Arti Penting Memperingati Hari Kanker Sedunia Setiap 4 Februari

Harapan saya peringatan hari kanker ini jangan hanya sebagai peringatan simbolis saja, tetapi bisa menjadikan kita lebih peduli dan empati serta simpati dengan penderita kanker.

Walaupun Hari Kanker sedunia yang jatuh 4 Februari sudah terlewati tapi tetap layak untuk diperbincangkan karena kanker merupakan penyakit tidak menular yang mematikan menyerang manusia.

Kami sempat berbincang dengan salah satu Dosen STIKes Umitra Lampung, Ibu Nana Novariana, SKM, M.Kes mengenai kanker, dan berikut ini diskusi menarik kami dengan beliau:

Sigit: ” Sebetulnya apa sih kanker? “

Ibu Nana:

Kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh ketidakteraturan perjalanan hormon yang mengakibatkan tumbuhnya daging pada  jaringan tubuh yang normal (pertumbuhan sel/ jaringan) atau sering dikenal sebagai tumor ganas.

Selain itu gejalanya juga sering dikenal sebagai neoplasma ganas dan seringkali ditandai dengan kelainan siklus sel khas yang dapat memicu kemampuan sel untuk:

  • Tumbuh tidak terkendali ( pembelajaran sel melebihi batas normal )
  • Menyerang jaringan biologis di dekatnya.
  • Bermigrasi ke jaringan tubuh yang lain melalui sirkulasi darah atau sistem limfatik, selain itu gejala khasnya terkadang terlambat kita sadari.

Sigit:  ” Kenapa kanker menjadi salah satu penyakit tidak menular yang menakutkan? ”

Ibu Nana:

Kanker menjadi PTM (Penyakit Tidak Menular) yang menakutkan karena seperti yang tadi disampaikan, kanker sendiri cenderung tidak menimbulkan gejala yang dirasa jadi penderita ini baru merasakan atau ada kesadaran untuk memeriksakan diri setelah keluar gejala yang menganggu dan biasanya kanker sudah memasuki stadium lanjut (3a). Dan biasanya kalau sudah seperti ini pengobatan yang diberikan menjadi kurang efektif.

Sigit: ” Seberapa penting menurut Ibu peringatan hari kanker dunia setiap  4 Februari ini? ”

Ibu Nana:

Menurut saya adanya peringatan ini cukup penting, terutama bagi kalian calon-calon tenaga kesehatan yang nantinya akan terjun langsung ke masyarakat. selain itu itu peringatan ini juga bisa menjadi pengingat kita akan pentingnya menjaga kesehatan dan lebih peduli dan peka dengan perubahan-perubahan di diri kita.

Kemudian dengan adanya peringatan ini kita bisa mendukung mereka penderita kanker untuk terus melanjutkan kehidupan terutama kehidupan sosial, karena biasanya melalui peringatan seperti ini sesama penderita akan berbagi hal-hal yang menjadi pengalaman mereka. Dan kita yang tidak terkena bisa memetik makna dari itu semua.

Sigit: ” Apa harapan ibu dengan ada nya peringatan hari kanker dunia ? dan pesan apa yang ingin disampaiakan kepada masyarakat? ”

Ibu Nana:

Harapan saya peringatan hari kanker ini jangan hanya sebagai peringatan simbolis saja, tetapi bisa menjadikan kita lebih peduli dan empati serta simpati dengan penderita kanker. Dan semoga kita bisa sama-sama petik makna didalamnya.

Pesan saya terutama bagi kalian generasi muda penerus bangsa, gunakan lah ilmu dan pengalaman kalian sebagai bekal dalam memaknai pentingnya kesehatan dan empati dengan orang-orang sekitar kita yang menderita kanker. Dan mari sama-sama kita dukung program-program Indonesia sehat.

UAS Sosio Antropologi Kesehatan, Mahasiswa Kesmas Respati Tasikmalaya Gelar Pentas Seni Budaya Bertema Promkes, Keren!

Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Tingkat 1, STIKes Respati Tasikmalaya, dalam rangka Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah Sosio Antropologi dengan Dosen pembimbing Sinta Fitriani, S.KM, M.KM, Kamis, 8 Februari 2018 lalu, berupa ujian praktek pentas seni tentang Promosi Kesehatan.

Dikisahkan, Asep, pemuda desa anak juragan Jengkol yang tak sabar ingin meminang gadis pujaan hatinya, Ikoh, gadis desa putri suami istri Pipih (Sosok Ayah: Aki Bedegong) dan Mimih.

Sejak awal pertemuannya, Asep ingin segera menikahi Ikoh. Setelah mendapat restu dari Pipih, karena ia sangat percaya bila putrinya berumah tangga dengan anak juragan jengkol hidupnya akan makmur meski usia mereka berdua masih terbilang cukup muda (pernikahan tetap berlanjut meski Mimih tidak sependapat dengan Pipih, keputusan kepala keluarga dianggap mutlak tanpa berani disanggah).

Tak lama menikah, Ikoh mulai mengandung. Segala macam makanan dibawa Pipih untuk dikonsumsi Ikoh putri kesayangannya, berharap sang jabang bayi yang dikandungnya dapat tumbuh sehat nantinya.

Suatu hari, Pipih merokok didekat Ikoh yang sedang hamil, dan Mimih pun menghampirinya, mengingatkannya agar ia tidak merokok dekat Ikoh lantara ia sedang hamil, tidak baik untuk ibu dan calon bayinya. Piph pun segera mematikan rokoknya tanpa basa-basi lantaran saking sayangnya dengan putrinya.

Selang berapa bulan, Ikoh pun melahirkan. Pipih yang masih memegang teguh tradisi, meminta Asep untuk segera memanggil Paraji (ed: dukun bayi/beranak) namun Mimih pun menentang. Ia bilang jaman sekarang sudah ada Bidan Desa. Setelah cekcok, Pipih pun akhirnya mengalah, ia mau kelahiran cucunya ini dibantu oleh Bidan Desa di kampungnya. Persalinan pun berjalan lancar dan lahirlah bayi Ikoh yang sehat, yang kemudian diberi nama Johnson.

Selama masa pertumbuhannya, Johnson tidak pernah dibawa ke Posyandu. Karena anak kesayangan, segala macam makanan yang dimintanya diberi. Memasuki masa anak-anak, Johnson menjadi anak yang gemuk (Obesitas). Sesak napas dan diolok-olok oleh temannya.

Akhirnya Ikoh pun membawa Johnson ke Dokter untuk konsultasi. Dokter memberi saran, agar mengurangi porsi makanan berlebih dan mencoba untuk pola makan diet seimbang, jangan berlama-lama anak nonton tv, serta rutin menyuruh anaknya berolahraga.

Setelah itu, Ikoh pun menjalani semua yang disarankan Dokter kepadanya. Atas usahanya, berat badan Johnson pun berhasil turun dan ideal seperti anak pada umumnya, dan kini Johnson pun menjadi anak yang sehat dan kuat. SELESAI.


Cerita diatas adalah gambaran kisah pementasan yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Tingkat 1, STIKes Respati Tasikmalaya, dalam rangka Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah Sosio Antropologi dengan Dosen pembimbing Sinta Fitriani, S.KM, M.KM, Kamis, 8 Februari 2018 lalu, berupa ujian praktek pentas seni tentang Promosi Kesehatan.

Pentas seni yang disajikan oleh mahasiswa sangat beragam, ada yang dengan cara senam maupun bobodoran/ teater sunda. Kegiatan ini dihelat di Graha Bakti Respati, 5-8 Februari 2018.

Pentas Seni UAS Sosio Antropologi kesehatan

Dalam mata kuliah Sosio Antropologi Kesehatan, didalamnya mempelajari tentang sosiologi, biologi, humaniora, hingga etnografi. Untuk tugas praktek Promosi Kesehatan, kebetulan kelompok saya sendiri mementaskan Bobodoran (teater sunda) yang mengangkat judul “Baby Johnson”. Dengan jumlah anggota kelompok sebanyak 7 orang, saya sendiri memerankan sebagai “Aki Bedegong (Pipih/ Ayah Ikoh)” dimana seorang ayah yang teguh memegang tradisi.

Dalam mementaskan sisi kehidupan di masyarakat, diselipkan nilai-nilai promosi kesehatan, seperti dampak dari kawin di usia muda, jarang cek kesehatan ke fasilitas kesehatan, hingga dampak obesitas terhadap aktivitas sehari-hari.

Adegan tenaga kesehatan memberikan penyuluhan kepada masyarakat diselipkan dibagian cerita yang dipentaskan. Agar tidak kaku, pola tingkah dagelan menjadi pencair suasana serta pendukung jalannya cerita agar teater tidak monoton.

Seperti yang kita ketahui bersama, banyak tantangan yang dihadapi, salah satunya bagaimana caranya agar promosi kesehatan yang disampaikan kepada masyarakat dapat dipahami dan diterima. Yang menjadi tantangan utama adalah masyarakat yang masih kental dengan adat istiadat. Tentunya masyarakat yang masih kental dengan adat akan dengan keras menolak bila promosi kesehatan yang disampaikan bertentangan dengan kebiasaan adat istiadat yang telah turun temurun di masyarakatnya.

Dari gambaran diatas, pentas seni bisa dijadikan jalan alternatif bagi tenaga kesehatan yang hendak melakukan penyuluhan atau sosialiasi kepada masyarakat, termasuk masyarakat yang masih kental dengan adat.

Promosi kesehatan berbalut kesenian merupakan sebuah inovasi dalam penyampaian informasi kesehatan kepada masyarakat. Terlebih kita seringkali melakukan penyuluhan kesehatan dengan cara mengumpulkan masyarakat di satu tempat, kemudian kita menjadi pembicara layaknya seperti suasana workshop bahkan seminar.

Agar informasi kesehatan yang disampaikan mudah diterima dan dapat dimengerti, salah satu caranya dengan mengkolaborasikan kesenian dengan promosi kesehatan, atau saya menyebutnya “Promkes berbalut Kesenian” atau kesenian berbau Promkes.

Tujuan promosi kesehatan dengan kolaborasi kesenian bukan untuk mengubah nilai tradisi yang ada, melainkan memperbaiki kebiasaan buruk yang masih mengakar dimasyarakat yang mengakibatkan gangguan kesehatan dengan cara penyuluhan berupa kesenian berbau promosi kesehatan. Harapan selain dapat dimengerti dan diterima masyarakat, tentunya juga turut serta dalam melestarikan kesenian daerah. Seperti jargonnya pegiat kesehatan masyarakat, mencegah lebih baik daripada mengobati.

Ilmu kita memang di kesehatan, tapi tidak ada salahnya kita belajar kesenian. Karena, dari situlah kita mengerti seluk beluk masyarakat dan solusi dari permasalahan kesehatan di masyarakat.

Mahasiswa Kesmas Respati Tasikmalaya

Lagi Persiapan Akreditasi? Ahayyy…Puskesmas Kalian Masuk Tipe Yang Mana Nih?

Seringkali, perencanaan di Puskesmas tidak berjalan mulus. Berikut ini tipe Puskesmas berdasarkan gaya perencanaan yang dilakukan:

Untuk mewujudkan pelayanan yang baik, Puskesmas dituntut menyelenggarakan pelayanan harus berdasarkan kebutuhan dan harapan masyarakat yang tertuang kedalam perencanaan tingkat Puskesmas. Sekaligus menyesuaikan dengan sumber daya yang ada di Puskesmas.

Seringkali, perencanaan di Puskesmas tidak berjalan mulus. Berikut ini tipe Puskesmas berdasarkan gaya perencanaan yang dilakukan:

1. Puskesmas Tipe Copas

Puskesmas tipe ini cenderung meng-copy paste perencanaan tahun sebelumnya.

Hal ini terjadi salah satunya karena faktor SDM yang kurang mumpuni dalam perencanaan. Sehingga yang terjadi yaitu menggunakan perencanaan di tahun-tahun sebelumnya. Ini terkesan “yang penting diselesaikan dan disetor ke Dinas Kesehatan, tanpa melihat kualitas perencanaan.

Faktor lainnya yang melatarbelakangi hal ini yaitu “Kepala Puskesmas Centered”. Tipe Kepala Puskesmas yang mengendalikan segalanya tak bisa dipungkiri itu masih ada, bahkan urusan perencanaan pun Kepala Puskesmas mengambil alih. Hasilnya bisa saja kurang tepat sasaran, atau bisa juga karena faktor trust/ kepercayaan internal terhadap Kepala Puskesmas.

Selain itu, perencanaan Puskesmas model copas ini terjadi juga karena kurangnya pembinaan Dinas Kesehatan dalam memverifikasi perencanaan di Puskesmas. Ini menjadi hambatan tersendiri di lapangan.

2. Puskesmas Tipe Asal Susun

Disini pegawai Puskesmas telah melaksanakan proses penyusunan perencanaan lima tahunan, RUK dan RPK melalui rapat/ lokakarya perencanaan. Namun, hanya sekedar menyusun perencanaan dengan menerima usulan dari programmer, tanpa melalui proses identifikasi dan analisis masalah.

Hal ini terjadi dikarenakan Tim Perencanaan Tingkat Puskesmas belum dibentuk. Tugas tim ini cukup vital karena mengkoordinir segala perencanaan tingkat Puskesmas.

Puskesmas Tipe Asal Susun ini, programernya tidak saling berkoordinasi dan tidak saling terintegrasi satu sama lain dalam hal perencanaan. Sehingga perencanaan tingkat Puskesmas tidak efektif dan efisien, bahkan tidak melibatkan masyarakat sama sekali dalam peencanaan. Yang terjadi adalah program yang ada tidak sesuai dengan kondisi di lapangan bahkan kurang menyelesaikan permasalahan yang ada.

3. Puskesmas Betulan

Puskesmas yang sudah menyelenggarakan perencanaan tingkat Puskesmas yang betul-betul sesuai dengan permasalahan kesehatan, kebutuhan dan harapan masyarakat di wilayah kerjanya.

Puskesmas ini berhasil menangkap jenis pelayanan atau program apa yang mesti direncanakan untuk mengatasi permasalahan kesehatan yang ada (evidance based).

Puskesmas mampu mengidentifikasi masalah, kemudian memprioritaskan, mencari akan masalahnya. Menyusun alternatif pemecahan masalahnya bersama-sama lintas program, bahkan melibatkan masyarakat dalam perencanaan melalui Survei Mawas diri, Musyawarah Masyarakat Desa, Pertemuan Lintas sektoral, transect walk dan lain sebagainya.

Perencanaan seperti ini yang diharapkan terselenggara di tingkat Puskesmas agar program yang disusun memang bersifat buttom up dan top down. Masyarakat pun diajak menjadi subjek/pelaku dan terlibat dalam pembangunan bukan lagi sebagai objek pembangunan kesehatan itu sendiri.

Pusat kesehatan masyarakat atau lebih dikenal dengan sebutan PUSKESMAS merupakan ujung tombak kesehatan yang bertanggung jawab mewujudkan menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya serta mewujudkan masyarakat sehat level kecamatan melalui prinsip-prinsip berupa paradigma sehat, pertanggungjawaban wilayah, kemandirian masyarakat, pemerataan, teknologi tepat guna, keterpaduan dan kesinambungan.

Hal ini sesuai dengan amanah Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 75 Tahun 2014.

Salah satu poin penting dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di wilayah oleh Puskesmas adalah adanya Perencanaan (P1).

Luaran perencanaan puskesmas ini dapat berupa Renstra 5 tahunan, RUK Puskesmas, RKA, RPK Puskesmas dan harus disinkronkan dengan pendanaan di PKM, baik itu JKN, BOK, Jampersal maupun Dana Desa atau sumber lainnya (baik itu perencanaan kegiatan upaya kesehatan masyarakat, upaya kesehatan perorangan maupun manajerial).

Namun, prakteknya di lapangan masih sering ditemui kendala dalam perencanaan, diantaranya:

1. Manusia

Pertama, Bendahara dan pegawai Puskesmas lainnya belum memahami tentang prosedur perencanaan di Puskesmas dengan baik.

Kedua, Kepala Puskesmas kurang mengkontrol dalam hal perencanaan atau bahkan bisa jadi mengambil alih peran Bendahara.

2. Lingkungan

Komunikasi antara Bendahara dan pegawai lainnya kurang harmonis. Hasilnya, perencanaan tidak berdasarkan buttom up atau tidak sesuai dengan kebutuhan dan harapan yang telah digali oleh pengelola program dan unit terkait di Puskesmas.

3. Metode

Pertama, Puskesmas belum menjalankan perencanaan sesuai dengan prosedur perencanaan yang distandarkan (baca Permenkes 44 Tahun 2018 atau lihat Pedoman Manajemen Puskesmas Dengan Pendekatan Keluarga).

Kedua, tidak adanya TRANSPARANSI dalam pengelolaan keuangan, sehingga berkurangnya rasa percaya antar sesama pegawai Puskesmas.

Ketiga, lokmin tidak memfasilitasi perencanaan kegiatan bulanan.

Nah, 5 point berikut ini perlu kalian ketahui supaya kualitas perencanaan Puskesmas kalian bisa diperbaiki:

  1. Puskesmas harus berkomitment untuk TRANSPARANSI dalam pengelolaan keuangan dan harus proaktif memperbaiki tahapan perencanaan sesuai dengan prosedural.
  2. Bentuk Tim Perencanaan Tingkat Puskesmas (terdiri dari Bendahara dan Penanggung Jawab Upaya serta Pelaksana Kegiatan) yang bertugas “mengkoordinir” Perencanaan Puskesmas.
  3. Perencanaan di Puskesmas haruslah melalui tahapan yang sesuai prosedur. Adapun proses perencanaan ditingkat Puskesmas yaitu:
    • Puskesmas menyusun jenis kegiatan dan pelayanan berdasarkan kebutuhan dan harapan masyarakat dan juga capaian yang ada di Puskesmas. Proses untuk mendapatkan data tersebut diantaranya melalui pendataan keluarga sehat, survei SMD, hasil MMD, forum-forum masyarakat atau lintas sektor, data-data epidemiologi, capaian kinerja, dan data-data lainnya di Puskesmas.
    • Mengidentifikasi masalah kesehatan dan potensi pemecahannya
    • Melakukan prioritas masalah kesehatan
    • Membuat rumusan masalah
    • Mencari penyebab masalah kesehatan
    • Menetapkan cara pemecahan masalah
    • Memasukkan pemecahan masalah ke dalam rencana usulan kegiatan
    • Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan
  4. Perlu penguatan dalam Pelaksanaan dan Penggerakkan (P2), Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian (P3).
  5. Perkuat implementasi PERMENKES NO 44 Tahun 2016 dan Manajemen Puskesmas dengan Pendekatan Keluarga Sehat.

Ahayyy…Puskesmas kalian jadi masuk tipe yang mana nih?

PBL, Mahasiswa Prodi Kesmas Unmuh Pontianak Beri Penyuluhan Tentang ISPA di Desa Tebang Benua

Mahasiswa Prodi Kesmas Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pontianak beri penyuluhan kesehatan bagi warga Desa Tebang Benua, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, pada tanggal 16 februari 2018.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka kegiatan Praktek Belajar Lapangan, yang kami lakukan selama 1 bulan, sejak tanggal 7 Februari hingga 5 Maret 2018 mendatang. Adapun anggota Tim PBL kami di Desa Tebang Benua ini antara lain; Hendri Fitrian (Ketua Kelompok), Anis Setyaningsih, Lili Alfiani, Utin Utami Karlina, Rita Andriati.

PBL Mahasiswa Prodi Kesmas unmuh Pontianak di Desa Tebang Benua

Materi penyuluhan kesehatan yang disampaikan  dalam kesempatan kali ini adalah tentang kejadian ISPA pada balita di Desa Tebang Benua, Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA, dan Cara Pencegahan Penyakit ISPA.

Penyuluhan ini dihadiri oleh 43 orang, terdiri ibu-ibu Desa Tebang Benua yang mempuyai balita, kader Posyandu dan Bidan Desa.

Warga Desa Tebang Benua

Ibu-ibu Desa Tebang Benua sangat antusias mengikuti penyuluhan kesehatan ini. Mereka juga aktif bertanya kepada narasumber terkait penyakit ISPA ini.

Harapan kami sebagai penulis, semoga apa yang kami sampaikan sangat bermanfaat bagi masyarakat Desa Tebang Benua, bisa merubah perilaku masyarakat menjadi hidup lebih sehat dan menjaga makanan yang dikonsumsi anaknya maupun keluarganya. Dan materi yang kami sampaikan ini semoga bisa menyampaikan kembali pada kekeluarganya, atau rekan yang tidak bisa hadir dalam pertemuan ini.

Penyuluhan ISPA di Tebang Benua

Bidan Desa, Ibu Dayang Tri Nugrahyu. A Md. Keb, juga menyampaikan harapannya, agar masyarakat setelah ini mau dan mampu merubah perilakunya menjadi lebih sehat, rajin membawa anaknya ke Posyandu, kerana imunisasi juga sebagai pencegah penyakit ISPA.

Dukung Program Germas, 2 Desa Ini Adakan Lomba Senam Sehat Antar Dusun!

Desa Salukanan dan Desa Bontongan mencatat nilai Plus Program Germas, Gerakan Masyarakat Sehat di Kab. Enrekang. Alhamdulillah, Minggu 4 Februari 2018, Desa Salukanan mengadakan Lomba Senam Sehat Bugar dan Tobelo yang diprakarsai Kader Posyandu.

Tak mau kalah rupanya, Desa Bontongan mengadakan Lomba serupa yang perhelatannya dimulai pada tanggal 11-14 Februari 2018. Yang menarik dari kegiatan di Desa Bontongan, semua rangkaian kegiatan berasal dari dana jimpitan masyarakat, sumbangan kelompok pemuda Bontongan. Makin meriah acara ini karena turut hadir pula Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Baraka, dan Kepala Puskesmas Baraka.

Juri Lomba Senam Sehat di Enrekang

Menurut informasi yang kami himpun dari Asra Susilawati, Str, Keb, bahwa kegiatan Kesorga Kecamatan Baraka akan dilaksanakan sinergi dengan program-program Dinas Pemuda dan Olahraga, dimana Kepala Dinas yang akrab dipanggil Pak Hamsir mengatakan bahwa kegiatan ini akan menjadi event tahunan di Desa Kalimbua, dan beliaupun menyerahkan Piala bergilir Pertama.

Hal menarik lainnya, sajian lomba tetap bertemakan Germas; buah dan makanan khas lokal daerah. Juri lomba senam sehat ini pun dari lintas sektor, perwakilan desa, Ibu Camat selaku Ketua PKK Kecamatan dan tak lupa Kepala Puskesmas Baraka, ibu Drg. Ira Desti Saptari.

Harapannya, Kab. Enrekang menjadi kabupaten yang lebih Maju, Aman, dan Sejahtera, sesuai dengan Visi besar Gerakan Kesehatan, dimana manusia maju akan terwujud jika sehat, aman dari bencana kesakitan/PTM, dan sejahtera jika masyarakatnya bisa hidup sehat dan produktif.

Senam Sehat Masyarakat Baraka Enrekang

Mahasiswa Prodi Kesmas STIKIM Adakan Seminar Kesehatan Nasional Bahas Isu Stunting di Indonesia

Mahasiswa Prodi Kesmas STIKIM Jakarta melaksanakan Seminar Kesehatan Nasional 2018 dengan Tema “Bebas Stunting Untuk Mengejar Bonus Demografi Indonesia Sehat, Cerdas dan Produktif”, Sabtu, 03 Februari 2018.

Mahasiswa Prodi Kesmas Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju (STIKIM) Jakarta melaksanakan Seminar Kesehatan Nasional 2018 dengan Tema “Bebas Stunting Untuk Mengejar Bonus Demografi Indonesia Sehat, Cerdas dan Produktif”.

Stunting adalah masalah gizi yang serius. Keadaan stunting mencerminkan kegagalan pertumbuhan anak dalam jangka panjang.

Dampak dari stunting yang terjadi sebelum anak berusia 2 tahun dapat meningkatkan risiko terjadinya penurunan kognitif, yaitu mereka cenderung memiliki IQ yang lebih rendah dibandingkan anak yang normal.

WHO sendiri menetapkan batas toleransi stunting (bertubuh pendek) maksimal 20 persen atau seperlima dari jumlah keseluruhan balita. Sementara, di Indonesia tercatat 7,8 juta dari 23 juta balita adalah penderita stunting atau sekitar 35,6 persen. Sebanyak 18,5 persen kategori sangat pendek dan 17,1 persen kategori pendek. Ini juga yang mengakibatkan WHO menetapkan Indonesia sebagai Negara dengan status gizi buruk. (Republika.co.id, Republika.co.id, 24-01-2018).

Penyerahan Cindera Mata Seminar Kesehatan Nasional Prodi Kesmas STIKIM

Sebagai Keynote Speaker dalam acara seminar kali ini, Bapak dr. Anung Sugihanto, M.Kes, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI.

Kegiatan seminar kesehatan kali ini juga mengundang Bapak dr. Imran Agus Nurali.,Sp.KO, Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI; Bapak Iing Mursalin, M.Si, Direktur PKGBM Millenium Challenge Account Indonesia; Ibu dr. BRW Indriasari Sp.A, M.Si, Med. M.Kes, Dokter Anak RS Puri Mandiri Kedoya & RSUD Mampang Prapatan; dan Bapak Ns. Nana Supriyatna, M.Kep.,Sp.Kep.Kom, Ketua PPNI Jakarta Pusat.

Seminar kesehatan ini berlangsung Sabtu, 03 Februari 2018, bertempat di Gedung BPPT, Jl. M. H Thamrin No. 8 RT 02/RW 01, Menteng, Jakarta Pusat.

Panitia Acara Seminar Kesehatan Nasional Prodi Kesmas STIKIM

Peringati Hari Kanker, PAMI Lampung Lakukan Aksi Donor Darah di PKOR Way Halim

PAMI Lampung bekerja sama dengan PMI melaksanakan kegiatan donor darah dalam rangka memperingati hari kanker 4 Februari 2018, dilaksanakan pada Minggu 11/02/2018 mulai jam 06.00-10.00 wib  di PKOR Way Halim, Bandar Lampung.

PAMI Lampung bekerja sama dengan PMI melaksanakan kegiatan donor darah dalam rangka memperingati hari kanker 4 Februari 2018, dilaksanakan pada Minggu 11/02/2018 mulai jam 06.00-10.00 wib  di PKOR Way Halim, Bandar Lampung.

Dalam kegiatan donor darah kali ini, sekitar 40 orang turut berpartisipasi mendonorkan darahnya di stand kami.

Donor Darah Dalam Rangka hari Kanker di Lampung 11 Februari 2018

Dengan melakukan donor darah, kita memberikan sedikit darah dari dalam tubuh agar dapat dimanfaatkan guna membantu orang lain. Sekitar 480 ml darah diambil dari dalam tubuh ketika kita melakukan donor darah. Setelah diperiksa dan diuji keamanan serta kelaikannnya, darah tersebut kemudian akan diberikan kepada pasien yang membutuhkan.

“Harapan kami, melalui kegiatan ini semoga jumlah pendonor baik masyarakat atau komunitas bisa bertambah, sehingga bisa lebih banyak membantu mereka yang membutuhkan.“ ungkap Rika Risdiyanti, Ketua Pelaksana.

Donor Darah PAMI Lampung

Puskesmas Sumberlawang Sragen Gelar Kegiatan SMD di Desa Jati

Puskesmas Sumberlawang melakukan kegiatan Survey Mawas Diri atau biasa dikenal dengan istilah SMD, di Desa Jati, Kecamatan Sumberlawang, 8 Februari 2018 lalu.

Puskesmas Sumberlawang melakukan kegiatan Survey Mawas Diri atau biasa dikenal dengan istilah SMD, di Desa Jati, Kecamatan Sumberlawang, 8 Februari 2018 lalu.

Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama dengan Pemerintah Desa Jati, dan Puskesmas Sumberlawang, dan dihadiri oleh kader kesehatan Desa Jati, perangkat desa, dengan total peserta sekitar 30 orang.

Sebagai narasumber dari Pihak Puskesmas Sumberlawang menghadirkan Sdr Wahyu Indratmoko, SKM dan Bapak Slamet Riyanto, SKM.

Promkes Puskesmas Sumberlawang Kabupaten Sragen

Melalui kegiatan SMD ini,  narasumber menyampaikan tentang maksud dan tujuan SMD, serta penjelasan pengisian kuesioner SMD.

Sebagaimana yang kita tahu, kegiatan Survei Mawas Diri adalah kegiatan untuk mengenali keadaan dan masalah yang dihadapi masyarakat, serta potensi yang dimiliki masyarakat untuk mengatasi masalah tersebut.

Hal ini penting untuk diidentifikasi oleh masyarakat sendiri, agar selanjutnya masyarakat dapat digerakkan untuk berperan serta aktif memperkuat upaya-upaya perbaikannya, sesuai batas kewenangannya.

Salah satu tujuan SMD adalah masyarakat dapat mengetahui masalah kesehatan diwilayahnya sehingga bisa menyusun program untuk mengatasinya dan menyambut program pengentasan wilayah.

Harapan kami dari Puskesmas Sumberlawang, agar masyarakat lebih aktif, terutama dalam penerapan PHBS dalam kehidupan sehari-hari. Karena jika masyarakat aktif, insyaallah 100% target program dapat tercapai.

Kader kesehatan Desa Jati Kec Sumberlawang Kabupaten Sragen

UNAIR Gencarkan Germas “Gerakan Masyarakat Hidup Sehat”

Minggu (11/2), Didampingi Dekan FKM Prof. Prof. Dr. Tri Martiana, dr., MS., Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., menggencarkan program Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) untuk sivitas akademika UNAIR.

Senam dan jalan sehat bulanan di Universitas Airlangga dilaksanakan lagi Minggu (11/2), di halaman Rektorat UNAIR, Kampus C Mulyorejo. Kali ini, senam dan jalan sehat diselenggarakan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM).

Pada kesempatan ini, didampingi Dekan FKM Prof. Prof. Dr. Tri Martiana, dr., MS., Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., menggencarkan program Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) untuk sivitas akademika.

Tiga aspek Germas adalah melakukan aktivitas fisik (di acara ini senam dan jalan sehat), makanan seimbang (buah dan sayur) setiap hari, dan memeriksakan kesehatan secara rutin.

Turut mewarnai kegiatan Germas kali ini yakni dilaksanakan konsultasi gizi, pemeriksaan kesehatan, bahkan “Kuliah Kopi”. Kegiatan dilaksanakan di lantai dasar Gedung manajemen UNAIR.

(Foto-foto: Bambang Bes)
Sumber: http://news.unair.ac.id/2018/02/12/unair-gencarkan-gerakan-masyarakat-hidup-sehat/

Belajar Akreditasi Puskesmas, Bab VIII,  Tentang Manajemen Penunjang Layanan Klinis (MPLK)

Berikut ini penjelasan tentang Manajemen Penunjang Layanan Klinis di BAB VIII, sebagai jawaban atas pertanyaan dari rekan Yayuk Srirahayu dari Puskesmas Pamekasan.

Belajar Akreditasi Puskesmas, Bab VIII,  tentang Manajemen Penunjang Layanan Klinis (MPLK).

TANYA:

Assalamu’alaikum. Maaf Pak Kus, saya dari Puskesmas Pamekasan, bisa minta gambaran untuk Bab 8 Pak? Terimakasih, wassalammu’alaikum.
~ Yayuk Srirahayu

  1. Yang pertama diperhatian, Bab VIII ini berbicara tentang apa? Karena banyak orang ketika langsung menuju ep-ep (Elemen Penilaian) pemahamannya salah karena lupa judulnya. Lupa membicarakan apa yang jadi topiknya. Terutama bagi Pendamping, sampaikan dulu Bab VIII ini berbicara tenatang apa? Tentang Manajemen Penunjang Layanan Klinis (MPLK). Jadi berbicara tentang UKP di Puskesmas. (Bagi PJ UKM harap diperhatikan betul, bahwa ranah kerjanya adalah pelayanan di masyarakat/ atau pelayanan berbasis masyaralat. Jadi keluhannya, ya keluhan layanan di masyarakat; keselamatan, ya keselamatan sasaran di masyarakat; resiko, ya resiko pelayanan kesehatan di masyarakat; bukan dokumen yang ada disini).
  2. Lalu cari tahu, apa yang disebut MPLK? Agar kita tidak berdebat tanpa arah berputar putar karena yang bicara dan yang diajak berbicara mempunyai pemahaman dan referensi berbeda. Kalau kata kata lazimnya, Definisi operasional. Salah satu kelemahan buku Instrumen Akredtasi ini adalah, tidak adanya definisi operasional, atau Glossary; arti setiap kata sulit, atau kata yang mempunyai arti khusus, atau kepanjangan dari suatu singkatan. Di Indonesia itu terkenal akan banyaknya singkatan. Sehingga menyulitkan menghafalkannya.
  3. Yang disebut Layanan Klinis disini adalah:
    a) Pelayanan Laboratorium
    b) Pelayanan Obat
    c) Pelayanan Radiodiagnostik (jika tersedia),
    d) Manajemen informasi – Rekam Medis.
    e) Manajemen Keamanan Lingkungan
    f) Manajemen Peralatan
    g) Manajemen Sumber Daya Manusia.
  4. Masing masing layanan ada standarnya: Apa standarnya bahwa 7 ( tujuh) layanan klinis yang diberikan sudah memenuhi kebutuhan/harapan masyarakat? Ingat, pelayanan Puskesmas menuju kepada Kepuasan Pelanggan, maka kebutuhan dan harapan masyarakat diidentifikasi dijadikan program kerja.
    a) Standar Pelayanan Laboratorium : 8.1. Pelayanan Laboratorium Tersedia Tepat Waktu untuk Memenuhi Kebutuhan Pengkajian Pasien, serta Mematuhi Standar, Hukum dan Peraturan yang Berlaku.
    b) Standar Pelayanan Obat: 8.2. Obat yang Tersedia Dikelola secara Efisien untuk Memenuhi Kebutuhan Pasien
    c) Standar Pelayanan Radiodiagnostik (jika tersedia): 8.3. Pelayanan radiodiagnostik disediakan sesuai kebutuhan pasien, dilaksanakan oleh tenaga yang kompeten, dan mematuhi persyaratan perundangan yang berlaku
    d) Standar Manajemen informasi – rekam medis. 8.4. Kebutuhan Data dan Informasi Asuhan bagi Petugas Kesehatan, Pengelola Sarana, dan Pihak Terkait di Luar Organisasi Dapat Dipenuhi Melalui Proses yang Baku.
    e) Standar Manajemen Keamanan Lingkungan : 8.5. Lingkungan Pelayanan Mematuhi Persyaratan Hukum, Regulasi dan Perizinan yang Berlaku.
    f) Standar Manajemen Peralatan: 8.6. Peralatan Dikelola dengan Tepat.
    g) Standar Manajemen Sumber Daya Manusia : 8.7. Terdapat Proses Rekrutmen, Retensi, Pengembangan dan Pendidikan Berkelanjutan Tenaga Klinis yang Baku.
  5. Dari sini kita tahu bahwa melaksanakan pelayanan itu harus mengikuti standarnya. Tetapi kalimat dalam standar itu tidak bisa divisualisasikan, dilihat, diobservasi, ditampilkan. Jadi perlu adanya indikator indikator untuk bisa dilihat, itulah yang disebut elemen penilaian, bagian bagian yang dinilai. Dilihat dokumennya dalam masalah akreditasi ini.
  6. Jadi jika ep-ep dipenuhi: harapannya standarnya sudah dipenuhi dan kebutuhan dan harapan masyarakt itu sudah dipenuhi.
  7. Bagi Pendamping Akreditasi, cara berfikir ini berlaku untuk semua bagian; baik Admen, UKP dan UKM. Kalau dalam istilah ilmiahnya, analisa dan sintesa. Analisa itu bagian besanya dipecah pecah menjadi bagian bagian kecil (Terutama dalam pemecahan masalah). Sedang sintesa itu menggabnngkan pecahan pecahan kecil menjadi bentuk utuh program pelayanannya. Ibaratnya seorang arkeolog yang menyatukan pecahan keramik dalam suatu temuan situs kuno untuk digabung jadi benda asalnya seperti apa. Apakah itu vas bunga, atau alat makan-piring, mangkuk dll.
  8. Bagi Pendamping; mulailah selalu mendalami dulu dari bagian besarnya, agar tidak tersesat dalam memberi penjelasan isinya, karena tahu bagian kecil itu dari bagian besar mana. Berfikir sistematis itu penting. Berfikir menurut urutan yang benar. Kalau kita belajar nama otot, kita hafalkan dulu nama tulangnya. Karena nama otot sering berasal dari nama tulang yang menjadi tempat melekatnya. Misalnya Musculus Sterno cleido mastoideus, berarti otot yang menghubungkan otot sternum, clavicula dan mastoid.

Kus Sularso, Banyumanik, 13 Februari 2018.
(Menjadi Pendamping memang harus lebih siap dibanding yang didampingi, karena itu mulailah belajar melihat sesuatu secara global, lalu menuju detail. Mulailah berfikir sistematis, dilihat sistemnya dulu secara utuh lalu secara perlahan lahan dipahami detailnya. Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat. Terutama bagi pendamping yang harus menjawab berbagai pertanyaan warga binaanya. Selamat bekerja. Salam Sukses)