Semenjak ditetapkan sebagai pandemi global hingga 19 September 2021, COVID-19 sudah menginfeksi 226.844.344 jiwa di seluruh dunia. Nyaris 4.666.334 atau 2% dari populasi dunia yang terpapar meninggal akibat wabah ini. Di Indonesia, kasus positif mencapai 4.190.763, dengan 140.468 (3, 3%) kematian, lebih tinggi dari rata rata kematian global. Hampir 2 tahun dunia bergulat dengan penyakit baru yang mampu melumpuhkan semua tatanan dalam waktu yang relatif singkat ini.
Sedikit angin segar untuk Indonesia dimana berdasarkan data dari John Hopkins University CSSE COVID-19 pada 12 September 2021 Indonesia berhasil menurunkan kasus positif COVID-19 sebesar 58% dalam waktu dua minggu, dengan rata rata kasus dibawah 10.000 per hari. Angka kesembuhan juga semakin meningkat, sebaliknya angka kematian menurun.
Kondisi yang sama, lebih dulu dialami oleh beberapa negara. Tatanan kehidupan normal mulai diwujudkan di tengah status pandemi global yang belum dicabut oleh Badan Kesehatan Dunia WHO. Hegemoni luar biasa atas penurunan jumlah kasus yang signifikan sudah dilakukan. Inggris, Swedia, Amerika misalnya yang sudah mendeklarasikan negaranya bebas masker. Bahkan, di Amerika, konser dan perhelatan dengan banyak masa kini bukan hal terlarang. Meskipun dengan tetap menetapkan standar dan protokol yang ketat tentunya.
Aktivitas pembelajaran pun demikian. Kampus kampus sudah dibuka, sekolah tatap muka sudah dimulai, sektor pelayanan publik sudah menjalankan peranannya. Tenaga kesehatan juga sudah bekerja sesuai ritmenya seiring dengan penurunan pasien yang di rawat di fasilitas kesehatan.
Menyikapi kondisi pandemi global yang semakin kondusif, dan pengendalian kasus yang dinilai cukup baik pemerintah bersiap diri menyongsong perubahan status COVID-19 yang berstatus pandemi atau wabah yang meluas di seluruh dunia menjadi endemi. Suatu penyakit dikatakan endemi apabila penyakit tersebut tetap ada tapi hanya terbatas pada wilayah tertentu serta penyebaran dan tingkat penularannya dapat diprediksi.
Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman menyatakan ada beberapa syarat status COVID-19 dapat menjadi endemi. Diantaranya penularan per hari hanya 1 kasus per 1 juta penduduk, tingkat keparahan akibat penyakit ini semakin menurun dengan vaksin atau anti virus yang efektif, fasilitas kesehatan yang lebih siap dan matang dalam melakukan penanganan, juga yang tak kalah penting cakupan vaksinasi yang tinggi minimal 85% dari total populasi.
Dengan demikian masyarakat benar benar dapat hidup damai berdampingan dengan COVID-19 tanpa rasa was was dan ancaman. Namun, berdasarkan data dari situs resmi vaksinasi Kementerian Kesehatan hingga 19 September 2021 jumlah penduduk hanya 79.617.095 (38,23%) yang sudah divaksin dosis pertama dan 45.194.640 (21,70%) yang sudah divaksin dosis kedua. Masih jauh dibanding dengan total sasaran yang ingin dicapai, yakni 208.265.720 orang. Melihat realitas seperti ini rasa-rasanya kesabaran kita kembali diuji untuk menunggu berakhirnya pagebluk ini.
Sri Purwanti
Research and Development
geraklangkah.id



