Rembuk Stunting Sebagai Komitmen Daerah Dalam Entaskan Stunting di Kabupaten Bangka
Dari hasil kegiatan rembuk stunting menjadi dasar gerakan penurunan stunting kabupaten bangka melalui intervensi program/kegiatan yang dilakukan antar OPD penanggung jawab layanan dan partisipasi masyarakat.

Kabupaten Bangka memasuki tahun ke tiga dalam penanganan dan pengelolaan stunting, dimana sejak tahun 2019 ditetapkan sebagai salah satu dari 160 kabupaten/kota prioritas intervensi stunting nasional. Untuk itu Kabupaten Bangka telah melakukan berbagai upaya dalam intervensi penurunan stunting melalui aksi terintegrasi intervensi penurunan stunting yang terarah, terpadu secara bersama sama oleh lintas sektor atau OPD terkait melalui 8 (delapan) aksi konvergensi.

Salah satu dari 8 aksi konvergensi penurunan stunting adalah aksi 3 yaitu rembuk stunting. Rembuk stunting merupakan langkah penting yang dilakukan pemerintah Kabupaten Bangka untuk memastikan pelaksanaan rencana kegiatan intervensi pencegahan dan penurunan stunting yang dilakukan secara bersama sama antara OPD penanggung jawab layanan dengan sektor/lembaga non pemerintah dan masyarakat. 

Dalam rembuk stunting disampaikan hasil analisis dan rancangan rencana kegiatan penurunan stunting Kabupaten Bangka, deklarasi komitmen pemerintah daerah dan menyepakati rencana kegiatan intervensi penurunan stunting terintegrasi serta membangun komitmen publik dalam kegiatan penurunan stunting secara terintegrasi.

komitmen penurunan stunting yang ditandatangani Bupati bangka

Kegiatan Rembuk Stunting dilaksanakan pada tanggal 20 April 2021, di Sungailiat Bangka. Dibuka oleh Bupati Bangka Mulkan, SH, MH didampingi oleh Wakil Bupati Bangka Syahbudin, SIP serta Pimpinan DPRD Kabupaten Bangka. Bupati dan Wabup juga sebagai Narasumber Rembuk Stunting beserta Kepala Bappeda Kabupaten Bangka dan  Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka. Peserta rembuk stunting berasal dari Lintas OPD, Pimpinan  Lembaga atau Organisasi Daerah, MUI, Forum Bangka Sehat, Camat, Kepala Puskesmas, Kepala Desa lokus stunting di Kabupaten Bangka.

BACA JUGA:  Jawab Kebutuhan Remaja, Posyandu Remaja Pertama di Indramayu Dibentuk

Menurut Bupati Bangka, prevalensi balita stunting di Kabupaten Bangka menurun sejak tahun 2013 (32,27%)   dikarenakan intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif yang dilaksanakan secara konvergensi berhasil  menekan angka stunting menjadi 20.9% pada tahun 2019 (hasil riset SSGI), dan hasil e-PPGBM sebesar 1.96% pada tahun 2020, meskipun di desa lokus stunting sudah menurun namun tetap diwaspadai adanya penambahan kasus stunting baru di desa lokus stunting maupun diluar lokus desa stunting. Bupati juga menghimbau melalui Kegiatan Rembuk Stunting ini agar menjadi komitmen bersama antar OPD dan non pemerintah serta swasta untuk menurunkan angka stunting secara konvergensi di Kabupaten Bangka.

Selanjutnya Wakil Bupati Bangka menyampaikan tentang kebijakan penurunan stunting melalui 7 pilar pengelolaan yaitu pengelolaan kelembagaan, pengelolaan advokasi, pengelolaan pernikahan, pengelolaan kehamilan, pengelolaan pengasuhan, pengelolaan sanitasi dan pengelolaan inovasi dengan menerapkan pendekatan pentahelix dalam pembangunan. Pendekatan Pentahelix ini melibatkan  unsur pemerintah, masyarakat, akademisi, pengusaha dan media massa oleh wartawan bersatu membangun kebersamaan dalam pembangunan terutama dalam konvergensi pencegahan dan penurunan stunting.

Kepala Bappeda Kabupaten Bangka, Ir Pan Budi Marwoto. M.Si  sebagai Koordinator dan Tim Pengarah  Pokja percepatan penurunan Stunting Kabupaten Bangka memaparkan tentang Intervensi Stunting di Kabupaten Bangka dan rancangan rencana kegiatan penurunan stunting di Kabupaten Bangka. Menurut Panbudi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya stunting adalah faktor perilaku termasuk pola konsumsi keluarga, perawatan dan pengasuhan anak serta perilaku dalam menjaga hidup bersih dan sehat. Di masa pandemi COVID-19 dimana pendapatan masyarakat menurun akan berdampak terhadap status ekonomi dan status gizi masyarakat karena daya beli menurun.

BACA JUGA:  10 Penyakit Ini Bikin Kepala Puskesmas Losarang TOBAT

Faktor determinan yang juga berpengaruh terjadinya stunting adalah adanya anggota keluarga yang merokok, bila dilihat dari pengeluaran kelompok makanan pada keluarga di Kabupaten Bangka berdasarkan laporan BPS Bangka maka rata rata pengeluaran untuk belanja merokoksebesar 7.1% dari total pengeluaran konsumsi makanan pada tahun 2020, hal ini dapat mengurangi kesempatan keluarga untuk belanja makanan bergizi seperti ikan, daging, telur, susu, sayur dan buah untuk kelompok yang rentan terjadinya stunting yaitu kelompok 1000 HPK  yaitu ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan anak baduta.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka dr Then Suyanti, MM menganalisis tentang sebaran prevalensi stunting di wilayah puskesmas dan desa disandingkan dengan pencapaian angka kesehatan ibu dan anak  dimana prevalensi stunting per desa semua dibawah 20%  standard WHO namun tetap diantisipasi capaian kesehatan ibu dan anak yang menyasar  rumah tangga 1000 HPK agar dapat dimanfaatkan oleh penerima layanan sebaik baiknya untuk mencegah stunting. 

Selanjutnya Panbudi mengharapkan dalam rembuk stunting hari ini dapat dicapai komitmen penurunan stunting yang ditandatangani Bupati, Wakil Bupati, Perwakilan DPRD, Pimpinan OPD, Kepala Desa, Camat, Kepala Puskesmas, perwakilan sektor non pemerintah dari Bank Sumsel, BPJS, Forum Bangka Sehat, GOW, MUI, akademisi dan masyarakat. Rencana kegiatan intervensi gizi terintegrasi penurunan stunting yang telah disepakati oleh lintas sektor untuk dimuat dalam RKPD/RENJA OPD tahun berikutnya. Dari hasil kegiatan rembuk stunting menjadi dasar gerakan penurunan stunting kabupaten bangka melalui intervensi program/kegiatan yang dilakukan antar OPD penanggung jawab layanan dan partisipasi masyarakat.

Rembuk stunting cegah stunting kab bangka

#seksigizidinkesbangka #gizibalita #cegahstuntingitupenting #kesmasid #ureportcovid19 #ureportindonesia #unicefindonesia #untuksetiapanak #tp2akstunting

(Visited 143 times, 1 visits today)