasi di masyarakat, baik kepada siswa di sekolah maupun orang tua di rumah. Ketidaktahuan mengenai pentingnya konsumsi makanan seimbang dapat mengurangi efektivitas program, karena perilaku konsumsi yang sehat tidak hanya bergantung pada ketersediaan makanan bergizi, tetapi juga pada pemahaman dan kesadaran gizi yang baik dari para penerima manfaat. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Arifin, Rifa’i dan Pratama tahun 2025 dimana kurangnya edukasi gizi di kalangan siswa dan orang tua merupakan salah satu tantangan implementasi dari program MBG. Untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas program MBG, maka penguatan keamanan pangan perlu menjadi pilar utama. Berikut merupakan sejumlah rekomendasi strategis untuk meningkatkan efektifitas program MBG: Keamanan dan distribusi pangan bukan sekadar urusan teknis, tetapi kunci utama untuk menjamin kualitas hidup peserta didik dan keberhasilan kebijakan sosial berskala nasional seperti MBG. Untuk mewujudkan hasil yang maksimal, perlu dilakukan optimalisasi pada berbagai aspek seperti keamanan pangan, pemilihan menu, distribusi yang tepat sasaran, dan penguatan tata kelola. Jika aspek ini dikelola dengan baik, MBG akan menjadi pondasi kokoh untuk mewujudkan Generasi Emas 2045—sebuah generasi yang tidak hanya sehat dan cerdas, tetapi juga lahir dari sistem yang adil dan terjamin. Tim-2 Advokasi Kesehatan Mahasiswa Promosi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Pembina: M. Farid Hamzens. Ketua: Adhytiya Puji Pertiwi. Anggota: Dewi Azizah, Ersa Julia Mutiara Putri, Marisa
-
SI BIRU-Edu: Menanamkan Kesadaran Pencegahan Tuberkulosis pada Anak Sejak Dini
Pada tanggal 5 Februari 2025, program Si BIRU-Edu at School telah diselenggarakan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mathla’ul Anwar, RW 06, Kelurahan Cibadak, Kota Bogor. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 11.20 WIB ini merupakan bagian dari program Si BIRU (Atasi TB Paru) yang bertujuan meningkatkan kesadaran siswa tentang bahaya dan pencegahan Tuberkulosis (TBC). Acara ini diselenggarakan oleh Kelompok 9 PBL Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bekerja sama dengan Puskesmas Kayumanis dan pihak sekolah. Sebanyak 59 siswa kelas 5 mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusias, mengikuti sesi edukasi, tanya jawab, serta berbagai aktivitas menarik lainnya. Materi disampaikan oleh Ananda Ariela dan Norma Anggraeni, mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang menjelaskan tentang definisi , penyebab, cara penularan, gejala, serta pencegahan dan pengobatan TBC. Ketua pelaksana, yaitu Muhammad Hisyam Aqil, menekankan pentingnya kesadaran sejak dini dalam menjaga kesehatan. “Penyuluhan ini sangat penting karena dengan kita tahu bagaimana menjaga kesehatan, kita bisa melindungi diri sendiri dan juga keluarga kita dari penyakit ini. Jadi, adik-adik, simak baik-baik ya, semoga setelah acara ini, kita semua bisa lebih peduli dengan kesehatan diri kita dan orang-orang di sekitar kita,” ujarnya. Kepala sekolah MI Mathla’ul Anwar, yaitu Bapak Nasrulloh, turut mengapresiasi program ini dan berharap edukasi ini dapat meningkatkan kesadaran siswa tentang kesehatan khususnya terkait penyakit Tuberkulosis (TBC). Kegiatan berlangsung dengan suasana yang seru dan interaktif, ditandai dengan pemutaran video edukasi, penyampaian materi, sesi ice breaking dan jingle TBC, serta sesi tanya jawab yang aktif. Setiap peserta juga mengikuti pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman mereka setelah edukasi diberikan. Dengan adanya Si BIRU-Edu at School, diharapkan siswa dapat menyebarkan informasi ini ke keluarga dan lingkungan sekitar, sehingga kesadaran masyarakat tentang pencegahan TBC semakin meningkat.
Kabar Puskesmas
-
Video Karya UPTD Puskesmas Pasrujambe dan KIM Desa Kertosari Antarkan Lumajang Raih Juara Nasional Kampanye TB Tahun 2026
Pasrujambe, Lumajang — Kabar membanggakan datang dari Kecamatan Pasrujambe. UPTD Puskesmas Pasrujambe bersama Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Desa Kertosari berhasil meraih juara 1 dalam ajang Kompetisi Video Kampanye Kreatif Tingkat Nasional Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Organisasi Pasien Tuberkulosis (POP TB) Indonesia. Kompetisi ini mengangkat tema “SATU TB: Sinergi Aksi Tuntaskan TB” sebagai bagian dari kampanye edukasi eliminasi Tuberkulosis (TB) di Indonesia. Kompetisi yang digelar dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2026 tersebut diikuti oleh 33 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui media video kreatif, peserta diajak menyampaikan pesan edukasi TB dengan cara yang lebih dekat, mudah dipahami, dan menyentuh masyarakat. Kompetisi ini menggunakan penilaian juri sebesar 80% dan penilaian publik sebesar 20% melalui engagement media sosial. Penilaian juri sendiri meliputi kejelasan pesan, ketepatan informasi, kreativitas penyampaian cerita, dan kualitas visual video. Video karya kolaborasi UPTD Puskesmas Pasrujambe dan KIM Desa Kertosari mengangkat kisah seorang pasien TB yang perlahan kehilangan harapan akibat penyakit dan stigma dari lingkungan sekitar. Batuk yang terus diabaikan, rasa takut untuk berobat, hingga kekhawatiran akan dijauhi orang lain menjadi gambaran yang dekat dengan realitas di masyarakat. Perubahan mulai terlihat ketika skrining TB dilakukan lebih aktif di masyarakat. Melalui Aplikasi E-TIBI dan SATUSEHAT Mobile untuk CKG, masyarakat kini lebih mudah mengenali gejala TB sejak dini. Di sisi lain, kader kesehatan juga rutin melakukan skrining di Posyandu ILP hingga kunjungan rumah untuk memastikan warga yang berisiko dapat segera diperiksa dan memperoleh pendampingan pengobatan. Video tersebut juga menunjukkan bahwa pasien TB tidak bisa berjuang sendirian. Ada kader yang datang mengedukasi, tenaga kesehatan yang mendampingi pengobatan sampai tuntas, pemerintah desa yang memberi dukungan, hingga Babinsa dan Bhabinkamtibmas yang ikut membantu menciptakan lingkungan tanpa stigma. Dukungan dari berbagai pihak tersebut menjadi bagian dari rantai penanganan TB yang tidak boleh putus agar pasien tetap semangat menjalani pengobatan. Upaya ini juga memperlihatkan semangat Desa Siaga yang masih hidup di tengah masyarakat. Penanganan TB tidak lagi dipandang sebagai urusan tenaga kesehatan semata, tetapi menjadi kepedulian bersama di lingkungan desa. Semangat saling menjaga dan gotong royong seperti inilah yang menjadi kekuatan penting dalam mewujudkan Desa Siaga Bebas TB. Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku UPTD Puskesmas Pasrujambe, Alifta Sukmawati, S.KM. menegaskan bahwa prestasi ini menjadi bukti bahwa edukasi kesehatan akan lebih mudah diterima ketika masyarakat ikut dilibatkan secara langsung. “Kadang tenaga kesehatan memahami materinya, tetapi tidak semuanya memiliki waktu dan kemampuan membuat media edukasi yang menarik. Di sisi lain, kami juga memiliki keterbatasan SDM dan media informasi. Akhirnya, kami mencoba menggandeng KIM Desa Kertosari yang memang dekat dengan dunia informasi dan kreativitas masyarakat,” ujarnya. Menurutnya, pendekatan tersebut ternyata membuat pesan tentang TB terasa lebih membumi dan mudah dipahami masyarakat. “Pesan kesehatan tidak harus selalu disampaikan dengan cara formal. Ketika masyarakat ikut terlibat, informasi yang diberikan justru terasa lebih dekat. Kompetisi ini membuktikan bahwa kolaborasi lintas pihak dan partisipasi aktif masyarakat dapat dimanfaatkan secara efektif untuk menyampaikan edukasi TB agar lebih mudah dipahami,” tambahnya. Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi puskesmas dan KIM desa lainnya untuk terus berinovasi dalam promosi kesehatan guna mendukung eliminasi TB menuju Indonesia Bebas TB 2030. Dengan semangat “SATU TB”, UPTD Puskesmas Pasrujambe dan KIM Desa Kertosari membuktikan bahwa tidak boleh ada siapa pun yang berjuang sendirian menghadapi TB. Video dapat diakses melalui: https://bit.ly/RANTAI-YANG-TAK-BOLEH-PUTUS #SATUTB #POPTBIndonesia #LawanTB #EliminasiTB2030 #KIMKertosari #PuskesmasPasrujambe #PromosiKesehatan #LumajangBerprestasi #Hardiknas2026 #StopTB
-
Mahasiswa Kesehatan Unsil Tasikmalaya Mengajak Masyarakat Berani “PUTUS” untuk Hidup Sehat
Hari Jum’at tanggal 17 April 2026, Mahasiswa Kesehatan masyarakat Unsil melaksanakan Kegiatan sosialisasi Program “PUTUS” (Pemantauan Tekanan Darah dan Upaya Terpadu Untuk Sehat) di Desa Singasari, Kecamatan Singaparna, dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat. “PUTUS” merupakan kepanjangan dari Pantau tekanan darah, Ubah pola makan sehat, Tinggalkan rokok & vape, Usahakan tidur cukup, Sempatkan olahraga rutin. Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas Mata Kuliah Rencana dan Evaluasi Kesehatan, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Siliwangi berkolaborasi dengan UPTD Puskesmas Tinewati, Desa Singasari dan Kader Posyandu. Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala UPTD Puskesmas Tinewati, Bidan Yeni Sumiarni, S.ST. Dalam sambutannya, beliau mengapresiasi dan mendukung inovasi yang gagas oleh mahasiswa dan menyampaikan harapan agar program ini dapat diimplementasikan tidak hanya di Desa Singasari, tetapi juga di desa wilayah kerja UPTD Puskesmas Tinewati lainnya. Sambutan juga disampaikan oleh Kepala Desa Singasari, Kuroni, yang mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap pola hidup sehat serta mendukung program yang telah disosialisasikan. Materi sosialisasi disampaikan oleh dr. Muhammad Taufik Hakim, yang memaparkan mengenai penyakit hipertensi. Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya pemantauan tekanan darah secara rutin, penerapan pola makan sehat, menghentikan kebiasaan merokok, menjaga kualitas tidur, serta rutin melakukan aktivitas fisik sebagai upaya pencegahan hipertensi. Sebagai bentuk inovasi, mahasiswa memperkenalkan media berupa booklet monitoring dan lembar ceklis kesehatan. Booklet monitoring digunakan oleh kader sebagai alat pencatatan dan pemantauan tekanan darah masyarakat secara berkala, serta dilengkapi dengan materi edukasi sederhana terkait penerapan program “PUTUS”. Selain itu, lembar ceklis kesehatan dirancang untuk diisi secara mandiri oleh masyarakat saat kegiatan posyandu. Lembar ini memuat beberapa aspek perilaku kesehatan, seperti pola makan, kebiasaan merokok, waktu tidur, dan aktivitas fisik. Melalui lembar ceklis ini, diharapkan masyarakat dapat lebih menyadari kebiasaan kesehatannya, sekaligus membantu kader dalam memberikan edukasi yang lebih tepat sasaran. Booklet monitoring telah dibagikan kepada perwakilan kader dari 10 posyandu di Desa Singasari sebagai media pendukung dalam implementasi Program “PUTUS”. Kegiatan ini juga dihadiri oleh 25 orang perwakilan kader dari 10 posyandu yang diharapkan dapat menjadi perpanjangan tangan dalam mengedukasi masyarakat di lingkungan masing-masing. Melalui kegiatan ini, diharapkan implementasi Program “PUTUS” dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan, serta mampu mendorong masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup sehat secara konsisten.
-
Strategi Kolaboratif Mahasiswa Kesmas UIN Jakarta Percepat Pemenuhan Indikator RW Bebas TBC di RW 04 Bambu Apus Melalui Program GERTAS TBC
Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melaksanakan Program GERTAS TBC (Gerakan Tuntas TBC) di RW 04 Kelurahan Bambu Apus sebagai bagian dari kegiatan PBL 2. Program ini dirancang berdasarkan hasil analisis situasi yang menunjukkan masih perlunya penguatan promosi kesehatan dan pemberdayaan kader dalam pengendalian TBC. Intervensi yang dilakukan secara khusus ditujukan untuk membantu pemenuhan indikator RW Bebas TBC di RW 04, terutama pada aspek edukasi, pelibatan kader, serta peningkatan kesadaran dan deteksi dini kasus. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan melalui kolaborasi bersama pemangku kebijakan setempat dan UPTD Puskesmas Bambu Apus. Kegiatan diawali dengan pelatihan kader TBC pada Kamis, (29/01/2026), yang bertujuan meningkatkan kapasitas kader dalam memahami gejala, penularan, pencegahan, serta mekanisme deteksi dini dan pendampingan pengobatan TBC. Pelatihan dilengkapi dengan pre-test dan post-test, diskusi interaktif, serta simulasi komunikasi agar kader mampu menyampaikan edukasi secara tepat dan tidak menimbulkan stigma. Melalui penguatan ini, kader diharapkan menjadi motor utama dalam mendukung indikator keterlibatan aktif kader pada program RW Bebas TBC. Setelah pelatihan, kader melaksanakan roadshow edukasi dan skrining dari tanggal 4 hingga 8 Februari 2026 ke kelompok-kelompok warga seperti pengajian, arisan, dan kegiatan posyandu. Dalam kegiatan tersebut, kader memberikan penyuluhan singkat, melakukan skrining suspek TBC, serta mendorong warga yang bergejala untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Roadshow ini menjadi bentuk implementasi langsung dari indikator promosi kesehatan dan penemuan kasus aktif dalam kerangka RW Bebas TBC di RW 04. Sebagai upaya menjaga keberlanjutan program, mahasiswa juga menyusun dan membagikan Buku Petunjuk Teknis Kader GERTAS TBC yang berisi panduan edukasi, alur skrining, formulir deteksi dini, serta pedoman pelaksanaan kegiatan. Buku ini menjadi acuan standar bagi kader dalam menjalankan perannya secara sistematis dan terarah. Melalui sinergi antara mahasiswa, kader, Kelurahan, UPTD Puskesmas Bambu Apus, dan Bina wilayah RW 04 GERTAS TBC diharapkan mampu mempercepat pemenuhan indikator dan mendorong terwujudnya deklarasi RW Bebas TBC di RW 04.
-
WASPADA TBC: Spanduk Edukatif Jadi Langkah Awal Cegah Tuberkulosis di Masyarakat
Upaya pencegahan Tuberkulosis (TBC) terus digencarkan di tengah masyarakat. Melalui program intervensi WASPADA TBC (Warga Sadar dan Peduli TBC), mahasiswa Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melaksanakan kegiatan pemasangan spanduk edukatif di berbagai titik strategis Kelurahan Pondok Ranji. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya TBC sekaligus mendorong deteksi dini melalui pemahaman yang baik. Spanduk WASPADA TBC dipasang di titik-titik lokasi yang sering dilalui warga, seperti jalan lingkungan, area fasilitas umum, dan titik kumpul masyarakat. Kegiatan ini di inisiasi oleh Dinda Azizah bersama dengan Nadya Qisthi, Rifka Intan, Lovita Zahra, Nasywa Alya, Zahra Abdi, Shira Aurelia dan dibawah bimbingan Ibu Riastuti Kusuma Wardani M.K.M., Ph.D. Melalui spanduk ini, masyarakat diajak untuk lebih waspada dan mengenali gejala awal TBC, seperti batuk lebih dari 2 minggu, demam berkepanjangan, penurunan berat badan, berkeringat di malam hari, serta nyeri dada atau sesak nafas. Program WASPADA TBC menjadi wujud kepedulian mahasiswa Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam mendukung upaya pencegahan TBC di tengah masyarakat. Melalui pemasangan spanduk edukatif di Kelurahan Pondok Ranji, kegiatan ini diharapkan tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran dan keberanian masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri dan lingkungan. Kehadiran media edukasi ini diharapkan menjadi pengingat sekaligus ajakan bagi seluruh masyarakat untuk bersama-sama waspada, peduli, dan bertindak dalam mencegah penularan TBC.
-
SEMAR TBC: Upaya Mahasiswa UIN Jakarta Dekatkan Kader TBC dengan Warga di Parigi Baru
TANGERANG SELATAN — Penyakit Tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat serius di tingkat lokal. Berdasarkan data tahun 2024, tercatat ada 23 kasus TBC di Kelurahan Parigi Baru, Kota Tangerang Selatan. Meskipun angka ini menunjukkan penurunan pada tahun 2025 menjadi 11 kasus, wilayah RW 05 tetap menjadi perhatian khusus karena kepadatan penduduknya yang tinggi. Merespons situasi tersebut, sekelompok mahasiswa program studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta meluncurkan program inovasi bertajuk “SEMAR TBC” (Sehat Masyarakat Responsif Tuberkulosis) . Program ini dirancang berbasis pada data lapangan yang kuat. Melalui Survei Cepat Epidemiologi (SEC), wawancara mendalam, dan analisis data sekunder dari Puskesmas Parigi, diketahui bahwa faktor penyebab utama tingginya kasus TBC di Parigi Baru adalah rendahnya pengenalan masyarakat terhadap kader TBC. “Memang wajar jika masyarakat kurang mengenali kader TBC karena jumlahnya hanya satu orang untuk satu kelurahan. Selain itu, selama ini fokus kader masih terbatas pada pendampingan pasien yang sudah terdiagnosis saja”, ungkap Penanggung Jawab Program Tuberkulosis Puskesmas Parigi (27/02/2025). Program SEMAR TBC hadir dengan pendekatan yang inovatif, yang tidak hanya memberikan ceramah satu arah, tetapi mahasiswa mengajak warga melakukan “nonton bareng” video profil perkenalan kader TBC. Melalui media visual ini, sosok kader diperkenalkan secara lebih personal kepada warga RW 05. Selain sosialisasi tatap muka, edukasi ini juga melintasi ranah digital. Video profil kader ditayangkan secara berkala melalui akun Instagram serta layar informasi di Puskesmas Parigi. Tujuannya agar informasi mengenai keberadaan kader TBC tersampaikan ke seluruh lapisan masyarakat tanpa terhalang jarak dan waktu. Intervensi ini menghasilkan hasil yang diharapkan. Antusiasme warga terlihat dari jumlah kehadiran yang melampaui target. Secara substantif, efektivitas program ini diukur dari hasil pre-test dan post-test yang menunjukkan peningkatan pengetahuan masyarakat yang signifikan, baik mengenai penyakit TBC maupun peran penting kader di lingkungan mereka. Melalui program SEMAR TBC, diharapkan sinergi antara warga dan kader kesehatan semakin kuat. Dengan hilangnya rasa yang disungkan dan meningkatnya responsivitas masyarakat, harapan Parigi Baru untuk menjadi wilayah bebas TBC kini mendekati kenyataan.